Daydream

Daydream
B. NEW YORK - 2


__ADS_3

Aku membuka mataku setelah merasa lama tertidur. Namun aku kaget menyadari bahwa ruangan tempatku saat ini sangat berbeda dari sebelum aku tertidur. Aku bahkan yakin bahwa ruangan ini bukanlah ruangan yang ada di rumah sakit. Tetapi sebuah kamar dalam sebuah rumah.


Apa semuanya hanyalah mimpi? Pindahan ini. Suasana yang sama sekali berbeda. Tiba-tiba pintu terbuka. Memunculkan sosok Jun yang memakai pakaian kasual tidak seperti sebelumnya terkesan formal.


"Kau sudah bangun?"


Jun semakin mendekat lalu duduk di tempat tidur yang baru aku sadari bahwa ukurannya dua kali lebih besar dari milikku di apartemen. Ia tersenyum tipis lalu memegang tanganku. Aku reflek menarik tanganku. Tidak terbiasa dipegang. Mungkin sebelumnya aku masih bingung sehingga ia bebas menggenggamnya.


"Bangunlah, ayo kita sarapan."


Jun beranjak tidak menggubris tarik tangan yang baru saja kulakukan. Sedangkan aku memilih mengikuti langkahnya. Kupakai sendal berlapis bulu yang tersedia di samping tempat tidur. Aku memerhatikan ruangan demi ruangan yang  kulewati menuju tempat sarapan. Dahi mengernyit begitu melihat Jun melewati meja makan panjang dengan kursi yang mungkin kurang lebih sepuluh.


Betapa terkejutnya aku begitu melihat sebuah meja bundar yang di atasnya sudah tersedia berbagai macam makanan yang kukenali adalah makanan khas Korea. Meja makan ini berada di bagian luar rumah. Kalau aku perhatikan ini adalah bagian dari rumah yang memiliki tiga lantai dengan pilar-pilar yang besar.


Pepohonan rimbun dengan kolam ikan yang terdapat air pancur menjadikan suasana begitu asri dan terasa sehat. Aku tidak henti-henti mengagumi dalam hati.


"Duduklah."


"Aku sengaja mempersiapkan makanan Korea, karena mengingat kau mengatakan tentang Seoul kemarin."


Entah apa aku harus merasa terharu atau terkejut. Ini sepertinya bukan mimpi lagi seperti dugaan awalku. Bagaimana mungkin mimpi bisa berlanjut dan berjeda.


"Terima kasih," balasku singkat.


Perutku memang sedang kelaparan. Hati-hati mencicipi sup yang ada di dekat mangkuk nasiku. Rasanya benar-benar khas Korea yang dibuat seperti di kafetaria kantor.


Benar! Aku tadi berada di kafetaria bersama Jini. Setelah pulang dari kantor aku sempat mengunjugi minimarket lalu pulang ke rumah mengerjakan beberapa naskah pendek untuk diterjemahkan kemudian tertidur bahkan sebelum pukul sepuluh malam.


"Kau baik-baik saja?" tanya Jun sadar bahwa aku sedang melamun. Memikirkan kejadian yang terjadi di Seoul.


"Apa namaku benar-benar Hana?" tanyaku menyipitkan mata.


Jun terdiam sejenak. "Ya, Kim Hana."


"Apa kau bingung atau tidak mengingat?"


Aku menghela napas panjang. "Bagaimana bisa aku di sini? Bukankah sebelumnya aku berada di rumah sakit?" tanyaku tidak menggubris pertanyaan Jun yang aku sendiri sudah paham betul. Aku bingung sebagai Umji dan tidak mengingat apapun juga sebagai Umji, bukan Hana.


"Dokter mengatakan bahwa pemeriksaan menyeluruhmu normal.  Mungkin jika kau tidak mengingat sesuatu itu karena efek koma yang berdampak psikologismu."

__ADS_1


Jadi bisa dikatakan bahkan dokter tidak mengetahui bahwa aku ini bukan Hana yang selama ini koma. Memang ini tidak masuk akal. Aku saja belum bisa mempercayainya.


"Habiskan makanmu. Kau masih perlu pemulihan."


Setelah sarapan, Jun mengajakku kembali ke kamar. Kami duduk di sofa yang terdapat di depan jendela. Ukuran kamar yang luas lengkap dengan kamar mandiri pribadi sungguh sangat berbeda dengan apatemenku.


"Kau tahu bukan bahwa kita sudah menikah?" tanya Jun menoleh menatapku.


Aku menelan ludah. Aku bingung harus menjawab apa. Jawaban yang kuberikan bisa menjadi bumerang tersendiri bagiku.


"Kau yang mengatakannya bukan di rumah sakit, bahwa kita sudah menikah."


Jun menghela napas gusar, dapat kulihat raut wajahnya yang gelisah. "Apa kau melupakannya?"


Belum sempat aku menjawab tiba-tiba pintu diketuk-ketuk. Jun memberi aba-aba agar masuk. Tampaklah seorang pria memakai jas hitam yang kukenali juga terlihat di rumah sakit sebelumnya.


"Ada kiriman Tuan."


"Dari siapa David?" tanya Jun terdengar bahwa ia tidak menanti sesuatu yang dikirimkan.


Aku dapat melihat walaupun nama pria berjas itu adalah David, namun terlihat bahwa ia masih berwajah khas asia, kecuali beberapa bagian wajah seperti bagian mata berwarna cokelat muda, menandakan bahwa David memiliki riwayat keturunan bule.


