
Umji menggeliat dalam tidurnya. Tidak lama matanya terbuka. Ia meraih ponselnya di meja kecil samping tempat tidur. Mengecek jam berapa sekarang.
"Aku terlalu cepat terjaga," gumamnya menatap ponsel yang menunjukkan pukul lima pagi.
Biasanya Umji baru akan terbangun pukul enam pagi yang akan dilanjutkan dengan aktivitas bersiap ke kantor. Tetapi ia terjaga sejam lebih cepat.
Kepala Umji terasa sedikit sakit serta otot lehernya agak tegang. Ia pun melakukan sedikit peregangan yang dilanjutkan dengan menegak segelas air putih.
Memiliki banyak waktu sebelum berangkat bekerja. Umji memutuskan untuk membuat nasi goreng kimchi alih-alih memakan roti bakar sebagai sarapan seperti biasanya.
Ketika selesai membuat menu sarapannya, Umji memutuskan untuk menikmatinya sambil membaca salah satu naskah pilihan Mino kemarin. Ia memutuskan membaca depan naskah tersebut. Semacam prolog, tetapi juga bukan sinopsis lengkap.
Song Byul, seorang wanita yang ingin lari dari hidupnya. Ia idak sanggup menerima kenyataan yang terpampang di hadapannya. Lelaki yang ia cintai Kim Raewon, telah pergi selamanya, meninggalkan luka yang mungkin tidak akan pernah sembuh.
Kemudian datang Leo, lelaki yang menurutnya telah merenggut Raewon darinya. Tanpa rasa malu datang melamarnya---
Umji menghentikan bacaannya begitu ponselnya berbunyi. Ia mengangkat sebuah telepon dari nomor yang tidak dikenalnya.
''Selamat pagi, siapa?''
''Ini aku Mino. Aku mengganti nomor telepon lamaku.''
''Ada apa?''
''Kau melupakan sesuatu di mobilku.''
''Apa itu?''
''Buku catatan kecil.''
Dahi Umji berkerut mencoba mengingat buku kecil apa saja yang ia miliki. Seingatnya dirinya tidak pernah membawa buku kecil yang berisi jadwal harian atau daftar naskah yang harus ia terjemahkan. Namun bisa saja ia juga salah ingat, mengingat kesibukannya yang baru saja dimulai minggu lalu pasca pemulihan.
''Aku akan mengambilnya di kantor nanti.''
''Aku harus ke bandara pagi-pagi. Akan kuantar ke apartemenmu. Mungkin tiga puluh menit lagi aku akan berangkat ke situ.''
__ADS_1
''Oh baiklah.''
Umji segera menghabiskan sarapannya lalu menutup naskah yang tadi dibacanya. Ia harus bergegas mandi. Akan sangat tidak sopan menemui Mino dalam keadaan acak-acakan seperti sekarang.
Setelah mandi dan akan melakukan cuci muka. Umji menatap cermin di depan wastafel yang masih berada dalam ruangan kamar mandi. Ia menyeka embun sisa air mandi pada cermin tersebut. Tanpa berkedip, ia menatap wajahnya sendiri. Memerhatikan saksama. Entah mengapa ia merasa aneh pada dirinya sendiri. Namun ia tak tahu apa itu.
Mino datang tidak hanya dengan buku catatan kecil milik Umji, tetapi juga segelas kopi masih hangat yang sepertinya ia beli dari kafe. Melihat sesuatu yang dibawa oleh Mino, dengan senang hati Umji mengajak pria itu masuk.
Mino memutuskan duduk di meja makan kecil yang bahkan hanya ada dua kursi kayu kecil saling berhadapan. Ia meletakkan buku catatan kecil yang dipegangnya dekat kopi.
"Aku tidak menganggu pagimu bukan?"
"Tentu saja tidak."
Umji ikut duduk lalu menyesap kopi dari Mino. Ia tersenyum setelah merasakan rasa pahit dengan manis yang pas.
"Bagaimana dengan naskah yang kemarin kurekomendasikan?" tanya Mino.
"Aku baru membaca sebagian pada halaman depan. Kurasa akan cukup menarik."
"Aku berangkat. Sampai jumpa."
"Terima kasih."
