Dendam Cinta Sang Police

Dendam Cinta Sang Police
7. Aku bisa melakukan nya sendiri.


__ADS_3

"Apa yang harus kita lakukan sekarang? bagaimana jika terjadi sesuatu kepada Frizy!" tanya Gaftan dengan khawatir.


"Jangan berpikir macam-macam! pasti sebentar lagi ia kembali." balas Malfin dengan keyakinan.


Gaftan dan Malfin pun menuju sebuah cafe, yang letak nya tidak terlalu jauh dari hotel. " Kita tunggu Frizy di sini saja!" ucap Malfin dengan tersenyum.


Kedua nya pun duduk dan mulai berbincang. "Fin, kamu beneran, mau membuka hati mu untuk Carol?" tanya Gaftan dengan penasaran.


"Aku gak tahu! apa yang akan terjadi setelah aku menerima cinta Carol. Tapi mungkin ini cara terbaik bagi aku untuk melupakan wanita itu" balas Malfin dengan banyak pertimbangan.


"Ikuti kata hati mu, Fin! mungkin dengan kamu menerima Carol saat ini, segala kebencian di hati mu akan pudar dengan sendiri nya." pekik Gaftan dengan serius nya.


"Semoga saja!" balas Malfin.


Hampir dua jam lama nya mereka menunggu Frizy di cafe tersebut, namun Frizy tak kunjung datang hingga larut malam. Malfin tampak mulai khawatir, karena yang ia takut kan akhir nya terjadi juga. Gaftan pun mencoba menghubungi ponsel Frizy namun di luar jangkauan.


"Gaf, tenang lah! kita pasti akan menemukan Frizy sebelum fajar nanti." ucap Malfin dengan percaya.


"Ayo, kembali ke hotel! tapi sebelum itu, hubungi Ray terlebih dulu. Dan minta bantuan Ray untuk melacak lokasi ponsel Frizy saat ini. Dan minta dia untuk menemui aku di kamar hotel." pekik Malfin kembali.


"Baiklah!" balas Gaftan singkat.


Di sisi lain, Frizy saat ini sedang di hajar habis-habisan oleh Brian di sebuah bangunan tua. "Kurung bajingan ini di ruang bawah tanah!" pekik Brian dengan tajam nya dan mengukir seutas senyum di ujung bibir nya.


Beberapa pria bertubuh kekar dan berotot pun menyeret Frizy dengan kasar nya menuju ruang bawah tanah bangunan tersebut.


"Malfin, akhir nya kita bertemu lagi! namun sayang nya kau hanya lah seorang pecundang, bisa-bisa nya kau mengirim anak buah mu kepada ku!" seru Brian saat pria-pria tersebut hendak menyeret Frizy.

__ADS_1


"Pak, signal terakhir berada di pasar tua yang berada di West Nanjing Road." ucap Ray.


"Bersiap lah, kita akan segera kesana sekarang! bangun kan yang lain nya." seru Malfin dengan meremas kaleng bir yang ada di tangan nya.


Ray dan Gaftan pun kembali ke kamar mereka untuk bersiap siap. Malfin yang masih berdiri di samping jendela, melihat seseorang seperti sedang menatap ke arah nya, segera pun ia menelpon Gaftan.


"Ada seseorang yang sedang memata matai kita! turun dan tangkap orang itu. Ia berada di arah jam sepuluh." jelas Malfin.


Gaftan dan Ray pun segera bergegas turun ke bawah, namun mereka tidak keluar melalui pintu utama hotel melainkan ikut pintu belakang.


"Maaf Tuan! anda di larang masuk di area ini!" ucap seorang pria gemuk yang memakai pakaian serba putih.


"Kami polisi!" ucap Gaftan sembari memperlihat sebuah kartu kecil kepada pria tersebut.


"Maaf kan saya Tuan! silahkan!" balas pria tersebut dan membuka kan pintu untuk Gaftan dan Ray.


Gaftan dan Ray pun tiba di tempat yang Malfin katakan, namun mereka tak melihat siapapun di sana. Gaftan pun menelpon Malfin.


"Pak, di sini tidak ada seorang pun!" ucap Gaftan sembari melihat ke arah Malfin yang berada di lantai 8 hotel.


"Jangan berbalik! dengar kan aku baik-baik. Dia berada tepat di belakang kalian dan sedang berjalan ke arah Ray. Aku akan menghitung sampai tiga, setelah nya kau berbalik dan tangkap orang itu." jelas Malfin.


"satu, dua, tiga! tangkap dia.!" ucap Malfin dari balik ponsel nya.


Gaftan pun dengan cepat nya berbalik dan memutar tangan orang tersebut. Namun seketika Gaftan terkejut mendapati orang tersebut adalah seorang wanita.


"Sakit..sakit! tolong lepaskan aku!" teriak wanita tersebut.

__ADS_1


Gaftan pun sontak melepaskan cengkraman tangan nya pada wanita itu. "Siapa kamu! mengapa kamu memata matai kami?" tanya Gaftan segera namun belum melihat wajah wanita di depan nya karena wanita tersebut mengenakan masker dan sebuah sweater bertopi.


"Aku bukan mata-mata! aku hanya ingin." ucap nya dengan cepat namun perkataan nya terhenti saat mendapati Malfin yang sedang berjalan ke arah mereka.


"Tolong biar kan aku pergi! aku bukan memata matai kalian!" ucap wanita itu kembali dan segera melarikan diri namun Malfin dengan cepat nya dapat mengejar wanita tersebut dan menahan pergelangan tangan nya.


"Jangan pernah berharap untuk melarikan diri!" baritone itu seketika membuat wanita tersebut gemetar.


"Lepaskan tangan ku!" teriak wanita tersebut.


Malfin tampak samar-samar mengenali suara orang di depan nya. Ia pun dengan segera menarik penutup kepala wanita di depan nya. "Kamu! apa yang kau lakukan!" ucap Malfin dengan dingin.


"A-aku juga menginap di sini kok!" ucap Dena dengan terbata.


"Bawa penguntit ini ke kantor polisi!" ucap Malfin dengan dingin nya. Kedua nya pun tampak kebingunggan.


"Pak, ini pasti salah paham!" ucap Gaftan dengan hati-hati.


Malfin menatap dengan tajam nya ke arah Gaftan dan juga Ray karena kedua nya enggan membawa Denada ke kantor polisi.


"Baiklah jika kalian tidak ingin mengantar nya, aku bisa melakukan nya sendiri!" balas Malfin masih dengan dingin nya.


Malfin pun dengan kasar nya menarik pergelangan tangan Denada hingga Denada merasa kesakitan. "Malfin, Lepaskan tangan ku!" teriak Denada sembari mencoba melepas kan cengkraman Malfin namun Malfin memperkuat cengkraman itu.


Ray menatap Malfin dengan takut-takut. "Apa yang harus kita lakukan! Kapten pasti sangat marah kepada kita." ucap nya dengan pelan di samping Gaftan.


"Tidak perlu di pikir kan, ayo masuk!" balas Gaftan dengan santai nya ketika melihat Malfin menarik Denada dengan kemarahan nya.

__ADS_1


__ADS_2