Dendam Cinta Sang Police

Dendam Cinta Sang Police
34. Apapun akan aku lakukan.


__ADS_3

Jesica, Denada beserta dua art sedang sibuk menyiap kan sarapan di dapur, tanpa mereka sadari sejak tadi Franco si penguasa sedang menatap mereka dengan senyum mengembang.


'Mah, apapun akan Papah lakukan untuk kebahagian Mamah dan juga Malfin. Papah bahagia ketika melihat Mamah bahagia lagi." membatin Franco tanpa terasa setetes butiran bening pun jatuh. Dan itu semua tak luput dari pandangan Malfin.


Malfin yang berdiri tak jauh dari sang Papah pun, merasa cukup bersalah karena sudah membuat kedua orang tua nya kecewa.


'Pah, Mah maafin Malfin. Malfin janji setelah hubungan Malfin dan Denada mendapat restu dari Ayah nya, Malfin akan mengundur kan diri dari kepolisian dan akan mengikuti kemauan Papah untuk melanjut kan bisnis Papah." membatin Malfin, setelah nya ia ikut duduk bergabung bersama sang Papah.


Menyadari kehadiran Malfin, Franco pun dengan cepat nya membersih kan sisa butiran bening di pipi nya, setelah nya ia pun memasang wajah datar nya. Keheningan pun terjadi antara Ayah dan Anak. Hingga Jesica yang tak segaja melihat nya, segera menarik Dena untuk duduk bergabung bersama suami dan anak nya.


"Sayang, sini deh." panggil Jesica pelan.


Denada pun menghampiri Jesica. "Apa Tante memerlukan sesuatu?" tanya nya dengan sopan.


"Sarapan nya kan udah pada siap, kita duduk yuk." ajak nya sembari menunjuk ke arah anak dan suami nya.


Dena pun mengangguk, dan mengekori Jesica menuju meja makan. Tampak Franco tersenyum ke arah mereka.


"Sayang, duduk sini aja." ajak Franco sembari menunjuk kursi di samping nya.


Mengetahui rencana jahat sang suami Jesica kan pun ikut menimpali. "Iya, kamu duduk di sini aja sayang." timpal Jesica sembari menarik kursi untuk Denada.


"Makasih Tante, tapi Dena duduk di sana aja, kan ini kursi nya Tante." balas Dena tak enak hati.


"Gak pa-pah kan Mah, jika Dena duduk di sini." tanya Franco dengan mengedip kan mata ke arah sang Istri.

__ADS_1


"Ya gak pa-pah dong, kan bentar lagi Dena jadi anak nya Mamah." balas Jesica dengan anggukan kepala. "Mulai sekarang Dena manggil Tante, Mamah aja, begitu pun dengan Om panggil Papah aja. Okey beby?" seru Jesica di ikuti senyum mengembang kala mendapat anggukan kepala dari Dena.


"Sayang, duduk di sini aja." baritone Malfin membuat kedua orang tua nya melotot ke arah nya.


"Enak aja, siapa kamu ngajak-ngajak anak orang duduk di samping kamu!" pekik Franco dengan ketus nya. "Udah, Dena duduk di sini aja bareng Tante sama Om." ucap Franco telak.


Dena pun duduk dan di ampit oleh Franco dan Jesica. Sedang kan Malfin duduk di seberang Jesica. Mereka makan dalam diam. Setelah selesai sarapan mereka pun duduk di ruang keluarga.


"Mah, shopping nya nter siang aja. Dena masih punya urusan yang harus di selesai kan pagi ini." seru Malfin saat mereka sudah duduk di ruang keluarga.


"Sejak kapan kamu ngurus urusan orang lain! bukan nya kamu cuek bebek jika itu menyangkut urusan orang lain." balas Franco dingin.


"Udah deh Pah, Malfin gak mau debat sama Papah." balas nya datar sembari beranjak menarik Dena. "Sayang ayo bersiap siap." ucap Malfin lembut.


"Pah, Mah, Dena ke kamar dulu ya." ucap Dena dengan sopan.


"Jadi kok Mah. Ya sudah, Dena ke atas dulu ya." balas sang gadis dan berlalu mengikuti Malfin.


Sesampai nya di kamar, Dena pun menatap Malfin dengan tajam. "Fin, masalah antara kamu dan Papah, aku gak tau apa-apa, tapi pleace hilang kan ke egoisan kamu, dan berhenti lah untuk saling membalas perkataan Papah. Aku gak mau menjadi bahan pertengkaran kalian, okey!" ucap Dena dengan tegas nya.


"Maaf jika kamu merasa risih." balas Malfin dengan murung.


"Aku gak risih, hanya saja aku gak mau kamu sering berantem sama Papah. Cobalah untuk mengerti setiap perkataan yang Papah katakan, jangan setiap kali Papah bicara kamu langsung emosi, kamu anak yang beruntung Fin, jangan sia-siakan kasih sayang dan cinta dari Papah dan Mamah. Dan satu lagi, bersikap lah sopan, dan buang ego mu untuk menyapa Papah terlebih dulu." pintah Dena kepada Malfin, karena ia tidak mau kekasih nya menjadi seorang pembangkang kepada orang tua.


"Siap di laksana kan, Nyonya Iglesias." seru Malfin dengan senyum mengembang.

__ADS_1


"Apaan sih." kesal Dena sembari mencubit perut Malfin.


Malfin pun menarik Dena kedalam pelukan nya. "Kamu mau tau kenapa cinta ku kepada kamu masih bertahan hingga saat ini, itu semua karena sifat dan tingkah laku kamu yang selalu menghormati siapa pun, entah itu teman, saudara atau pun orang tua. Makasih udah mau maafin aku. I Love You sayang." bisik Malfin sembari mengecup puncak kepala Dena.


"I Love You to sayang" balas Dena.


Denada memakai dress yang telah di sediakan oleh Jesica. Dress selutut yang di kenakan Denada berwarna navi, kemeja yang di kenakan Malfin pun senada dengan yang di kenakan Dena, mereka tampak begitu serasi, siapapun yang melihat nya pasti akan iri.


Jesica dan Franco tampak bahagia kala melihat kemesraan Malfin dan Dena.


"Pah, Mah, kami jalan dulu ya." seru kedua nya serempak.


"Hati-hati ya sayang, dan kamu bawa mobil nya jangan ngebut-ngebut." balas Jesica sembari memperingat kan sang anak.


"Iya Mom, Malfin tau kok." seru Malfin sembari mengecup pipi sang Mamah, Dena pun mengikuti apa yang di lakukan Malfin.


Malfin pun mengendarai mobil ferari milik nya, dengan kecepatan normal. Tak henti-henti nya Malfin mengecup telapak tangan Denada.


"Fin, aku takut." ucap Dena khawatir jika sang Ayah akan marah besar dan berakhir memukuli Malfin.


"Gak usah takut, ada aku. Kita bakalan hadapi semua nya sama-sama." balas Malfin untuk menenangkan sang kekasih hati.


Tak terasa mobil Malfin pun tiba di depan gerbang yang menjulang tinggi dengan pengawalan yang begitu ketat.


"Pak, tolong buka gerbang nya." pinta Dena kepada kepala security.

__ADS_1


"Baik Nona." balas sang pria dengan sopan.


__ADS_2