
Aku kembali ke apartemen Jun sebelum tengah malam. Perutku terisi dengan sentosa dengan Mino memesan berbagai macam makanan khas Korea via delivery.
Mino pun percaya bahwa aku adalah Lee Umji setelah dia memberiku pertanyaan pada masa aku awal bekerja di perusahaan penerbitan. Apalagi terkait kado natal pertama yang kuberikan, hanya aku dan Mino yang tahu.
Aku terduduk di atas tempat tidur memikirkan kembali percakapanku dengan Mino. Ada beberapa hal yang kini mulai dapat kumemgerti benang merahnya.
Pertama, Kim Hana mengalami koma empat tahun lalu. Dalam periode tersebut, dua tahun berjalan kemudian aku mengalami koma juga akibat kecelakaan. Setahun mengalami koma membuat ragaku kembali sadar, tetapi tidak dengan jiwaku.
Ragaku diisi oleh jiwa Hana dengan ingatan utuhnya. Tiga bulan menjalani hidup sebagai diriku dengan bantuan Mino secara diam-diam, dia mulai menulis cerita tentang kehidupannya sendiri.
Namun sebelum cerita itu lengkap, ragaku kembali koma sehingga ingatanku sendiri hanya mengingat bahwa aku koma selama dua tahun. Sesuai ucapan Jini melalui penglihatanku selama berada pada raga Hana.
Kedua, Mino menyadari pada setelah aku bangun dari koma pertama bahwa ragaku bukan diisi oleh jiwaku sendiri. Ia semakin yakin ketika menerima naskah novel tersebut. Setelah koma kedua, ia memberi kembali naskah novel tersebut kepada ragaku, mengira bahwa jiwaku sebenarnya telah kembali. Padahal bukan, jiwa Hana lupa ingatan lalu mengira bahwa dirinya adalah aku, Lee Umji.
Mino bahkan berkata jika aku tidak menghubunginya maka mungkin ia akan mengira bahwa aku yang lupa ingatan dan ragaku bukanlah diisi oleh jiwa Kim Hana.
Dan ketiga, aku dan Mino mulai penasaran tentang sosok Hansung atau Akira yang seolah sengaja mendekatiku sebagai Lee Umji yany terlebih dahulu telah mengenal Kim Hana.
Aku terbangun pukul lima pagi. Aku jelas tidak bisa melihat aktivitas ragaku, karena memiliki zona waktu yang sama. Jadi Kim Hana yang sedang memakai ragaku mungkin juga telah tidur pada malam hari.
Min Sua datang sesuai yang kukatakan kemarin. Aku hanya memintanya menyiapkan sarapan sebelum aku akan pergi ke peringatan kematian ibu Kim Hana yang akan diantar oleh Lee Bom.
Aku memakai pakaian serba hitam. Dipadupadankan dengan sepatu boot panjang yang juga berwarna hitam.
"Kau bisa pulang setelah membersihkan apartemen, aku akan makan siang di luar dan mungkin akan pulang malam," ujarku pada Min Sua sebelum aku keluar dari apartemen.
Lee Bom membukakan pintu kepadaku ketika mobil telah terparkir di basement gedung apartemen. Tanpa banyak bicara, dia kemudian mengantarku pada area pemakaman yang cukup privasi. Aku sendiri lebih sibuk menatap layar ponselku.
"Saya akan menunggu di sini," ujar Lee Bom membungkuk.
Aku mengangguk. "Baiklah, aku masuk du."
Setelah tubuhku sudah cukup jauh berjalan masuk. Aku mempercepat langkahku, aku tidak melalaikan hal yang pantas kulakukan atas nama Kim Hana. Aku berziara ke makam ibu Kim Hana, untung saja seorang penjaganya mengenaliku dan langsung menunjukkan makamnya.
Setelah berdoa, aku segera berjalan pergi bukan menuju pintu di mana aku masuk tadi. Berkat membaca peta dari ponsel ketika dalam perjalanan tadi, aku bisa tahu titik buta untuk keluar dari area pemakaman tanpa diketahui oleh Lee Bom.
__ADS_1
Sebuah biara yang terhubung dengan area pemakaman memiliki jalan kecil untuk ke jalan utama. Begitu berhasil keluar, aku langsung memesan taksi menuju gedung apartemenku, tempat di mana aku dan Mino telah berjanji untuk bertemu dengan ragaku.
Aku bahkan meminta supir taksi untuk mempercepat laju kendaraannya dan tidak butuh lama ketika aku melihat Mino sudah berdiri di jalan masuk gedung apartemenku.
"Kau sudah lama menunggu?" tanyaku begitu keluar dari taksi.
Mino tidak langsung menjawab. Ia menatapku lekat. "Apa ada yang meninggal?"
Kau tersenyum tipis. "Aku baru saja menghadiri peringatan kematian Ibu Kim Hana menggantikan Kim Hana sendiri."
Mino mengangguk mengerti lalu mengajakku masuk ke gedung apartemen. Aku menarik napas dalam begitu telah berada di lift.
