
Umji sedang duduk di depan meja kerjanya. Ia mengerjakan beberapa naskah terjemahan yang sudah akan memasuki deadline. Sesekali helaan keluar dari mulutnya.
Untuk membuat dirinya tambah berkonsentrasi Umji membuat secangkir kopi susu hangat. Ia menikmati minuman berkafein itu sambil menatap kota Seoul melalui jendela dekat meja kerjanya.
Pikirannya menerawang tentang kejadian yang dialaminya di Tokyo. Tetapi baru saja dirinya menyipitkan mata menyadari sesuatu, ponselnya berbunyi di atas meja kerjanya.
"Halo."
"Kau masih terjaga?"
"Iya, ada apa Mino?"
"Aku sudah membereskan mengenai masalah komamu di Jepang dan ... untuk seminggu ke depan, kau bisa cuti kerja."
"Aku mengerti, terima kasih."
"Iya, kuharap kau cepat tidur."
Sambungan telepon terputus. Umji menghabiskan minumannya segera kemudian kembali berkutat pada layar monitor. Ia tertidur cepat sehingga terbangun satu jam yang lalu. Ia melirik jam dinding yang menunjukkan pukul empat subuh.
Setelah satu naskah yang dikerjakan oleh Umji sudah setengah rampung. Ia mematikan komputernya, tetapi bukan tidur yang menjadi pilihan kegiatan selanjutnya. Ia memilih membuat ramen sambil menonton televisi.
Waktu berjalan dari pergantian chanel yang selalu dilakukan oleh Umji hingga matahari terbit. Ia segera mandi, mengingat Mino telah mengurus cuti kerja untuknya, dengan alasan pemulihan kesehatan.
Umji berpakaian cukup tebal, menyadari sudah hampir memasuki musim dingin. Ia kembali ke Seoul kemarin, melihat dapur terutama kulkasnya kosong maka diputuskannya untuk ke supermarket.
Taksi menjadi pilihan utama Umji untuk menuju supermarket. Naik kereta bawah tanah akan sangat menyesakkan pada pagi hari seperti sekarang.
Kebanyakan pekerja akan berbelanja sepulang dari kantor. Terutama para pekerja wanita yang telah menikah ataupun pekerja yang tinggal sendiri. Tetapi belanja di supermarket pada pagi hari sebenarnya adalah pilihan terbaik.
Sayur-sayuran seperti yang dibeli Umji sekarang masih segar. Ia memasukkan selada dan bayam ke dalam troli miliknya. Ia juga membeli daging sapi dan daging ayam yang telah dipotong atas beberapa bagian.
"Eh Umji?"
Sebuah suara membuat Umji menoleh. Mendapati Pak Ryeol juga sedang mendorong troli sendirian.
"Selamat pagi Pak," sapa Umji sedikit membungkuk memberi salam.
"Kau sudah kembali dari Jepang?"
"Iya, kemarin dan aku sedang mengajukan cuti atas bantuan Mino."
Pak Ryeol mengernyit. "Aku belum mendengar tentang itu. Ada masalah?"
Umji terdiam. Ia telah berjanji pada Mino akan merasakan keadaan soal dirinya mengalami koma di Jepang. Ia sendiri bingung kenapa Mino memintanya berjanji seperti itu. Tetapi menurut Mino itu smeua demi kebaikannya.
"Ada masalah keluarga," jawab Umji asal.
"Baiklah, kurasa kau memang pantas mendapatkannya juga Mino. Proyek novel yang diadaptasi ke film mendapat respon yang baik dan katanya mendapat banyak sponsor," ujar Pak Ryeol terdengar tidak masalah dengan pengajuan cuti oleh Umji.
"Baiklah, lanjutkan belanjamu," ujar Pak Ryeol mulai mendorong trolinya, namun berhenti ketika baru dua langkah. Ia kembali menoleh ke Umji.
__ADS_1
"Oh ya, aku lupa memberitahu kalau Pak Janghyuk sempat mencarimu," ujarnya.
