Daydream

Daydream
A. SEOUL - 22


__ADS_3

Salju turun menutupi hampir seluruh jalan raya, atas gedung bahkan menjadikan kolam menjadi beku. Musim dingin pada bulan desember telah tiba.


Dua orang lelaki menyesap kopi. Duduk di depan ruang ICU sambil mengenakan jaket tebal untuk menutupi hawa dingin yang terasa menembus tembok bangunan rumah sakit.


"Aku tidak mengira bahwa Kim Hana ada di Korea," ujar Hansung.


Mino menoleh sekilas. Ia sendiri terkejut setelah mencoba menghubungi Lee Umji yang disangka oleh Hansung adalah Kim Hana, kemudian panggilannya tidak digubris sehingga berinisiatif masuk ke apartemen dengan terpaksa. Ditemukannyalah Lee Umji sudah dalam keadaan tidak sadar.


"Aku mengetahui kalau Kim Hana dan Lee Umji saling mengenal, tetapi tidak menyangka sedekat ini. Kim Hana datang ke Korea setelah mendengar kabar Lee Umji kembali koma," ujar Hansung mengingat pertemuannya dengan Kim Hana pada ruangan loker di Julliar School.


"Ya, kurasa mereka cukup dekat," tambah Mino bingung harus membalas apa. Menjelaskan yang sebenarnya kepada Hansung, mungkin membuat lelaki itu berpikir bahwa dirinya gila.


"Bahkan suami dan kakaknya akan menjalani persidangan," ujar Hansung bangkit berdiri. "Aku harus kembali ke New York, setidaknya memberitahu Ayah Kim Hana serta menyelesaikan beberapa masalah di sana."


Sebelum Mino sempat membalas ucapan Hansung, tiba-tiba datang seorang dokter bersama perawat melewatinya menuju ruangan ICU.


Dokter kemudian masuk diikuti oleh perawat. "Dia telah sadar."


Hansung dan Mino yang mendengarnya langsung masuk ke dalam ruangan ICU. Mereka berdua melihat ranjang bertuliskan nama Kim Hana yang kini diperiksa oleh dokter.


"Kim Hana," seru Hansung mendekat.


Mino ikut mendekat, lalu menyipitkan matanya. Menebak-nebak apakah jiwa Kim Hana telah kembali ke raganya ataukah masih jiwa Lee Umji.


Perempuan itu tidak menyahut. Sebaliknya ia yang melirik ranjang sebelahnya dan mulai menangis.


"Seluruh bagian vitalnya normal dan bekerja dengan baik," ujar dokter setelah memeriksa Kim Hana.


"Kita sepertinya perlu menunggu lagi untuk yang satunya," tambah dokter menjelaskan sebelum keluar dari ruangan ICU bersama perawat yang tadi sempat mengecek keadaan Lee Umji.


Hansung kini benar-benar berdiri di sampung ranjang. "Kenapa kau melakukannya lagi?"


"Jadi ... kau selama ini bersembunyi di Korea Selatan?" ujar perempuan itu.


Mino masih menerawang. Ia sesekali melirik raga Lee Umji yang masih belum menunjukkan gerakan.


"Aku melakukan kesalahan yang menyebabkan Lee Umji kecelakaan."


Perempuan itu mengernyit. "Kesalahan?" Ia kemudian beralih menatap Mino.

__ADS_1


"Apa kabar, Mino Oppa?"


Mata Mino membulat menyadari bahwa raga Kim Hana kini benar-benar diisi oleh jiwa Kim Hana. Ia langsung beralih ke ranjang milik Lee Umji.


"Lee Umji mengalami kecelakaan dua tahun lalu, karena menghindariku yang mencoba bunuh diri," ujar Hansung menjelaskan.


Kim Hana tersenyum tipis. "Itulah mengapa kau terus berada di sekitarnya. Mencoba meminta maaf padanya bukan?"


Kini mata Hansung yang terbelalak. "Bagaimana kau tahu?"


Kim Hana kembali tersenyum, lalu melirik Lee Umji. "Bukan hanya wajah kami yang sama. Hidup kami terikat satu sama lain."


"Bagaimana bisa aku berakhir di sini?" tanya Kim Hana bingung.


"Dia yang membawamu ke sini. Dia juga ingin pulang ke asalnya," jawab Mino menatap dalam Kim Hana.


"Dia ... kehilangan kesadaran setelah menegak banyak obat tidur," lanjut Mino membuat Kim Hana terkejut.


"Semua kembali ke asal mulanya," balas Kim Hana membuat Hansung bingung.


