
Sinar matahari pagi menyelinap di antara celah tirai yang mengelilingi kamar hotel yang Malfin dan Carol tempati. Mereka bercinta sampai tengah malam, hingga lelah menghampiri kedua nya dan terlelap begitu saja.
Malfin yang terbiasa bangun pagi, mendapati sosok wanita cantik dan begitu seksi masih terlelap di samping nya, kedua ujung bibir Malfin tertarik ke atas membuat senyum ketika mengingat malam panas yang mereka lakukan hingga larut malam. Melihat gadis di samping yang tertidur begitu pulas nya, Malfin pun kembali mendekat kan tubuh ke arah Carol, memeluk pinggang ramping Carol dari balik selimut yang menutupi tubuh polos Carol.
Carol menggeliat kan tubuh saat merasa kan gerakan gerakan di atas ranjang dan juga merasa kan lengan Malfin memeluk nya dari belakang, namun rasa kantuk masih menguasai nya sampai Carol belum mau membuka kelopak mata nya.
"Good morning, Honey!" bisik Malfin sambil mengecup bibir Carol dengan lembut nya.
"Morning kiss!" bisik Malfin kembali.
"Morning Honey." balas Carol tanpa malas membuka mata nya karena ia merasa kan kantuk yang sangat kuat.
"Ayo bangun, ada beberapa hal yang ingin aku bicarakan dengan kamu, baby!" seru Malfin kembali tanpa mengedar kan pandangan nya pada wanita cantik dengan bola mata berwarna biru yang masih memejam kan mata nya.
Carol pun dengan malas nya mencoba membuka mata nya untuk menatap pria yang memperikan kehangatan semalam pada diri nya.
"Ada apa sayang!" dengan suara berat Carol bertanya.
"Aku tidak ingin terjadi salah paham antara kita, jadi aku berpikir untuk mencerita kan apapun yang terjadi saat aku meninggal kan pesta perayaan mu malam itu." ucap Malfin dengan lembut nya sembari menanggal kan rambut berwarna coktal yang ada di wajah Carol.
__ADS_1
"Katakan lah!" balas Carol dan beranjak bangun untuk mensejajar kan tubuh nya dengan Malfin yang sudah duduk di depan nya.
"Malam di mana perta ulang tahun mu, aku bersama yang lain sedang dalam misi memata matai anak gadis dari Raja Narkotika. Namun sesuatu hal terjadi saat aku sedang duduk bersama mu, dan itu mengharus kan aku menjaga saksi kunci dari misi kami yang tidak lain adalah wanita di masa laluku." jelas Malfin terjeda beberapa saat sebelum melanjut kan ketika terlihat kekesalan di wajah Carol.
"Jadi kamu menghilang bersama wanita itu! dan mencampa kan aku di pesta ulang tahun ku." tanya Carol dengan raut wajah kesal nya tanpa menatap Malfin yang sejak tadi memandangi wajah nya.
"Aku bersumpah, aku tidak bermaksud menyakiti hatimu. Aku pergi karena dalam misi ini aku harus berperan penting untuk merebut hati Denada kembali, untuk jatuh cinta lagi kepadaku. Itu semua aku lakukan demi menyelesai kan misi ini. Malam itu aku membawa nya ke suatu tempat, tapi di antara kami tidak terjadi apapun, aku enggan mendekati nya karena bagiku saat ini adalah membahagia kan kamu seutuh nya." jelas Malfin dengan detail nya namun tidak berani mengata kan kebenaran jika dirinya malam itu mencumbui Denada dengan rakus nya.
"Aku mandi dulu, Welly akan menjemputku sebentar lagi." ucap Carol tiba-tiba, ia pun segera beranjak turun dari ranjang dan berjalan menuju kamar mandi.
"Carol." panggil Malfin bingung ketika Carol tiba-tiba pergi meninggal kan nya sendiri dan berlalu masuk ke kamar mandi.
