
Setelah dokter memeriksa kondisi Denada, kedua suami istri itu pun keluar dari kamar Malfin menuju ruang keluarga.
"Jika Nania tidak menelpon dan mengata kan apa yang terjadi, mungkin Malfin akan melakukan hal yang Mamah yakini akan membuat ia menyesali nya seumur hidup nya." lirih Jesica saat mengingat perkataan Nania mengenai Malfin yang menginjak injak harga diri Denada.
"Dan Papah harap Mamah tidak lagi mengasihani anak bajingan itu." ucap Franco dengan kesal nya.
"Ya sudah, Mamah istirahat gih. Papah mau ke ruang kerja dulu!" ucap nya kembali sembari mengecup puncak kepala sang istri dan berlalu pergi ke ruang kerja nya. Setelah melihat kepergian sang suami, Jesica pun beranjak menuju kamar.
Kenapa kamu lakuin itu, Nak. Andai kamu tahu alasan di balik kepergian Nada tahun itu, mungkin kamu akan sangat menyesali segala tindakan yang kau coba lakukan kepada nya. Gumam Jesica dengan pelan nya.
Tidak membutuh kan waktu lama, Jesica pun terlelap, beda hal nya dengan Franco yang tampak seperti sedang menyeringgai menatap ke arah gerbang.
"Buka pintu nya!" teriak Malfin kepada sang penjaga gerbang.
"Maafkan saya, Tuan Muda. Tapi Tuan besar tidak mengijin kan anda masuk. Sekali lagi maaf." jelas sang penjaga dengan takut-takut.
"Ayo buka, sebelum ku tabrak gerbang ini." pekik Malfin kembali dengan kesal nya.
"Jangan lakukan itu, saya akan membuka gerbang nya." sang penjaga pun dengan pasrah membuka gerbang tersebut.
Malfin tersenyum, dan kembali mengemudi memasuki pelatan rumah mewah orang tua nya.
Franco yang melihat Malfin hendak berjalan memasuki pelataran rumah pun segera keluar dari ruang kerja nya, ia pun memilih duduk di ruang keluarga dalam keadaan gelap gulita.
Brrakkk... suara pintu yang di buka.
Malfin pun berjalan dengan terhuyung huyung, tak segaja ia menyambar guci kesayangan Jesica hingga terdengar suara pecahan yang cukup nyaring. Seketika ruangan itu kembali terang setelah Franco menekan saklar lampu.
"Ciih.. masih punya muka kamu untuk pulang kesini!" desis Franco dengan tajam.
__ADS_1
"Pah, Malfin kesini bukan untuk berdebat dengan Papah atau pun Mamah, melainkan ingin bertemu dengan Dena." balas Malfin dan hendak menaiki tangga namun langkah nya terhenti saat mendengar ancaman sang Papah.
"Selangkah lagi kamu naik, maka kamu akan menanggung akibat nya!" ancam Franco dengan seringgai licik.
"Sayang nya Malfin gak takut dengan ancaman Papah." balas Malfin dengan berani.
"Keluar!" teriak Franco dengan marah nya. Dan teriakan Franco kali ini membuat kedua wanita yang sedang terlelap pun terbangun dari tidur mereka.
Mendengar suara ribut-ribut, Jesica yang berada di lantai satu pun segera beranjak keluar, begitu pun dengan Nada yang berada di lantai dua segera berlari keluar, seketika ia mematung kala melihat Malfin dengan tampilan acak-acakan.
"Apa-apaan ini!" pekik Jesica marah.
"Apa lagi yang ingin kamu lakukan di sini?" tanya Jesica dengan tajam.
"Hahaha.. apa kali ini Malfin memang di larang keras untuk masuk ke rumah, Mamah dan Papah?" balas Malfin dengan santai nya. "Udah deh, Malfin kesini bukan untuk berdebat dengan Mamah atau pun Papah. Ada beberapa hal yang ingin Malfin bicarakan dengan Nada." jelas nya dan berjalan menaiki tangga kembali hingga ia pun seketika bersitatap dengan manik mata Nada yang menatap nya dengan tajam.
"Pah, ayo masuk! biar Malfin selesai kan sendiri masalah nya." ucap Jesica sembari menarik lengan sang suami.
"Bagaimana jika Malfin menyakiti Nada lagi Mah." balas Franco khawatir.