Umji mengernyit bingung. Ia baru saja dicari oleh anak pemilik perusahaan tempatnya bekerja? Ada apa?
"Memang ada apa?"
"Katanya dia ingin bertemu denganmu, begini saja. Bagaimana kalau setelah kau belanja, kau datang ke kantor sebentar untuk menemuinya?" ujar Pak Ryeol memberi saran.
"Aku sudah lama tidak bertemu dengan Pak Janghyuk, terakhir pada ulang tahun perusahaan tiga bulan lalu," ujar Umji mengingat-ingat.
Pak Ryeol terkekeh. "Apa kau sudah pikun? Kaukan bertemu dengannya beberapa hari yang lalu?"
Mata Umji terbelalak mendengar ucapan Pak Ryeol. "Di mana?"
"Kaukan kembali dari Jepang lalu datang ke perusahaan ... kalau tidak salah bertemu dengan Jini, karena ada urusan. Lalu kembali lagi ke Jepang."
Tubuh Umji terasa menegang mendengar ucapan Pak Ryeol yang raut wajahnya sama sekali tidak menunjukkan rasa bercanda. Bagaimana itu bisa?
"Itu tidak mungkin," gumam Umji dengan pandangan kosong.
Pak Ryeol mengendikkan bahu acuh tak acuh. "Baiklah, mungkin kau kesenangan di sana sampai lupa pernah pulang ke Seoul. Pokoknya habis ini langsung ke perusahaan bertemu dengan Pak Janghyuk."
Umji yang semula ingin mengisi semua persediaan konsumsinya untuk satu bulan ke depan menjadi gagal. Ia hanya membeli apa yang ada di trolinya sejak bertemu dengan Pak Ryeol. Kini dengan terburu-buru sambil menenteng tas kain berisi belanjaan, dirinya berjalan ke tepi jalan untuk memanggil taksi.
Umji menarik napas begitu memasuki lobi perusahaan. Namun baru akan masuk ke lift, sebuah tangan mencegatnya.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Mino terkejut dengan kedatangan Umji.
Mino yang bingung dan masih terkejut hanya mengikuti Umji masuk ke dalam lift. Untung saja hanya ada mereka berdua sehingga ia bisa bertanya dengan leluasa.
"Ada apa sebenarnya? Kukira kau akan tinggal di apartemen untuk istirahat," ujar Mino.
"Aku bertemu dengan Pak Ryeol dan dia mengatakan sesuatu yang aneh padaku."
"Aneh? Apa--"
Pintu lift terbuka dan tanpa menyelesaikan kalimat Mino terlebih dahulu, Umji sudah keluar dulu menuju bagian ruangan tempatnya bekerja.
Setelah pintu dibuka oleh Umji, ia segera menuju meja kerja Jini. Namun wanita itu tidak ada di sana.
"Oh Jini sedang ke kantin, perutnya bermasalah sehingga harus makan dulu sebelum meminum obat," sahut rekan kerja Umji.
Tanpa menunggu lagi, Umji berjalan secara cepat bahkan segera berlari menuju kantin. Diikuti oleh Mino yang ada di belakang, lelaki itu masih tidak mengerti dengan apa yang baru saja terjadi pada Umji.
Dari kejauhan Umji dapat melihat Jini sedang menikmati sup. Baru saja ia akan mendatangi Jini lalu Pak Janghyuk muncul di hadapannya tiba-tiba.
"Kebetulan sekali kita bertemu di sini," ujar Pak Janghyuk sambil tersenyum.
Umji mengigit bibir bawahnya lalu membungkuk menyapa Pak Janghyuk. Namun ekor matanya terus memantau pergerakan sosok Jini.
"Kata Pak Ryeol anda mencari aku?" tanya Umji berusaha fokus pada kenyataan bahwa lelaki di depannya mencari dirinya, entah apa.