Kamar mandi di ruangan president suite itu di kelilingi kaca yang cukup transparan, dan Malfin yang berada di ranjang pun dapat melihat Carol.
Carol pun perlahan masuk ke dalam bathtub, merendam kan diri makin dalam sampai air di bibir nya. Aroma rose bercampur pepermint yang menyegarkan membuat otot-otot tubuh Carol terelaksasi.
Kekesalan Carol bukan tidak beralasan, melainkan ia kecewa dengan keputusan Malfin yang meninggal kan diri nya saat perayaan ulang tahun. "Bagaimana bisa ia bermalam dengan mantan pacar nya, dan mencampakan aku sebagai kekasihnya." gerutu Carol.
Carol pun menyandar kan kepala nya pada bantalan yang sudah tersedia di dalam bathtub, ia pun memejam kan mata nya.
__ADS_1
"Aku tahu aku salah, maafkan aku, Honey." ucap Malfin dengan suara yang begitu lembut. Namun Carol masih memejamkan mata nya tanpa membalas perkataan Malfin.
"Carol, aku sedang berbicara kepada mu!" ucap Malfin yang mulai kesal dengan sikap Carol yang tetap cuek kepada nya.
Carol menghela nafas kasar dan perlahan membuka mata nya dan menatap Malfin dengan sendu. "Apa aku salah jika aku merasa cemburu! Fin saat kamu melamar aku menjadi kekasih mu, aku begitu bahagia! namun kau mengecewakan aku malam itu, aku pun berpikir positif tentang kepergianmu, namun apa nyata nya, malam itu kamu berduaan dengan mantan pacarmu, dan tidak mengabariku hingga pagi hari." terang Carol dengan mata berkaca kaca.
"Sudahlah Fin, aku tahu jika semalam kamu memanggil ku kesini hanya untuk melampias kan hasrat mu yang tidak kau salurkan kepada mantan pacarmu itu kan." seru Carol dengan sedih mengingat adegan panas mereka, Malfin berulang kali menyebut kan nama Denada.
"Apa yang kau katakan, Honey! semua itu tidak benar, mana mungkin aku memiliki perasaan kepada wanita yang telah menoreh kan luka di hatiku." balas Malfin dengan sarkas dan tidak ingin bertengkar dengan Carol yang nanti nya akan memperburuk hubungan yang baru saja mereka bangun.
"Kamu benar-benar tidak ingat atau pura-pura Amnesia!" sarkas Carol membalas perkataan Malfin yang menurut nya adalah kebohongan.
Perkataan Carol kali ini membuat Malfin kesal karena ia tidak mengerti dengan arah berpikir nya Carol yang menuduh nya pura-pura Amnesia.
" Jelaskan apa maksud dari ucapanmu barusan, Carol!" tanya Malfin dengan raut wajah kekesalan.
"Baikalah aku akan mengingat kan mu! semalam saat kita bercinta kamu berulang kali menyebut nama Denada, puas!" jelas Carol dengan wajah senduh nya, kali ini ia merasa kan sakit hati yang sangat menusuk di hati nya, kubangan air itu pun lolos begitu saja saat ia hendak keluar dari bathtub.
"Carol maaf kan aku, aku sungguh tidak mengingat nya." ucap Malfin dengan rasa bersalah saat mendapati Carol yang menangis.
__ADS_1
"Lebih baik kita akhiri hubungan ini, Fin! aku tidak ingin menjadi bayang-bayang Denada saat kita bersama, aku memang terlalu bodoh hingga menganggap kamu benar-benar mencintai ku." balas Carol dengan tatapan kosong.
"Aku bukan bermaksud ingin menarik mu masuk kedalam misi balas dendam ku, tapi seminggu sebelum kami kembali dari Shanghai, aku sudah memikir kan segala hal, termasuk untuk melamar mu saat pesta ulang tahunmu." terang Malfin