
Aku keluar terburu-buru dari perusahaan penerbitan menuju parkiran. Segera aku masuk ke dalam mobil. Kulirik Yuna yang wajahnya menegang.
"Ada apa?" tanyaku.
"Aku melihat mobil Tuan Jun, terparkir di depan lobi dan ... melihat Tuan Jun masuk. Apakah Nona bertemu dengannya?" tanya Yuna menebak.
Aku menggeleng pelan. "Tidak, aku menemui orang lain," balasku tak acuh. "Jalankan mobilnya ke bandara."
Mobil melaju menuju bandara. Aku harap-harap cemas memerhatikan jam pada ponsel Yuna yang kupegang. Setelah sampai di bandara, aku dan Yuna langsung keluar dari mobil.
"Kau pulang duluan ke Amerika. Ini ponselmu," ucapku menyerahkan ponsel Yuna. "Lalu berikan ponselku."
Yuna kelihatan kebingunan, namun tetap menuruti perkataanku. "Terus bagaimana dengan Nona?"
"Aku tahu, kau dan aku pasti akan terlacak oleh Jun bahwa telah meninggalkan Amerika menuju Jepang lalu Korea. Aku akan menemuinya di sini dan menjelaskan semuanya," ujarku memutar otak.
"Kau coba mengawasi perkembangan perusahaan Ayahku. Cari tahu apa yang terjadi saat rapat pemegang saham," lanjutku.
Yuna mengangguk mengerti. "Apakah Nona bisa sendirian di sini?"
"Percaya atau tidak, aku lebih mengenal Korea dibanding Amerika," ujarku lalu masuk kembali ke mobil.
Aku menancap gas meninggalkan bandara. Tetapi bukan kembali ke perusahaan penerbitan menemui Jun seperti yang kukatakan kepada Yuna. Aku menuju salon untuk menyambung rambutku dan mewarnainya menjadi cokelat tua.
Dadaku berdegup ketika nama Jun muncul di layar ponselku. Aku menarik napas lalu mengusap tanda berwarna hijau. Aku yang sedang berada di mobil langsung menepi ke pinggir jalan.
"Halo?"
"Kau di mana sekarang?" tanya Jun dengan suara tenang, namun bisa kurasakan penggalan setiap kata yang terdengar tegas.
"Seoul," jawabku jujur. Tidak ada gunanya berbohong sekarang.
"Bagaimana bisa? Aku dengar dari Ayah bahwa kau tidak datang ke rapat pemegang saham. Apa yang terjadi Hana?" tanya Jun terdengar frustasi.
__ADS_1
"Aku ... aku itu."
Aku mengigit bibir bawahku bingung mencari alasan keberadaanku sekarang. Seharusnya aku mengantisipasi hal ini.
"Apakah kau datang ke Korea untuk mencari Hansung sekali lagi?" ujar Jun membuatku terkejut.
Mataku langsung melirik naskah novel di kursi sebelahku. Tangan kananku terulur lalu mengambil naskah dan meletakkannya di atas pahaku. Aku membuka lembar demi lembarannya.
Tanpa bisa kucegah, mataku langsung terbelalak begitu membaca sepenggal kalimat yang mengatakan bahwa Raewon mengalami kecelakaan di salah tebing di Korea Selatan dan jasadnya tidak pernah ditemukan.
"Aku akan meneleponmu nanti," balasku menutup telepon.
Aku tahu Jun pasti segera mencariku. Ponselku kumatikan agar tidak dilacaknya dan segera menjalankan kembali mobil menuju apartemen milikku.
Setelah sampai di depan pintu, aku merasa tidak asing sama sekali. Kutekan kata sandi dan pintu terbuka.
Aku menyalakan lampu apartemen. Tanpa berbuat lain, aku duduk di depan meja makan. Aku membuka lembaran naskah. Tidak bisa kuelak bagaimana diriku terkejut atas cerita dalam naskah yang sejauh ini kubaca sangat sesuai dengan kenyataan hidup Hana.
Diceritakan bahwa Song Byul dan Raewon adalah sepasang kekasih. Tetapi Ayah Song Byul menentangnya sehingga Raewon pergi ke luar negeri dan mulai memulai usahanya. Leo kemudian dikenalkan Nana kepada Hana dan Leo langsung jatuh cinta dan memaksa Hana menikahinya.
Raewon yang sukses menjadi pengusaha mendengar kabar tersebut langsung kembali ke Amerika, namun terlambat Song Byul telah menikah dengan Leo. Tanpa mau menyerah Raewon akhirnya mengajak Song Byul lari bersama sehari setelah pernikahan dan mereka berdua tinggal bersama selama beberapa minggu di Yunani.
Song Byul akhirnya hamil. Namun belum sempat Song Byul memberitahu Raewon, lelaki itu malah pergi ke Korea Selatan meninggalkannya dan mengalami kecelakaan.
