
"Jika Paman tidak keberatan, lusa nanti Malfin ingin melamar Dena secara resmi." ucap Malfin dengan hati-hati.
Rathan pun mengangguk. Ia berpikir ini adalah saat yang tepat untuk melepas kan Dena kepada sosok Malfin, sejak jauh hari ia sudah memikir kan segala keputusan yang akan ia ambil, termasuk menyerah kan diri atas apa yang ia perbuat selama ini.
'Sayang, gadis kecil kita telah tumbuh dewasa. Dan pria di samping ku adalah menantu kita, ia pria yang baik, aku bersyukur Tuhan memberikan kebahagian tersendiri untuk Dena kecil kita.' membatin Rathan saat menatap bingkai foto mendiang sang istri.
Dena yang berada di dapur terlonjak kaget saat melihat kebersamaan sang Ayah dan pria yang ia cintai.
'Apa Ayah merestui hubungan kami? dan membatal kan pertunangan ku dengan Brian' membatin Dena dengan keras.
"Sayang, ayo sini. Ada beberapa hal yang ingin Ayah bicarakan dengan kamu." panggil Rathan saat mendapati sang anak yang berdiri di dapur.
Rathan maupun Malfin saling melempar pandangan satu sama lain, kala melihat Dena yang sedang melamun. Kedua nya pun berjalan mendekati gadis yang masih saja melamun.
"Ada apa?" tanya Rathan lembut.
"Ehh, gak ada apa-apa kok, Yah." balas nya kaget ketika di tatap oleh kedua pria yang di sayangi nya.
"Ya sudah, ayo kita duduk." ajak Rathan kepada kedua nya.
"Sayang berjanji lah kepada Ayah untuk melanjut kan hidup kamu dengan bahagia, apa pun yang terjadi kelak nanti, tetap lah menjadi wanita tegar dan tabah." ucap Rathan sembari mengusap lembut rambut sang anak.
Dena menyergit kala mendengar ucapan demi ucapan yang di lontar kan sang Ayah. "Kok Ayah ngomong gitu sih. Kayak Ayah mau ninggalin Dena." balas Dena dengan lirih nya.
"Gak pa-pah, sebentar lagi Dena sudah bukan tanggung jawab Ayah lagi, Ayah ingin kamu menjadi Istri yang selalu menaati setiap perkataan suami kamu, Ayah ingin Dena hidup bahagia. Setelah Dena menikah, pasti rumah ini akan sepi." ucap Rathan dengan menahan gejolak di hati nya, ia tidak ingin memperlihat kan kesedihan nya di depan sang anak dan calon menantu nya.
"Dena sayang Ayah." seru Dena dengan isak tangis nya, ia pun memeluk erat tubuh rentan sang Ayah dengan erat nya.
Malfin tak menyangka jika sosok Rathan yang terbiasa dingin memiliki sifat yang lunak ketika bersama Dena. Awal nya Malfin mengira jika hubungan nya dengan Dena akan mengalami kesulitan namun siapa sangka jika calon mertua nya lebih mementing kan kebahagia sang anak di banding kan nama baik nya.
__ADS_1
"Than, kenapa pria ini ada di sini!" baritone yang terdengan dingin itu, membuat ketiga nya terlonjak kaget dan memaling kan pandangan mereka ke arah di belakang mereka.
"Apa ada yang salah?" tanya Rathan tanpa ekpresi.
"Ayo jelas kan kepada ku, apa maksud dari kedatangan pria ini?" desak pria dengan rambut yang di kuncir kuda.
"Malfin calon suami, Dena. Apa ada yang salah dengan kedatangan nya." balas Dena sinis.
"Hey, ayolah sayang. Apa yang ada di pikiran kamu? kamu tidak tau siapa pria kejam ini!" bentak pria tersebut kala mendengar ucapan sang keponakan.
