
"UMJI BANGUN!"
Umji membuka matanya lalu duduk spontan. Ia menatap Jini yang berdiri di sampingnya. Sedangkan ia sendiri masih di tempat tidur.
"Kau terlalu lama pergi tidur sehingga juga bangun."
"Gara-gara siapa juga aku harus keluar malam-malam," balas Umji beranjak ke kamar mandi.
"Mandilah, aku akan menyiapkan sarapan."
Kepala Umji menyembul dari pintu. "Kau tidak pulang?"
Jini memutar bola matanya. "Nanti setelah sarapan. Aku akan mengirim pesan kalau aku akan terlambat datang ke kantor."
Park Jini membuat telur dadar, sup rumput laut, ayam goreng dan menyiapkan kimchi yang ia dapat dari kulkas Umji.
Umji telah berpakaian lengkap. Sebelum menuju kuris meja makan di mana Jini sudah duduk di sana. Ia menyiapkan naskah yang perlu di bawahnya ke kantor. Meletakkannya di samping mangkuk nasinya. Takut akan lupa membawanya.
"Oh itu naskah yang sempat kubaca setelah makan ramyeon semalam dan ...," ucapan Jini berhenti begitu tersadar akan papan yang dilihatnya semalam. Ia langsung mengarahkan matanya ke sana.
"Papan itu kenapa isinya begitu," tunjuk Jini kini menatap lekat Umji.
Umji memasang ekspresi datar seraya mengikuti telunjuk Jini. "Oh, itu ... aku tidak terlalu ingat," ucapnya jujur. Ia bahkan mengernyit melihat bagan- bagan tentang perusahaan tempatnya bekerja. Kapan ia menulis hal seperti itu?
"Mungkin setelah kau bangun dari koma. Bisa saja ingatanmu pada saat itu memudar," ujar Jini berasumsi.
"Maksudmu dua tahun yang lalu?"
"Satu tahun lebih tepat. Kau juga lupa masa komamu? Kau memang koma selama satu tahun setelah kecelakaan lalu terbangun selama satu tahun dan entahlah ... Bisa dibilang ada yang bermasalah dengan kepalamu dan kembali koma lagi."
Umji terperangah mendengar penjelasan Jini. Ia merasa bahwa hanya sekali koma dan sadar hingga sekarang ini.
"Sudah jangan bicarakan masa kelam itu. Oh ya aku membaca salah satu naskah, oh yang ini," ujar Jini beralih mengambil naskah yang ada di atas meja makan.
"Itu rekomendasi Mino."
"Benarkah? Setahuku dia tidak suka novel romantis seperti. Bahkan sebagai editor dia hanya menerima bertema fantasi atau thriller."
__ADS_1
"Kau sudah membacanya?" tanya Jini menatap Umji.
"Baru bagian depan. Kau bilang sudah membacanya. Memang tentang apa?"
"Ini ya, sedikit mainstream. Tentang cinta segitiga dan perebutan kekuasaan. Mirip drama televisi akhir pekan. Aku juga baru membacanya sebagian," balas Jini kembali membuka naskah novel itu.
"Jadi Song Byul itu benar-benar bunuh diri?" tanya Umji mengingat salah satu alur cerita dalam naskah.
"Oh aku melewatkan bagian itu jadi tidak tahu. Song Byul ini adalah putri konglomerat, dia tidak akur dengan Kakak tirinya bernama Nana. Lalu ada Raewon yang sepertinya kekasihnya namun memiliki masalah secara status sosial sehingga tidak bisa bersama Song Byul dan Leo lelaki yang terobsesi dengan Song Byul."
Umji merasa bahwa cerita romantis kontemporer seperti itu sudah banyak beredar di pasaran. Lalu kenapa Mino merekomendasikannya? Mino yang selalu pilah-pilih soal naskah novel yang masuk.
"Bagaimana jika ini aku baca dulu? Aku tahu kau cukup sibuk dengan naskah lain yang sudah pasti diterima dan perlu diterjemahkan. Nanti kalau menarik akan aku langsung masukkan ke daftar terima untuk diterjemahkan," pinta Jini mengedipkan matanya beberapa kali ke arah Umji.
Umji mengangguk setuju. Sejujurnya ia saat ini memang banyak pekerjaan untuk terjemahan novel yang dipersiapkan untuk terbit. Lagipula ia merasa bahwa Jini penasaran dengan kenapa Mino memilih naskah bertema romantis seperti itu yang merupakan bukan kesukaan lelaki itu.
