Daydream

Daydream
A. BUSAN - 24


__ADS_3

Lee Umji memutuskan kembali kampung halamannya di Busan. Ia mengundurkan diri dari perusahaan dan memilih bekerja freelancer sebagai penerjemah dan editor. Uang deposit dari apartemennya juga digunakan untuk membuka toko bunga, di pinggir pantai Busan.


Begitupula dengan Mino memutuskan untuk pindah ke New York. Ia memilih fokus untuk bekerja sama dengan para penulis biografi.


"Kau menikmati hidup di sini?" tanya Park Jini sambil melihat-lihat bunga di dalam toko bunga milik Lee Umji. Ia berkunjung ke Busan dalam rangka liburan musim panas.


"Ya, aku terlalu merasa penat untuk tinggal di Seoul. Kau pasti merasa kesepian di perusahaan?"


Jini mendesah. "Tentu saja, Mino Oppa juga memutuskan tinggal di New York dan sekarang kau berada di sini."


"Tetapi Jini, entah mengapa di sini terasa ada yang hilang," ujar Umji masih memegang dada sebelah kiri.


Jini mengigit bibir bawahnya. Ia mendengar langsung dari Mino bahwa selama jiwa Umji berada di raga Kim Hana, sebuah perasaan secara tidak langsung menghinggapi hati Umji untuk seorang lelaki.


"Kau bisa selalu berkunjung di sini," ujar Umji beralih yang tadi duduk mengatur benih bunga kini beranjak mendekati Jini.


"Kau ke sini tidak sekadar liburan bukan?" ujar Umji menatap Jini.


Jini menoleh, lalu tersenyum. "Ya, aku punya kenalan. Dia memintaku untuk karyanya bisa diterjemahkan ke dalam bahasa Korea."


"Sebuah novel?"


Jini menggeleng pelan. "Semacam buku tentang tempat-tempat ajaib di belahan dunia."


"Baiklah, berikan kontaknya padaku dan kau bisa menghubungi temanmu itu bahwa aku bersedia menerjemahkannya," ujar Umji menyetujui.


Jini tersenyum senang. Ia kemudian mengeluarkan sebuah kartu nama kepada Lee Umji.


Lee Umji menatap kartu nama yang kini dipegangnya. Ia secara saksama membaca nama serta kontak orang tersebut.


"Akira Jun," gumam Lee Umji membacanya.


Jini fokus melihat raut wajah Lee Umji ketika menyerukan nama tersebut. Sebenarnya Mino lah yang minta tolong padanya bahwa terdapat seorang teman yang ingin karyanya diterjemahkan ke dalam bahasa Korea.


"Dia orang Jepang?" tanya Umji mendongak menatap Jini.


"Dia orang Korea. Tinggal lama di Amerika Serikat, kemudian memutuskan tinggal di New York."


"Wah dengan pengalaman berpindah-pindah seperti itu, kurasa akan menyenangkan membaca karyanya," balas Umji sambil tersenyum.


Park Jini akhirnya pamit pulang ke Seoul. Ia memberikan pelukan hangat kepada Lee Umji dan meminta perempuan itu sesekali kembali ke Seoul untuk minum bersama.


Lee Umji menutup toko bunganya menjelang malam hari ini. Ia meraih dua pucuk surat yang diterimanya beberapa minggu yang lalu, surat yang berisi ungkapan rasa terima kasih dan permintaan maaf.


Kim Hana. Hansung. Dua nama itu diingat Lee Umji sebagai orang yang menulis surat untuknya, meski dirinya tidak tahu siapa mereka berdua.


Lee Umji kini terduduk di pasir. Deruh suara ombak membuat malam tak sesunyi ketika dirinya berada di dalam kamar. Ia seharusnya sibuk menerjemahkan artikel berbahasa Inggris dari permintaan situs berita online, tetapi entah mengapa malam ini ia merasa perlu menikmati angin malam.


Lee Umji menatap kedua surat tersebut. Ia mengeluarkan korek api, lalu membakarnya. Menyimpan setiap kalimat dalam surat dalam hatinya.

__ADS_1


Suara ponselnya kemudian berdering. Ia meraihnya dari dalam saku jaket yang dipakainya. Sebuah nomor yang tidak tersimpan pada kontaknya.


"Halo."


"Halo, ini aku Akira, teman dari Jini."


"Oh ya, Akira Jun bukan?"


"Benar, aku sudah mengirim karyaku melalui emailmu yang kudapat dari Jini."


"Oh baiklah, aku akan melihatnya nanti."


"Kau sedang berada di luar?"


"Ya, aku sedang berada di pantai."


"Baiklah, aku menantikan responmu setelah melihat karyaku dan ... jangan terlalu dekat dengan laut, jangan sampai terseret ombak dan tenggelam."


Ucapan Akira membuat Umji mengernyit bingung. Meskipun Umji tahu bahwa itu mungkin sekadar saran, tetapi mengapa terdengar familier?


Setelah dari pantai, Lee Umji memutuskan pulang ke rumah dan langsung masuk ke kamar melihat di depan televisi ibunya sedang asik menonton drama.


Awalnya Lee Umji ingin langsung beristirahat dengan tertidur pulas. Tetapi ia teringat akan Akira yang meneleponnya. Dengan sisa tenaga dirinya membuka laptop miliknya dan mulai mengecek karya lelaki tersebut.


