Dendam Cinta Sang Police

Dendam Cinta Sang Police
5. Kau Hanya Masa Laluku!


__ADS_3

Hari berlalu begitu cepat, Malfin yang sudah bangun merasa kan pening di kepala nya, ia pun memijat pelan dahinya dan enggan untuk bangun dari ranjang nya. "Malfin, kau sungguh menyedihkan." ucapnya mengejek diri sendiri ketika mengingat diri nya yang menemui Dena.


Berbeda hal nya dengan Denada yang sudah tampak cantik dengan balutan dress yang memperlihatkan belahan dada nya, tampak begitu seksi ketika berjalan masuk di sebuah pusat perbelanjaan dengan seorang pria? tampan, bertubuh kekar.


"Dena, ada beberapa hal yang ingin aku bicarakan dengan mu!" ucap Jerry.


"Kapan dan di mana? kamu yang tentukan tempat nya tapi jangan di hotel!" balas nya ceplas ceplos.


"Hahaha...ternyata kamu masih Dena ku yang dulu, yang bicara nya suka ceplas ceplos.!" ucap Jerry seraya mengacak pelan rambut Denada.


"Emang ada yang berubah, gitu!" balas Dena ketus dan menatap Jerry dengan selidik.


"Hahaha...biasa aja kali liat nya! kali aja, setelah lama tinggal di Eropa kamu gak mau temenan sama aku." ucap Jerry.


"Haha...mana mungkin, aku tuh masih Dena yang dulu, jangan ngaco deh!" balas Dena dengan tersenyum.


Kedua nya pun berjalan beriringan dengan gelak tawa menuju restoran yang menjadi tempat pertemuan mereka dengan seorang kolega. Sesampai nya di sana mereka pun duduk dan mulai membahas isi kontrak yang di serah kan oleh Davinson Group.


Frizy dan Gaftan yang sedang menyesap secangkir kopi pun tampak melonggo mendapati Dena yang sedang berjalan berduaan dengan seorang pria yang gak kalah tampan nya dengan Malfin.


"Dasar wanita pembohong! kemarin bilang masih cinta sama Malfin, tapi sekarang berjalan berduaan dengan seorang pria." gerutu Gaftan dengan kesal.


"Bro, kita sedang di restoran tempat biasa! kami sudah memesan sarapan kesukaan mu!" ucap Frizy di balik ponsel nya.


"Baik lah! tunggu aku sepuluh menit lagi, aku bersiap dulu." balas Malfin dan segera berlari masuk ke kamar mandi.


"Zy, apa maksud mu? mengapa kamu menelpon Malfin dan menyuruh nya datang kesini." tanya Gaftan dengan kesal.

__ADS_1


"Malfin gak selemah itu! dia harus melihat semua kebusukan wanita itu, agar kedepan nya Malfin tidak lagi berhubungan dengan nya!" balas Frizy dengan tatapan kebencian ke arah Denada yang sedang duduk bersama seorang pria yang tidak jauh dari tempat Denada dudukki.


"Hhmmm!" balas Gaftan dengan deheman.


Setelah perdebatan, kedua nya pun melanjut kan menyantap sarapan mereka. Selang beberapa menit Malfin pun tiba dengan motor besar nya. Kali ini Malfin terlihat begitu tampan dengan balutan kemeja putih dan sebuah celana jeans panjang robek beserta kaca mata hitam. Malfin pun melangkah masuk ke restoran.


"Kalian sungguh tidak setia kawan! bisa-bisa nya kalian sarapan tanpa membangun kan ku." seru Malfin dan segera menyesap cangkir kopi di depan nya.


"Oh iya, waktu kita di sini di percepat dua hari, jadi sebelum tanggal kita kembali ke Thianjin, kita harus mendapat kan petunjuk! dan waktu kita di sini tinggal 3 pekan lagi." ucap Malfin kembali seraya tersenyum karena sebentar lagi ia akan bermain main dengan Denada.


"Bagus lah kalau begitu! trus rencana kamu setelah ini apa?" tanya Frizy.


"Belum gue pikirin! tapi ada hal yang ingin gue lakuin sebelum cuti tahunan di mulai." ucap nya kembali dengan raut wajah yang tidak dapat di arti kan.