"Kok Paman kayak gak suka sih sama Malfin, udah deh Paman jangan suka menjudge seseorang saat pertama kali bersitatap." kesal Dena dengan setiap ucapan sang Paman.
"Hentikan! Lex duduk lah." potong Rathan dan memerintah kan sang sahabat untuk duduk.
"Fin, kamu pasti tau siapa pria gila ini. Ucapan nya barusan jangan di masukin hati ya." Rathan menatap Malfin dengan lamat-lamat untuk memastikan jika Malfin tidak marah dengan setiap perkataan Alexis.
"Tidak masalah." balas Malfin jujur dan tersenyum ke arah calon mertua nya.
Dena sungguh kesal dengan sang Paman, ia tidak menyangka jika sang Paman memiliki mulut layak nya comberan.
"Udah jangan marah-marah, nanti cantik nya hilang lho." bisik Malfin dengan suara serak nya.
"Ngeselin banget tau, udah kayak emak-emak tukang gosip." ucap nya kesal.
"Mamah barusan ngirimin pesan, kata nya Mamah udah nyampe di mall dan lagi nungguin kita." jelas Malfin sembari mengusap telapak tangan sang kekasih.
"Oh astaga, aku lupa. Mamah pasti udah nungguin kita sejak tadi. Ya sudah, kita pergi yuk." ajak nya dan menarik Malfin dari duduk nya.
"Ayah, Paman, Dena sama Malfin pergi dulu ya." teriak sang gadis saat melewati ruang kerja sang Ayah.
__ADS_1
"Iya, kalian hati-hati di jalan." balas Rathan dari dalam ruangan.
"Kapten, bawa mobil jangan ngebut. Jaga keponakan saya, awas saja jika terjadi sesuatu kepada nya." teriak Alexis dengan kuat.
"Udah tau." balas Dena ketus.
Rathan yang mendengar balasan sang anak pun hanya tertawa sembari mengedih kan bahu nya kala di tatap horor oleh sang sahabat.
"Apa ini?" tanya Alexis saat mendapati banyak foto di atas meja kerja Rathan.
"Buka dan lihat lah! tapi, jangan sampai jantungan di sini, gerepotin aku aja." balas Rathan dengan senyum mengembang.
Alexis pun membalik kan lembaran-lembaran kertas di depan nya. Ia membeku kala melihat foto-foto tersebut. "Sial! sungguh tidak tau berterima kasih. Dasar brengsek!" desis marah.
"Kapan ini terjadi?" tanya Alexis dengan tajam.
"Saat pesta penyambutan kedua Dena di Thianjin, tepat nya Rome Night Club milik Malfin." jelas Rathan sembari melihat kegelapan di wajah sang sahabat.
"Kau tidak perlu turun tangan, aku yang akan memberes kan pria brengsek ini." ujar Alexis kembali. "Berani-berani nya ia melakukan itu kepada Dena kecil kita. Akan ku buat ia hidup enggan, mati pun tak mau." ujar nya kembali dengan penekanan.
"Bukan hanya itu, tapi lihat lah rekaman vidio ini." potong Rathan sembari membalik kan layar labtop ke arah Alexis.
"Oh, jadi ia bergabung bersama kita untuk membalas kan dendam Ayah nya yang aku bunuh puluhan tahun lalu. Baiklah, akan ku kirim ia ke neraka menyusul Cristo." desis Alexis dengan senyum devil nya.
"Aku tidak menyangka jika Brian akan melakukan itu kepada Dena, mengingat selama ini ialah yang selalu mendampingi Dena kemana pun Dena pergi." ucap Rathan.
"Apa kau tau di mana brengsek itu berada?" tanya Alexis.
"Dia di kurung di ruang bawah tanah." balas Rathan.
__ADS_1
"Ya sudah, aku pergi dulu. Telpon aku jika ada masalah, jangan di pendam sendiri." ucap nya di sela-sela beranjak dari duduk nya.
"Hhmmm. Hati-hati di jalan." balas Rathan dengan deheman.