Jini sendiri bertanggungjawab bagian seleksi novel yang akan diterima baik novel berbahasa Korea ataupun bahasa asing. Editor seperti Mino dan Umji biasanya juga merekomendasikan yang apabila menurut mereka ada menarik maka dibawa ke bagian seleksi .
*
"Selamat pagi," sapa Mino yang berjalan di belakang Umji.
"Iya, aku punya sesuatu untukmu." Mino mengeluarkan sesuatu dari tasnya.
Umji membaca sebuah dokumen. Ia kemudian terkejut melihat namanya ada dalam daftar dokumen itu.
"Apa ini?"
"Sebuah tim untuk berangkat ke Jepang. Salah satu rumah produksi ingin membuat film berdasarkan novel yang terbit dari perusahaan kita. Penulis ingin kita ikut terlibat, khususnya editor dan penerjemahnya," jelas Mino membuat Umji bingung.
"Novelnya itu aslinya bahasa Jepang lalu setelah penerjemah kita sudah teejemahkan ke bahasa Korea, aku dulu editornya dibantu sama kau," lanjut Mino menjelaskan.
"Tapikan aku hanya membantu."
"Aku ingin bekerja untuk terakhir kalinya pada bagian novel dan kuharap kau bersedia untuk ikut. Lumayan bukan bisa jalan-jalan ke Jepang. Kau belum pernah ke luar negeri bukan?"
Umji mengangguk pelan. "Jadi berapa orang dari kita yang akan berangkat?"
__ADS_1
"Kau bisa lihat daftarnya. Dari perusahaan kita hanya kau dan aku selain itu aku membawa teman lama yang fasih berbahasa Jepang."
"Kapan kita berangkat?"
"Lusa."
Berita bahwa Umji akan melakukan pekerjaan sudah tersebar di bagian novel perusahaan. Bahkan Pak Ryeol sebagai atasan sudah menyetujui dna memberi izin.
"Kau benar-benar hanya akan berangkat bersama Mino?" tanya Jini kaget mendengar kabar tersebut.
"Ada teman lama Mino dan pihak produksi film. Tapi berangkatnya terpisah," jawab Umji acuh tak acuh.
"Akan sangat menyenangkan pasti, daripada terkurung di ruangan ini."
"Apa penulisnya benar-benar terkenal sampai bagian penerbitan juga terlibat?" tanya Umji baru mengalami kasus ini. Ia sudah sering mendengar bahwa novel terbitan dari mereka banyak dianngkat ke layar lebar atau drama televisi. Namun untuk ikut terlibat, belum pernah.
"Bukankah kau dulu membantu Mino Oppa ... oh aku ingat, inikan penulis yang tidak mau tampil di depan publik. Katanya cuma Mino Oppa yang saat itu jadi editornya yang bertemu dengannya. Bisa dikatakan pihak kita akan mewakili penulisnya dalam survey lokasi cerita yang akan difilmkan," jelas Jini.
Umji mencoba mencerna semua perkataan Jini. Ia sendiri bingung dan sejujurnya sudah lupa tentang penulis yang ia dan Jini bicarakan. Namun ia berpikir bahwa banyaknya novel yang harus ia urusi setiap pekan adalah penyebab lupanya.
Umji yang biasanya sepulang kerja langsung menuju ke apartemennya. Kini ia harus mempersiapkan keberangkatannya. Mulai dari peralatan mandi, obat-obatan dan pakaian berbahan tebal yang sedang diskon termasuk jaket untuk dibelinya.
"Umji?"
Merasa terpanggil dengan reflek Umji berbalik dan menemukan laki-laki yang ditemuinya di perpustakaan kota. Akira Jun.
"Belanjaanmu banyak sekali," ujar Akira yang memakai tudung jaketnya sambil memerhatikan troli Umji.
"Oh ini aku akan ke Jepang."
Raut wajah Akira berubah menjadi semangat. "Benarkah? Kapan?"
"Lusa."
"Apa ini kebetulan?" gumam Akira lebih ke arah dirinya sendiri. Ia lalu beralih menatap Umji.
"Aku juga berangkat lusa."
__ADS_1
Umji terdiam. Baru saja ia dikejutkan dengan keberangkatan ke Jepang yang terkesan mendadak. Kini seseorang yang baru dikenalnya juga akan ke sana. Apa ini benar-benar kebetulan?
***