
Denada begitu mengagumi ketampanan Malfin, ia pun tidak dapat melawan rasa ingin memiliki nya, ia sangat mendambakan pria itu. "Andai saja aku tidak meninggal kan nya saat itu, mungkin saat ini aku menjadi wanita beruntung di dunia ini." gumam nya pelan.
"Selamat ulang tahun, Carol." ucap nya dengan lembut.
Wanita itu tersenyum menatap pria di depan nya, senyuman lembut dan tatapan hangat menghiasi wajah nya yang sangat mendamba pada pria tersebut.
Malfin yang tahu jika saat ini Denada sedang melihat ke arah nya pun dengan tiba-tiba maju selangkah lebih dekat dengan Carol.
Carol menatap pria di depan nya dengan lamat-lamat, ia berharap jika malam ini Malfin akan memberi kan ciuman untuk nya, karena ia tidak dapat menahan gejolak mendamba kan bibir sexy Malfin.
Carol tersetak ketika tiba-tiba sesuatu yang lembab dan lembut menyentuh bibir nya. Mata nya membulat menyadari pria di depan nya mencium nya dengan tiba-tiba.
Malfin dengan lembut nya merengkuh pinggul Carol, Malfin menekan bibir Carol, membuat bibir wanita itu membuka, lalu mengeksplor nya lebih dalam, memasuk kan lidah nya dan bermain main disana dengan ahli, mencecap, ******* nya dan menggoda nya. Carol tersentak dan tidak percaya dengan apa yang sedang terjadi, namun karena ******* bibir Malfin yang ia damba kan, ia pun membiar kan ciuman itu lebih lama lagi.
Semua tampak terkejut dengan apa yang di lakukan Malfin saat ini, namun menyadari tatapan dari seberang arah, Gaftan dan Frizy pun mulai bersorak hingga semua nya pun ikut bersorak.
Di sisi lain Denada terbakar api cemburu, tubuh nya bergetar hebat, mata nya sudah berkaca kaca ia tidak dapat memikir kan apa-apa lagi saat melihat Malfin mencium wanita lain dengan bergairah depan mata nya sendiri.
Dalam tatapan kosong Denada memutar pelan gelas wiski nya dan menyesap nya hingga tandas.
Dengan perlahan Malfin pun melepaskan ciuman bergairah nya, ia pun mundur selangkah dan meraih sebuah kotak kecil dari saku belakang nya. "Mau kah kamu menjadi wanita ku?" ucap Malfin dengan satu kaki menekuk di dasar lantai, sembari membuka kotak kecil tersebut.
Semua nya kembali di buat terkejut dengan cara Malfin kali ini, Denada sontak berdiri ketika Malfin bertekuk lutut di depan wanita itu dengan menggenggam sesuatu di tangan nya.
__ADS_1
Carol tampak menegang mendapati Malfin bertekuk lutut di depan nya, ia tidak menyangka jika pria yang sangat di damba nya selama ini, meminta nya untuk menjadi kekasih nya. Manik mata biru nya seindah samudera melengkapi ketamppanan nya. Tanpa berpikir panjang Carol pun menerima Malfin.
"Aku menerima mu, saat ini raga ini menjadi milik mu seutuh nya." ucap Carol dengan bahagia.
Malfin pun kembali ******* bibir Carol kembali dengan rakus nya.
"Hey, apa yang kalian lakukan!" pekik Gaftan dengan nada sindiran namun ia puas melihat Malfin membalas Denada terang-terangan.
Kali ini Denada sudah tampak mabuk setelah beberapa kali menyesap wiski yang terus menerus di tuang kan oleh Brian.
Brian diam-diam jatuh hati kepada Denada, ia pun berpikir untuk membawa Denada ke ranjang nya pada malam ini. Brian yang tahu jika diri nya akan menemani Denada untuk pesta penyambutan pun, diam-diam menyusun rencana untuk membuat Denada tampak mabuk, namun yang tidak di ketahui orang lain Brian telah menyampur kan bubuk perangsang di minuman Denada.
Sayang nya, semua tindakan yang di lakukan Brian terlihat oleh Ray yang hendak ke toilet beberapa saat lalu. Ray pun berpikir untuk mengatakan semua itu kepada Malfin.
