
"Fin, lupakan wanita itu, sudah cukup penantian mu yang tidak beralasan ini. Jangan sakiti Carol! Carol wanita baik, ia sangat mencintai mu, bukalah hati mu untuk Carol." ucap Frizy dengan serius.
"Kegagalan itu membuat aku berpikir dua kali untuk membuka hati ku lagi! di antara aku dan dia, semua nya sudah berakhir." balas Malfin dengaan lirih nya namun tersirat suatu penegasan dalam ucapan nya.
"Fin, belajar lah dari masa lalu, lupakan wanita itu. Mungkin saat ini kamu masih memikir kan nya, namun kamu tidak tahu seperti apa kehidupan nya sekarang! mungkin saat ini ia sudah bahagia dengan pria lain. Ayolah buka hatimu! pikirkan segala tindakan yang di lakukan Carol selama ini padamu." ucap Frizy kembali sembari mengingatkan sahabat nya.
Mendengar perkataan Frizy seketi membuat hati Malfin berdegub kencang mengingat Denada yang duduk bersama seorang pria tampan. Dan dengan cepat nya menjawab segala pertanyaan yang di layang kan Frizy kepada nya.
"Mungkin yang kau kata kan ada benar nya juga, aku akan mencoba membuka hati ku untuk Carol." ucap Malfin dengan cepat nya saat hendak berdiri dari kursi nya.
"Bagus lah jika kau sudah berpikir demikian, kami akan selalu mendukung segala keputusan yang kau ambil." balas Frizy dan ketiga nya pun segera keluar dari restoran tersebut.
Pandangan Denada sedikit pun tidak teralih kan dari Malfin hingga Malfin pergi pun ia dapat melihat banyangan Malfin yang berjalan keluar restoran. Sungguh perih yang Denada rasakan saat ini. Denada dengan jelas nya mendengar segala perbincangan Malfin beserta kedua teman nya.
"Ya Tuhan.. jika aku masih di beri kesempatan, biarkan aku untuk bersama nya lagi. Aku tidak tahu setelah ini, apa yang harus aku lakukan." membatin Denada dengan keras nya meyakinkan diri nya untuk tetap mempertahan kan cinta nya.
Setelah selesai sarapan, Malfin dan juga kedua rekan nya berjalan menuju kem pelatihan. Malfin pun berlari kecil menyitari lapangan yang begitu luas.
"Malfin Iglesias!" teriak seseorang.
"Jeremi Haw!" balas Malfin dan segera memeluk rekan nya yang berasal dari America.
"Lama tak bertemu. Kenapa kamu di sini?" ucap Malfin seraya menanyakan keberadaan rekan nya.
"Kami di undang kesini untuk membantu penyelidikan." balas pria tersebut dengan tersenyum.
"Tapi aku tak menyangka bisa bertemu kamu di sini! bukan nya kamu di Thianjin?" tanya pria itu kembali.
"Aku di kirim ke sini untuk misi penangkapan Raja Narkotika! apa semua nya baik-baik saja?" balas Malfin dan melempar kan pertanyaan kembali kepada rekan nya.
"Ya, semua nya baik-baik saja! kecuali Brian. Dia keluar dari tim dan bergabung menjadi kepala keamanan Muldof Jock." jelas pria tersebut dengan sedih.
"Aku tahu, aku mengira ia dalam misi penyamaran. Beberapa hari yang lalu aku melihat nya dalam rombongan Muldof Jock." balas Malfin menjelaskan.
__ADS_1
"Cepat atau lambat kita pasti akan berhadapan dengan nya!" ucap pria tersebut kembali lirih nya.
"Aku tidak menyangka, ia rela melepaskan tim dan masuk ke sarang Muldof Jock. Apapun yang terjadi, sekali pun kita harus berhadapan dengan nya, ia tetap tersangka." balas Malfin dengan pasrah mengingat Brian adalah teman seperjuangan nya di America.
"Apa kamu mengenal pria ini?" tanya Malfin sembari menyodor kan sebuah lembar foto.
"Ferel! dia salah satu penembak jitu di tim kami sekarang." jelas pria tersebut.
