Daydream

Daydream
B. NEW YORK - 6.1


__ADS_3

"Hana!"


Aku tersentak membuka mata. Pandanganku yang semula gelap kini samar-samar melihat dua orang yang sedang berseteru dalam layar.


Aku menarik napas dalam. Menyadari bahwa aku sekarang berada di dalam teater yang terdapat di rumah Jun. Aku mengingat setelah pulang dari rumah Kim Yunsung tidak sengaja menemukan tempat ini dan langsung memutar film, guna menenangkan pikiran.


"Hana," seru Jun kulihat berjalan mendekatiku.


Jun berdiri di sampingku. Di depan kursi teater yang tersusun tribun seperti kursi dalam bioskop pada umumnya.


"Aku kira kau meninggalkan rumahnya," ujar Jun kini menindihku yang aku dalam posisi duduk, sedangkan dirinya berdiri, bertopang pada kedua tangan yang diletakkan pada kedua sandaran kursi.


Kilatan mata Jun terpancar melalui layar yang masih menyala hasil pantulan proyektor.


Aku menahan napas ditatap lekat seperti sekarang. Tanganku mengepal reflek, menahan kerjapan mata.


Tangan kanan Jun lalu terulur. Telapak tangannya memegang pipiku. Jarinya yang lentik perlahan mengelus permukaan kulitku. Bulu kudukku berdiri. Dinginnya pendingin ruangan kini kurasa tidak berfungsi. Punggungku terasa mengeluarkan keringat.


"Aku mencintaimu Hana," bisik Jun kemudian detik selanjutnya bibirnya menempel pada bibirku.


Kedua tangannya kini memegang kepalaku bagian belakang. Aku menutup mataku, spontan.


Kini bibir Jun tidak hanya mengecup tetapi mulai melakukan french kiss. Ketika sebelah tangannya turun ke bahuku. Aku membuka mata lalu menarik mundur kepalanya.


Sadarlah, jangan terbawa suasana! Aku berusaha mengendalikan emosiku. Aku mengigit bibir bawahku sambil berusaha mengatur napasku.


Jun menatapku sendu. Ia kemudian meraih tanganku lalu mengecup punggung tanganku dengan lembut.


"Jangan tidur di sini. Lehermu akan sakit," ujar Jun menarik tanganku untuk berdiri.


Aku tidak berkomentar apapun mengenai apa yang baru saja ia lakukan dan aku sempat menerima dengan begitu saja. Jun menuntunku kembali ke kamar. Aku bisa melihat langit masih gelap.


Apa aku terjatuh ke Sungai Sumida karena  Jun memanggilku sehingga aku terbangun?


Ini gawat. Bagaimana ragaku yang terjatuh pada sungai tersebut?


"Hana," seru Jun begitu kami berdua sudah sampai di dalam kamar.


Aku menatapnya. Membuyarkan pikiran kekhawatiranku mengenai hal yang terjadi di Tokyo.

__ADS_1


"Apa kau lupa ingatan?" tanya Jun membuatku tidak terkejut. Pasti dia menyadari pertanyaanku sewaktu berada di rumah Kim Yunsung.


Aku mengangguk singkat. "Ada beberapa potongan ingatan yang kulupakan," ujarku jujur. Padahal bisa juga kebohongan. Bukan beberapa potong, tetapi semua kehidupan Hana tidaklah kuketahui.


Jun melangkah mendekatiku. Ia memelukku. "Jangan paksakan mengingatnya. Aku menyadarinya ketika melihatmu dalam tidur."


Aku melepas pelukannya. Balik menatapnya heran. "Apa maksudmu?"


"Kau pikir hanya karena kita tidak sekamar maka aku tidak memerhatikanmu tertidur? Setiap kau tengah tertidur, aku selalu mengecekmu."


Aku melongo tidak percaya apa yang baru saja dikatakah oleh Jun.


"Bola matamu bergerak meski terpejam, napasmu kadang memburu dan terkadang keringat bercucuran di pelipismu. Apakah mimpimu seburuk itu?" tanya Jun menatapku lekat.


Mimpi? Aku pikir jiwaku kembali ke raga seorang Umji, kenapa raga Hana harus bereaksi? Bukankah harusnya raga Hana tertidur tenang?


"Hana, izinkan aku mendekapmu malam ini saja," pinta Jun memegang tanganku.


Aku menelan ludah menatapnya. Bagaimana aku harus menjawabnya?


"Kurasa ini terlalu awal," ujarku menarik tanganku.


