Daydream

Daydream
B. SEOUL - 17


__ADS_3

Kim Hana!


Aku tersentak dalam tidurku. Kesadaranku menyergap otakku, membuat aku membuka mata tanpa persiapan.


"Kim Hana," seru seseorang sambil mengoyang-goyangkan tubuhku.


Alangkah terkejutnya aku melihat Jun kini berada di sampingku, duduk di atas tempat tidur dengan raut wajah cemas.


"Kau di sini?" ujarku kemudian memejamkan mata lalu membukanya. Memastikan bahwa yang kulihat bukanlah mimpi.


Bahwa Jun yang berada di Seoul bukanlah sekadar halusinasi, akibat obat tidur yang kutelan tidak sesuai kadar semestinya.


Aku mengubah posisiku yang tadinya terbaring menjadi terduduk. Meskipun telah sadar, tetapi efek obat tidur yang kumakan ternyata masih bekerja dengan baik.


"Kau sudah gila? Apa ini?" tanya Jun kini menunjukkan botol berisi obat tidur.


"Aku hanya perlu istirahat saja," balas mencoba bersikap biasa saja.


"Hana ... jujurlah padaku, apa maksudmu memakai ini?" tanya Jun masih tidak percaya.


Dahiku mengernyit. Apa sebenarnya yang dimaksud oleh Jun? Apa aku akan menyalahgunakan benda tersebut?


"Tenanglah Jun, aku tidaklah berniat mengakhiri hidupku di sini. Pada apartemenmu sendirian," ujarku lalu mengulas senyum.


Namun Jun tidak bereaksi. Ia malah tetap menatapku tajam. "Itu tidak lucu Hana. Lagipula aku tahu Yuna dan Yujin tidak ikut bersamamu."


Aku terkejut mendengar bahwa Jun bisa mengetahui hal tersebut secepat ini. "Aku hanya tidak ingin merasa terlalu diawasi."


"Hana, apa kau bertemu dengan Hansung?"


Aku menggeleng. "Tentu saja tidak. Untuk apa aku bertemu dengannya."


Ponselku berbunyi. Nada dering pada ponsel yang hanya kugunakan untuk menghubungi Mino. Ketika aku akan beranjak untuk mengambilnya dari dalam tas selempang kecilku, secara spontan Jun yang bangkit mengambilnya.


Mataku terbelalak begitu Jun mengeluarkan ponsel tersebut. Namun alisnya terangkat beralih menatapku.


"Nomor yang tidak dikenal?"


Aku sedikit bernapas lega. Setidaknya aku memang tidak menyimpan nama Mino, karena hanya nomornya lah yang pernah kuhubungi. Lagipula ponselku yang satu berada di kantung tas yang lainnya.


"Mungkin hanya salah sambung," ujarku bernada biasa saja.


Jun menganggukkan kepalanya lalu menyerahkan ponsel dan tas kepadaku. Aku langsung menyetel mode diam lalu memasukkannya kembali ke dalam tas.


"Kita akan pulang  ke New York hari ini," ujar Jun membuatku terkejut.


"Apa?"


"Bukankah kau sudah datang ke peringatan kematian Ibumu?"


"Benar, tetapi kurasa terburu-buru jika pulang hari ini. Jika kau ada pekerjaan mendesak kau bisa pulang duluan," ujarku dengan nada memelas.


Jun menghela napas. "Baiklah, besok baru kita akan pulang. Kau mandilah, kurasa kita perlu jalan-jalan sebentar," ujarnya lalu tersenyun tipis.

__ADS_1


Aku mengangguk pelan. Sedetik kemudian aku menyadari bahwa secara tidak langsung Jun mengajakku untuk berkencan?


"Aku akan kembali satu jam lagi. Mau ke kafetaria bagian bawa untuk membeli americano," ujar Jun kemudian keluar dari apartemen.


Ketika aku akan bergegas ke kamar mandi. Ponselku kembali berbunyi, kali ini ponsel yang diberikan oleh Jun.


"Nami eonnie?" angkatku menyadari bahwa Nami yang meneleponku.


"Kau masih di Korea?"


"Ya dan ... Jun juga berada di sini."


"Aku tahu. Besok aku akan ke Korea juga."


"Apa rencanamu soal membawa Olen ke Korea?" tanyaku penasaran.


"Kau akan tahu ketika kembali ke New York nanti. Kapan kau akan pulang?"


"Jun bilang besok."


"Baiklah, sampai jumpa."


Aku menarik napas dalam menyadari bahwa Nami membawa Olen Korea bukan sekadar untuk jalan-jalan atau liburan saja.


Hangatnya air menyentuh permukaan kulit membuat mataku benar-benar melek sekarang. Sekilas aku teringat ucapan Nami tentang Kim Yunsung yang membuat ayah dari Olen menjadi bunuh diri.


Jika Kim Yunsung bisa melakukan hal tersebut kepada orang yang Nami cintai maka bukan tidak mungkin juga dia juga dapat melakukannya terhadap yang lain. Apakah Kim Yunsung terlibat dalam hilangnya Hansung selama ini?


Pemikiran tersebut secara tidak langsung memenuhi kepalaku hingga aku mengeringkan rambut memakai hairdryer. Tiba-tiba Jun muncul dari belakangku.


"Kau terlihat cantik dengan baju yang kau pakai," puji Jun memerhatikan setelan pakaian yang didominasi oleh warna putih.


Aku hanya tersenyum membalasnya. Tetapi  ketika aku akan meraih sisir dari tangannya, Jun malah menghentikanku dan mulai menyisir rambutku yang terurai panjang.


Aku menahan napas dengan duduk menegang di depan cermin. Kami berdua saling menatap melalui cermin.


