Dendam Cinta Sang Police

Dendam Cinta Sang Police
2. Kebencianku tidak akan mencair sekalipun.


__ADS_3

Happy Reading🤗


Kota Thianjin, China.


Setelah melakukan interogasi dan tidak berhasil menggali informasi dari Fanly, Gaftan dan Frizy pun keluar menemui Malfin.


"Kami berhasil menemukan Van yang di bawa Fanly menuju arah utara, dan di dalamnya terdapat 50 gram ketamin." jelas Gaftan dengan seriusnya.


"Kita bisa mempersulitnya dengan menggunakan barang bukti tersebut. Karena itu bisa di kategorikan barang yang di perdagangkan. Dalam artian, kita bisa menuntutnya melakukan perdagangan narkoba. Besok kita lanjutkan lagi, karena saat ini waktunya kita makan malam." balas Malfin dan segera mengajak kedua sahabatnya untuk makan malam.


Malfin yang sejak kembali dari tempat tersebut terlihat begitu gelisa karena kebenciannya kepada Denada kembali bangkit setelah mengingat keputusan yang di ambil Denada waktu itu untuk mengakhiri hubungan mereka.


"Ada apa? Kenapa kamu terlihat begitu gelisa?" tanya Frizy saat melihat tingkah Malfin yang tidak biasanya.


"Lagi mikirin apa sih?" timpal Gaftan sebelum Malfin menjawab pertanyaan Frizy.


"Aku lagi mikirin cara agar Fanly mau membuka mulut dan memberikan informasi mengenai Muldof kepada kita." balasnya dengan berbohong kepada kedua sahabatnya karena ia tidak ingin mereka mengetahui masa lalunya.


"Kirain apa. Masalah itu jangan di bahas saat kita makan, okey!" balas Frizy dengan mengetuk sendok di piringnya.


Gaftan pun melirik ke arah Malfin dan mengangkat bahunya seraya tersenyum karena ia tidak ingin berdebat dengan Frizy. Ketiga nya pun segera menyantap hidangan yang telah di bawakan oleh pelayan. Namun lagi-lagi bayangan Denada menghampiri pikiran Malfin.


Kenangan antara keduanya terus menerus menghampiri pikiran Malfin. Setelah selesai makan, Malfin pun berpamitan kepada kedua sahabatnya.

__ADS_1


"Aku pergi dulu, kalian kembali lah terlebih dulu! karena ada beberapa hal yang ingin aku bicarakan dengan Ayah ku." ucap Malfin.


"Baiklah! Hati-hati di jalan." balas keduanya bersamaan setelah berjabat tangan.


"Hhmmm!" balas Malfin dengan deheman.


Malfin pun melajukan motornya menuju perumahan eliet miliknya sendiri dengan penjagaan yang begitu ketat. Setibanya di sana ia segera masuk ke kamarnya. Setelah selesai mandi ia pun memilih berbaring di ranjangnya, namun ingatan masa lalu nya terus menghantuinya.


Malfin pun mengambil sebuah kotak berwarna biru dari dalam lemari pakaiannya. Dan ya, kontak tersebut berisikan foto kenangan antara dirinya dan juga Denada. Ini adalah kali pertamanya ia menangis ketika melihat foto kemesraan antara ia dan juga Denada setelah beberapa tahun lamanya melupakan masa lalunya. Dan kini di kenangnya lagi.


"Kamu, sungguh tega terhadap ku, De! Cinta ku kepadamu masih ada hingga sekarang De! tapi apa yang kau lakukan kepadaku 8 tahun yang lalu membuat cinta ku padamu menjadi kebencian yang tidak akan pernah cair, apapun alasannya." monolog Malfin saat melihat foto Denada dengan tangisannya.


Hari berlalu begitu cepat di mana Malfin sudah berada di ruangannya. Begitu pun dengan rekan rekan tim lainnya sudah bersiap siap di ruang introgasi. Kali ini Malfin lah yang memegang kendali dan mulai melemparkan pertanyaan kepala Fanly.


