Daydream

Daydream
B. NEW YORK:TOKYO - 6.2


__ADS_3

"Aku berangkat dulu," ujar Jun mengecup kepalaku sebelum masuk mobil. Aku mengantar Jun di depan pintu.


Aku membalas dengan senyuman. Melambaikan tangan ketika mobil mulai berjalan menuju bandara.


Segera setelah mobil sudah tidak terlihat. Aku masuk kembali ke rumah. Kudapati Yuna sedang mempersiapkan pakaianku di dalam kamar.


Aku melirik sekitar sekilas. Setelah tidak ada pelayan lain. Aku menutup pintu lalu menguncinya.


Yuna yang mungkin mendengar kunci yang terputar berbalik. "Ada apa Nona?"


Aku melipat tangan di depan dada seraya mendekati Yuna. "Kau bekerja untuk siapa?" tanyaku.


Alis Yuna terangkat bingung. Namun ia berusaha tetap tersenyum. "Tentu saja Nona."


"Apa Ayahku atau Jun ... oh atau Nami mungkin?" ujarku mengingat kembali pertemuanku dengan Yuna.


Yuna terdiam sejenak. "Tuan Kim Yunsung. Sepertinya Ayah Nona menyuruh Tuan Jun membawaku ke mari."


"Kau tahu bukan kalau aku lupa ingatan?" tanyaku masih menatapnya lekat.


"Aku baru tahu hari ini dari penjelasan Tuan Jun. Bahwa agar tidak membuat Nona menjadi bingung dan stres."


"Jadi kau akan mengikuti semua perintahku bukan?"


"Tentu saja Nona."


"Kalau begitu jangan pernah melaporkan apapun kepada Jun, tanpa sepengetahuanku. Bahkan kalau perlu Ayahku juga," ujarku berbisik tepat di dekat telinga Yuna.


Bisa kulihat tubuh Yuna menegang sesaat. "Baiklah."


Aku menghela napas panjang. "Baiklah, kau boleh keluar. Aku akan berpakaian lalu kita ke perusahaan Ayahku."


Aku menyingkirkan pakaian yang telah disiapkan oleh Yuna di atas tempat tidur. Aku mengikuti seleraku. Memilih pakaian yang ada di dalam lemari Hana.


Bila aku hidup raga Hana, tidak sepatutnya aku juga harus mengikuti cara hidupnya.


Setelah berpakaian lengkap aku menelepon Yuna agar keluar membelikanku kopi dan kue di salah satu kafe yang berada lima kilometer dari rumah ini.


Aku keluar dari kamar menemukan bahwa Yuna telah pergi.


"Katakan pada Yuna jika telah kembali agar langsung ke perusahaan saja. Aku duluan," ujarku memberi pesan kepada pelayan.


Kakiku berjalan menuju garasi. Aku tersenyum bersyukur bahwa Jini pernah memaksaku belajar mengemudikan mobilnya. Aku menatap garasi yang luas dengan deretan mobil berbagai jenis terparkir.


"Nona ingin di antar ke mana?" tanya seorang pengawal memakai setelan jas mendekatiku.


Aku menggeleng. "Mana kuncinya?" ujarku membuka telapak tangan.


"Biar saya antar--"


"Berikan saja."


Begitu salah satu kunci telah kupegang langsung aku memencet tombol yang mana salah satu mobil jenis sport berbunyi dengan lampu depan menyala. Aku segera mendekati mobil tersebut.


Siapa yang akan menyangka seorang Umji yang hanya pegawai di salah satu perusahaan penerbitan akan mengendarai kendaraan semewah ini?


Aku masuk ke dalam mobil. Meski awalnya cukup kikuk menjalankannya. Tetapi begitu sampai di jalan utama, aku langsung menancap gas menuju Julliar School.

__ADS_1


Memakai kacamata hitam Hana. Aku benar-benar merasakan bagaimana menjadi anak konglomerat. Wanita yang memilki segalanya, dialah Hana. Kemudian kenapa harus bunuh diri? Aku menatap mengeluarkan kunci loker Rose 408 lalu tersenyum tipis.


Aku dituntun Yuna ke ruangan Kim Yunsung setelah dari Julliar School. Yuna sempat terkejut melihatku datang mengendarai mobil. Di dalam lift Yuna menjelaskan bahwa maksud pemanggilanku adalah terkait rapat pemegang saham untuk menunjuk CEO terbaru.


