Daydream

Daydream
B. NEW YORK - 14


__ADS_3

Aku kehilangan kata-kata begitu melihat Jun terbaring di sebelahku. Semalam aku memang memutuskan untuk tidur di kediaman Kim Yunsung. Aku hanya mengirim pesan kepada Jun bahwa aku tidak akan pulang bersamanya. Tetapi aku tidak menyangkah bahwa dia akan tidur di sini, berdua di atas ranjang yang sama.


Aku hanya mendapat sedikit penglihatan soal ragaku di Seoul ketika tertidur semalam. Aku memahaminya, di mana Kim Hana yang masih menganggap dirinya sibuk atas pekerjaan sebagai penerjemah dan editor meskipun telah mendapat cuti dari kantor.


Aku melihat dia hanya berkutut di depan komputer pada malam hari. Apabila perutnya kelaparan maka dia hanya memesan makanan secara online atau pergi ke minimarket dekat apartemen untuk membeli cup ramyeon. Lalu pada menjelang pagi, kulihat ragaku baru naik ke atas tempat tidur untuk beristirahat.


Jadi sekarang mungkin baru saja tertidur pulas.


Pikiranku lalu beralih memerhatikan seluruh fitur wajah Jun yang begitu tampan. Dia tertidur dalam napas teratur dan begitu damai. Ketika Jun sedikit menggeliat, aku segera menutup kembali mataku. Berpura-pura tertidur.


Aku menggunakan indera lainku untuk menebak apakah Jun sudah terjaga atau belum. Kurasakan ranjang sedikit bergoyang, menandakan Jun bergerak. Ketika aku ingin membuka mataku dalam posisi menyipit, tiba-tiba sebuah ciuman mendarat di pipiku.


"Aku tahu kau sudah terbangun," bisik Jun membuatku malu.


Aku membuka pelan mataku dan menemukannya sedang mengulas senyum. Jun kemudian bangkit dan membuka sweeter yang dipakainya.


Otomatis aku mengalihkan pandanganku. Apalagi aku sudah sedikit melihat perut Jun yang terbentuk dengan baik.


"Aku membawakanmu pakaian dari rumah," ujar Jun membuatku reflek menatapnya yang hanya memakai handuk yang terlilit pada pinggangnya.


"Pakaianku?"


Aku kemudian membayangkan tentang pakaian dalam yang sungguh memalukan membayangkan Jun mengambilnya dari laci lemari.


"Yuna membantuku memilihkannya, itu di sana," tunjuk Jun sambil menjelaskan. Seolah membaca pikiranku.


Aku hanya menyengir. "Terima kasih." Kurasa hanya otakku saja yang bermasalah.


"Baiklah, aku mandi duluan," ujar Jun kemudian masuk ke dalam kamar mandi yang memang terdapat dalam kamar.


Aku memerhatikan kamar yang kutempati sekarang. Beberapa hari yang lalu aku juga datang ke sini, namun suasana, dekorasi dan penampakannya sungguh berbeda.


Mungkin Kim Yunsung secara sengaja merombak kamar ini seiring dengan rencananya agar aku tinggal sementara dengannya. Lalu yang membuatku penasaran adalah senapan laras panjang dan botol racun yang dulu berada di atas ranjang, di mana kah Kim Yunsung memindahkannya?


Jun keluar dari kamar mandi. Aku menelan ludah melihat tubuh bagian atas yang telanjang lalu air yang masih menetes dari ujung rambutnya. Masih pagi sudah disuguhkan pemandangan seperti itu, segera aku berganti masuk ke dalam kamar mandi.


Tidak seperti Jun yang hanya bermodalkan handuk. Aku sudah membawa masuk pakaianku ke dalam kamar mandi. Alis Jun terangkat melihatku memegang tas tentengan menuju kamar mandi.


"Aku hanya ingin supaya kita cepat bersiap. Kurasa Ayahku sudah menunggu di meja makan," kataku beralasan.


Jun mengangguk sambil tersenyum. Aku menarik napas melihat begitu pengertiannya lelaki ini. Kadang aku melupakan bahwa lelaki di hadapanku ini adalah seorang suami. Ingat posisimu Umji!

__ADS_1


Benar saja, setelah aku dan Jun telah mandi dan berpakaian lengkap, lalu menuju meja makan. Di sana telah ada Kim Yunsung duduk sambil membaca koran online melalui tablet miliknya.


"Kau sungguh akan membawa Hana ke kantormu?" tanya Kim Yunsung menatapku dan Jun bergantian.


"Benar," jawab Jun lugas.


"Ayah ... kurasa itu tidak masalah, lagipula aku juga merasa bosan kalau hanya berada di sini atau di rumah Jun," tambahku. Aku telah memikirkan ini ketika berendam dalam kamar mandi tadi.


Jika aku hanya berdiam diri dalam rumah maka akan sulit bergerak. Setidaknya jika terus berada di sisi Jun maka aku bisa memantau dia apakah mencari tahu soal ragaku di Seoul atau tidak. Meskipun ia peenah berkata tidak, tetapi sulit jika ini menyangkut Hansung yang menjadi seorang Akira ketika berada di Korea dan Jepang.


"Baiklah, lalu ketika kau harus melakukan perjalanan bisnis di luar negeri apakah Hana juga akan ikut?" tanya Kim Yunsung kepada Jun.


Jun mengenggam tanganku yang berada di atas meja. "Tentu saja."


"Hana, dia akan pergi ke Korea minggu depan," ujar Kim Yunsung membuatku tersadar bahwa dia mencoba membantuku atas permintaanku semalam.


Wajah Jun tampak menegang. Aku berganti memegang tangannya.