Kim Hana kemudian menangis keras. "Pasti berat baginya."


Kim Hana berhenti, sehingga menjadi sesengguk-sengguk. "Apa?"


"Jun dan Nami akan menjalani sidang atas dakwaan yang berbeda," balas Hansung membuat dada Kim Hana seolah tersentak.


"Jadi semuanya telah terungkap?" ujar Kim Hana lagi-lagi melirik ke arah Lee Umji.


"Dia membuat semuanya menjadi kembali ke jalan yang benar, tetapi sekarang...."


Kim Hana tidak bisa melanjutkan ucapannnya. Menyadari bahwa kehidupannya telah membuat Lee Umji dalam kesusahan selama ini, sedangkan dirinya yang mengalami lupa ingatan hanya terus berupaya mengingat akan dirinya sebagai Lee Umji.


"Hansung Oppa. Aku ingin bicara dengan Mino Oppa, hanya berdua," ujar Kim Hana membuat Hansung sedikit mengerti, sehingga memilih menunggu di luar.


"Melihat tatapanmu, kurasa kau tahu segalanya bukan?" ujar Kim Hana menebak.


Mino mengangguk. "Kapan kau mulai mengingat semuanya?"


"Sebelum aku tidak sadarkan diri. Ketika aku melihat Hansung atau juga bisa kusebut Akira tergeletak dan mulai mengetahui siapa diriku sebenarnya," jelas Kim Hana.

__ADS_1


"Lee Umji selalu sadar akan dirinya. Menjalani hidup menggantikanmu selama di New York," balas Mino.


Kim Hana menganggukkan kepala. "Seperti ketika aku pertama kali sadar dalam raganya. Ketika aku bertemu pertama kali denganmu."


"Lee Umji ... dia juga tahu alasanmu melakukan percobaan bunuh diri empat tahun lalu," balas Mino menjelaskan.


"Karena surat yang kutulis? Memang benar, aku mencintainya. Tetapi itu dulu, setelah kejadian ini, kurasa bukan cinta. Lebih tepatnya perasaan bergantung yang telanjur nyaman. Kemudian kenyaman itu terusik oleh pengkhianatan dna kebohongan." Kim Hana menatap kedua tangannya.


"Jadi siapa yang ada dihatimu sekarang?" tanya Mino pelan.


Kim Hana tidak menjawab. "Bukankah itu jelas tertulis dalam naskah yang kuberikan?"


Tubuh Mino terasa menegang mendengar ucapan tersebut. Namun ia mencoba mengontrol raut wajahnya.


"Aku sangat berharap bahwa Lee Umji akan segera sadar dan mengucapkan rasa terima kasih dan permintaan maafku."


Akhirnya setelah dinyatakan sudah sehat, Kim Hana pulang ke New York bersama Kim Yunsung yang datang menjemputnya bersama Hansung yang juga ikut. Namun sebelum pergi ia menitipkan surat untuk Lee Umji juga Mino. Begitupula Hansung menitipkan surat kepada Lee Umji.


Kim Yunsung yang mengetahui keberadaan Lee Umji, kemudian berjanji akan menunjang pengobatan perempuan itu, bukan hanya karena memiliki wajah mirip dengan Kim Hana. Tetapi sadar bahwa mungkin perempuan itu sedanh berjuang untuk tetap hidup.


Mino membuka surat yang ditulis oleh Kim Hana sebelum pergi. Membuat perasaannya berkecamuk seketika.


'Untuk Mino


'Tidak akan kalimat yang pas untuk mengucapkan rasa terima kasihku padamu.


'Kebersamaan yang tidak kusadari, setelah mengingat semuanya terasa begitu berarti sekarang.


'Maafkan aku terlambat mengenalimu.


'Jika semesta mengizinkan maka kita akan bertemu kembali dan akan kembali kupertanyakan isi hatimu.


'Satu-satunya penyesalanku adalah aku, kau dan Lee Umji tidak bisa berkumpul bersama dalam keadaan sadar dan minum bersama. Pasti akan seru membicarakan naskah novel, sedang aku membahas perihal naskah drama.


'Jangan lupa kabari aku tentang perkembangan kondisi Lee Umji.


'Salam penuh hangat, Kim Hana.


Mino tidak kuasa menahan air matanya agar tidak jatuh. Ia mengerti, meski mengetahui Kim Hana mencintainya, sebagaimana dirinya juga. Tetapi Kim Hana memiliki hal yang masih perlu diselesaikan dalam kehidupannya. Begitupula ia masih harus setia menanti Lee Umji untuk sadar.

__ADS_1


***


__ADS_2