Song Byul hancur mendengar kabar tersebut. Dia pun menegak racun agar bisa kembali bersama Raewon.
Aku melongo membaca naskah novel ketika telah sampai di bagian Song Byul meminum racun sebagai langkah bunuh dirinya. Semua sangat sesuai dengan kehidupan Hana. Namun aku berusaha fokus untuk kembali melanjutkan.
Song Byul mengira bahwa dirinya sudah mati bersama bayi yang dikandungnya. Tetapi ternyata dirinya masih hidup, namun berada dalam raga orang lain.
Song Byul hidup sebagai Yerin, seorang penerjemah dan editor di salah satu perusahaan penerbitan. Song Byul kemudian tahu bahwa Yerin mengalami koma selama setahun setelah kecelakaan, ingatannya sebagai Song Byul tetaplah ada. Sebagai Yerin, dirinya banyak dibantu oleh Minu dan tanpa sadar jatuh cinta kepada Minu.
Song Byul seolah menemukan dunianya kembali sebagai orang yang baru terlahir di dunia. Yerin sebagai perempuan yang bebas tanpa perlakuan jahat saudara tirinya Nana, tanpa paksaan pernikahan dengan Leo dan tanpa kisah tragis bersama Raewon.
__ADS_1
Namun Song Byul sebagai Yerin menjadi gusar ketika mengetahui bahwa selama tidur, pandangan gelapnya bukan karena tertidur. Tetapi dirinya memang hanya bisa melihat gelap, karena raganya sebagai Song Byul juga mengalami koma.Kadang dirinya bertanya-tanya mengapa tidak pernah bermimpi.
Tanganku bergemetar memegang lembaran terakhir yang kubaca. Aku mulai memikirkan semuanya. Bahwa Yerin adalah aku, Umji dan Minu ... Mino?
Aku sekarang ingat kenapa Jini mengatakan bahwa aku hanya koma selama setahun, karena tahun selanjutnya Hana masuk ke ragaku.
Napasku terasa tercekat. Jadi sebelum aku masuk ke raga Hana, maka Hana telah masuk ke ragaku terlebih dahulu?
Aku membaca beberapa paragraf terakhir di mana Hana menyadari bahwa raganya juga koma melalui penglihatan selama tertidur.
Mataku membulat dan mulai menduga bahwa penglihatanku selama ini bukan karena aku hidup sebagai Umji. Tetapi karena Hana masih di ragaku dan selama aku tertidur sebagai Hana, aku mendapat penglihatan tentang kehidupan Hana sebagai Umji.
Aku mengigit kuku ibu jariku. Perasaanku sungguh tidak karuan dengan teori-teori yang kuciptakan. Sulit kubuktikan apakah ragaku yang di Jepang ada jiwa Hana atau bukan, karena kembali koma. Satu-satunya jawaban yang bisa kudapatkan adalah Mino.
Karena Mino lah yang pertama kali menyinggung naskah novel ini. Aku kembali menunduk dan melihat bagian judul naskah tersebut.
All About You.
Apakah Hana yang hidup diragaku sadar bahwa ... selama raganya koma, sebenarnya aku sudah berada di raganya? Lalu dirinya sendiri yang menulis naskah novel ini dengan ragaku?
Aku terlonjak kaget tanpa sadar berdiri dari kursiku dengan menutup mulutku. Seolah tidak percaya apa yang baru saja kupikirkan dan semua terlihat masuk akal.
Aku koma setahun kemudian Hana hidup dalam ragaku dan membuatku sadar selama setahun, lalu aku kembali koma sebentar yang ketika aku yang menjalani koma selama dua tahun kuketahui. Tetapi kenapa penglihatanku dalam kehidupan Umji seolah tidak mengetahui sama sekali tentang Hana?
Mataku tak sadar bertemu dengan papan tulis dekat meja kerjaku. Aku mendekati papan yang tergambar struktur bagan perusahaan penerbit masih ada. Aku menatap bagan-bagan tesebut.
Tentu saja Hana hidup sebagai aku, Umji. Dirinya perlu menyesuaikan dan menggambar bagan-bagan ini untuk mengetahui kenalan Umji. Dan buku catatan kecil yang tertulis Rose 408 adalah ingatannya.
Berarti jika setelah aku hidup raganya dan Hana juga kembali hidup dalam ragaku sebagaimana penglihatanku sewaktu tertidur maka kuasumsikan Hana mengalami lupa ingatan? Itulah mengapa dirinya menanyakan alasan Jini putus dengan Mino.
Satu-satunya orang yang bisa kuminta keterangan adalah Mino. Apakah Mino menyadari bahwa ragaku sebenarnya terdapat jiwa orang lain?
***
__ADS_1