Dendam Cinta Sang Police

Dendam Cinta Sang Police
16. Lupakan yang terjadi saat ini!


__ADS_3

Di luar ruangan itu, tepat nya di dalam club malam, Brian beserta orang-orang nya sedang mencari cari keberadaan Denada, namun mereka tak bisa menemukan sosok yang mereka cari.


"****! seharus nya malam ini aku sudah membawa nya keranjang ku!" pekik Brian dengan marah saat tidak menemu kan Denada di mana pun.


"Apa mungkin saat ini dia sedang bersama pria lain untuk menyalur kan ga-." pikir Brian dengan mengacak acak rambut nya.


Carol beserta beberapa teman nya yang sudah tampak mabuk, mereka pun segera beranjak meninggal kan Rome Nigth Club, begitu pun dengan Frizy, Gaftan dan lain nya. Pesta perayaan tersebut berjalan dengan lancar namun rasa kecewa telah menyelimuti perasaan Carol saat ini. Ia kecewa dengan Malfin yang tiba-tiba pergi tanpa berpamitan.


Setelah apa yang terjadi, Malfin pun berpikir untuk segera pergi dari ruangan itu saat Denada masih tidur, namun ia teringat jika gejala dari obat perangsang itu tidak akan menghilang selama 6 jam kemudian, ia pun kembali berbaring di sebuah sofa.


Tepat pada pukul 05.00, Denada yang sudah terbangun merasa kan sakit kepala yang tak tertahan kan. Ia mengingat jelas apa yang telah terjadi semalam, namun saat ia duduk di ranjang ia tidak menemu kan Malfin di samping nya.


"Terima kasih Malfin, sekali pun kita sudah tidak bisa bersama, namun aku bahagia ketika melihat mu mengkhawatir kan aku!" gumam nya dengan berlinang air mata.


Denada belum menyadari sosok yang sedang duduk di hadapan nya karena ruangan itu cukup gelap, hingga pada saat ia hendak berjalan ke kamar mandi, ia merasa kan hembusan nafas seseorang di samping nya.


Seketika tubuh nya membeku hebat, ia tampak pucat pasif, langkah nya terhenti saat sebuah tangan melingkar di perut nya. "A-apa yang ingin kau lakukan?" tanya nya dengan gugup, sekujur tubuh nya bergetar hebat, ia sangat ketakutan mengingat perkataan Malfin mengenai Brian yang ingin menjebak nya.


Menyadari ketakutan wanita itu, ia pun mengerat kan pelukan nya. "Jangan takut, aku tidak mungkin meninggal kan mu sendiri di ruangan ini." baritone itu terdengar begitu lembut dan membuat Denada terbangun dari rasa ketakutan nya.


"Fin, terima kasih!" ucap nya lirih namun kubangan yang ia tahan sejak semalam akhir nya lolos dengan sempurna, terdengar jelas isakan tangis yang begitu pelan di ruangan tersebut.


Malfin tampak terhelak saat menyadari jika wanita yang ia peluk saat ini sedang menangis, ia pun membalik kan tubuh wanita di depan nya, tatapan mereka bertemu satu sama lain, rasa cinta dan kerinduan terlihat jelas dari sorot mata kedua nya.


"Maaf kan aku sudah menampar mu semalam." ucap nya dengan pelan sembari menyentuh pipi mulus wanita itu dengan senyum yang tidak dapat di artikan.


"Itu semua salah ku!" balas nya lembut.

__ADS_1


"Apa kamu sudah tidak merasa kan gejala seperti semalam lagi?" tanya Malfin frontal tanpa malu-malu untuk memastikan jika Denada sudah merasa baikan dan ia akan segera pergi.


"A-aku masih merasa kan-." ucap nya terhenti saat Malfin sudah mencium nya kembali dengan lembut.


Sekali lagi Malfin membawa nya keranjang, namun untuk kedua kali nya Malfin masih menahan gairah nya untuk tidak meniduri wanita di depan nya, ia berpikir jika dengan cumbuan-cumbuan lembut Denada pasti mendapat kan pelepasan tanpa harus ia tiduri.


Cumbuan-cumbuan yang Malfin berikan kepada Denada kali ini berhasil melolos kan erangan dari wanita itu, tak henti-henti nya Malfin bermain main di atas dua gundukan Denada, gerakan-gerakan lembut itu akhir terhenti saat Denada merasa kan sesuatu keluar dari **** * nya.


