Daydream

Daydream
B. NEW YORK - 19.1


__ADS_3

Aku kehilangan kata-kata dengan fakta yang baru saja aku ketahui. Kim Hana bukanlah anak Kim Yunsung?


Aku meninggalkan ruangan tanpa bersuara dan tanpa ada yang mencegahku. Sejujurnya aku tidak tahu harus bereaksi apa. Meskipun aku berada di tubuh Kim Hana dan menggantikan posisinya, tetapi itu tidak akan pernah membuatku menjadi dirinya.


Yuna yang berada di lobi perusahaan langsung menghampiriku begitu melihatku keluar dari lift.


"Nona," serunya mengikuti langkahku yang terus berjalan.


Aku berhenti. "Siapkan mobil. Aku mau pulang ke rumah."


"Rumah Tuan Jun?"


Aku menatap Yuna tajam. "Bukan, rumah Ayah--"


Kataku terpotong begitu mengingat kembali bahwa Kim Yunsung bukanlah ayah kandung Kim Hana.


"Baiklah Nona," ujar Yuna kemudian bergegas menyiapkan mobil.


"Selain kotak dan amplop, ada kiriman dari Nona Nami juga. Sudah aku taruh semuanya di kamar Nona," ujar Yuna ketika aku telah keluar dari mobil.


Aku berbalik. "Aku mengerti. Kau boleh pergi."


Setelah sampai di rumah, aku langsung masuk ke dalam kamar dan menemukan kotak serta amplop yang tadi kutitipkan kepada Yuna agar mengantarnya ke rumah Kim Yunsung.


Sebenarnya aku tidak terlalu tertarik dengan isi kotak, amplop cokelat dari dalam loker milik Hansung, apalagi amplop besar satunya, kiriman dari Nami.


Namun aku harus mengetahui secara detail semua hal tentang Kim Hana dan mulai memecahkan segalanya. Pertama aku membuka kotak yang berisi barang-barang Kim Hana. Tidak ada yang menarik selain diari dari Kim Hana.


Aku mulai membaca diari tersebut secara saksama. Tetapi tidak menemukan tulisan yang menyatakan bahwa ia mengetahui dirinya bukanlah anak kandung, hanya persoalan orientasi seksual Nami yang juga ternyata hanya kamuflase.


Sebagian besar isi diari hanya memuat tentang permasalahan ketika kuliah jurusan Drama, tentang bagaimana Ibunya sakit hingga meninggal yang membuatnya depresi bahkan hanya sedikit yang memuat tentang Hansung. Aku menghela napas, padahal setahuku Hansung adalah alasan utamanya untuk melakukan percobaan bunuh diri.


Aku kemudian beralih ke kiriman dari Nami dan itu adalah bukti tes DNA dari Hansung yang menyatakan bahwa dia adalah saudara dari Jun. Apa maksud Nami mengirimkan ini?


Namun sebelum aku memikirkan hal tersebut lebih jauh, mataku menangkap amplop cokelat dari loker Daisy 129. Hatiku bertanya-tanya mengenai isinya. Tanpa menunggu lagi, aku langsung membuka isinya.


Alisku terangkat begitu melihat sebuah selembaran dan alat perekam suara. Aku menarik napas dalam lalu mengambil earphone, menyambungkannya ke alat perekam suara sambil mencoba untuk membaca lembaran yang bagian atasnya tertulis surat perjanjian.


"Kau tahu jelas bukan maksud pertemuan ini?"


Suara Nami. Aku bisa langsung mengenalinya, tetapi bagaimana bisa?


"Apa maumu?"


Ini suara Jun?


"Tanda tangani ini dan lupakan semuanya." Suara dingin Nami yang khas.


"Kau berharap aku benar-benar aku akan melakukannya?"

__ADS_1


Suara Jun jelas menantang Nami.


"Hana berada diambang kematian. Kau mengungkapkan rahasia yang telah Ayagku ketahui, tidak akan berguna. Apa untungnya bagimu?"


"Sebelum Hana memutuskan untuk bunuh diri, kau meneleponnya bukan?"


