Dendam Alexa

Dendam Alexa
Berkunjung ke Rits Cafe


__ADS_3

Malamnya dirumah Alexa, mereka sedang berkumpul bersama di ruang keluarga. Seperti sudah menjadi kebiasaan, setelah makan malam mereka akan berkumpul dan mengobrol bersama.


Alexa sedang menunggu kedatangan Putri untuk menjemputnya. Malam ini Lukman sedang mendapat tugas dari Alexa untuk menyelidiki perusahaan Welton Company.


"Kak malam ini mau kemana? tidak seperti biasa kakak berpakaian seperti itu kalau dirumah" tanya Annisa yang melihat Alexa.


"Mau jalan-jalan sama Putri mengusir kepenatan"Jawab Alexa datar.


"Aku ikut dong, kan malam ini gak ngapa-ngapain dirumah. Sudah lama juga gak jalan-jalan" pinta Annisa."Bosan nih dirumah melulu belajar dan latihan" ucapnya kemudian.


"Oke tapi jangan protes kemanapun aku mengajakmu" sahut Alexa.


"Iya tidak akan protes, kami ikut saja kemampuan kakak membawaku" ucap Annisa.


Terdengar suara langkah kaki memasuki rumah, Alexa sudah tau jika itu suara langkah kaki putri.


"Hai semua, lagi ngapain nih? tanya putri berbasa-basi.


"Kalian siap-siap dulu baru kita jalan." ucap Alexa datar tanpa mengalihkan pandangan dari iPad ditangannya.


"Kamu masih saja bekerja, katanya penat dengan pekerjaan?"


"Ini ada beberapa email yang harus diperiksa. Kamu mau menjadi CEO di Angkasa Group? tanya Alexa menawarkan.


"Maksudnya?


"Maksudku kamu akan diangkat menjadi CEO Angkasa Group karena perusahaan itu sudah menjadi milikku sepenuhnya" ujar Alexa.


"Tapi bagaimana dengan lo jika gue pindah ke Angkasa Group?


"Besok akan ada penerimaan sekertaris baru dan Bu Desi akan menjadi kepala sekertaris. Rencananya gue akan menarik seseorang dari The Hunters untuk menggantikan posisimu" sahut Alexa menjelaskan.


"Nanti kupikirkan dulu. Tapi kenapa bukan om Hendro saja yang kamu angkat?


"Kasian om Hendro jika harus bekerja keras membangun perusahaan itu kembali, Biarkan dia bersantai dengan tetap menjadi direktur pelaksana AG Group." jawab Alexa.


Pembicaraan mereka terhenti ketika Alexa melihat Annisa bersama dengan Alice menuruni tangga menuju ruang keluarga.


"Ayo kita berangkat" Ajak Alexa


Mereka kini berada didalam mobil yang dikemudikan oleh Putri. Annisa dan Alice terus saja mengoceh dibelakang.


"Sekarang lo tau kan kenapa gue ngajak lo jalan? Tanya Alexa yang masih memejamkan matanya.


Putri sekilas menengok kebelakang "Gue ngerti sekarang. Belum nyampe aja hebohnya sudah kayak pasar" ledek Putri.


"Kakak kenapa ngatain kayak pasar? protes Annisa.


"Lah emang kayak pasar padahal kalian ngobrol cuma berdua saja" sahut Putri.


"Maaf jika kami terlalu ribut dan mengganggu kakak" ucap Alice dengan nada sendu.


"Hei ngapain kau minta maaf? kakak kan tidak marah, kakak cuma ngomong kalo kalian berdua ribut kayak pasar" sahut Putri.


"Maaf.


"Sudah tidak usah minta maaf. Put Fokus nyetir aja" Sahut Alexa yang membuat mereka terdiam. Mobil memasuki pekarangan Rits Cafe dan Putri memarkirkan mobilnya.


"Kak. ngapain kita kesini?


"Perjanjiannya tidak boleh protes" potong Alexa.


"Tapi gak kesini juga kak, Aku dimobil saja kakak sama Alice turun saja" ucap Annisa merasa dijebak oleh Alexa.


"Kamu masih marah sama kakakmu? Sudahlah lagian kakakmu sudah menyadari kesalahannya" ucap Alexa "Ayo turun" ajaknya.


"Tapi kak.


"Tidak ada tapi-tapi, turun sekarang" ucapnya tegas yang membuat orang yang mendengarnya langsung diam saja mengikuti.


Mereka berempat berjalan memasuki cafe dengan Alexa dan Putri berjalan didepan diikuti oleh Annisa dan Alice dibelakang. Annisa yang masih marah dengan kakaknya itu berjalan dengan malas.

__ADS_1


Terdengar petikan gitar akustik dan suara penyanyi yang bersuara merdu mengalun indah menemani langkah mereka mencari meja kosong. Seorang pramusaji mengarahkan mereka ke meja kosong dekat pojok ruangan.


Agham yang sedang bernyanyi diatas panggung kecil melihat adiknya lewat didepannya tanpa menoleh sedikit pun kearahnya. Dia merasa adiknya seperti masih belum bisa memaafkan perlakuan dan tuduhan yang pernah dia lontarkan.


Mereka berempat duduk dimeja kosong yang ditunjukkan oleh pramusaji. Mereka kemudian memesan minuman dan makanan ringan kesukaan masing-masing.