Bukan hanya Kim Yunsung yang ada di sana, tetapi Nami juga ada dengan mata tajam menatapku.


"Apa Ayah memanggilku?" ujarku berdiri di depan meja kerja Kim Yunsung.


"Benar, kau tahu hari ini bukan?" tanya Kim Yunsung menatapku.


Aku melirik sekilas Nami. "Tentu saja."


Kim Yunsung menarin napas dalam. Ia lalu bangkit dan berdiri di hadapanku dan Nami.


"Siapapun yang terpilih di antara kalian berdua. Jangan pernah kalian saling membenci," ujar Kim Yunsung keluar dari ruangan terlebih dahulu.


Aku melihat seorang lelaki lain menuntun Kim Yunsung. Sepertinya lelaki itu adalah sekertarisnya.


"Jadi kau benar-benar akan mengambil posisi itu?" tanya Nami tersenyum miring.


Jadi ini maksud Kim Yunsung bahwa aku melawan Nami? Memperebutkan posisi kedua tertinggi di perusahaan ini. Dasar permainan anak konglomerat.


Aku balas tersenyum. "Tergantung apa jawabanmu."


Nami mengernyit. "Apa maksudmu?"


"Kau penyuka sesama jenis bukan? Kau tidak pernah mencintai Jun, itu hanya alasanmu kepada Ayah agar tetap menjabat CEO selama ini agar Ayah kasian terhadapmu," ujarku sambil mengingat isi loker Hana yang berada di kawasan Julliar School.


Isi loker Rose 408 adalah catatan harian Hana yang mungkin tidak pernah disangka Kim Yunsung, Jun bahkan Nami. Bahwa segala hal yang Hana lakukan dan tahu di masa lalu ada di sana. Termasuk rahasia Nami.


"Kau sudah mengingatnya?" tanya Nami membuatku membenarkan isi pikiranku bahwa Nami tahu bahwa aku tidak ingat apapun.


"Tapi akan kuberikan posisi itu," ujar dengan nada santai.


"Apa?"


Nami kembali terkejut. Ia mendekatiku selangkah seolah membaca wajahku tentang apa rencanaku sebenarnya.


"Aku harus pergi sekarang," ujarku beranjak pergi.


"Hana," seru Nami, namun aku tidak berhenti.


Aku terus berjalan keluar dari ruangan Kim Yunsung. Tetapi bukan menuju ruangan rapat, tetapi menuju lobi mengarah keluar.


"Nona anda mau ke mana?" tanya Yuna sepertinya juga bingung.


"Ikut saja. Abaikan rapatnya. Jika aku tidak hadir maka hanya ada dua, Nami tetap jadi CEO atau rapat ditunda," balasku kembali masuk ke dalam mobil.


Yuna ikut duduk di sampingku. "Katakan kepadaku Nona mau ke mana sebenarnya?"


Aku menoleh sekilas. "Jepang. Aku ada urusan di sana. Kau harus ikut agar Ayahku dan Jun tidak terlalu pusing mencariku nanti."


Mata Yuna terbelalak. Aku tahu bahwa dia mulai panik. Tidak ingin mendapat masalah. Tetapi aku tidak punya jalan lain.


Aku mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi lalu membeli tiket penerbangan menuju Jepang. Seperti dugaanku, segala jenis administrasi seperti paspor dan visa dimiliki oleh Yuna.


"Kenapa berbeda?" tanya Yuna ketika aku memberikan tiketnya.

__ADS_1


"Turuti saja," balasku mendelik. Aku memberikan ponselku.


"Pegang ini," ujarku lalu menukar ponsel Yuna dengan ponsel yang diberikan oleh Jun.


Aku takut Jun akan melacak keberadaanku dari ponsel tersebut.


Aku sengaja membedakan jadwal keberangkatku dengan Yuna yang akan terbang tiga jam setelah aku sampai. Tidak mungkin bagiku mencari ragaku sebagai Umji bersama Yuna. Semua bisa ketahuan, bahwa aku bukanlah Hana. Meski terdengar tidak logis.


