Dendam Cinta Sang Police

Dendam Cinta Sang Police
4. Kau & Cintaku Sudah Lama Mati.


__ADS_3

Malfin dan para rekan timnya sudah berkumpul di kamar hotel. Malfin pun memulai berdiskusi dengan rekan lainnya.


"Frizy, kali ini kamu yang akan memegang peran penting di sini." ucap Malfin dengan pelannya.


Gaftan dan Frizy saling menatap satu sama lain karena mendengar perkataan Malfin barusan. Keduanya pun tampak khawatir karena mereka tau betul jika perkataan Malfin mengisyaratkan ancaman untuk mereka, namun apa daya mereka tidak memiliki kewenangan untuk menolak perkataan Malfin selaku atasan mereka.


"Siap di laksanakan!" jawab Frizy dengan pasrah.


"Kamu harus berusaha mendekatkan diri kepada Putri kesayangan Muldof, jika kamu berhasil mendapatkan hatinya, maka misi kita untuk menangkap Raja Narkotika akan sangat mudah, dengan memanfaatkan Putri nya masuk ke dalam perangkapmu. Apa kamu siap mengambil tugas ini?" jelas Malfin tanpa melihat ke arah Frizy dan lainnya.


Frizy maupun Gaftan tampak terbelalak mendengar tugas yang di berikan Malfin kali ini. Ya, karena siang tadi mereka baru saja mendengar curahan hati Putri Raja Narkotika mengatakan bahwa ia sangat mencintai sahabat mereka.


Frizy seperti di sambar petir di sore hari, namun ia tidak berani menolak tugas yang di berikan sahabatnya dan ia hanya bisa menyetujui tanpa harus menolak.


"Baiklah!" jawab Frizy dengan lemasnya.


"Kalian istirahatlah, aku akan menemui Kapten Zhang untuk membicarakan beberapa hal penting dengan nya." ucap Malfin dan segera menarik jaketnya, setelahnya ia pun keluar.


Malfin dengan banyak pertanyaan di kepalanya memilih pergi ke sebuah club malam untuk menenangkan dirinya. Malfin yang tidak suka dengan alkohol akhirnya memesan beberapa kaleng bir untuk dirinya sendiri. Tidak ada yang tahu dengan perasan Malfin saat ini, karena sifatnya yang begitu cuek dan dingin.


Setelah merasa dirinya mabuk, ia pun beranjak dari sana dan ingin kembali ke hotel, tapi tiba-tiba ia teringat akan perkataan Denada yang akan menunggunya di sebuah Cafe. Ia pun berjalan terhuyung huyung menuju cafe tersebut dengan keadaan mabuk berat.

__ADS_1


Denada dengan setianya menunggu kedatangan Malfin hingga larut malam, dan memilih duduk di depan Cafe setelah Cafe tersebut tutup.


Denada sangat mengharapkan kedatangan Malfin karena ia tidak ingin di salah pahami oleh Malfin lagi, tepat pukul dua malam Denada yang hanya menggunakan tangtop berwarna hitam mulai kedinginan. Ia pun mencoba bertahan dan memilih menunggu Malfin lagi. Hingga pada akhirnya Malfin tiba di depannya.


Matanya yang indah tidak dapat membendung butiran bening itu untuk jatuh, karena hal terindah yang sangat ia rindukan ada tepat di depannya.


"Apa ini? Mengapa kamu masih duduk di sini! Menggunakan cara ini, untuk membuatku memaafkanmu? Sayangnya cinta itu telah menjadi kebencian dan mendarah daging di tubuhku!" teriak Malfin dengan keras.


"Fin, aku tahu kamu benci aku, tapi berikan aku satu kesempatan lagi untuk menebus kesalahanku di masa lalu. Mungkin kamu tidak akan percaya dengan apa yang aku katakan nanti tetapi aku berharap kamu mau ngertiin posisi aku waktu itu." balas Denada dengan sedihnya.


