Dendam Cinta Sang Police

Dendam Cinta Sang Police
28. Harapan seorang Ayah.


__ADS_3

Denada POV


Setelah pertemuan nya dengan Malfin kemarin, cukup membuat Denada sedih, bagaimana tidak, segala perkataan Malfin malam itu sungguh menyayat hati nya, Denada tersenyum kecut di kala mengingat segala ucapan Malfin.


"Menikahlah dengan ku, setelah kau melahirkan darah daging ku, kita akan segera bercerai." itulah kata tajam yang terucap dari Malfin malam itu.


"Mungkin aku adalah wanita terbodoh yang menolak ajakan pria sehebat kamu, Malfin, namun bukan itu yang aku harap kan, aku mengharapkan sebuah pernikahan yang berlandaskan cinta dan kepercayaan, bukan sebalik nya, pernikahan di atas kertas putih yang di ucap kan oleh Malfin malam itu." pikir Denada saat melihat pantulan wajah nya dari cermin rias di depan nya.


Bagi setiap wanita pernikahan adalah sebuah ikatan sakral yang berlandaskan cinta dan kepercayaan antara dua insan, bukan sebuah kontrak yang harus di ikuti alur nya, kapan dan dimana waktu yang akan menghentikan segala perjanjian kontrak itu.


Sungguh tidak terfikirkan dalam benak Denada untuk menyetujui permintaan Malfin, bagi nya jika kehilangan orang yang ia cinta yang tidak lagi mencintai nya, ia rela melepaskan cinta yang ia bangun selama kurun waktu yang cukup lama, bagi nya saat ini Malfin hanyalah masa lalu nya, cinta dan kerinduan nya perlahan lahan ia tutup sedemikian rapatnya karena ia tidak ingin memikir seseorang yang sudah tidak lagi mengharap kan sebuah cinta yang tulus dari nya.


Tok..tok...


Denada pun terbangun dari lamunan nya, dengan cepat ia berjalan ke arah pintu dan meraih handle pintu.


"Maaf ganggu Non, tapi Tuan sudah menunggu Nona di bawah." jelas sang maid dengan sopan.


"Baiklah, sebentar lagi saya turun." balas nya dan segera kembali masuk ke kamar setelah melihat maid berlalu pergi dan turun ke bawah.


"Ada apa ya? tumben banget Ayah ke sini." gumam nya merasa aneh ketika mengetahui sang Ayah yang tiba-tiba datang.

__ADS_1


15 menit berlalu.


Denada dengan baju santai nya turun menggunakan lift menuju ruang makan di mana sang Ayah sudah menunggu nya sejak beberapa menit yang lalu. Gembira itu lah yang di rasakan Denada saat ini, ketika melihat sang Ayah yang beberapa bulan tidak menjumpai nya karena sibuk dengan bisnis nya.


"Morning, Ayah." seru nya dengan bahagia ketika melihat wajah cinta pertama nya sedang asik dengan sebuah tablet di tangan nya.


"Morning, sayang." balas Muldof dengan senyum mengembang tak kalah bahagia ketika melihat anak semata wayang nya.


Tidak ingin menyia nyiakan kesempatan langkah ini, Denada berlari kecil ke arah Muldof yang sedang duduk tersenyum ke arah nya, ia pun segera mengecup pipi Muldof dan bergelayut manja di pundak sang Ayah.


"Gimana kabar Ayah, Ayah udah gak ngerasa sakit lagi kan? terus Ayah kapan pindah kesini, Denada kesepian Yah." ucap nya panjang lebar.


"Ya sudah, jika Ayah gak mau jawab." ucap Denada dan segera melepaskan pelukan nya dan kembali duduk di depan Muldof dengan cemberut.


"Muka nya jangan di tekuk gitu, jelek tau! kabar Ayah baik-baik saja, dan Ayah-" seru Muldof dan menggantung perkataan nya ketika melihat raut kesal di wajah sang anak.


"Ayah kenapa? apa Ayah sedang sakit!" tanya nya datar.


"Hahaha" tawa Muldof yang sejak tadi di tahan akhir nya pecah ketika melihat wajah kusut dari sang putri. Denada tampak kesal kepada sang Ayah, ketika ia sudah sangat khawatir, pria paru baya di depan nya hanya tertawa menanggapi perkataan nya. "Ayah akan tinggal di sini, selama yang kamu mau. Tapi ada beberapa hal yang ingin Ayah bicarakan dengan mu setelah sarapan." jelas Muldof sembari tersenyum ke arah sang anak.


Denada begitu bahagia, ia tidak menyangka jika permintaan nya beberapa bulan lalu akhir nya di kabulkan oleh sang Ayah. "Makasih Yah, Ayah adalah pria terhebat yang Dena punya. Sehat selalu Ayah." seru Denada dengan senyum mengembang dengan wajah berseri seri.

__ADS_1


"Sama-sama sayang, habiskan sarapan mu." balas Muldof dan kedua nya pun menyandap sarapan yang telah di tata rapi di atas meja makan.


Kedua nya kini sedang duduk di sofa ruang tamu, Denada masih saja bergelayut manja di lengan Muldof.


"De, apa saat ini kamu sedang menjalin hubungan dengan seseorang?" tanya Muldof sambil mengelus puncak kepada sang anak.


Denada kaget bukan kepalang, bagaimana Ayah nya bisa menanya kan hal itu, namun setenang mungkin ia menjawab pertanyaan sang Ayah karena bagi nya tidak mungkin menceritakan lamaran Malfin kepada nya.


"Jangan bilang kalau Ayah sedang menyelidiki, Dena." balas nya dengan tenang.


"Mana mungkin Ayah berani mengusik anak gadis Ayah, tapi harapan Ayah hanya ingin kamu menikah dengan pria yang mencintai mu apa ada nya, dan menyayangimu lebih dari cinta dan kasih sayang Ayah kepada mu selama ini." ucap Muldof di ikuti dengan harapan penuh atas kebahagian sang anak.


"Kebahagian mu, segala nya untuk Ayah, jika kamu tidak keberatan, maukah kamu bertunangan dengan Brian?" ucap Muldof kembali, sembari menggenggam kedua tangan anak gadis nya.


Denada bingung harus menjawab apa, namun ketika melihat raut kebahagian sang Ayah, ia hanya bisa mengangguk kan kepala nya sebagai tanda ia menyetujui permintaan sang Ayah.


"Ayah tidak butuh jawaban saat ini, melainkan Ayah ingin kamu dekat dulu dengan Brian. Brian anak baik, ia begitu perhatian kepada Ayah, jadi Ayah berpikir Brian pria yang cocok untuk anak gadis Ayah."


"Ya sudah, sebentar lagi Brian akan kesini, Ayah ke atas dulu ada beberapa hal yang ingin Ayah diskusi kan bersama Paman Alex." seru nya kembali dan mencium pucuk kepala sang anak setelah nya ia berlalu menuju lift.


"Ya Tuhan, apa lagi ini! bagaimana bisa aku menerima pria yang hampir saja memperkosa ku malam itu, tapi sudah lah, toh cintaku saja tidak pernah terbalas kan, ini sudah waktu nya aku menata hidup ku dengan membuka hatiku lagi untuk pria lain." membatin Denada untuk menyakinkan diri nya dengan keputusan sang Ayah.

__ADS_1


__ADS_2