
Setelah selesai menyantap makan malam, mereka pun memilih duduk di ruang keluarga. Ya saat ini Malfin sedang rebahan di sofa panjang dan menjadi kan paha Jesica sebagai bantal.
"Mah, aku dengar dari Anthoni, minggu kemarin Mamah masuk rumah sakit, ya?" tanya Malfin dengan sedih mengingat diri nya tidak ada di saat sang Mamah jatuh sakit.
"Ia jantung Mamah kumat lagi, tapi kamu tidak perlu khawatir, kan ada Papah yang siap siaga menjaga Mamah di sini." jelas Jesica sambil mengusap rambut anak semata wayang nya.
"Terima kasih, sudah menjaga Mamah ku." ucap Malfin dengan datar nya.
Mendengar itu Franco tidak mau kalah, ia pun membalas Malfin dengan sindiran. " Terima kasih mu tidak di terima, karena wanita di samping mu itu bukan hanya Mamah mu saja, melainkan Istri, Papah!" balas Franco tak kalah ketus nya dari Malfin.
Jesica hanya menggeleng geleng kepala nya karena tidak habis pikir dengan kedua pria di depan nya.
"Berhenti!" teriak Jesica dengan kekesalan nya. "Kalian bisa membuat jantung ku kumat lagi, dengan mendengar perdebatan kalian. Kalian itu Ayah dan Anak! Mamah mohon kepada kalian untuk tidak berdebat di depan Mamah lagi, jika kalian masih terus bersitegang Mamah tidak segan-segan meninggal kan rumah ini." ancam Jesica kepada dua pria tersebut.
Mendengar itu, Malfin yang awal nya sedang rebahan pun segera bangkit dan duduk di samping Jesica dengan bergelut manja di lengan sang Mamah. "Mah, jangan ngomong gitu dong! Malfin minta maaf karena selama ini, Malfin sibuk hingga melupakan Mamah." ucap Malfin dengan sedih.
"Gak pa pa sayang, toh kamu juga sibuk dengan tugas mu. Papah juga udah kayak anak kecil aja, bawaan nya saling menyindir. Awas aja jika Mamah masih mendengar kalian berdebat." ancam Jesica kembali sembari menyesap secangkir teh yang di antar kan Bu Ani.
__ADS_1
"Sayang, kapan kamu menikah! Mamah iri sama teman-teman Mamah, mereka semua sudah memiliki cucu, Mamah mau kamu segera menikah, agar secepat nya Mamah menimang seorang cucu layak nya seorang Oma yang menyayangi para cucu nya." celetuk Jesica tanpa melihat ke arah Malfin.
Perkataan Jesica berhasil membuat Malfin membulat kan mata nya, pasal nya menurut Malfin permintaan sang Mamah tidak lah masuk akal.
"Mah, Malfin belum memikir kan itu semua, Malfin ingin mengejar mimpi Malfin dulu!" balas Malfin sehalus mungkin karena tidak ingin membuat Mamah nya kecewa.
"Mamah gak mau tahu, Mamah beri kamu waktu hingga besok malam, jika pada besok malam kamu tidak membawa calon Istri mu kesini, jangan panggil aku, Mamah lagi. Oh iya, Mamah gak mau tipe gadis kayak Carollina yang memiliki kecentilan luar biasa. Okey, tidak ada bantahan apa pun." ancam Jesica lagi kepada Malfin dan itu berhasil membuat Franco tersenyum lebar karena kekerasan kepala Malfin dapat bungkam ketika Jesica berbicara.
"Mah, tapi Malfin belum bisa melupakan gadis di masa lalu Malfin, dan untuk saat ini, Malfin sedang tidak menjalin hubungan dengan siapapun." balas Malfin dengan memohon namun perkataan nya kali ini membuat Jesica dan Franco tersenyum lebar.
"Temukan gadis itu, dan bawa ia kehadapan Mamah besok malam. Jika kamu tidak berhasil membawa nya, Mamah sendiri yang akan menjodoh kan kamu dengan gadis pilihan Mamah." seru Jesica dan segera melenggang menuju lift. Dan tinggal lah mereka berdua di ruangan itu.
Kekesalan Malfin kian besar di kalah ia menjadi bahan ejekan Ayah nya, ia pun menatap tajam ke arah Franco, namun Franco dengan cuek nya meninggal kan diri nya dan terus menerus menertawai nya. "Hahaha... persiap kan dirimu pada makan malam besok." teriak Gtanco saat hendak masuk ke dalam lift.
Ini lah kelemahan Malfin, ia tidak dapat membantah jika sang Mamah angkat bicara, karena ia sangat menghormati dan menyayangi Jesica lebih dari apa pun, ia pernah berjanji jika apa pun yang di ingin kan sang Mamah ia akan berusaha memenuhi nya.
"****! apa yang harus aku lakukan! mana mungkin aku menikah dengan nya, dan Mamah juga mengapa membuat pengecualian buat Carol. Arrghhh." teriak Malfin frustasi.
__ADS_1
Hari pun berlalu dengan cepat nya, tepat pada pukul 07.00 pagi, di ruang makan sudah duduk sepasang Suami Istri yang sedang berbincang di ikuti gelak tawa dari kedua nya, namun saat melihat kedatangan Malfin, mereka pun terdiam, terlihat Franco yang memberi kode kepada Jesica. Jesica pun seperti mengerti dengan kode dari sang suami.
"Pagi Mah, pagi Pah." sapa Malfin yang sudah berpakaian rapi.
"Pagi sayang. Mamah udah masak makanan kesukaan mu!" balas Jesica sambil mengambil kan sarapan untuk sang anak.
Mereka pun makan dalam diam, hanya suara gesekan sendok dan garpu yang terdengar di meja makan itu. Setelah melihat Malfin yang sudah selesai makan, Jesica pun mulai membuka obrolan.
"Apa kamu sudah memikir kan yang Mamah katakan semalam?" tanya Jesica dengan datar nya.
"Mah, aku akan menikah tapi tidak dengan gadis di masa lalu ku!" balas Malfin dengan hati-hati.
"Jangan bilang jika kamu mau menikahi Carollina!" potong Jesica cepat dan seperti tahu apa yang sedang di pikir kan Malfin saat ini.
"Ayolah Mah, Carol anak baik, meski ia terlihay pecicilan namun Malfin betah berada di dekat nya." jelas Malfin dengan berat hati.
"Sudahlah Malfin, jangan kamu kira Mamah tidak tahu mengenai Carol datang menemui mu di hotel. Mana ada wanita baik-baik, yang rela tidur berduaan dengan seorang pria yang bukan mukrim nya." balas Jesica tajam, ketika mengingat kejadian ia mendapati video CCTV yang memperlihat kan Carol memasuki lantai 25 di mana kamar pribadi Malfin.
__ADS_1
"Mamah udah kenyang! kalian makan lah!" pekik nya dan beranjak dari ruang makan menuju area parkir di mana Jihan sudah menunggu nya.