Pintu terkunci secara otomatis begitu tertutup sehingga Umji tidak perlu menutupnya secara manual. Ia lalu beralih menatap buku catatan kecil miliknya. Entah mengapa ia merasa asing dengan benda itu. Dibukanya buku itu namun hanya ada satu tulisan.
Rose 408.
Umji merasa semakin tidak yakin itu miliknya. Seingatnya ia tidak pernah menulis sesuatu seperti itu. Tulisan yang terlalu unik untuk bisa dilupakan begitu saja. Namun ia juga tidak ingin menghubungi Mino kembali, mengingat pria itu sedang menuju bandara. Mungkin jika ada orang lain yang mencari buku catatan kecil itu maka Mino bisa langsung mencarinya.
Bangun lebih pagi dari biasanya membuat Umji juga datang ke kantor lebih pagi dari sebelumnya. Belum ada pegawai bagian novel yang datang. Ia melihat naskah yang tadi pagi dibacanya. Sengaja membawanya setelah mengingat Mino kembali membicarakannya sewaktu datang ke apartemennya.
Tanpa rasa malu datang melamarnya. Ayahnya yang memiliki utang budi terhadap keluarga lelaki tersebut menerima tanpa persetujuan dari Song Byul.
Meski baru sehari setelah pernikahannya, Song Byul memutuskan mengakhiri hidupnya.
__ADS_1
Alis Umji terangkat begitu membaca bagian 'bunuh diri', ia merasa sedikit tidak nyaman. Terdengar pintu terbuka, mengalihkan perhatiannya. Sama seperti pintu kantor lainnya. Kantor tempat Umji bekerja juga harus memakai tanda pengenal yang terintegrasi dengan barcode terlalu agar bisa terbuka ketika ditempelkan pada alat pemindai.
"Oh kau datang lebih awal," ujar Park Jini begitu melihat Umji.
"Aku bangun lebih awal juga," balas Umji mengutarakan alasannya.
Park Jini hanya menganggukkan kepalanya. Ia berjalan menuju tempat kerjanya. Namun baru semenit duduk di sana, ia kembali berdiri.
"Ayo kita ke kafetaria, perutku sangat lapar. Tidak ada yang bisa kumakan di rumah."
"Baiklah."
Niat Umji untuk ikut ke kafetaria bukanlah untuk makan. Tetapi lebih ke mencari udara segar. Langit sedang cerah, sinar matahari langsung menembus kaca jendela kafetaria yang memang transparan.
"Kau yakin tidak mau makan?" tanya Jini memasukkan waffle ke mulutnya.
Umji menggeleng pelan. "Aku sudah sarapan sebelum ke sini."
"Kenapa kau putus dengan Mino?" tanya Umji melanjutkan.
Jini yang akan meminum susu kotak kemasan, meletakkannya kembali. Batal meminumnya lalu beralih menatap Umji.
"Kau benar-benar lucu."
Ekspresi Umji berubah menjadi bingung. Ia tahu bahwa dirinya dan Park Jini bukanlah teman dekat. Mereka hanya bersama kurang lebih empat tahun pada kantor yang sama. Mereka hanya rekan kerja yang cukup tahu kepribadian masing-masing.
"Aku tidak ingin membicarakan hal yang mengganggu moodku. Aku duluan," ujar Jini beranjak pergi duluan.
Umji menghela napas panjang. Ia cukup menyesali pertanyaannya, tetapi merasa bingung kenapa Jini kelihatan kesal dengannya. Apa putusnya hubungan antara Jini dan Mino ada hubungannya dengan dirinya? Ia tak tahu, koma sepertinya membuat dirinya kehilangan banyak momen.
Umji melihat ke jam tangan miliknya. Masih ada waktu sebelum jam masuk kantor. Ia memilih merogoh saku celananya, mencari ponsel untuk sekadar membaca artikel berita pagi hari atau berselancar di sosial media. Sebelah alisnya terangkat begitu melihat instagram story milik Mino. Ia menyadari bahwa pria itu pergi ke Amerika Serikat. Tepatnya negara bagian New York.
Umji melihat bahwa tepat yang dikunjungi oleh Mino adalah salah satu universitas yang ada di sana. Ia sendiri bertanya-tanya untuk apa Mino selaku editor datang ke sana. Namun ia tidak mau terlalu memikirkannya dan memilih menaruh ponselnya kembali lalu beranjak pergi menuju tempat kerjanya.
***
__ADS_1