Lee Umji menyungging senyuman begitu melihat karya Akira yang tidak hanya bernarasi, tetapi banyak juga fotonya. Sebuah perasaan aneh menghinggapi hatinya begitu membaca bagian Jepang.


"Akira ... Jun," seru Umji sebelum mematikan laptopnya.


Keesokan paginya Lee Umji kembali ke toki bunganya. Ia kini sibuk mengurus pot-pot kecil yang di dalamnya berisi kaktus, baru saja datang pagi ini.


"Selamat pagi," sapa seseorang membuat Lee Umji yang tadi berjongkok kini berusaha berbalik.


"Ya, selamat pagi. Ada yang bisa saya bantu?" ujar Lee Umji bangkit berdiri. Ia kini bisa melihat seorang lelaki yang tidak dikenalnya. Namun anehnya lelaki itu menatapnya lekat.


"Tuan? Perlu bunga apa?" tanya Umji mengernyit.


Namun lelaki itu tidak menjawab, hanya terdiam sambil terus menatapnya.


"Siapa namamu?" tanya lelaki itu akhirnya bersuara.


"Lee Umji," jawab perempuan itu tanpa ragu.


Lelaki itu kemudian tersenyum. Ia mengeluarkan sesuatu dari sakunya. "Ini milikmu," ujarnya sambil menyerahkan sebuah ponsel.


Alis Lee Umji terangkat, ia merasa bingung. Namun tetap mengambil ponsel tersebut. Sebuah ponsel keluaran tiga tahun lalu. Ia kemudian mulai membuka ponsel tersebut dan tidak menemukan apapun selain sebuah nomor yang dikenalinya. Nomor Mino.


"Kurasa kau salah, ini bukan milikku," ujar Umji mengulurkan ponsel tersebut kembali.


"Kau simpan saja. Kau mengenal pemilik nomor satu-satunya yang ada dalam ponsel tersebut bukan?" ujar lelaki itu membuat Umji mengangguk.

__ADS_1


"Kau ke mari hanya untuk memberi ponsel ini?" tanya Umji bingung akan tujuan lelaki itu.


Lelaki itu mengangguk. "Aku datang dari New York ... hanya untuk bertemu denganmu."


Mendengar ucapan lelaki itu, seketika jantung Lee Umji seolah berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya. Bibirnya terkatup sambil menatap lekat lelaki yang berdiri di hadapannya saat ini.


Lee Umji terkekeh. "Anda bisa saja. Mau beli bunga?"


Lelaki itu tersenyum. "Kau suka bunga apa?" tanyanya membuat Umji semakin bingung.


Lee Umji berkacak pinggang. "Jika anda hanya ingin bermain-main, silakan pergi. Saya cukup sibuk mengurus beberapa kiriman bunga yang baru datang," ujarnya merasa sedikit kesal seolah lelaki itu sedang menggodanya.


"Kau belum berubah," balas lelaki itu lalu tersenyum kembali.


Lee Umji mengernyit. "Maaf, tetapi sepertinya anda salah orang."


"Bukankah kau Lee Umji? Bukan Kim Hana."


Mata Lee Umji membulat begitu nama Kim Hana. Namun ia tidak membalas, sebaliknya ia memerhatikan secara saksama wajah lelaki itu yang entah mengapa begitu familier.


"Senang bertemu denganmu kembali dan melihatmu sehat," ujar lelaki tersebut lalu berbalik beranjak pergi.


Meninggalkan Lee Umji yang bingung sekaligus melamun. Barulah beberapa menit kemudian ketika lelaki itu tidak ada di hadapannya, ia melepas sapu tangan dan celemek penghalau kotoran tanah lalu berniat mengejar lelaki tersebut.


Lee Umji keluar dari tokonya, namun matanya tidak menemukan lelaki itu. Kakinya lalu berjalan menelusuri bibir pantai hingga melihat lelaki itu berdiri di atas pasir menghadap ke arah pantai.


"Siapa kau?" tanya Lee Umji mendekat. Berdiri di samping lelaki tersebut.


Lelaki itu menoleh. "Untuk apa kau tahu?"


"Aku menerima surat dari nama Kim Hana," ujar Umji bercerita dengan jujur.


Lelaki itu kemudian mengubah posisinya menyamping sehingga kini berhadapan dengan Lee Umji. Perlahan ia mengulurkan tangannya, dengan telapak tangan tertutup. Kemudian setelah Umji melihatnya, ia membuka telapak tangannya. Sebuah cincin berada di sana.


Lee Umji menatap cincin tersebut. Tangannya terulur mendekatinya. "Apa ini?"


Begitu cincin tersebut berada ditangannya. Lelaki tersebut malah menarik tangannya lalu memeluknya.


"Ini aku, Jun."


Dalam pelukan lelaki itu, air mata Lee Umji terjatuh tanpa ia sadari. Kenangan dan ingatan perlahan muncul dalam kepalanya. Setelah memejamkan matanya sejenak, Umji membalas pelukan lelaki tersebut.


"Aku merindukanmu," ujar Jun belum melepas pelukannya.


"Jun," seru Umji, lalu tersenyum sambil menangis dalam posisi masih memeluk Jun.


"Mengapa kau baru datang?" gumam Umji sebelum mata Jun terbelalak bahwa perempuan itu telah mengingatnya.


S E L E S A I

__ADS_1


__ADS_2