Aku secara reflek mengikuti Jun dari belakang. Penasaran juga tentang kiriman tersebut. Masih lebih baik daripada berdiam diri di kamar sambil meeenungi nasib.


Kiriman yang terbungkus itu berbentuk segi empat besar yang tanpa dipertanyakan, bisa kutebak bahwa itu adalah bingkai foto atau lukisan.


Jun yang memegang kiriman itu beralih menatapku. Seolah menyiratkan dalam pandangannya bahwa kiriman ini mungkin berhubungan dengan Hana. Ia perlahan membuka bungkusan itu dengan meletakkannya terlebih dahulu di sofa ruang tamu.


Mataku membulat begitu melihat bahwa kiriman itu adalah sebuah foto lengkap dengan bingkai berwarna emas. Itu adalah foto pernikahan Jun dan Hana!


"Ini pasti ulah Lee Bona," gumam Jun sambil meremas bungkusan kiriman itu.


Jun mendekat ke arahku lalu memelukku erat. "Hana, ingat apapun yang terjadi dan yang kau ingat atau lupakan. Kebenaran bahwa aku mencintaimu."


Dadaku serasa sesak oleh eratnya pelukan Jun, tetapi entah mengapa darahku terasa berdesir mendengar pengakuannya. Ia mencintai Hana. Wanita yang raganya ada padaku saat ini. Bagaimana aku bisa menjelaskan padanya ketidakmasukakalan semua ini?


Dalam pelukan Jun aku menatap foto pernikahan yang mana Hana memakai gaun pengantin berwarna putih tulang. Sangat terlihat cantik dan anggun. Aneh rasanya melihat seseorang yang mempunyai wajah yang mirip denganku memakai gaun pengantin seperti itu. Namun aku melihat lebih jelas bahwa Hana tidak tersenyum, hanya Jun yang melakukannya.


Ada apa ini? Apakah ini sebuah pernikahan yang tidak diinginkan oleh Hana? Lalu kenapa foto pernikahan ini seperti baru dikirimkan, seolah Jun dan Hana baru menikah seminggu yang lalu padahal Hana koma selama tiga tahun.

__ADS_1


Jun melepas pelukannya lalu memegang pundakku sambil menatapku. "Aku tidak ingin memaksamu, tetapi sungguh Hana aku tidak bisa kehilanganmu. Cukup tiga tahun, aku dibuat sulit bernapas melihatmu hanya terbaring."


Mata Jun berkaca-kaca. Aku benar-benar dalam posisi tidak tahu harus bersikap apa padanya. Maka aku kembali memeluknya. Ini benar-benar situasi yang sangat gila.


"Tenanglah. Semua akan baik-baik saja," ucapku memakai bahasa Inggris sama seperti sebelumnya ketika berada di tubuh Hana.


Jun akhirnya membawaku kembali ke kamar. Sedangkan foto pernikahan tersebut ia putuskan untuk memajangnya di ruang tamu.


"Istirahatlah, melihat semua hal tadi mungkin membebani pikiranmu."


Ketika Jun akan beranjak pergi aku menarik tangannya. "Kau mau kemana?" tanyaku spontan.


"Ada pekerjaan kantor. Akan kulakukan di kamarku," jawab Jun sambil tersenyum lalu keluar dari kamar yang kutempati.


Pertanyaan demi pertanyaan mulai merasuki kepalaku. Aku menatap pintu yang telah ditutup oleh Jun. Mencoba menerawang keluar tentang apa yang sebenarnya terjadi.


Mengapa foto pernikahan Jun dan Hana dikirimkan hari ini?


Apakah jarak waktu pernikahan dengan kejadian yang mengakibatkan Hana koma tidak jauh berbeda?


Kenapa Jun mempunyai kamar tersendiri padahal ia adalah suami Hana?


Lalu, bagaimana Hana bisa koma?


Pertanyaan yang berkecamuk itu hanya bisa dijawab olehku dengan helaan napas. Aku tidak sengaja menoleh dan mendapati meja rias. Aku mendekatinya lalu bercermin di sana. Saat akan kembali ke tempat tidur tanpa sengaja sebuah laci kecil transparan yang terdapat di atas meja rias menarik perhatianku.


Berisi berbagai macam pernak-pernik seperti jepitan rambut, anting dan sebuah cincin. Aku mengambil cincin berwarna emas, memerhatikannya saksama dan menduga bahwa ini asli terbuat dari emas. Aku beralih menatap kesepuluh jari Hana dan mendapati sebuah cincin telah terpasang. Kemungkinan cincin pernikahan dengan Jun.


Pada saat aku meletakkan kembali cincin emas yang kutemukan itu, aku menemukan kunci. Mata kuncinya sangat terlihat kuno, tidak seperti mata kunci zaman sekarang. Namun mataku terbelelak begitu membaca dipegangan kunci tersebut.


Rose 408.


Terlalu terkejut membacanya, tanpa sadar aku menjatuhkan kunci tersebut ke lantai. Membuat suara nyaring dalam sunyinya malam. Bagaimana bisa ini berhubungan dengan buku catatan kecil yang juga bertuliskan Rose 408. Aku berusaha menenangkan pikiranku lalu merangkai semua kejadian sekali lagi.


Satu hal yang terlintas dalam pikiranku, bahwa selama aku hidup sebagai Umji di Seoul, aku tidak sekalipun memikirkan bahkan mengingat Hana. Aku melakukan aktivitas seperti biasanya. Tidak seperti aku sebagai Hana yang mengingat semua hal yang terjadi di sekitar Umji.


Dan akupun mulai sangsi, bahwa siapakah sebenarnya aku?


***

__ADS_1


__ADS_2