
Seperti janji Malfin kepada Rathan, ini ialah hari di mana ia menepati janji itu. Tepat pukul tujuh malam, Jesica dengan balutan kebaya berwarna merah yang di padukan dengan jelana jeans tampak membuat wanita dewasa itu terlihat anggun dan tampak terlihat begitu cantik dengan riasan tipis. Malfin pun terlihat sangat tampan dengan balutan kemeja berwarna putih di padukan dengan jas berwarna biru, ia terlihat bak seorang pangeran, Jesica beserta sang suami terpukau kala melihat Malfin menuruni anak tangga.
"Ternyata anak ku sangat tampan." gumam Jesica yang kagum dengan ketampanan sang anak.
"Ya harus tampan dong, seperti Dad nya." balas Franco bangga.
"Pede banget sih. Emang Dad tampan apa?" goda Jesica.
"Sudah pasti dong! bukti nya Mom saja klepek-klepek saat melihat wajah tampan Dad." celetuk Franco sembari mengedip kan sebelah mata nya. Jesica yang mendengar nya hanya memutar bola mata nya malas.
"Sayang ayo, keburu telat kita nanti." panggil Jesica lembut sembari menghampiri Malfin dan meninggal kan sang suami yang masih berbangga diri.
Tak terasa mobil yang di tumpangi Malfin beserta kedua orang tua nya pun tiba di rumah mewah Rathan. Rathan dan Alexis pun menyambut mereka dengan senyum ramah. Franco pun memeluk Rathan dengan erat nya.
"Lama tak jumpa, Than, Lex." ucap Franco dengan bahagia.
Rathan pun tersenyum bahagia kala melihat sahabat nya. "Aku tak menyangka kita bakalan di pertemukan dalam ikatan kekeluargaan." balas Rathan sembari membalas pelukan sang sahabat.
Malfin tampak membelalak, ia pun menatap sang Mamah dengan sorot mata seperti ingin meminta penjelasan. Pasal nya ia tidak pernah mengingat mengenai pertemuan calon mertua nya dan juga sang Ayah.
"Jes, kau tambah cantik aja." seru Alexis dengan senyum mengembang.
"Aisstt... ku kira kau ini istri kedua nya Rathan." balas Jesica dengan candaan dan merentang kan tangan nya, Alexis pun memeluk Jesica dengan perasaan yang tidak dapat di arti kan.
__ADS_1
"Aku senang bisa bertemu dengan kalian lagi. Aku awal nya tidak suka dengan pria resek ini, tapi aku kaget ketika Rathan menceritakan siapa dia. Dan ternyata gunung Fuji ini anak kalian toh." seru Alexis dengan candaan nya dan berhasil mengundang tawa dari para sahabat nya.
"Mom, kok Mom dan Dad bisa kenal Ayah sama Paman Alex sih?" tanya Malfin bingung.
"Udah kita masuk dulu, ntar kita jelasin ke mereka saat kita selesai makan malam." potong Alexis sembari mengajak Jesica dan lain nya.
"Bik tolong panggil Dena kesini." pintah Rathan.
"Baik Tuan." balas sang bibik dan segera berjalan menaiki tangga untuk memanggi Dena.
"Mereka teman semasa Dad dan Mom kecil dulu, begitu pun dengan Rayna yang tak lain Ibu nya Dena. Kami beranggota kan 6 orang, namun kekasih Paman Alex terlebih dulu di panggil sama yang di atas. Kami terpisah saat sebulan pernikahan Dad dan Mom, saat di mana Dad memenang kan tender yang cukup besar, saat itu lah kami tak berkomunikasi lagi." jelas Jesica dengan menitih kan air mata nya kala mengingat kedua sahabat nya yang telah di panggil terlebih dahulu.
Menyadari suara bergetar nya Jesica, Alex pun mengalih kan topik. "Sayang ayok sini." panggil Alex ketika melihat sosok Dena yang berdiri tak jauh dari mereka.