"Inspektur. Jangan memberiku pilihan yang pada akhirnya membuat aku dalam kesulitan besar." balas Fanly Li dengan raut wajah cemas.


"Ya, ini memang pilihan yang besar." balas Malfin dengan mendekatkan wajahnya ke arah Fanly Li. Fanly pun menggaruk kepalanya yang tidak gatal karena ia habis pikir dengan poin yang di berikan Kapten Malfin kepadanya.


"Aku akan memberikan kamu waktu dua jam dari sekarang! Jika saat aku kembali kamu masih bungkam, kamu tau apa yang akan terjadi saat kamu menutupi kejahatan seseorang." ucap Malfin kembali dan segera berjalan meninggalkan Fanly dengan pikirannya.


Saat ini Malfin memimpin rapat di salah satu ruangan yang tepatnya adalah ruang kontrol dengan layar proyektor yang cukup besar.


Malfin pun memperlihatkan beberapa foto yang akan menjadi target operasi mereka saat ini dengan bantuan layar proyektor.

__ADS_1


"Muldof Jock. Raja Narkotika di Shanghai, Dua generasi semuanya melakukan perdagangan narkotika, sampai generasi sekarang pun menjalankan bisnis ini. Semakin meluasnya transaksi ini, hingga harta yang di milikinya sangatlah melimpah." Jelasnya dengan menunjuk foto di layar proyektor.


Namun wajah Muldof mengingatkan Malfin dengan seseorang, dan dengan cepatnya ia membuang pikirannya karena saat ini ia sedang memimpin rapat tersebut.


Saat ini ruangan itu, tampak sedang berdiskusi mencari solusi agar secepatnya mereka bisa menemukan markas pengolahan ketamin.


"Ini adalah orang kepercayaan Muldof, namanya Alexis Hammer. Alexis bekerja kepada Muldof sudah sangat lama, karena keduanya adalah teman baik. Alexis pernah di tangkap beberapa kali karena terkait penyalahgunaan narkoba dengan berat sekitar 80 gram, tapi dengan adanya Muldof di belakangnya ia selalu lepas dari hukuman." jelas Malfin kembali.


Hingga tiba di mana Malfin kembali ke ruangan introgasi untuk menanyakan keputusan Fanly Li.


"Jangan buang waktu saya lagi, katakan pilihan mana yang kamu pilih!" tanya nya tanpa basa basi lagi.


"Inspektur. Saya akan memberikan informasi mengenai Muldolf, tapi anda harus janji untuk tidak membocorkan siapa di balik semua ini, karena saya tidak ingin terlibat dalam masalah besar dengannya." jawab Fanly Li dengan gugup.


"Saya akan menjamin dirimu, asalkan kamu bisa bekerja sama dengan baik dan mengatakan semua itu dengan jujur." ucap Malfin kembali dengan tegas.


"Tempatnya berada di dekat Distrik Tiongkok tepatnya di Kota Nanchang, tapi semua itu di kelola oleh orang kepercaya Muldof, sedang Muldof sendiri berada di Shanghai, di karenakan yang aku dengar, jika besok nanti Anak semata wayangnya, akan datang pada saat pembukaan perusahan yang di dirikan anaknya tersebut." jelas Fanly dengan jujur karena tidak ingin di tuntut dengan tuduhan penyimpanan narkotika yang berdalih sebagai pengedar.


"Baiklah! Kamu akan di bebaskan dalam beberapa jam kemudian, setelah kami memastikan kebenaran dari perkataan Anda." balas Malfin dan segera keluar dari ruangan tersebut.


"Kalian bersiap siap lah! sore nanti kita akan pergi ke Shanghai! Kali ini target kita adalah Anak perempuan Muldof. Semua kesaksian nya akan menjadi kunci untuk menangkap Muldof Jock." ucap Malfin kembali setelah mendapatkan informasi dari Fanly Li.


***Jangan lupa di like & coment ya🙏🙏

__ADS_1


Dukungan kalian adalah motivasi untuk saya kedepan nya dan jika ada kelebihan coin jangan lupa vote🤗🤗***


__ADS_2