"Kamu seperti tidak senang jika kakak mengajakmu kesini?" Tanya Alexa yang melihat sejak masuk kecafe Annisa hanya diam saja. "Terkadang karena Satu kata yang menyakitkan kita melupakan banyaknya kebaikan yang diberikan seseorang." lanjutnya.


"Tapi kenapa kakak membelanya, dia telah menyakiti perasaanku dan menuduhku macam-macam" ucap Annisa.


"Bukan kakak membelanya, kakak hanya ingin kamu berbaikan dengan kakakmu, kakakmu sangat sayang padamu dia juga sangat merindukanmu" Sahut Alexa.


"Aku belum siap.


"Sudah nikmati saja malam ini jangan muram begitu lagi." Ucap Putri menghangatkan suasana. Alice hanya diam saja mendengarkan percakapan dua gadis beda usia itu.


"lagu berikutnya khusus dipersembahkan untuk seorang gadis kecil yang sangat berarti dalam hidupku" Sayup-sayup terdengar suara Agham menggema di dalam Cafe. Annisa mengangkat kepalanya dan melirik ke arah kakaknya yang berada di atas panggung.


"Kakakmu mempersembahkan lagu untuk mu" ucap Putri. Annisa tidak mengucapkan satu kata pun dia hanya diam saja.


"Sebuah lagu lama yang pernah dipopulerkan oleh band Jikustik yang berjudul Maaf"


Agham mulai memainkan gitarnya dan bernyanyi.


Kau menyisakan tangis


Pertengkaran semalam


Di antara kita


Kini 'ku harus berdiri


Di tepian hati


Bimbang 'tuk memilih


Annisa masih terus diam mendengarkan lagu yang dibawakan oleh kakaknya itu.


Kau harus tahu


Dalam hatiku bergetar


Saat aku


Buatmu menangis


Buatmu bersedih


Ingin 'ku memelukmu


Dan ucapkan maaf


Maafkan aku


Maafkan aku


Maafkan aku


Aku, aku pun mencoba


'Tuk beri yang terbaik


Untuk kau miliki


Kini kau harus berdiri


Di tepian hati


Bimbang 'tuk memilih


Kau harus tahu

__ADS_1


Dalam hatiku bergetar


Saat aku


Buatmu menangis


Buatmu bersedih


Ingin 'ku memelukmu


Dan ucapkan maaf


Maafkan aku


Maafkan aku


Maafkan aku


Maafkan aku


Maafkan aku


Maafkan aku


Kubuat kau menangis


Buatmu bersedih


Ingin 'ku memelukmu


Dan ucapkan maaf


Maafkan aku


Maafkan aku


Terdengar suara tepuk tangan dari pengunjung yang meramaikan cafe malam itu.


"Kepada adikku tersayang, maafkan kakak telah melukai perasaanmu dengan kata-kata kasar yang keluar dari mulut kakak. Kakak menyesal telah menuduhku macam-macam" ucap Agham.


Annisa lalu bangkit dari kursinya lalu berjalan mendekati kakaknya. Agham yang melihat itu langsung berdiri dari kursinya lalu meletakkan gitarnya. Annisa langsung menghamburkan pelukannya.


"Maafkan kakak ya, kakak telah salah menilai mu" bisik Agham.


"Kakak tidak salah, maafkan juga karena telah pergi meninggalkan ibu dan Kakak" ucap Annisa sembari menitikkan air mata.


Agham kemudian melepaskan pelukannya "Jangan menangis, kakak tidak suka liat air matamu menetes" ucapnya sambil menyeka air mata di pipi Annisa dengan jarinya. Pengunjung ikut larut dalam suasana yang melankolis itu. Alexa dan Putri hanya tersenyum sedangkan Alice ikut menitikkan air mata melihat pemandangan itu.


Agham lalu membawa adiknya kembali ke mejanya dimana disana ada pimpinan perusahaan bersama asistennya sedang menikmati minumannya.


"Selamat malam Nona, Terimakasih sudah berkenan datang berkunjung ke cafe ini" Ucap Agham seraya menunduk hormat.


"Santai saja. Saya bukan pimpinanmu disini, duduklah tidak enak dengan pandangan orang-orang" ucap Alexa dingin.


Agham menarik kursi kosong didekatnya lalu ikut bergabung dengan mereka. Tak lama Ridwan yang tak lain adalah sahabat Agham muncul.


"Terima kasih sudah menyempatkan diri untuk berkunjung di cafe kecil ini, Perkenalkan Saya Ridwan pemilik cafe ini" ucap Ridwan menyapa. Dia mengetahui jika yang bersama Annisa adalah pimpinan AG Group seperti yang sudah diceritakan oleh sahabatnya.


"Wah barista sombong ini ternyata pemilik Cafe ini toh" celetuk Putri yang masih dendam karena pernah dicuekin oleh Ridwan.


"Maaf?" ucap Ridwan dengan nada heran mendengar ucapan Putri.


"Jadi ini Put yang pernah nyuekin kamu waktu kita kesini?" tanya Alexa dengan nada datar seraya menatap Ridwan dengan tatapan dingin.


"Maafkan saya nona karena tidak mengenal anda waktu itu" ucap Ridwan.


"Sudahlah kami juga kemari hanya ingin mempertemukan kedua saudara kandung ini" ucap Putri cuek.


"Baiklah, silahkan lanjutkan ngobrolnya saya pamit dulu" Ucapnya lalu meninggalkan mereka.


to Be Continued

__ADS_1


__ADS_2