"Jangan bermimpi! Aku tidak akan pernah memaafkanmu atau pun mendengarkan alasanmu. Karena bagiku kau sudah mati sejak kau memilih meninggalkanku 8 tahun yang lalu, begitupun dengan cinta ku padamu sudah membeku sejak saat itu!" ucap Malfin dengan mengayunkan telunjuknya ke arah Denada.


Mendengar perkataan Malfin, seketika Denada memejam kan mata nya karena yang ia takut kan akhir nya terjadi, di mana Malfin akan mengatakan segala nya.


"Hahaha... Dasar wanita tak memiliki hati!" teriak Malfin kembali dan berjalan meninggalkan Denada yang sedang berdiri mematung.


" Aku benci kamu, Dena! Aku benci kamuu!" teriak Malfin kembali seraya berjalan terhuyung huyung.


"Fin, biarkan aku mengantar kamu kembali, terserah kamu, tapi aku tidak bisa membiarkan kamu kembali dalam keadaan seperti ini." ucap Denada dengan menahan lengan Malfin.


"Menjauhlah dariku! Aku tidak ingin terjerat dengan cinta palsumu lagi!" perkataan dan cara Malfin melepaskan tangan Denada seperti tersirat kebencian yang begitu dalam dari sorot matanya.

__ADS_1


"Okey, aku tidak akan muncul di hadapanmu selama yang kau inginkan, tapi kali ini biarkan aku mengantarmu kembali dan aku berjanji ini akan menjadi kali terakhir aku muncul di hadapanmu." balas Denada dengan pasrah.


Malfin tak mengubris perkataan Denada kepadanya dan memilih bungkam karena saat ini ia tidak ingin berdebat lagi dengan Denada.


"Kamu jangan mengikutiku lagi, karena kau wanita yang sangat aku benci selamanya!" teriak Malfin dari kejauhan.


Mendengar itu hati Denata seperti di tikam beribu pisau ia tidak menyangka jika luka yang ia tinggalkan mencari batu sanjungan antara dirinya dan juga Malfin.


Frizy dan Gaftan yang menyadari jika sejak selesai rapat, Malfin tak kunjung kembali, keduanya pun begitu khawatir dan memilih mencari Malfin. Tepat saat mereka keluar dari hotel mereka melihat Malfin yang berjalan layaknya orang yang begitu frustasi. Keduanya pun menghampiri Malfin.


"Kenapa kamu bisa semabuk ini? Apa yang terjadi?" tanya Gaftan dan segera membopong Malfin masuk ke dalam hotel.


"Hahaha... Wanita itu kembali, dan mengatakan omong kosong kepadaku. Kalian jangan pernah percaya dengan cinta karena cinta hanya akan membuat kalian sakit hati." keluar sudah unek-unek yang selama ini di simpan Malfin dalam hatinya.


Gaftan dan Frizy dapat merasakan kesedihan yang di tutup rapat oleh Malfin selama ini.


"Jangan bilang kalau kamu menemui gadis itu! Malfin, kamu tidak perlu seperti ini, kamu harus bangkit dan lupakan gadis itu. Kamu akan menemukan orang yang tepat yang mampu memberimu kebahagian bukan sebaliknya!" ucap Frizy selaku sahabat Malfin.


"Aku, sangat mencintainya, tapi sulit bagiku untuk memaafkan kesalahannya kepadaku!" balas Malfin dengan mengayunkan tangannya.


Gaftan dan Frizy pun membaringkan Malfin di ranjang, tapi pandangan keduanya tertuju ke arah Malfin yang seperti sedang menahan tangis. Keduanya pun merasa sedih ketika mendapati butiran bening keluar dari samping pelopak mata Malfin.

__ADS_1


"Mengapa wanita itu kembali! Aku akan membalaskan dendam Malfin kepadanya, akan aku patahkan hatinya saat ia mulai jatuh ke dalam perangkapku." dengan kemarahan yang menglebu-glebu Frizy berbicara.


__ADS_2