
Udara malam berhembus, dinginnya mampu menembus kulit membuat siapapun pasti akan mencari tempat yang hangat. Rembulan bersinar terang dan langit malam dipenuhi bintang-bintang menambah keindahan malam.
Tampak seorang gadis duduk sendiri ditaman sembari menikmati indahnya malam. Dia sedang melepas penatnya rutinitas sehari-hari dengan duduk sendiri ditaman. permasalahan yang dihadapi sungguh sangat rumit. Dendam yang sudah tertanam membuat hatinya semakin membeku.
Bagi yang melihat luarnya pasti akan iri dengan segala pencapaian yang telah berhasil dia gapai. Tapi semua itu hanya tampak dari luar, kesuksesan tak membuat hatinya bahagia. Masih ada tujuan lain yang harus dipenuhi agar hatinya bisa tenang.
Didepan orang-orang terdekatnya dia selalu berusaha untuk menutupi kesedihan yang selalu merasuk kedalam hatinya.
"Kamu ngapain disini sendirian?" munculnya suara membuat lamunannya terputus, dengan perlahan dia membuka matanya dan melihat suara pria itu. Agham duduk di sampingnya sambil tersenyum menatapnya. Ini kedua kalinya mereka bertemu di taman itu dengan suasana berbeda.
"Hanya menikmati malam, kakak sendiri kenapa bisa ada disini?" Dia menjawab pertanyaan setelah mengetahui siapa pria itu yang ternyata adalah Agham.
"Saya sering mampir di taman ini jika sedang suntuk dan ingin mencari ketenangan" jawab Agham.
"Baru pulang?" Alexa memperhatikan penampilan yang masih mengenakan pakaian formal.
"Iya, kebetulan ada beberapa pekerjaan yang mendesak yang harus segera diselesaikan jadi harus lembur" jawabnya. Dia kemudian menatap gadis yang ada disampingnya itu "Kamu kenapa? lagi ada masalah?"
"Tidak apa-apa, hanya masalah pribadi yang sampai saat ini belum terselesaikan" Ucapnya.
"Ceritakan lah jika ingin bercerita agar bebanmu sedikit berkurang tapi jika itu berat untuk diceritakan maka jangan ceritakan." ucap Agham.
Alexa sedikit menengok kearah Agham yang sedang memandang jauh ke depan. Tampak wajah tampan dan menenangkan ketika melihatnya.
"Kenapa menatapku seperti itu? Ada yang aneh dengan wajahku?" tanya Agham yang melihat Alexa menatapnya. pandangan mereka saling bertemu membuat Alexa memalingkan wajahnya.
"Wajar jika wanita itu mengejarmu sampai ke hotel hanya untuk sekedar menemuimu" Ucap Alexa yang kembali menatap kedepan.
"Siapa? Saya tidak tau jika ada wanita yang mengejarku ke hotel" ucap Agham yang tidak mengerti arah pembicaraan Alexa.
"Jessica tadi ke hotel untuk menemui kamu tapi di usir oleh Annisa karena mengaku kekasihmu" jawab Alexa datar..
"Jessica?
"Iya Jessica. kamu mengenal wanita itu?" tanya Alexa.
__ADS_1
"Oh dia hanya wanita yang mengejarku sejak awal bekerja di perusahaan. beberapa kali saya harus menghindari dan menolaknya karena dia terlalu agresif" ucap Agham menjelaskan siapa wanita itu
"Tidak perlu menjelaskan kepadaku, Kita tidak punya hubungan yang membuat kamu perlu menjelaskan sedetail itu" ucap Alexa.
"Saya hanya tidak ingin kamu salah paham"
"Untuk apa juga saya harus salah paham kepadamu"
"Nanti juga kamu akan mengerti maksudku. kamu pasti juga sudah mengetahui jika saya tidak pernah menjalin hubungan dengan siapapun" Ucap Agham sembari menatap Alexa. "Kamu juga pasti tau siapa yang sudah mengisi hatiku" lanjutnya.
"Ya aku tau tapi untuk saat ini lebih baik disimpan saja dulu, jika sudah saatnya kamu boleh mengungkapkannya"
"Kapan?
Alexa membuang nafas panjang "Ketika beban itu sudah tidak ada lagi" ucap Alexa kemudian beranjak dari tempat duduknya "Pulanglah kak, malam telah larut" lanjutnya kemudian melangkahkan kakinya menuju parkiran.