"Aku ingin menghadiri peringatan kematian Ibuku," ujarku dengan pelan.


"Tetapi minggu depan aku harus ke Norwegia," balas Jun menatapku.


"Iya, aku juga akan menyuruh orangku untuk mengawasi setiap pergerakan Hansung," ujar Kim Yunsung sekali lagi membantuku.


Jun terdiam sesaat. Aku bisa melihat dia tampak berpikir keras. "Baiklah, aku tidak bisa membatalkan pertemuanku. Aku akan menyuruh Yuna dan Yujin menemanimu."


"Terima kasih Jun."


Hatiku bersorak mendengar Jun mengizinkanku untuk berangkat ke Korea minggu depan. Begitu tiba di kantor bersamanya, dia langsung berurusan dengan sekertaris untuk mengurus soal bisnis.


Sedangkan aku ditemani oleh Yuna dan Yujin memutuskan untuk berkeliling perusahaan. Sebenarnya tidak ada yang menarik yang bisa dilihat atau dilakukan pada sebuah perusahaan seperti milik Jun.


Aku masuk ke kamar yang berada di dalam ruangan Jun. Sengaja aku lakukan untuk menyimpan ponsel pemberian Jun. Namun ketika akan keluar, sebuah pesan masuk dari Nami.


   - Apa ini Hana? -


Mataku terbelalak melihat sebuah gambar yang dikirimkan oleh Nami. Sebuah foto dari rekaman cctv di mana ragaku dan Akira sedang tampak mengobrol pada depan sebuah etalase minimarket.


Aku tidak membalas pesan Nami dan meletakkan ponselku di atas ranjang. Aku lalu mengajak Yuna dan Yujin ke bagian rooftop perusahaan Jun memiliki taman kecil yang terdapat beberapa bangku untuk duduk.


"Duduklah," ujarku kepada Yuna dan Yujin yang hanya berdiri membelakangiku.

__ADS_1


Aku benar-benar belum terbiasa diikuti seperti ini. Bahkan bukan merasa terlindungi, aku malah merasa terkurung bagai tahanan.


"Apa Nona tidak merasa kepanasan?" tanya Yuna mungkin melihat keringat menetes dari pelipisku.


Aku menyungging senyum. "Ini masih pukul sembilan. Masih sinar matahari baik," ujarku sambil bertopang pada kedua tangan yang kutegakkan ke belakang. Kepalaku sedikit menengadah ke atas. Merasa cahaya mentari menembus pori-pori wajahku. Sangat hangat dan bersahaja.


"Aku akan pergi membeli es krim," ujar Yujin membuatku menoleh menatapnya.


Alisku terangkat bingung. "Kenapa tiba-tiba?"


"Kata Tuan Jun bahwa Nona Hana tidak terlalu suka kepanasan dan akan menikmati es krim pada musim panas," ujar Yujin menjelaskan.


Aku tersenyum tanpa sadar. Menyadari bahwa Jun sebegitu perhatian dan tahu soal Hana lalu entah menagap dadaku sedikit sesak mebyadari bahwa diriku bukanlah Hana, tetapi Umji.


Satu hal lagi, sekarang musim gugur. Bukan musim panas.


Setelah Yujin pergi. Sebuah ide kemudian muncul dalam kepalaku. Aku melirik Yuna yang sibuk dengan ponselnya.


"Yuna, aku melupakan ponselku," ujarku membuat Yuna menoleh.


Yuna kemudian berdiri. "Baiklah, Nona tunggulah di sini," ujarnya menatapku curiga.


"Berikan ponselmu jika kau mengira aku akan melarikan diri," ujarku kemudian mendapatkan ponsel Yuna.


Setelah Yuna berjalan menuju pintu. Aku mengusap layar ponselnya pada bagian bawah ujung kanan. Jendela kamera lalu terbuka. Aku mengarahkan kamera depan lalu megaktifkan mode wide angle.


Seperti tebakanku, Yuna berdiri mengintip di dekat pintu sebelum dia benar-benar pergi. Aku mulai bergerak. Kuletakkan ponselnya di bawah pot bunga. Kemudian setelah memastikan tidak ada siapapun di pintu. Aku segera turun ke lantai paling atas. Tidak segera menuju tangga atau lift, aku meluhat sebuah ruangan kecil yang berada cukup dekat dengan ruangan Jun.


Untung saja sekitaran luar ruangan Jun tampak sepi. Aku kemudian menemukan ruangan kecil tersebut semacam gudang. Bahkan ada beberapa pakaian laki-laki yang kuyakini adalah milik Jun yang sudah tidak terpakai.


Aku menarik napas dalam kemudian melepas mantel yang pakai. Kugantikan dengan jas yang sedikit kukibaskan agar debu luruh. Aku juga menemukan topi yang menajdi pelengkap.


Setelah mengintip pada balik pintu, aku melihat keadaan lorong depan ruangan Jun tampak sepi. Aku dengan langkah cepat lalu turun melalui pintu darurat. Tidak langsung turun secara terus menerus sampai lantai dasar.


Aku keluar di lantai sebelum lantai teratas. Sepertinya lantai ini kebanyakan ruangan khusus untuk rapat atau pertemuan. Mataku beralih pada sebuah benda merah yang bulat.


Aku perlahan mendekati benda tersebut. Perlahan aku menarik napas dalam lalu dengan sekali tekanan keras, muncul auara sirene peringatan.


Aku baru saja menekan tombol darurat tanda kebakaran. Tidak ada jalan lain menyelinap keluar untuk pergi menemui Nami. Setidaknya kegaduhan dan kepanikan sementara akan membuat tim pengamanan tidak fokus dan beralih mencari sumber api yang fiktif.


***

__ADS_1


__ADS_2