
Tiga puluh menit kemudian.
Setelah di jemput oleh Anthon, kini Malfin sudah bergabung bersama para sahabat nya. "Hey, bro. Apa terjadi sesuatu?" tanya Gaftan ketika mendapati Malfin dengan wajah lesuh nya.
"Aku berantem dengan Ibu Ratu!" balas nya singkat.
"Ada apa lagi! dan sejak kapan kamu berantem sama Bibi?" timpal Frizy dengan alis mengkerut karena ini pertama kali nya ia mendengar jika Malfin berselisih dengan Mamah nya.
"Mereka ingin menjodoh kan aku dengan seorang gadis di masa lalu, awal nya aku menyetujui nya namun setelah kupikir pikir gak mungkin gue terima gadis itu lagi, luka yang ia toreh kan di hati ku sudah sangat mendarah daging, sekali pun aku masih mencintai nya hingga saat ini, namun untuk bersama nya lagi aku gak bisa." jelas nya dengan kesal mengingat ia telah di usir dari rumah karena Denada.
Ke empat sahabat nya tampak melonggo ketika mendengar cerita dari Malfin, mereka tahu jika saat ini pasti Malfin sedang dilema antara menerima atau mundur.
"Berikan penjelasan yang masuk akal atas penolakanmu itu, agar ke depan nya hubungan kamu sama Bibi terjalin dengan baik kembali." nasihat Frizy sebagai seorang sahabat.
"Aku sudah menjelas kan segala nya kepada Mamah, namun ia tidak ingin aku menolak permintaan nya." balas Malfin dengan frustasi.
"Apa yang akan kau lakukan setelah ini?" tanya Leon dengan santai nya.
"Aku ingin melangsungkan pertunangan, namun dengan wanita pilihan ku lusa nanti, entah orang tua ku terima atau tidak yang pasti nya pertunangan itu akan berlangsung. Dan aku membutuh kan bantuan kalian." jelas nya dengan memohon kepada Frizy dan lain nya.
__ADS_1
"What? Hey bro, siapa gadis malang yang akan menjadi pendamping bongkahan es seperti mu!" celetuk Gaftan tiba-tiba di ikuti gelak tawa nya.
Frizy yang mendengar itu tampak menahan tawa nya ketika melihat kekesalan di wajah tampan Malfin.
"Apa pun itu, kami akan dengan senang hati membantu mu." ucap Frizy dengan yakin.
"Baiklah, kalian adalah sahabat yang dapat aku manfaatkan di waktu mendesak!" balas Malfin dan segera beranjak ketika mendapat pelototan tajam dari ke empat sahabat nya. "Ya sudah, nanti Anthon yang akan menjelaskan nya kepada kalian. Aku masih ada beberapa urusan yang harus aku selesai kan terlebih dulu, Bey!" ucap nya kembali sembari berpamitan kepada ke empat pria tersebut.
Melihat kepergian Malfin, ke empat pria itu tertawa terbahak bahak layak nya anak kecil yang mendapatkan uang ratusan dollar.
"Lo pada liat gak wajah kusam Malfin saat aku mengatai nya." seru Gaftan dan semua nya kembali tertawa.
"Yang pasti nya gadis itu akan menjadi gadis paling beruntung di dunia ini, dengan sifat Malfin yang biasa terlihat dingin dan cuek, tapi tidak dapat di pungkiri jika ia adalah seorang yang sangat penyayang." timpal Frizy dengan senyum yang mengembang.
Di kediaman orang tua Malfin, Jesica tak henti-henti nya menangis, ia tidak pernah kepikiran jika Malfin akan menolak permintaan nya seblum mencoba nya.
"Mah, udah. Jangan menangisi anak tidak tahu diri itu lagi! antara kita dan dia sudah tidak ada hubungan apapun!" ucap Franco dengan nada meninggi.
"Pah, jangan mengatai anak kita seperti itu, Mamah yakin Malfin tidak akan mengecewakan kita, hanya saja mungkin ia membutuhkan waktu untuk memikir kan permintaan Mamah." balas Jesica tak mau sag suamembeni anak semata wayang mereka.
__ADS_1
"Udah cukup! mulai detik ini, Mamah jangan lagi menghubungi nya atau Papah akan membuat Malfin merasa kan akibat nya karena telah berani membangkang." ucap nya kembali dan berjalan meninggal kan sang istri yang masih terus menerus menangisi kepergian Malfin.
Jika sudah seperti ini, Jesica tidak dapat berbuat apa-apa terlebih ia tahu dengan sikap sang suami. Ya, Malfin adalah cerminan dari Franco, Franco yang biasa nya terlihat lemah lembut tapi tidak jika ia sedang dalam keadaan marah, apapun akan ia lakukan jika ada yang berani membuat Istri nya sedih apalagi jatuh sakit.
"Gerald, bekukan semua kartu kredit Malfin tanpa terkecuali, dan jangan ijinkan ia masuk ke Mansion ataupun segala properti milik Iglesias Corp." perintah Franco pada seseorang di seberang sana.
"Baik, Presdir. Akan segera saya laksanakan." balas pria tersebut dan telpon tersebut pun terputus di kala Franco mendapati sang istri yang sudah berdiri di ambang pintu.
Bagaikan sebuah belatih yang menghunus di jantung seorang Jesica ketika mendengar perintah sang suami. Dengan perasaan berkecamuk Jesica pun dengan langkah berat nya menghampiri Franco yang masih berdiri di samping jendela setelah menelpon sekertaris nya.
"Pah, Mamah mohon," ucap Jesica dengan mengsedekap kedua tangan nya di dada sembari memohon kepada Franco. "Jangan lakukan iti kepada Malfin, bagaimana pun ia anak kita, Mamah mohon." ucap nya kembali di ikuti dengan tangis.
"Tidak, selama ia tidak menyetujui perjodohan itu, Papah tidak akan pernah menarik setiap kata yang telah Papah ucap kan. Dan Mamah jangan khawatir setelah pembekuan yang Papah lakukan Malfin tidak akan melarat karena ia masih memiliki perusahan yang ia bangun, namun jika pertunangan nya dengan Carol terjadi Papah pastikan ia akan hancur dengan karir dan segala nya yang ia miliki saat ini!" balas Franvo dengan senyum mengejek dan kembali menekan segala ucapan nya.
"Jika Papah berani melakukan itu, bersiap siap lah menandatangani surat cerai yang akan Mamah ajukan hingga waktu nya tiba." ucap Jesica tak kalah menantang sang suami dan berlalu pergi meninggal kan sang suami yang terbelalak ketika ia berucap.
Franco tampak tak percaya mendengar penuturan Jesica, bagaimana bisa istri nya berucap seperti itu di saat ia hanya melakukan segala nya semata-mata mengindahkan segala kemauan Istri nya.
"Inilah yang kucari dari dirimu Mah, semarah marah nya dirimu, kamu masih memiliki sifat yang begitu tenang saat mengambil sebuah keputusan sekalipun itu menyakiti hatimu, Papah bersyukur kepada Tuhan yang telah menganugerah kan seorang wanita berhati malaikat seperti mu." gumam Franco dengan pelan nya saat melihat punggung Jesica yang menghilang di balik pintu.
__ADS_1
Segala tindakan yang di ambil Franco semata mata hanya untuk membuat Malfin jera dan menyetujui permintaan Istri nya, karena Franco tidak bisa melihat kesedihan dari Jesica, apapun akan ia lakukan untuk kebahagian keluarga nya.