Dendam Cinta Sang Police

Dendam Cinta Sang Police
26. Melahirkan dan bercerai.


__ADS_3

"Malfin, aku bisa menjelaskan nya kepadamu." ucap Denada tiba-tiba setelah terdengar keheningan di antara mereka.


"Jika kamu ingin menjelaskan nya, kembalilah ke dalam dan ikut bersama kami." balas nya datar dan segera berjalan memasuki club tersebut tanpa mendengar balasan dari gadis di depan nya.


Ada rasa senang dan bahagia yang di rasakan Denada saat ini, bagaimana tidak, hari yang di nanti kan nya selama beberapa tahun ini, akhir nya tiba, di mana Malfin mau mendengar kan penjelasan nya.


Denada pun berjalan masuk menuju sebuah ruangan yang berada di club tersebut, dengan sedikit gugup ia pun meraih handle pintu dan membuka nya dengan perlahan.


Terlihat Malfin yang sudah duduk sembari menyesap segelas wine di tangan nya, Denada pun memberani kan diri untuk duduk di salah satu sofa yang agak menjauh dari tempat yang Malfin dudukki. Seketika ruangan itu hening, kedua insan yang berada di ruangan itu, tampak diam satu sama lain.


Melihat sikap dingin dan cuek nya Malfin, membuat Denada berpikir dua kali untuk menjelaskan segala nya, ia pun perlahan beranjak dan berjalan meraih handle pintu, namun gerakan tangan nya terhenti saat Malfin berbicara.


"Aku tahu kamu masih mencintai ku, maka dari itu mari kita buat ke-se-pa-ka-tan!" ucap Malfin dengan menekan kata terakhir nya dengan jelas.


Dan perkataan itu berhasil membuat Denada menyergitkan alis nya, karena ia merasa bingung dengan perkataan Malfin.


"Kesepakatan?" tanya Denada seperti ingin meminta penjelasan setelah berhasil menatap Malfin.


Tanpa basa basi, Malfin pun melempar kan sebuah dokument ke atas pantri mini yang menjadi pemisah antara diri nya dan juga Denada. Denada pun berjalan ke arah di mana dokument itu berada, tanpa berucap lagi ia pun meraih dokument tersebut.


Denada tampak syok ketika membaca isi dari dokument tersebut, yang ada di pikiran nya saat ini adalah alasan dari kontrak yang di berikan Malfin untuk nya.


Seperti tahu dengan apa yang di pikir kan Denada, Malfin dengan cepat berucap.

__ADS_1


"Inikah yang kamu ingin kan! mencoba mendekati Ibu ku untuk mengambil simpatik dari nya agar segala rencana mu mendekati ku berjalan dengan mulus." jelas Malfin dengan tajam.


"Tuan yang terhormat, tolong jelaskan apa maksud dari perkataan mu barusan. Dan mengenai aku yang mendekati Ibu mu seperti nya kamu keliru, aku tidak pernah bertemu siapapun termasuk Ibu mu." balas Denada tak kalah tajam nya dari perkataan Malfin.


"Tanda tangani kontrak itu, setelah kamu melahir kan seorang penerus bagi ku, kita akan segera bercerai!" seru nya dengan seringgai licik tanpa merasa bersalah.


Denada tampak terkejut dengan ucapan yang Malfin lontarkan, ia mencoba mencerna segala perkataan Malfin barusan, hingga ia pun mengerti dengan perkataan itu.


"Kau pria tak berperasaan, ternyata selama ini aku salah mencintai pria arogan seperti dirimu. Hahaha." balas Denada dengan sindiran di ikuti dengan gelak tawa.


"Syukur lah takdir memisah kan kita pada waktu itu, jika tidak mungkin aku akan menjadi wanita terbodoh di dunia yang mencintai pria brengsek sepertimu." ucap Denada kembali dengan tajam dan segera meninggal kan ruangan tersebut.


Malfin dengan kemarahan nya, segera mengejar Denada. Dan kali ini ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Setelah melihat Denada yang sedang menangis sembari memasuki lift, Malfin pun mengurungkan niat nya untuk mengejar Denada kembali, dan kali ini ia berpikir untuk memberani kan diri nya menemui sang Mamah. Tekat nya kali ini ialah membawa Carol untuk bertemu orang tua nya.