"Benar. Tenang saja, aku tidak memberitahu soal perbuatanmu. Aku hanya memberitahu soal dirinya yang tidak bisa hamil lagi."


"Dan satu lagi, aku tahu kalau kau mengetahui fakta bahwa akulah penyebab kematian Ibu Kim Hana."


"Kau benar-benar jahat Nami."


"Dan kau pengecut, Jun."


Tidak ada lagi suara.


Tanganku gemetar, bukan karena percakapan antara Nami dan Jun, tetapi surat perjanjian yang kubaca. Ini bukanlah surat perjanjian soal jual-beli atau sewa-menyewa. Tetapi surat kesepakatan antara Nami dan Jun.


Dalam surat tertulis bahwa Nami akan membungkam rahasia Jun yang selama ini menjadi penyebab kecelakaan dari Hansung. Bahkan sejumlah bukti mulai dari foto-foto orang yang disewa Jun hingga alur rencana. Sebaliknya Jun akan bungkam atas rahasia Nami yang adalah orang yang membuat pria bernama Marco menjadi depresi akibat obat-obatan hingga memutuskan bunuh diri.


Tanganku reflek menjatuhkan surat perjanjian tersebut, setelah membacanya keseluruhan. Sekarang semuanya masuk akal, selama ini Jun bersikap obsesif bukan karena begitu mencintai Kim Hana atau Hansung menculiknya, tetapi takut Hana akan mulai membuka komunikasi dengan Hansung lalu mulai bertanya-tanya tentang kecelakaan tersebut?


Sedangkan Nami, hubungannya bersama Jun tidak harmonis, karena masing-masing dari mereka mengetahui rahasia satu sama lain. Marco? Mungkinkah dia adalah Ayah dari Olen? Nami berbohong bahwa itu perbuatan Kim Yunsung? Terutama bahwa Namilah yang membunuh Ibu Kim Hana.


Aku tidak habis pikir. Ketika aku mencoba memasukkan kembali alat perekam suara bersama surat perjanjian tersebut, ternyata masih ada lembaran lain yang terlipat sehingga sulit terjangkau oleh tanganku sebelumnya.


'Untuk Hansung,


'Aku tidak tahu apa kau akan membaca tulisan ini, disaat aku sendiri tidak tahu apakah kau masih hidup atau tidak. Namun aku titipkan surat permintaan maaf ini di lokermu, kunci yang pernah kau berikan. Aku yakin kau juga masih menyimpan kunci lokerku satunya, sebagaimana kau juga memberikan satunya padaku.


'Aku ingin minta maaf atas nama Jun. Lelaki yang kini menjadi suamiku. Saat kau pergi, semua terasa tidak berarti lagi, apalagi aku mengalami keguguran dan fakta menyakitkan bahwa aku tidak akan bisa hamil lagi.


'Jun merawatku dengan baik, menerimaku setelah pengkhianatan yang kulakukan. Lalu tanpa sadar jatuh cinta kepadanya. Mungkin lebih tepatnya cinta yang baru kusadari. Tanpa ragu dan curiga, sebelum aku tahu fakta bahwa dialah yang menyebabkanmu kecelakaan hingga aku tidak tahu di mana dirimu sekarang ini.


'Aku gusar Hansung. Mencarimu tentu banyak rintangan dari Jun atau ayahku. Tetapi satu sisi aku mencintai Jun, namun dikecewakan olehnya.


'Mungkin meninggalkan dua sisi akan lebih baik.


'Salam Kim Hana


Aku tercengang dengan apa yang baru saja kubaca. Kim Hana jatuh cinta dengan Jun? Entah mengapa fakta satu ini membuat dadaku terasa sesak. Namun aku mrncoba menepisnya dan fokus dengan apa yang baru saja aku baca, lihat dan dengar.


Aku bisa memastikan bahwa yang mengirimkan ini semua adalah Nami, sebelum Kim Hana akhirnya memutuskan menulis surat ini lalu melakukan percobaan bunuh diri. Jadi alasan Kim Hana melakukannya, bukan karena Hansung yang dikiranya telah pergi sehingga berniat menyusulnya.