"Malfin gak mungkin lakuin kesalahan yang sama Pah, Mamah yakin itu." ucap Jesica menyakin kan sang suami.
Kedua nya pun segera berjalan masuk ke kamar, meninggal kan Malfin beserta Denada yang masih berdiri di lantai dua.
Tanpa berucap Malfin pun menarik Denada masuk kembali ke kamar nya. Denada pun tidak ingin memprofokasi Malfin lagi dan memilih mengikuti Malfin masuk ke dalam kamar tanpa memberontak.
Dengan lembut nya Malfin pun menduduk kan Denada di tepian ranjang, dan ia pun memilih duduk di lantai di depan Denada. "Maafin aku, De." mohon Malfin dengan isakan tangis nya. "Mungkin apa yang aku katakan selama ini sudah sangat melukai hati kamu, tapi jujur aku pun merasa sakit saat setelah apa yang aku katakan kepada kamu." jelas nya kembali dengan penuh sesal.
Denada hanya diam, ia tidak tau harus bahagia atau sedih, namun banyak pertanyaan yang sedang berkecamuk di pikiran nya, perihal mengapa ia berada di rumah ini, di tambah hubungan Malfin dan Carol. Hancur itu yang saat ini di rasakan oleh Nada, ia berpikir jika antara diri nya dan Malfin tidak mungkin bersama lagi, ia pun mengumpul kan keberanian untuk mengata kan segala unek-unek di hati nya.
__ADS_1
"Alasan aku kembali kesini cuman satu, yaitu kamu! aku awal nya ingin berkeluh kesah kepada kamu, dan mencerita kan segala kesulitan aku selama hidup jauh dari kamu. Namun semua nya berbanding terbalik dengan ekspetasi ku! kau berubah menjadi orang asing." jelas Nada dengan lirih nya.
"Maafin aku, De. Berjanji lah untuk tidak meninggal kan aku lagi." mohon Malfin sembari merebah kan kepala nya di pangkuan Nada.
"Kamu tau Fin, saat aku meninggal kan Negara ini, aku juga merasa sangat kehilangan seseorang yang sangat berarti dalam hidup ku, semua yang kulalui di kejauhan sana sungguh membuat sedih, hingga pada suatu ketika aku hampir saja di masuk kan ke rumah sakit jiwa, namun berkat seseorang aku pun menata kembali hidup ku dan bertekat untuk sembuh demi bisa menemui orang itu." jelas nya di ikuti suara isakan tangis.
"De, sekeras apapun aku membenci kamu, tapi nyata nya hati ini tidak bisa membeci kamu, karena selama kepergian kamu, hati ini juga membeku dan tak tersentuh sekalipun itu Carol. " jelas Malfin jujur.
"Tapi kamu dan Ca-" ucap nya langsung di potong oleh Malfin.
"Antara aku dan Carol tidak memiliki hubungan apapun, saat berada di Hongkong kami sudah mengakhiri hubungan itu." jelas Malfin jujur karena memang Carol yang mengakhiri hubungan mereka.
"Apa kamu mencintai Carol?" tanya Dena kembali memastikan.
"Aku tidak pernah mencintai nya." jawab Malfin tanpa dosa.
"Ya sudah keluar gih, aku ngantuk." usir Dena dengan lambaian tangan.
"Kamu marah?" tanya nya polos.
"Jika kamu mencintai nya, aku bisa apa! lebih memudah kan aku juga kan untuk melanjut kan pertunangan ku bersama Brian." goda Dena sembari menahan tawa nya ketika melihat kekesalan Malfin.
"Ya sudah pergi sana, aku juga bakal cari Carol dan melamar nya." jawab nya ketus sembari beranjak dari lantai.
"Baiklah jika itu mau kamu." balas Dena yang mulai kesal.
Dena pun perlahan beranjak dari ranjang dan berjalan menuju pintu, namun belum sempat menarik handle pintu Malfin segera memeluk nya dari belakang. "Cinta aku hanya untuk Dena ku seorang." bisik nya pelan dan bergelayut manja di pundak Dena. "I love you and really like you dear." bisik nya lagi sembari memutar tubuh Dena menghadap ke arah nya.
Dena pun tersenyum bahagia. "I love you too, honey." balas Dena dan Malfin pun mengerat kan pelukan nya, ia begitu merindukan gadis dalam pelukan nya.
__ADS_1