Ketika telah berada di atas pesawat, aku tidak bisa, tidak mengkhawatirkan diriku yang ada di Jepang. Setelah tertidur sejenak, aku tidak melihat atau merasakan apapun sebagai Umji. Seolah Umji sedang tertidur sehingga pandanganku hanyalah kegelapan.


Begitu tiba di Jepang aku tidak langsung menuju Sungai Sumida. Aku masuk ke dalam salon mengubah gaya rambutku dan mewarnainya menjadi merah. Aku juga membeli pakaian baru dan kacamata agar jika bertemu Mino yang mungkin berada di samping ragaku sebagai Umji maka tidak akan mengenali raga Hana yang memiliki kemiripan.


Satu hal lagi. Aku membeli ponsel terbaru. Meski ketika memasuki toko dan salon, aku harus memakai bahasa isyarat karena penjual tidak terlalu mengerti bahasa Inggris dan aku hanya tahu beberapa kosa kata Jepang.


Lewat ponsel tersebut aku menemukan artikel berita bahwa seorang wanita terjatuh di Sungai Sumida dan dirawat di The University of Tokyo Hospital. Aku segera menuju rumah sakit yang dimaksud memakai taksi.


Untung saja sebagian perawat bisa berbahasa Inggris sehingga aku menemukan kamar inap tempat ragaku sedang dirawat. Kakiku berhenti begitu melihat Mino dan Danso duduk di luar, dekat pintu kamar.


Aku membetulkan kacamata hitamku lalu mendekati kedua orang itu.


"Apakah Umji dirawat di sini?" tanyaku berdiri di hadapan Mino.


Mino mendongak lalu berdiri. "Kau siapa?"


"Aku temannya," jawabku mengenggam erat tas yang kupegang. Takut ketahuan.


"Apa kau teman yang mengajak Umji keluar lalu meninggalkannya ketika terjatuh ke dalam sungai?" ujar Mino dengan nada keras seolah meneriakiku.


Meninggalkan? Akira meninggalkanku begitu saja setelah terjatuh? Dasar berengsek!


"Kami mengetahuinya dari kedutaan bahwa Umji mengalami kecelakaan," ujar Danso menambahkan.


"Jadi bagaimana keadaannya?" tanyaku menatap pintu kamar yang masih tertutup.


"Menurutmu bagaimana? Dia sedang koma!" seru Mino lalu menarik rambut frustasi.


Mataku membulat, tanpa bisa ditahan aku mendekati pintu lalu mengintip di kaca transparan kecil yang ada di pintu. Kulihat ragaku sedang terbaring dengan alat bantu pernapasan.


Lututku terasa lemas. Jadi alasan kenapa selama ketika tertidur, aku hanya bisa melihat kegelapan adalah karena aku kembali mengalami koma.


Aku menoleh menatap Mino yang matanya memerah seperti akan menangis sama sepertiku.


"Maafkan aku," gumamku kepada diri sendiri.


"Dia sudah koma sebelumnya," ujar Mino dengan suara lemah. Matanya berkaca lalu kembali terduduk.


Melihat raut wajah Mino, aku bisa mengerti. Ingatan beberapa tahun lalu kembali dalam kepalaku. Di mana Mino menyatakan perasaannya setelah putus dari Jini. Aku tahu Mino pernah dan mungkin masih mencintaiku.


Jini tidak pernah membenciku karrna tahu bahwa aku tidak pernah menyukai Mino. Meski kuyakin masih cemburu ketika tahu aku dan Mino pergi ke Jepang bersama.


Tunggu, bukankah aku pernah bertanya kepada Jini tentang alasannya putus dengan Mino? Jelas aku mengingat itu sewaktu aku sebagai Umji menemani Jini ke kantin.


Kenapa aku harus menanyakan hal yang telah kuketahui? Bayangan-bayangan diriku yang hidup di Seoul selama ini langsung terputar dalam otakku. Banyak kejadian yang membuatku bingung dan seolah lupa ketika hidup di Seoul.


Apakah aku sebagai Umji lupa ingatan?


Aku kembali melihat ke dalam kamar rawat. Benar, aku tidak pernah mengingat tentang Hana jika berada di raga Umji. Selain itu kisah Hana mirip dengan naskah yang diceritakan oleh Jini.

__ADS_1


Mino. Orang yang merekomendasikan naskah tersebut. Ada apa ini?


***


__ADS_2