"Apa menurutmu dia akan terkejut?" tanyaku dalam posisi menatap ke depan begitupula Mino.
"Pasti. Tapi yang kutakutkan dia tidak akan percaya dengan apa yang akan kita katakan padanya," balas Mino membuatku berpikir begitu juga.
Begitu pintu lift terbuka kami berdua langsung menelusuri lorong apartemen untuk menuju unit milikku. Tetapi ponselku tiba-tiba saja berbunyi. Nama Jun tertera di sana, membuatku menepuk bahu Mino agar berhenti.
"Kau duluan saya, suami Kim Hana meneleponku," ujarku pada Mino.
"Halo."
"Lee Bom mencarimu. Kau di mana?" suara Jun terdengar menusuk.
"Aku ada urusan."
"Apa kau tahu kalau Hansung juga berada di Korea?"
Ucapan Jun membuat mataku terbelalak. Namun aku mencoba tenang. Bisa saja Hansung ke Korea untuk sebuah urusan bisnis atau urusan ketika dirinya berstatus orang lain ... Akira?
"Aku tidak tahu soal itu," jawabku jujur.
Terdengar helaan napas terdengar dari balasan Jun. "Apa kau benar-benar akan meninggalkanku lagi?"
"Jun," seruku pelan memanggilnya.
__ADS_1
"Kembalilah ke apartemen sebelum malam."
Tut.
Jun menutup telepon secara sepihak. Aku tahu bahwa dia mungkin marah dan kecewa dengan perbuatanku. Tetapi aku berusaha fokus pada masalahku saat ini. Aku pun segera menyusul Mino, tetapi begitu berbelok menuju unit apartemenku, kulihat Mino masih berada di depan pintu.
Mino tampak berbincang dengan seseorang yang tubuhnya tertutupi oleh tubuh Mino yang membelakangi. Pintu unit apartemenku sendiri belum terbuka, artinya ragaku belum bertemu Mino.
Ketika aku akan berjalan mendekat. Pintu apartemen terbuka seraya Mino mengubah posisi tubuhnya sehingga aku bisa melihat dengan siapa dia bicara tadi dan orang itu adalah Hansung.
Mataku membulat seraya langsung membalik tubuhku lalu berjalan pergi secara cepat. Aku berbelok kembali lalu bersandar pada tembok. Bagaimana Hansung ... bukan, dia pasti datang menemui ragaku sebagai Akira.
Ternyata sesuai ucapan Jun bahwa Hansung benar-benar berada di Korea dan urusannya kali ini dengan Lee Umji?
Dadaku masih bergemuruh dengan napas memburu. Aku segera menuju lift untuk pergi. Aku tidak ingin sampai ketahuan oleh Hansung. Tetapi sejujurnya aku sangat penasaran dengan apa yang akan Hansung lakukan jika bertemu dengan Lee Umji dan bagaimana reaksi Mino apabila dia tahu bahwa lelaki itu di sebelahnya itu adalah orang yang kukatakan sama dengan yang mengenal Lee Umji dan Kim Hana.
Aku membutuhkan lelap. Tetapi kulihat waktu baru menunjukkan pukul sebelas siang. Kurasa akan sulit bagiku untuk tertidur dengan cepat dan pulas setelah melihat penampakkan Hansung tadi.
Aku tidak memiliki pilihan lain. Aku menuju apotik dan membeli obat tidur. Seharusnya dengan resep dokter, tetapi aku membayar lebih pegawai apotik yang juga tidak curiga bahwa aku akan menyalahgunakan obat tersebut.
Setelah mendapat obat tidur, aku segera pulang ke apartemen Jun. Di luar pintu sudah ada Lee Bom yanf mondar-mandir. Begitu melihatku dia langsung menghampiriku.
"Anda darimana saja?" tanya Lee Bom gugup.
"Tenanglah, aku hanya dari menghirup udara segar tanpa ingin diikuti siapapun," balasku lalu memasukkan kata sandi apartemen Jun.
Sebelum masuk, aku berbalik menatap Lee Bom. "Aku ingin istirahat, kau bisa melapor pada Jun bahwa aku sudah pulang ... oh, berikan ponselmu."
Alis Lee Bom terangkat pada awalnya. Tetapi ia tetap memberiku ponselnya. Aku segera berswafoto lalu mengirimkannya kepada Jun sebagai bukti bahwa aku sudah pulang.
"Kau bisa istirahat juga," ujarku kepada Lee Bom sebelum benar-benar hilang dari balik pintu.
Aku terduduk di depan meja makan. Di atas meja makan telah terdapat sebotol air dan obat tidur. Aku menarik napas lalu mulai menegak pil obat tidur. Mulanya aku memasukkan satu, tetapi kurasa itu tidak cukup sehingga kutambah dua pil. Lalu kutegak sebotol air mineral lalu mulai melepas jaket dan sepatu bootku.
Akupun berbaring di atas ranjang. Menatap langit-langit dengan fokus. Lalu perlahan kurasa mataku semakin berat dan ketika aku menutup mata, tubuhku terasa begitu ringan dan semuanya menjadi gelap.
__ADS_1
***