
Honey, aku ada perjalanan bisnis ke Hongkong, dan mungkin waktu ku sangat sibuk beberapa hari kedepan, jaga dirimu baik-baik ya! aku pasti akan sangat merindu kan mu. Carol
Pesan yang di kirim kan Carol sebelum melakukan perjalan bisnis ke Hongkong.
*Maaf kan aku Honey, aku bersalah pada mu, aku janji setelah kamu kembali aku akan menemani mu, kemana pun yang kamu ingin kan untuk menebus kesalahan ku yang meninggal kan mu saat pesta ulang tahun mu! jaga dirimu baik-baik di sana. Malfin
Aku mencintaimu Fin. Carol
Aku juga mencintaimu. Malfin*.
Saat ini Malfin berpikir jika ia seharus nya di menempat kan Carol dalam balas dendam nya terhadap Denada, ia tidak ingin menyakiti Carol, karena bagi nya Carol adalah sosok wanita baik, ia berpikir keras untuk benar-benar membuka hati nya untuk Carol dan melupa kan Denada selama nya.
"Maaf kan aku Carol, aku tidak bermaksud melukai hati mu, yang terjadi antara aku dan Denada malam itu hanyalah sebagian dari rencana balas dendam ku untuk membuat ia tergila gila kepada ku lagi, dan setelah nya akan aku patah kan hati nya saat aku menangkap Ayah nya." monolog Malfin saat berdiri di depan cermin.
Dua minggu berlalu sejak kejadian itu, Malfin di sibuk kan dengan beberapa misi penting, kali ini ia di kirim ke Hongkong untuk menyelesai kan tugas nya bersama rekam tim nya.
"Zy, setelah tiba nanti, kita harus menemui Aldo Ambyar, ia adalah relasi ku sekaligus sepupu ku." ujar Malfin dengan datar.
"Bukan nya kita kesini untuk suatu tugas!" selah Ray dengan santai nya.
"Selama beberapa tahun ini ia menjalin hubungan kerja sama dengan Elistha Corp, dalam pembangunan club malam terbesar milik Muldoft." jelas Malfin kembali.
"Apa yang akan kita lakukan setelah nya?" tanya Frizy dengan bingung.
"Dengan bantuan Aldo, kita akan menjadi orang penting dalam pemasokan material untuk pembangunan itu, jadi aku berpikir kalian seperti nya harus bekerja keras dalam misi ini." jelas Malfin dengan santai nya.
"Baiklah, jika itu memudah kan kita untuk menangkap Muldoft, kami akan bekerja keras dalam misi ini." balas Frizy sembari menyesap cup coffe milik nya.
Setiba nya di Hongkong, Malfin pun segera menemui Aldo Ambyar di salah satu Restauran mewah yang bernuansa clasik yang menyedia kan makanan yang pasti nya sangat lezat karena sangat terkenal di Negara itu.
__ADS_1
Mereka pun masuk, tampak Malfin mencari cari keberadaan Aldo, di lihat nya pria dengan setelan rapih yang sedang duduk di sudut ruangan itu. Ia pun segera berjalan menuju sosok yang dia yakini Aldo karena pria itu duduk membelakangi mereka.
"Selamat malam, Tuan Muda Ambyar." ucap Malfin saat sudah berdiri di belakang pria tersebut.
Aldo yang sedang menyesap minuman nya tersendak kaget mendengar baritone yang sedang menyapa nya, ia pun dengan pelan nya menaruh cangkir tersebut dan berdiri menatap ke arah pria yang baru saja menyapa nya.
"Tuan Muda Iglesias, selamat malam." ucap nya menahan tawa ketika melihat raut wajah Malfin yang di tekuk.
"Hahaha.." tawa kedua nya pun pecah, Aldo pun memeluk teman baik nya karena ia merindukan sosok di depan nya, Malfin pun membalas pelukan sang sahabat.
"Lama tak jumpa, Fin! bagaimana keadaan Paman dan Bibi?" tanya nya saat melepas pelukan kerinduan antara mereka.
"Keadaan meraka baik, malah saat ini mereka meninggal kan aku udah sekitar 7 bulanan, karena sibuk mengurus bisnis mereka di America." balas Malfin dengan kesal.
"Oh iya.. kenalin mereka rekan tim ku!" seru Malfin kembali menunjuk ke arah teman-teman nya.
"Aldo, aku sepupu Malfin, senang berjumpa dengan kalian." ucap Aldo memperkenal kan nama nya dengan melambai kan tangan nya ke arah Frizy dan lain nya.
"Tidak perlu seformal itu, usia ku mungkin sama dengan kalian, jadi panggil aku Aldo aja." seru nya kembali dengan tersenyum.
"Baiklah!" balas Frizy di ikuti anggukan.
Setelah saling sapa mereka pun duduk di satu meja yang cukup besar, karena mereka saat ini lebih dari sepuluh.
"Kita makan dulu, setelah nya baru kita bicara kan mengenai misi kalian." seru Aldo dan mempersilah kan rekan tim sepupu nya untuk menyantap hidangan yang telah ia pesan tadi.