Setelah Jun berhenti, kukira dia akan langsung mengajakku pergi. Tetapi tidak, ia hanya terdiam menatapku.


"Ada apa?" tanyaku masih melihatnya melalui cermin.


Jun tersenyum. Ia kemudian menunduk lalu menyampingkan rambut ke depan, sehingga leher bagian kananku tersingkap dengan jelas.


Aku mebelalakan mata begitu Jun mulai sedikit membungkuk dan kepalanya menunduk. Ia mengecup lembut leherku. Membuat aku merinding ketika merasakan bibirnya bersentuhan dengan kulit leherku.


"Aku menyukai aroma parfum vanilamu," ujarnya lalu kembali ke posisi semula.


"Ayo kita nikmati hari ini."


Jun mengulurkan tangannya. Aku yang masih terkejut dengan perbuatan yang ia lakukan tadi hanya menerima uluran tangannya tanpa berkata apapun.


Tempat pertama di mana Jun mengajakku adalah sebuah teater musikal. Aku bisa melihat acara ini begitu berkelas, apalagi salah satu pemainnya adalah penyanyi terkenal di Korea Selatan.


Apa mungkin karena Kim Hana berasal dari jurusan drama dari Julliar School sehingga Jun membawaku ke sini?

__ADS_1


Aku sebenarnya tidak keberatan ketika dia menanyakan apakah aku setuju atau tidak. Selama ini aku tidak sempat pergi ke acara seperti ini bahkan untuk menonton ke bioskop pun aku jarang melakukannya.


Seperti dugaanku, teater musikal memanglah menarik. Memiliki alur cerita layaknya drama yang kemudian diselingi oleh aksi nyanyian para pemainnya.


Setelah dua jam berlalu, Jun kemudian mengajakku untuk makan malam. Namun mataku membulat begitu berada di depan restoran yang kini akan aku tempati.


Kakiku berhenti melangkah membuat Jun berbalik dan menatapku heran. "Ada apa Hana?"


"Tidak, apa kau yakin kita akan makan di sini?"


Alis Jun terangkat. "Bukankah kau suka makanan Prancis?"


Aku terdiam. Ingatan bagaimana kala aku tertidur dan melihat ragaku yang diisi oleh jiwa Hana mulai terpatri di kepalaku. Momen ketika Akira atau Hansung dan Mino berkunjung ke apartemen.


Akira lalu mengajak ragaku makan siang bersama di restoran yang saat ini raga Hana berdiri di depannya.


Aku menjadi gelisah menyadari bahwa Kim Hana mulai menyadari sesuatu yang aneh soal kabar yang ia ketahui bahwa dirinya pulang ke Korea, padahal saat itu ia sedang koma memakai ragaku.


Akira jelas mengetahui hal itu juga mustahil, karena lelaki itu sejatinya mengawasi ragaku yang koma. Ia bahkan berbohong bahwa meninggalkan ragaku yang tenggelam, karena dihubungi oleh keluarganya yang terkena musibah. Padahal kenyataannya ia hanya tidak ingin ketahuan sebagai Hansung.


"Hana," sahut Jun lalu mendekat. Ia meraih tanganku, aku terlalu banyak pikiran untuk mencari alasan lain agar tidak jadi makan di restoran Prancis yang kini telah kumasuki.


Jun mengambil meja di samping jendela. Aku menoleh melihat meja di mana ragaku, Akira dan Jini makan bersama.


Penglihatanku hilang ketika Jun menyadarkanku sore tadi. Sebenarnya tidak ada yang spesial setelah makan siang yang mereka lakukan kemarin. Ragaku berpisah dengan Akira dan pulang bersama Jini yang memutuskan menginap di apartemenku.


"Selamat malam, ini daftar menunya," ujar pelayan datang memberi dua daftar menu.


"Nona datang lagi?"


Ucapan pelayan membuatku yang tadi melihat daftar menu yang telah kuketahui isinya lalu beralih menatap pelayan yang kukenali adalah pelayan yang sama dengan yang melayani ragaku bersama Akira dan Jini.


"Apa kau pernah ke sini kemarin?" tanya Jun dengan dahi mengernyit memakai bahasa Korea.


Pelayan tersebut beralih menatap Jun sambil tersenyum. "Saya bisa mengingat Nona ini dengan baik. Tadi siang dia datang bersama seorang pria dan kemudian disusul seorang wanita."


Jun menatapku serius. Namun dia tidak bersuara apapun.


"Tidak, kau lihat sendiri bukan aku tertidur di apartemen," sanggahku.


"Tetapi wajah Nona sungguhlah yang datang tadi siang, tunggu sebentar," ujar pelayan tersebut lalu pergi dan tidak lama kemudian kembali dengan sebuah foto.


Benar! Kim Hana, Akira dan Jini sempat dipotret menggunakan kamera polaroid setelah membayar di kasir, karena di belakang kasir terdapat tempat untuk menyimpan foto para pelanggan yang pernah berkunjung. Sial, kau melupakan soal itu.


Jun meraih foto tersebut lalu menatapku lekat. "Ini memang seperti dirimu dan ... Hansung?"


Aku mengigit bibir bawahku. Jika hanya ragaku saja di foto tersebut maka mudah bagiku menjelaskan bahwa perempuan itu adalah Lee Umji yang pernah dia temui di perusahaan penerbitan. Tetapi Hansung sendiri?


"Jun, percayalah itu bukan aku."


"Aku pernah berjumpa dengan perempuan bernama Lee Umji, kalian memiliki wajah yang begitu mirip. Tetapi ini jelas Hansung bukan?" ujar Jun menunjukkan foto tersebut.


Aku terdiam. Bukan tidak tahu, tetapi bingung menjelaskan bagaimana.

__ADS_1


***


__ADS_2