Ray pun berjalan menuju meja bartender, di ikuti Malfin dari belakang. "Ada apa?" tanya Malfin saat sudah duduk di samping Ray.
"Tadi aku tidak segaja melihat Brian seperti mencampur kan sesuatu ke dalam gelas wanita itu." jelas Ray sembari menunjuk ke arah Denada dengan jari nya.
Malfin tampak memerah, ia seperti tahu dengan apa yang ingin coba Brian lakukan terhadap Denada. "Aku akan memancing wanita itu untuk mengikuti ke arah belakang club, jangan katakan apa pun kepada yang lain, jika dalam beberapa saat aku tidak kembali juga, katakan jika aku ada urusan mendesak." jelas Malfin kepada Ray.
Ray pun mengangguk dan berjalan meninggal kan Malfin. Kini sorot mata Malfin tertuju pada wanita yang sangat di benci nya, namun ia pun tidak dapat melawan rasa cinta yang teramat dalam pada sosok wanita itu, ia pun diam-diam berjalan di samping meja Denada, agar wanita itu mengikuti nya.
Dan trik nya pun berhasil menarik perhatian Denada. Denada terlihat menegang, wajah nya memerah padam, dan tubuh nya bergetar hebat serta ia merasa kan kepanasan, ia pun segera pamit untuk ke kamar kecil.
__ADS_1
Denada sungguh tidak tahan lagi, dengan apa yang ia rasa kan saat ini, tubuh nya seketika mengeluar kan keringat dingin, ia pun dengan segera mengikuti kemana Malfin pergi sebelum ia berjalan ke arah toilet.
Malfin yang tidak ingin keberadaan nya di ketahui oleh Brian pun segera bersembunyi di salah suatu ruangan di samping toilet. "Nona apa anda baik-baik saja?" tanya Brian dengan seringgai jahat.
"Kamu pergi lah, aku baik-baik saja." balas Denada sembari melambai kan tangan agar Brian tidak mendekati nya.
"Baik lah Nona, jika memerlu kan sesuatu jangan sungkan mengata kan nya kepada ku." seru Brian kembali dan segera berjalan meninggal kan Denada yang tampak bergetar menahan hasrat nya untuk bercinta.
"Oh Lord... apa yang salah dengan tubuh ku? mengapa wajah aku merah dan terkesan lebih bergairah seperti ini, sebelum nya aku tidak merasa kan apa pun tapi-" gerutu nya saat hendak masuk ke toilet perempuan.
Tanpa ia sadari Malfin mendengar segala yang ia ucap kan barusan, Malfin pun segera membekap mulut Denada dan membawa nya pergi ke suatu ruangan rahasia, yang tepat nya ruangan itu hanya ia dan beberapa pegawai nya yang tahu.
Denada meronta-ronta dan mencoba melepas kan dekapan tangan tersebut di mulut nya. Sesampai nya di ruangan itu Malfin pun dengan kasar nya mendorong Denada ke ranjang. Denada tampak terhelak ketika melihat sosok di depan nya.
"Ohh.. Tuan Muda Iglesias, ternyata kau yang menculik ku!" pekik Denada dengan tajam nya ke arah Malfin.
Malfin menatap Denada dengan dingin nya,. "Lihat lah dirimu sekarang, kau tampak seperti wanita murahan." dengan dingin nya ia berkata.
"Apa urusan nya dengan kau! sekali pun aku menjadi seorang pelacur tidak ada urusan nya dengan kamu!" balas Denada tak kalah tajam nya.
Di luar tampak Carol yang mencari cari keberadaan Malfin, karena sejak ia pamit ke toilet Malfin tak kunjung terlihat lagi. Ray pun merasa kasihan dengan Carol, akhir nya ia menjelas kan kepergian Malfin saat ini.
"Jangan mencari nya lagi, Malfin kembali beberapa saat yang lalu, dan dia meminta ku untuk mengatakan nya kepada mu, karena ada hal mendesak yang harus ia selesai kan saat ini, tapi ia akan mengunjungi kamu di Apartement setelah urusan nya selesai." jelas Ray dengan berbohong.
__ADS_1
"Tidak masalah!" balas Carol bahagia ketika mendengar Malfin akan mengunjungi nya di Apartement nya.