Dendam Cinta Sang Police

Dendam Cinta Sang Police
10. Kemarahan yang tidak terbendung


__ADS_3

Setelah melihat kepergian Brian dengan sebuah mobil Van, Malfin pun mengurungkan niat nya untuk mengejar Brian karena saat ini ia mengkhawatir kan keadaan Frizy yang tampak terkulai lemas bersimba darah.


Gaftan bersama rekan lain nya masih mengejar anak buah Brian. Menyadari ketidak hadiran rekan tim nya, Malfin pun segera menggendong Frizy di pundak nya. "Zy, bertahan lah! aku akan membawa mu secepat nya ke rumah sakit terdekat." ucap Malfin dengan nafas yang memburu.


Hampir seperkian detik keluar dari gedung tersebut, Malfin pun menidur kan Frizy di bangku penumpang dan dengan cepat nya ia berlari membuka pintu kemudi, mobil itu berlalu pergi seperti angin yang entah berapa kecepatan yang di bawah Malfin untuk sampai di sebuah rumah sakit.


Dengan bantuan Maps, Malfin pun tiba di sbuah rumah sakit kecil di Kota Tua tersebut, Malfin pun segera berlari turun dan membuka pintu penumpang dan kembali menggendong Frizy masuk ke ruang UGD, semua pandangan jatuh melihat ke arah nya.


"Tuan, baringkan pria itu di sini!" ucap seorang perawat sembari menunjuk Crank.


Malfin pun dengan pelan nya menidur kan Frizy ke pembaringan. "Tolong selamat kan rekan saya!" ucap Malfin dengan lirih nya.


"Kami akan berusaha sebaik mungkin! tapi apa yang terjadi kepada nya?" tanya sang Dokter.


"Kami dalam tugas, dan ia adalah bawahan saya." ucap Malfin dengan menyodorkan sebuah kartu identitas.


"Baik, anda tunggu di luar! saya akan berusaha sekuat tenaga." balas sang Dokter dan mengerti dengan kartu yang di perlihat kan pria di depan nya.


Malfin tampak mengepal kan tinju nya dan berulang kaki memukul-mukul tembok di depan nya, ia tampak sangat gelisa, hingga hampir satu jam lama nya menunggu, akhir nya Gaftan dan beberapa rekan tim lain nya tiba di sana.


"Pak, bagaimana keadaan Inspektur Frizy?" tanya Ray dengan khawatir.


"Dokter belum juga keluar! kalian kemana saja!" pekik nya dengan dingin.


"Kami mengejar anak buah Brian, dan berhasil menangkap beberapa orang, dan saat ini mereka sudah di bawah ke kantor polisi." balas Gaftan dengan hati-hati.


Dua jam telah berlalu, pintu ruangan itu tak kunjung terbuka, hingga pada detik berikut nya terlihat salah seorang dokter keluar dari pintu samping ruangan tersebut. Malfin pun segera berjalam dengan cepat nya menghampiri sang Dokter.


"Apa anda Kapten nya?" tanya sang Dokter.


"Ya, saya yang bertanggung jawab atas diri nya! apa terjadi sesuatu kepada nya?" balas Malfin dan segera melayangkan pertanyaan.

__ADS_1


"Ada sedikit retakan di bagian punggung pasien, itu di akibat kan pukulan dari benda tumpul dan saat ini pasien mengalami cedera saraf di tulang belakang, ia harus di rawat secara intensif di sini! jika anda setuju, anda bisa menandatangani surat persetujuan untuk penanganan lebih lanjut." jelas sang Dokter dan di ikuti seorang perawat yang memegang selebaran dan sebuah pulpen.


"Baik lah! lakukan yang terbaik." balas Malfin dan segera melangkah maju mengambil alih selebaran dan pulpen tersebut dari tangan sang perawat.


"Pasien akan segera di pindah kan ke ruang rawat!" seru sang perawat dan berjalan meninggal kan Malfin dan rekan tim nya.


"Brian! aku akan membalas perlakuan mu! kau akan merasa kan sakit yang Frizy rasa kan saat ini, ketika kita bertemu nanti!" pekik Malfin dengan mata yang sudah memerah menahan kemarahan nya.


"Sial! Malfin tidak bisa di anggap reme, ia seorang polisi terlatih, pasti misi kita saat ini, akan sedikit bermasalah karena kehadiran nya." seru Brian kepada beberapa rekan nya.


"Kamu takut?" baritone itu terdengar lantang dari mulut Shiofan


"Malfin bukan lah tandingan ku, dalam hal menembak saja ia tidak mampu berdampingan dengan. Aku hanya khawatir jika ia akan merusak rencana kita." seru Brian segera dengan percaya diri.


Setelah menunggu beberapa saat kini Frizy sudah berada di ruang perawatan, Malfin dan lain nya pun segera berjalan menuju ruangan tersebut.