"Kau akan mengetahui nya dalam dua hari ini! tapi jangan katakan apapun kepada nya mengenai apa yang kita bicara kan hari ini." balas Malfin dan segera berjalan meninggalkan rekan nya.
"Baiklah!" ucap pria tersebut dan segera pergi di arah berlawanan.
Perbatasan Shanghai.
"Butuh waktu berapa lama?" tanya pria kebulean dan bertubuh atletis kepada rekan nya.
"Secepatnya. Kita akan tiba di sana setelah kita berjalan melewati pesisir pantai ini." balas rekan pria tersebut.
"Mana mungkin! ini jalan yang terlalu ramai, takut nya kita akan tertangkap saat barang-barang ini bersama kita." balas Brian Scott dengan khawatir, bagaimanapun naluri nya yang pernah menjadi seorang anggota tim khusus pasti tahu dengan segala firasat nya.
Malfin saat ini menerima perintah untuk pergi ke perbatasan kota Shanghai.
"Frizy, kau dan Gaftan segera lah menuju perbatasan Kota Shanghai! Aku sedang dalam perjalanan menuju kesana. Di sana akan di adakan transaksi." ucap nya melalui telpon.
"Siap!" balas Frizy dan segera memanggil Gaftan untuk pergi menuju lokasi yang di beritahukan Malfin.
"Perhatikan! Matikan semua sumber cahaya. Matikan inflamerah penglihatan malam." ucap Malfin kepada semua rekan nya.
"Ya, Pak." balas semua rekan nya.
"Frizy, Gaftan, urus semua penjaga di area tersebut." ucap nya kembali melalui Earpeece.
"Dimengeri." balas Gaftan dan Frizy seraya berjalan berputar ke arah para penjaga.
__ADS_1
"Pak, kita sudah mendapatkan peta lokasi tempat persembunyian Muldof Jock." ucap Frizy.
"Bagaiman jika itu umpan? jangan ceroboh sebelum mendapatkan bukti yang autentik." balas Malfin dengan kesal nya.
"Siap, Pak." ucap Frizy yang tahu mengenai cara bicara Malfin jika mereka melakukan kesalahan.
"Area telah di bersih kan! menunggu perintah." ucap Gaftan melalui earpeece.
"Frizy, kembali sekarang!" ucap Malfin.
"Pak, saat ini Frizy sedang mengejar target!" balas Gaftan.
"Frizy, kembali sekarang juga..." teriak Malfin saat mengetahui Frizy mengejar target tanpa perintah dari nya.
Frizy yang mendengar teriakan dari Malfin sedikit pun tak mengurungkan niat nya untuk mengejar anak buah Muldof Jock karena yang di pikiran nya saat ini, untuk membalas kan dendam Malfin kepada Denada dengan menjeblos kan Ayah nya ke penjara.
"Frizy, sekali lagi aku ucap kan kembali lah..!" teriak Malfin kembali dengan marah nya.
Frizy pun membuang earpeace milik nya, dan dengan kecepatan tinggi Frizy pun mengejar anak buah Muldof Jock. Aksi kejar-kejaran pun terjadi.
"Gaftan, kamu kembali sekarang!" ucap Malfin.
"Siap, Pak." balas Gaftan.
Beberapa menit kemudian Gaftan pun tiba. Setiba nya di sana, ia di hadap kan dengan sorot mata Malfin yang begitu tajam seperti ingin menerkam nya hidup-hidup.
"Jelaskan apa yang terjadi! dan mengapa Frizy mengejar mereka." tanya Malfin kepada Gaftan.
"Target yang di kejar Frizy adalah Bri- brian Scott." jelas Gaftan dengan terbata.
"Sial..! Frizy, Brian bukan tandingan mu! mengapa kau lakukan ini." gerutu Malfin dengan khawatir.
"Apa maksud kamu Fin!" tanya Gaftan dengan binggung.
__ADS_1
"Brian bekas tim khusus, ia sama seperti kita saat ini.Ia seorang penembak jitu di salah satu tim di America namun sejak dua tahun yang lalu, ia berhenti dari tim dan bergabung dengan Muldof Jock." jelas Malfin dengan serius.