Malfin tampak terpesona melihat Denada yang mengenakan gaun yang di belikan oleh nya beberapa hari lalu, gaun berwarna pink itu membuat lekuk tubuh Dena terbentuk bak gitar Spanyol dan terlihat begitu seksi. Malfin pun diam-diam menelan saliva nya.
"Sayang duduk sini aja." panggil Jesica sembari menunjuk sofa kosong di samping nya. Dena pun mengikuti permintaan calon mertua nya.
"Than, meski kita sudah bersahabat sejak masa kanak-kanak namun untuk masalah ini, kami selaku orang tua Malfin, ingin melamar Dena secara resmi di hadapan kamu dan juga Alex selaku Paman nya." jelas Jesica atas maksud dari kedatangan mereka malam ini.
"Semua keputusan ada di tangan Dena, jika ia merasa gunung Fuji di samping kita ini yang terbaik, aku sih iya-iya aja." balas Rathan santai dengan terkiki geli kala melihat raut kekesalan calon menantu nya.
Semua yang mendengar balasan Rathan pun sontak tertawa, dan itu lagi-lagi membuat Malfin memberenggut kesal.
__ADS_1
Di tengah-tengah canda tawa mereka, terlihat seorang pria gemuk menghampiri mereka. "Tuan, makan malam sudah siap." ujar sang pria dengan membungkuk sopan.
"Ya sudah, kita lanjutin pembicaraan ini setwlah makan malam. Mari." ucap Rathan dan mengajak semua nya ke ruang makan, namun tawa mereka belum juga hilang.
Setelah selesai makan, mereka pun kembali duduk di ruang keluarga untuk membahas tanggal pertunangan Denada dan Malfin.
"Bagaimana jika pertunangan mereka di adakan lusa nanti?" tanya Rathan meminta persetujuan kedua orang tua Malfin yang tak lain sahabat baik nya.
"Lebih cepat lebih baik. Bagaimana dengan kalian? apa kalian siap jika pertunangan nya di adakan lusa nanti?" tanya Jesica kepada Malfin dan Dena.
"Mom, apa itu tidak terlalu cepat? Malfin ingin acara pertunangan Malfin di adakan dengan mewah, dan dua hari bukan lah waktu yang sangat mendesak?" protes Malfin yang tidak ingin acara pertunangan nya berantakan dengan rentan waktu dua hari.
"Kalian tidak perlu khawatir, kalian tinggal duduk saja, percayakan semua nya kepada Paman dan juga Mommy mu." timpal Alex dengan tersenyum.
"Terserah kalian saja, kami hanya mengikuti arahan dari kalian saja." balas Malfin dengan pasrah. Ia pun mengajak Denada pergi sembari berpamitan kepada ke empat paru baya di depan mereka.
"Ayah, Malfin mau ngak Dena keluar dan mungkin kami tidak kembali malam ini." ucap Malfin to the point.
Ke empat paru baya itu terbelalak. Jesica pun menatap tajam sang anak. " Apa kamu sudah gila? kalian itu belum sah, gak ada nginap berdua duaan. Antar Dena pulang meski larut malam." marah Jesica yang geram dengan pikiran sang anak.
"Mom, kami bukan mau nginap berduaan, tapi kami mau menghabis kan waktu bersama Frizy dan lain nya di Villa kita. Maka itu gak mungkin kita pulang malam ini." jelas Malfin yang kesal dengan sang Mamah.
"Ooo.. Than, Lex bagaimana? apa kalian setuju mereka pergi?" tanya Jesica meminta persetujuan sang besan.
__ADS_1
"Pergi lah, tapi ingat kalian belum sah! jangan sampai kebablasan." seru Alex dengan tajam.
"Terima kasih. Ya sudah, kami pergi dulu. Selamat bernostalgia." ucap Malfin dan segera menarik Dena menjauh dari para orang tua.