__ADS_1
"Benar, aku hanya tidak menyangka saja," ujar Pak Janghyuk dengan jari mengusap dagunya sambil menyipitkan matanya.
"Ada apa?" tanya Umji terdengar seperti berbisik. Entah mengapa ia merasa aneh dengan tatapan curiga Pak Ryeol.
Mino ikut mendekat lalu berdiri di samping Umji. "Selamat pagi," sapanya sedikit membungkuk.
"Kau tahu Umji, bahwa kurasa ... kau memiliki kembaran," ujar Pak Janghyuk membuat Umji tersentak.
Umji menoleh dan mendapati raut wajah Mino bahkan lebih terkejut darinya. Bahkan lelaki itu sudah seperti memucat.
Pak Janghyuk tertawa pelan. "Aku tahu, kau hanya memiliki adik lelaki karena membaca kembali riwayat hidupmu semalam. Hanya saja aku tidak menyangka ."
Mino berusaha ikut tertawa. "Apa maksudnya? Aku tidak mengerti dan ... kurasa Umji juga terlihat bingung."
Pak Janghyuk mengubah posisi tangannya menjadi bersedekap sambil tetap menatap Umji. "Kurasa kau telah bertemu dengan temanku bukan sewaktu kembali ke Seoul sementara, maksudku kau Jepang lalu kembali ke sini sebentar kemudian kembali lagi ke jepang."
Umji tercengang mendengarnya. Ternyata apa yang dikatakan oleh Pak Ryeol adalah sama halnya dengan yang barusan didengarnya.
"Teman Pak Janghyuk?" Mino menyela mengabaikan fakta bahwa Umji yang diketahuinya koma di Jepang menurut yang didengarnya malah bolak-balik antara Jepang dan Korea.
"Iya, namanya Jun. Bahkan Umji sempat saling bertegur sapa dengannya, bukankah begitu Umji?"
Umji terdiam. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Karena ingatannya sekarang tentang beberapa hari yang lalu hanyalah kegelapan akibat koma yang dialaminya.
"Kau tahu kenapa alasanku mencarimu?" ujar Pak Janghyuk sambil tersenyum miring.
"Apa?" tanya Umji dan Mino hampir dalam waktu bersamaan.
" Aku menemukan fakta bahwa ... seperti yang kukatakan kau punya kembaran. Istri temanku Jun bernama Kim Hana memiliki wajah yang sama sepertimu!"
Mino tersentak mendengar nama Kim Hana. Nama yang beberapa hari lalu menghubunginya sambil mengirimkan gambar sampul naskah yang seharusnya ada pada Jini.
Sedangkan bibir Umji sudah gemetar. Tubuhnya menegang dan rasanya kakinya melemas begitu mendengar dua nama yang entah mengapa begitu familier.
"Jun ... Kim Hana?" gumam Umji sudah tidka melihat ke arah Pak Janghyuk lagi.
Namun dirasakan Umji sebuah tangan menopangnya dari belakang. Begitu berbalik ia menemukan Mino memegang punggungnya dengan tatapan khawatir.
"Kau baik-baik saja?" tanya Mino.
Pak Janghyuk tertawa. "Kau tidak usah khawatir atau cemas mendengarnya Umji. Lagipula Jun memperlihatkan foto istrinya kepadaku setelah melihatmu waktu itu."
"Dan menurutnya Kim Hana hanya memiliki saudara perempuan bernama Nami dan mereka juga tinggal di New York sejak lahir dan besar di sana," lanjut Pak Janghyuk bercerita.
"Baiklah, hanya itu sebenarnya ingin kukatakan. Menurutku kau perlu tahu bahwa kau memiliki kembaran tidak sedarah," ujar Pak Janghyuk lalu tertawa kemudian meninggalkan Umji dan Mino yang masih terkejut.
Umji yang mencoba memulihkan pikiran dan kesadarannya mulai kembali mencari sosok Jini yang kini telah tidak ada ditempat semula.
"Kim Hana!"
***
__ADS_1