"Fin, beberapa hari yang lalu aku bertemu Dena! dan kamu tahu, saat ini ia begitu cantik dan sexy." seru Aldo tanpa melihat perubahan wajah Malfin.
"Hhmmm." balas Malfin dengan deheman.
__ADS_1
"Jadi kamu sudah bertemu dengan nya! apa kalian merajut kasih lagi?" celetuk Aldo dengan bersemangat.
"Saat makan tidak boleh berbicara." ucap Malfin dengan dingin nya.
"Ahhh, payah kamu Fin, melepas kan permata yang begitu berkilau hanya karena dendam masa lalu! tapi tidak masalah, jika kamu sudah tidak punya rasa lagi kepada Dena, berarti aku memiliki kesempatan untuk mendekati nya lagi." seru Aldo dengan bangga walau ia tahu jika saat ini Malfin menatap nya seperti ingin membunuh nya.
"Menjauh adalah keputusan terbaik untuk kami! kamu akan mengetahui alasan aku menjauh dari nya sebentar lagi! dan mungkin kamu akan mengurung kan niat mu untuk mendekati nya." balas Malfin dengan banyak tekanan.
"Mungkin aku akan menimang nya kembali, setelah mendengar ucapan mu yang penuh penekanan." timpal Aldo.
Gaftan dan lain nya hanya mengamati perdebatan antara kedua nya, walau sebenar nya mereka ingin menanya kan perihal keberadaan Malfin pada malam di saat ia menghilang pada pesta perayaan Carol bersamaan dengan hilang nya Denada pada malam itu, namun melihat raut wajah dingin Malfin, Gaftan pun mengurung kan niat nya.
Ya, pada malam di mana Malfin menghilang, Ray sudah menjelas kan segala nya pada Gaftan dan lain nya pada saat mereka dalam perjalanan pulang.
Aldo Ambyar adalah sepupu Malfin, ia adalah salah satu pengemar Denada sewaktu mereka duduk di bangku sekolah, namun rasa cinta nya hanya sebatas mimpi saja, karena Malfin jatuh cinta pada Denada pada pandangan pertama begitu pun dengan Denada yang selalu mengagumi sosok Malfin sebagai ketua basket di sekolah mereka dulu. Malfin adalah pria favorit para gadis di sekolah.
Hingga pada suatu ketika Malfin memberani kan diri untuk mengata kan cinta nya kepada Denada, pada saat itu pun kedua nya merajut kasih. Banyak pria yang patah hati ketika mengetahui Denada berpacaran dengan Malfin, begitu pun dengan para gadis.
Setelah merajut kasih hampir dua tahun lama nya, Denada pergi entah kemana, kepergian Denada membuat luka yang amat dalam bagi Malfin. Sejak kepergian Denada, Malfin yang dulu nya pria lembut berubah menjadi pria yang kaku dan begitu dingin.
Banyak wanita yang mengejar nya, namun semua usaha mereka sia-sia, Malfin menutup rapat-rapat hati nya, cinta nya untuk Denada berubah menjadi kebencian cinta hingga saat ini.
Setelah mendapat kan kesepakatan, mereka pun mengakhiri pertemuan itu. "Kita akan bertemu pada siang hari di hari berikut nya, jika ada hal yang ingin kamu bicara kan kepada ku, pintu rumah ku terbuka untuk mu dan juga teman-teman mu." ucap Aldo saat hendak masuk ke dalam mobil nya.
"Hhmmm, salam untuk Bibi dan Paman, dan kata kan jika aku akan mengunjungi mereka pada saat aku tidak sibuk lagi." balas Malfin sembari melambai ke arah Aldo.
Setelah melihat mobil Aldo yang sudah menghilang, Malfin pun mengajak rekan tim nya menuju salah satu Hotel berbintang 5 milik keluarga nya.
Malfin telahir dari keluarga millyader, ia seorang pewaris tunggal dari Iglesias Corp. Franco Iglesias adalah seorang pebisnis yang cukup di takuti di kalangan pebisnis papan atas, ia adalah cerminan dari sosok Malfin. Pria berumur 48 tahun itu terlihat sangat rapih dengan balutan jas berwarna hitam, rambut yang di tata begitu rapi nya dan terkesan seperti seorang raja yang tidak dapat di sentuh atau pun di takuti.
__ADS_1
Bersamaan dengan itu seorang wanita yang kisaran umur nya sekitar 45 tahun turun dari bangku penumpang, wanita dengan balutan gaun berwarna putih itu pun terlihat bak seorang Ratu, ya, itu adalah Jesica Iglesias wanita yang sangat di sayangi oleh Malfin dan Franco.
Kedua orang penting itu di sambut dengan antusias dan penuh dengan hormat oleh banyak orang dari kalangan atas, di sebuah ruangan auditorium yang cukup mewah dengan tatanan kursi yang cukup banyak, terdapat beberapa kursi khusus untuk dua orang petinggi tersebut.