"Good night Alexa" teriak Agham
"Good night to" ucapnya lirih tapi hanya mampu didengarnya kardus dia sudah menjauh dari tempat Agham duduk.
Sesampainya di rumah Agham langsung masuk disambut oleh Mbak Minah yang membukakan pintu untuknya.
"Ibu jadi ikut Annisa mbak?" tanya Agham.
"Iya tuan, tadi siang dia ikut pergi" Jawab mbak Minah.
"Saya kekamar kalau begitu"
"Tidak makan malam dulu tuan? nanti saya siapkan"
"Saya sudah makan, mbak istirahat saja" Ucapnya lalu berjalan menuju lantai 2 dimana kamarnya berada untuk mengistirahatkan tubuhnya yang lelah.
Sementara itu Alexa yang baru tiba langsung mendapat berondongan pertanyaan dari Annisa.
"Kakak dari mana? kalau mau keluar bilang dulu supaya kami tidak khawatir. lagian kenapa hapenya tidak diaktifkan?" cerocos Annisa menyambut kedatangan Alexa.
__ADS_1
"Kakak hanya mencari udara segar sebentar"
"Tapi kalau keluarga bilang dulu supaya saya tidak khawatir"
"Nisa sudah, biarkan dulu kakakmu duduk" tegur ibu Rani.
Annisa kemudian membiarkan Alexa duduk di sofa lalu dia ikut duduk di sampingnya.
"Kamu tidak usah khawatir, kakak bisa jaga diri lagian Andika selalu ikut kemanapun saya pergi" ucap Alexa sembari merangkul Annisa yang masih cemberut.
"Tapi aku tetap tidak tenang kalau kakak belum pulang apalagi ini sudah jam berapa, gak biasanya kakak keluar malam" sahut Annisa.
"Iya maafkan kakak ya, nanti kalau mau keluar kakak akan bilang sama kamu" ucap Annisa sambil mengelus rambut Annisa dengan lembut.
"Udah sekarang istirahat udah malam, Nisa besok sekolah dan Alexa juga kerja. Ngobrolnya dilanjutkan besok saja" ucap Ibu Rani mengingatkan keduanya.
"Baik Bu" ucap keduanya bersamaan. Ibu Rani hanya tersenyum melihat keduanya berjalan menaiki tangga menuju kamar masing-masing.
Keesokan paginya seperti biasa mereka selalu sarapan bersama hanya bedanya kalo ini ada ibu Rani yang menemani mereka hari ini. Canda tawa antara Annisa dan Alice selalu terdengar ketika sarapan. Alexa hanya memandang keduanya tanpa bicara.
Setelah sarapan Annisa pamit kepada ibunya dan Alexa lalu berangkat ke sekolah bersama Alice diantar supirnya.
"Apa nak Alexa gak merasa terganggu dengan kehadiran Annisa yang berisik?" tanya ibu Rani pelan takut nanti menyinggung...
"Saya sudah terbiasa Bu dengan kebisingan yang dibuat oleh kedua gadis itu. Malah jika mereka tidak ada rumah ini terasa sepi" jawab Alexa menanggapi pertanyaan ibu Rani.
"Ibu takut nanti mengganggu nak Alexa, tau sendiri bagaimana sikap Annisa yang tidak bisa diam" ucap ibu Rani.
"Dia tidak menggangu Bu, dia membawa keceriaan di rumah ini. Awalnya Alice pendiam Bu, tapi sejak kenal dengan Annisa dia mulai berteman dan ibu bisa lihat sifatnya sekarang sudah hampir sama dengan Nisa" Sahut Alexa.
"Tapi sebenarnya dibalik sikapnya itu dia jarang terbuka sama ibu. semua permasalahannya dia simpan sendiri. Tapi sekarang ibu senang karena mau terbuka sama nak Alexa" ucap ibu Rani menceritakan tentang Annisa. "Di sekolah dia hanya punya 1 teman yaitu Arini, mereka selalu dibully karena dari keluarga miskin dan bisa masuk ke sekolah itu karena Beasiswa" lanjutnya.
"Ibu tenang saja, tidak ada yang berani mengganggu Nisa lagi disekolah selama ada Alice disampingnya. Alice akan selalu menjaganya" sahut Alexa. "Ibu disini saja dulu saya mau berangkat kekantor dulu" ucap Alexa pamit lalu mencium tangan ibu Rani lalu berangkat ke kantornya.
to Be Continued
__ADS_1