Alasan Kim Hana adalah karena penyebab kecelakaan Hansung adalah Jun, lelaki yang telanjur dicintainya. Rasa bersalah Hana membuatnga merasa menjadi pengkhianat.


Jika Hansung masih memegang kunci lokernya sendiri berarti dia telah membaca dan mendengar ini semua? Tentu saja, jika dia telah membaca surat dari Kim Hana maka alasannya untuk membalas dendam atas kecelakaan yang menimpa dirinya, karena Jun akan hilang, ditambah fakta bahwa Jun adalah saudaranya sendiri.


Tok.

__ADS_1


Tok.


Suara pintu kamarku terketuk. Membuatku tersadar dari lamunan pikiranku. Aku bangkit membuka pintu dan menemukan Kim Yunsung menatapku dengan mata sendunya.


Aku menyungging senyum tipis. "Apa rapatnya sudah selesai?"


"Kau baik-baik saja?" tanya Kim Yunsung sesungguhnya tahu jawaban pastinya. Ia kemudian masuk ke dalam kamarku lalu duduk di atas tempat tidur.


Aku ikut duduk di sebelahnya. "Tentu saja, tidak."


Kim Yunsung meraih tangan kananku dan memegangnya. "Ibumu adalah wanita hebat, dia adalah wanita yang rela merawat seorang anak perempuan yang ditelantarkan di Korea Selatan. Sejak awal Ibumu tidak bisa hamil."


"Aku tidak pernah menyesal menikah dengannya, salah satu penyesalannya adalah meninggal sebelum memberitahumu tentang fakta ini," ujar Kim Yunsung dengan raut wajah sedih.


Aku mungkin tidak tahu seperti apa Ibu Kim Hana, tetapi mendengar ucapan Kim Yunsung. Sudah tentu dia adalah wanita yang baik.


"Lalu siapa Marco?" tanyaku mengingat percakapan Nami dalam alat perekam suara.


Mata Kim Yunsung tampak terbelalak sebentar. "Kurasa Nami yang memberitahumu agar kau takut padanya. Itulah alasan Ayah menentang menjadi CEO sekaligus pewaris NH Grup, dia adalah wanita ambisius yang menghalalkan segala cara, termasuk melenyapkan orang dia cintai demi sebuah tujuan."


"Setidaknya Nami akan punya penerus," balasku membuat Kim Yunsung terkejut.


"Dia juga menceritakan bahwa pernah melahirkan?"


Aku bisa melihat bahwa Kim Yunsung tidak menduga bahwa Nami akan seterbuka itu padaku.


"Aku pernah bertemu anaknya, Olen. Sekarang dia bersama Olen di Korea Selatan. Aku sendiri yang membawa Olen sewaktu pergi untuk peringatan kematian Ibu," ujarku jujur.


"Apa?"


"Ayah, aku tidak masalah jika tidak menjadi pewaris perusahaan, karena secara hukum Nami lah yang pantas. Tetapi aku ingin tahu, alasan Ibu meninggal sebenarnya karena apa?"


Hatiku menjadi sakit mengetahui fakta lain bahwa Nami lah yang membunuh Ibu Kim Hana dan Jun mengetahuinya tanpa berusaha mengungkapkannya.


"Ibumu sakit karena kanker bukan?"


Aku mengeluarkan alat perekam suara dari amplop lalu memperdengarkannya kepada Kim Yunsung.


Nami telah menabuh gendera perang. Alasan dia mengungkap bahwa Kim Hana bukan anak kandung Kim Yunsung adalah rencana keduanya membuat Kim Hana akan kembali melakukan bunuh diri, selain untuk mendapatkan perusahaan.


Ditambah tes DNA Hansung sebagai saudara Jun akan menjadikan itu sebagai senjata untuk menekan Kim Hana hingga kembali depresi.


Nami melupakan satu hal bahwa aku bukanlah Kim Hana, tetapi Lee Umji.


Kim Yunsung tercengang setelah mendengarkannya. Aku kemudian menyodorkan surat perjanjian antara Nami dan Jun.


"Jun aku minta maaf, hanya dengan jalan ini Kim Hana dan Hansung akan mendapat keadilan," gumamku dalam hati.


***

__ADS_1


__ADS_2