Malfin tampak terpukul ketika melihat keadaan Frizy yang sedang terbaring tak berdaya di pembaringan, Frizy tampak merintih kesakitan saat ia mencoba bangun.


"Zy, kamu jangan terlalu banyak bergerak dulu, istirahat lah! jika memerlu kan sesuatu kata kan kepada kami." seru Malfin dan mencoba membenar kan posisi tidur Frizy dengan hati-hati.


"Mengapa aku merasa sakit di bagian punggung ku? apa yang terjadi." pekik Frizy dengan histeris.


"Tenang lah, kata Dokter kamu akan segera sembuh dan hanya perlu istirahat beberapa hari saja." balas Malfin dengan yakin.


"Gaf, tugas kalian saat ini hanya menjaga Frizy di sini! aku akan keluar sebentar dan secepat nya kembali." seru Malfin sembari menepuk pelan pundak Gaftan dan berlalu pergi dari ruangan tersebut.


Entah apa yang akan di lakukan Malfin saat ini, dengan kemarahan ia pun meninggal kan rumah sakit. Gaftan maupun rekan tim lain nya hanya bisa berdiam tanpa harus menghenti kan Kapten mereka.


"Jangan lepas kan bajingan-bajingan itu sebelum aku tiba!" pekik nya melalui telpon, dan belum mendengar kan balasan dari orang yang di telpon nya Malfin sudah memutus kan sambungan telpon dan melempar ponsel nya di kursi penumpang.


Pandangan nya lurus melihat ke arah jalanan yang sangat sepi namun siapa pun yang melihat raut wajah nya saat ini, pasti akan ketakutan dan berkeringat dingin, tampak sorot mata yang tajam dengan kemarahan yang sedari tadi di tahan oleh nya.

__ADS_1


Dua jam berlalu, tanpa melewati kemacetan ia pun tiba tepat di depan kantor polisi Shanghai. Kapten Zhang yang melihat kedatangan Malfin pun segera berjalan menghampiri nya.


"Bagaimana keadaan Inspektur Frizy!" tanya nya saat sudah berada di depan Malfin, namun tidak di jawab oleh Malfin. Sorot mata Malfin saat ini sangat lah kosong dan hanya terlihat raut wajah memerah seperti menahan kemarahan.


Kapten Zhang pun tidak bertanya kembali dan hanya mengikuti Malfin dari belakang.


"Berikan kunci ruang interogasi kepada ku!" pekik nya dengan dingin.


"Kapten Malfin, apa yang akan anda lakukan?" tanya Kapten Zhang dengan hati-hati ketika melihat cara bicara Malfin yang begitu dingin bagaikan es balok yang tidak akan pernah mencair sekali pun di siram air panas.


"Jangan membuat ku mengulangi perkataan ku!" pekik nya kembali dengan tajam.


Polisi penjaga pun dengan ragu-ragu melihat ke arah Kapten Zhang seperti ingin meminta persetujuan dari nya. Kapten Zhang pun mengangguk.


Malfin dengan kasar nya merampas kunci ruangan tersebut dan berjalan masuk ke ruangan itu dan segera mengunci dari dalam, Kapten Zhang tampak terbelalak ketika dentuman pintu itu hampir mengenai wajah nya yang hendak masuk bersama Malfin.


"Kapten Fin, jangan lakukan sesuatu kepada mereka!" teriak Kapten Zhang dari balik pintu di ikuti dengan gedoran pintu.


Malfin tak mendengar teriakan Kapten Zhang dan mulai membabi buta dan terus menerus memukul beberapa pria di dalam ruangan tersebut hingga terdengar teriak kan minta tolong dari dalam ruangan itu. Kali ini Malfin tidak dapat membendung kemarahan nya.


Kapten Zhang tidak dapat berkata lagi ketika melihat kemarahan Malfin yang tidak dapat di bendung, Kapten Zhang pun memilih menelpon Gaftan untuk datang.


"Hallo, Inspektur Gaf, bisa kah anda kesini sekarang." ucap Kapten Zhang dengan cepat.


"Apa ada hal mendesak Kapten Zhang?" tanya Gaftan dengan pelan nya.


"Saat ini Kapten Malfin sedang memukuli anak buah Brian di ruang introgasi dan mengunci diri di dalam, saya takut terjadi hal yang tidak di ingin kan yang akan menyulit kan Kapten Malfin." jelas nya dengan khawatir.


"Kami akan segera kesana sekarang!" balas Gaftan dan segera memutuskan sambungan telpon sembari memanggil Ray untuk pergi bersama nya.


"Ray, ikut lah dengan ku sekarang!" ucap nya dengan cepat dan segera berjalan mendekati Frizy. "Zy, aku pergi sebentar, ada beberapa masalah di kantor polisi! yang lain akan tetap di sini bersama mu." bisik Gaftan dan segera berpamitan kepada rekan lain nya.

__ADS_1


__ADS_2