"Bersih kan tubuh mu, aku harus segera kembali sebelum pukul 07.00 nanti, karena pagi ini aku harus menyelesai kan beberapa urusan kantor." ucap Malfin dengan berbohong karena ia pun tidak ingin berlama lama lagi melihat lekuk tubuh wanita di samping nya, ia takut jika ia akan lepas kendali dan merusak segala rencana nya.


Sebelum Denada beranjak dari ranjang, Malfin menarik nya kembali dan mengecup lembut dahi wanita itu.


"Kau akan jatuh dalam perangkap ku, Denada." membhatin Malfin.


Di dalam kamar mandi Denada merasa sangat bahagia, ia merasa kan debaran kegirangan mendapati Malfin yang sangat mengkhawatir kan diri nya.


"Hallo, Sir. Apa anda memerlu kan sesuatu?" tanya seseorang reception dengan rama nya kepada Malfin.


"Baik Sir, anda akan menerima nya dalam waktu lima menit." ucap sang reception kembali.


"Okey! dan satu lagi, tolong pesan kan Grilled Chicken tanpa jagung, dan Burrito tanpa Avocado." ucap nya sebelum menutup telpon tersebut.


Tidak perlu menunggu lama akhir yang di pesan Malfin telah tiba.


Toktok...


Mendengar suara ketukan Malfin pun beranjak dari ranjang.

__ADS_1


"Good Morning, Sir! ini pesanan anda." sapa dua orang pelayan hotel sembari membungkuk.


"Taruh saja di sana! dan terima kasih." tunjuk Malfin ke arah meja seraya berterima kasih.


"Jika tidak ada lagi, kami pamit Sir!" ucap pria tersebut dan membungkuk kembali seraya keluar dari ruangan ekslusif tersebut.


Malfin pun mengangguk. Dan terdengar dering ponsel nya berulang kali mengeluar kan bunyi, ia pun meraih ponsel yang berada di samping tempat tidur, ia terlonjak kaget ketika melihat id penelpon. Ya, yang sedang menelpon nya saat ini adalah Carol, wanita yang di lamar nya semalam.


"Hallo Honey, Maaf kan aku yang sudah membuat mu sedih dengan kepergian ku tadi malam." seru Malfin dengan rasa bersalah terhadap Carol.


"Kamu di mana? udah sarapan belum!" balas Carol dengan manja.


Belum sempat menjawab, Malfin terpana dengan Denada yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan balutan handuk yang hanya menutupi bagian dada hingga paha nya, kulit yang masih menyisah kan butiran air sehabis mandi membuat Malfin bergairah, betapa putih bersih nya kulit Denada. Karena kemolekan tubuh Denada lah yang membuat pendirian Malfin goyah.


"Aku se-sedang berada di perusahan." ucap Malfin dengan menelan saliva nya ketika melihat Denada.


Seketika Denada terdiam ketika mendengar Malfin mengata kan ia sedang berada di perusahan, Denada pun berpikir jika orang yang sedang berbicara dengan Malfin pasti wanita semalam, yang tidak lain adalah kekasih Malfin.


Menyadari sorot mata Denada yang tampak kosong Malfin pun segera memutus kan sambungan telpon tersebut.


"De, aku bisa menjelas kan nya!" ucap Malfin dengan cepat.


Denada tersenyum. "Pergi lah Fin, kekasih mu pasti mengkhawatir kan kamu!" seru Denada dengan tegar walau sebenar nya ia tidak rela berpisah lagi dengan Malfin.


Malfin terdiam sejenak. "De, wanita it-." ia tidak dapat menerus kan ucapan nya ketika Denada berjalan kembali menuju kamar mandi. Setelah hampir 20 menit berlalu akhir nya Denada keluar dengan pelopak mata yang begitu bengkak, yang di yakini Malfin jika wanita di depan nya baru saja selesai menangis.


"Ahh, sial! bisa-bisa rencana ku beranta kan." membhatin Malfin.

__ADS_1


"Terima kasih sudah membantu ku semalam! lupakan yang terjadi antara kita.! aku tidak akan mengganggu mu lagi." ujar Denada dengan tegar nya.


Denada pun segera keluar dari ruangan itu setelah memakai gaun yang di pesan kan Malfin barusan. Malfin begitu bimbang, ia tidak tahu harus melaku kan apa. Di sisi lain ada Carol yang sedang menunggu nya, namun ia pun tidak ingin melepas kan Denada lagi dalam misi balas dendam nya. Tersadar dari pemikiran nya, Malfin pun segera mengejar Denada namun ia tidak dapat menemu kan wanita itu di area lobby hotel.


__ADS_2