Denada berlari menuju lift dengan tangisan nya, ia tidak menyangka jika kebencian Malfin akan dirinya sebesar itu, hingga menuduh nya dengan segala pemikiran nya. Ia pun berpikir untuk menjauhi Malfin, ia sungguh tidak ingin berpapasan dengan Malfin lagi dalam hal apapun.


"Thon, aku tunggu di parkiran B sekarang juga." pekik nya setelah sambungan telepon tersebut tersambung.


"Baik Tuan." balas Anthoni dan segera berlari menuju parkiran yang tidak jauh dari tempat nya berdiri.


Dua jam kemudian ia sudah tiba di pelataran Mansion utama orang tua nya. Ia pun segera menghampiri kedua orang paruh baya tersebut yang sedang duduk berbincang di ruang keluarga.


Tanpa mengulur ulurkan waktu lagi, Malfin segera mengemukakan keputusan nya.

__ADS_1


"Mah, Pah keputusan Malfin sudah bulat, Malfin ingin melangsungkan pertunangan tapi tidak dengan wanita itu! Malfin akan melangsungkan pertunangan Malfin dengan Carol lusa nanti, dan Malfin minta jangan lagi mendorong Malfin untuk menemui wanita itu." jelas Malfin panjang lebar dan cuek ketika melihat perubahan wajah kedua orang tua nya.


Jesica begitu syok dengan apa yang di katakan anak semata wayang nya. Franco yang awal nya biasa saja, kini menatap ekspresi sang istri yang berubah masam, ia takut jika sesuatu akan terjadi ketika kemarahan istri nya tidak terkendali kan dan kali ini ia angkat bicara.


"Kamu bahkan berani membangkang orang tua kamu sendiri hanya demi keegoisanmu itu! apa yang sudah Carol berikan kepadamu selain sifat nya yang kekanak kanakan." seru Franco mencoba menahan emosi nya agar tidak terpancing dengan ke angkuhan Malfin.


"Cukup Pah! berhenti menjelek jelekkan Carol! Carol bukan gadis yang seperti Papah dan Mamah pikirkan." Malfin mengeram dan mengepalkan tangan nya seraya menatap dingin ke arah Franco.


"Mamah tidak akan pernah merestui kalian! Mamah ingin kamu menikahi Denada sekarang juga!" sergah Jesica dengan tajam nya.


"Malfin tidak akan pernah merubah keputusan Malfin. Apapun yang terjadi, Malfin tetap pada pendirian Malfin sekali pun Malfin menjadi anak durhaka sekalipun." jelas nya kembali dengan keras kepala.


"Sampai kapan pun Mamah tidak akan pernah merestui hubungan kalian! dan ya, jika kamu masih menganggap aku Mamah mu, ikuti permintaan ku, jika tidak keluar dan tinggalkan segala fasilitas yang kami berikan kepadamu!" Jesica yang sejak tadi terdiam akhir nya angkat bicara.


"Maafin Malfin, Mah! tapi Malfin tidak bisa bersama Denada lagi apapun alasan nya." seru nya kembali dengan datar.


"Baiklah jika itu keputusanmu, saat ini juga kamu bukan anak ku lagi atau pun pewaris Iglesias Corp." tambah Jesica saat ia sudah berjalan meninggalkan Malfin dan Franco.


"Dasar anak tidak tahu di untung, jika terjadi sesuatu terhadap Istriku, kamu akan merasakan akibat nya. Keluar dari rumah ku dan tinggalkan segala fasilitas yang selama ini kami berikan kepadaku dan satu lagi jangan berharap untuk mendapatkan restu dari kami karena mulai detik ini kamu tidak lagi ada hubungan apapun dengan kami." sergah Franco dengan berapi api dan segera berjalan mengikuti sang Istri yang tampak syok dan sedih.


Malfin tampak terbelalak, ia tidak menyangka jika keputusan yang ia ambil barusan adalah bumerang untuk nya, bukan karena ia di hapus dari ahli waris melainkan ia tidak dapat memikir kan kehidupan nya tanpa kasih sayang dari Jesica yang selalu mencurahkan cinta dan segala nya untuk kebahagian nya.


Dan dengan besar hati Malfin pun meninggalkan kediaman orang tua nya, setelah menelpon Frizy dan beberapa sahabat nya.

__ADS_1


__ADS_2