"Baiklah, kau istirahat saja," balas Jun mengerti. Ia mencium pucuk keoalaku sebelum keluar dari kamar.


Aku terduduk di atas tempat tidur. Kusentuh bibirku dengan jari tanganku. Bayangan kilas Jun menciumku membuat darahku berdesir setiap memikirkannya. Namun aku langsung mengingat kejadian di Tokyo.


Termasuk bagian Jini menelepon. Naskah novel yang kuberikan atas rekomendasi Mino tidak lengkap. Tubuhku menegang begitu mengingat ulasan cerita yang dikatakan oleh Jini.


"Song Byul mencoba bunuh diri, Raewon kekasih--selingkuhan Song Byul dan Leo adalah suami yang terpaksa dinikahi Song Byul?" gumamku mengingat ucapan Jini.


Apa ini? Kenapa jalan ceritanya sama seperti kehidupan Hana?


"Song Byul selamat dari percobaan bunuh diri lalu dia berteleportasi ke tubuh seorang perempuan yang bekerja di penerbitan?"


Aku menutup mulut dengan kedua tangan. Mataku membulat sempurna, menyadari bahwa isi naskah tersebut.


Jadi Hana juga berteleportasi ke tubuhku sebagai Umji?


Ah tidak mungkin. Nyatanya aku selalu kembali ke tubuhku sebagai Umji. Bekerja seperti biasa bahkan mengingat semua yang kulakukan.

__ADS_1


Tetapi kenapa aku sebagai Umji tidak mengingat Hana sama sekali?


Aku mengerang frustasi memikirkan setiap teka-teki yang ada. Terutama kenapa aku bisa berakhir di tubuh seorang Hana?


Aku menoleh menatap bantal. Benar, jika aku tertidur sebagai Umji maka aku menjalani kehidupan sebagai Hana. Jika aku tertidur sebagai Hana maka aku menjalani kehidupan sebagai Umji.


Namun bayangan kehidupan Umji yang juga terkadang bingung dengan sekitarnya juga aku mengingatnya. Terutama perdebatan dengan Jini tentang masa komaku yang berbeda. Bagaimana mungkin?


Aku kemudian berbaring lalu memejamkan mataku. Aku mengatur napasku agar bisa segera tertidur.


*


Aku menggeliat lalu merasakan sesuatu di kulitku. Perlahan aku membuka mataku dan terkejutnya aku melihat sebuah tangan melingkar, memelukku dari belakang.


Segera aku bangkit dan melihat bahwa itu adalah Jun. Lelaki itu masih tertidur.


Bagaimana bisa dia ada di sini?


Mata Jun terbuka lalu menatapku. Dengan sekali sentakan dia kembali menarik tanganku sehingga aku terjatuh berbaring lagi di sampingnya.


"Maafkan aku membuatmu terkejut," ujarnya dengan tangannya terulur membelai rambutku.


"Kau tertidur sangat pulas malam ini. Tanpa sadar tubuhku membawaku untuk berada di dekatmu," ujarnya lalu menarik tubuhku sehingga berada di dadanya. Aku dipeluknya dan kurasakan kepalaku dicium dengan lembut.


Ada apa dengan romantisme ini? Dadaku berdegup kencang diperlakukan seperti ini. Sesuatu yang belum pernah kualami sebelumnya.


Aku tertidur pulas? Benar, aku tertidur. Kenapa aku tidak mengingat apapun terkait dengan Umji? Bagaimana aku di Tokyo setelah kecelakaan terjatuh ke Sungai Sumida?


"Ayahmu menghubungiku agar kau ke perusahaannya. Sedangkan aku akan ke Korea Selatan untuk urusan pekerjaan," ucap Jun masih memelukku.


Baru saja aku akan membalas, tetapi hal lain menarik perhatianku. Aku mengulurkan tanganku ke bagian dada sebelum kiri Jun. Aku terkejut merasakan detakannya.


"Kau bisa merasakannya bukan Hana, bahwa setiap menyentuhmu, dadaku berpacu lebih cepat dari biasanya. Kau membuatku terhanyut," ujar Jun membuatku menarik tangan.


Aku menggerakkan kepalaku ke atas dan sedikit melonggarkan pelukannya. Mata kami bertemu.


Jun tersenyum sekilas kemudian ia sedikit menunduk dan bibirnya kembali menciumku.


Dan entah apa yang merasukiku. Aku membalas ciumannya.

__ADS_1


***


__ADS_2