"Terserah kamu!" ketus Gaftan.


Setelah selesai meeting Denada kembali duduk dengan Jerry dan mulai berbincang namun pandangan nya teralih kan saat sosok yang di kenali lewat di samping meja nya.


"Malfin!" ucap nya dalam hati.


Gaftan dan Frizy merasa cukup puas ketika melihat perubahan di raut wajah Denada saat mendapati Malfin di restoran yang sama dengan nya.


Melihat itu, Frizy mau pun Gaftan berniat mengundang Carollina untuk bermain trik bersama mereka.


"Hey, Carol! kami saat ini sedang berada di restoran milik mu! jika tidak keberatan temui lah kami di sini!" ucap Frizy dengan tersenyum mengingat Carol yang begitu agresif saat bersama Malfin waktu itu.


"Okey! aku akan segera turun." balas Carol.

__ADS_1


Carollina adalah wanita cantik, sexy dan memiliki pemikiran yang begitu luas. Ia adalah satu-satu nya teman perempuan Malfin. Kedekatan kedua nya sudah berangsur sejak kecil namun Malfin selalu saja menolak pernyataan cinta dari Carol beberapa kali. Carollina terlahir dari keluarga kaya di Thianjin, rumah nya berdekatan dengan rumah Malfin namun ia memilih tinggal di Shanghai untuk mengembang kan beberapa bisnis nya.


Malfin yang sudah selesai dari toilet pun kembali menuju meja mereka namun seketika pandangan nya teralihkan kepada Denada yang sedang menatap ke arahnya.


"Sungguh sempit dunia!" ucap nya saat melewati meja Denada.


Carollina tiba-tiba datang dari arah belakang Malfin. Ia yang cukup tahu mengenai Malfin pun segera berjalan dengan cepat nya.


"Hallo sayang! kesini kok gak nelpon dulu." seru Carol dan segera menggandeng lengan Malfin. Malfin sedikit pun tidak merasa risih saat Carol melakukan itu karena bagi nya Carol seperti Adik nya.


"Maaf! aku tidak sempat mengabari mu karena tugas yang aku terima,cukup mendadak." balas nya dengan tersenyum namun ia menatap dengan tajam nya ke arah kedua sahabat nya.


Seketika Denada terdiam mengingat, jika Malfin tipikal pria yang tidak pernah dekat dengan seorang wanita selain diri nya. "Apa wanita itu kekasih nya!" membatin Denada dengan beribu ribu pemikiran nya.


"Berapa lama tugas kalian di sini?" tanya Carol yang duduk di samping Malfin.


"Lumayan lama sih!" balas Frizy dan Gaftan bersamaan.


"Beberapa hari lagi aku akan mengadakan party, dan aku berharap kalian bisa hadir saat perayaan ulang tahun aku." ucap nya dengan memohon.


"Kami pasti datang." ucap Malfin dengan cepat nya.


"Makasih Fin! aku akan menunggu kedatangan kalian." balas Carol dan segera beranjak karena saat ini ia sedang sibuk dengan beberapa pekerjaan nya namun sebelum ia pergi, dengan cepat nya ia mendarat kan ciuman di pipi Malfin dan itu pun terlihat oleh Denada.


Hancur, sakit dan patah hati itu lah yang di rasakan Denada saat ini, namun ia berpikir semua yang terjadi saat ini karena kesalahan nya sendiri.


Beberapa tahun yang lalu ia pergi meninggalkan Malfin tanpa penjelasan karena saat itu adalah saat-saat yang sangat buruk bagi nya, ketika ia mendapati Ibu nya over dosis hingga meninggal saat memakai ketamin. Bagi nya pergi menjauh dari Malfin adalah hal terbaik, karena ia tidak ingin Malfin meninggalkan nya. Ketika Malfin tahu ia anak dari seorang Raja Narkoba.

__ADS_1


Namun selama ia tinggal di Eropa bayang-bayang Ibu nya selalu menghantui nya hingga membuat ia mengalami depresi di tambah harus meninggal kan cinta pertama nya.


__ADS_2