Dendam Cinta Sang Police

Dendam Cinta Sang Police
31. Kemarahan Jessica


__ADS_3

Di lain ruangan, tampak Malfin dan Denada sedang bertengkar hebat. "Aku tidak akan pernah membiar kan kamu bahagia, setelah apa yang kau lakukan kepada ku!" pekik Malfin geram saat Denada memaksa keluar dari kamar itu.


"Hahaha... Malfin, kau pria teregois yang pernah gue temui semasa hidup gue!" tawa sumbang Nada menggelegar di kamar itu, di ikuti ucapan pedas nya. "Seharus nya kau malu dengan apa yang kau lakukan beserta Carol saat berada di Hongkong." ucap Denada kembali dengan suara bergetar mencoba menahan tangis nya.


"Kau cemburu! hahaha... itu yang ku ingin kan melihat kamu menderita saat mendapati kami tidur bersama." balas Malfin tanpa rasa bersalah.


"Stop!" teriak Denada histeris dan menutup kedua telinga nya dengan telapak tangan nya, hancur sudah perasaan Denada saat Malfin mengatakan itu.


Malfin menyeringgai. "Kau tau, malam itu Carol mengerang nikmat di bawah tubuh ku! ia beberapa kali mendapat pelepasan saat aku dengan gencar nya menyetubuhi dia." ucap Malfin dengan santai nya mengingat erangan nikmat Carol malam itu.


Denada terduduk lemas, ia tidak menyangka jika Malfin akan tega mengatakan itu di depan nya. "Pergi! aku benci kamu Malfin!" teriak Denada kembali sembari mengerat kan genggaman nya di kedua lutut nya.


Malfin terhelak saat melihat sikap Denada yang seperti orang depresi, ia pun mensejajar kan tubuh nya dengan Denada, namun saat sudah berjongkok Denada tampak histeris dan mendorong tubuh Malfin. "Pergi! jangan lukai aku, aku tidak bersalah!" teriak Nada kembali di ikuti gelengan kepala.


Malfin pun kembali mendekat dan menarik Denada masuk ke dalam pelukan nya. Namun pelukan itu terlepas saat pintu di dobrak dengan paksa dari luar. Tampak Jesica dengan kemarahan nya berdiri dengan sorot mata tajam, ia tidak menyangka jika Malfin akan tega melakukan itu terhadap Denada.


Jesica pun berjalan masuk, dan menarik Malfin berdiri dari hadapan gadis yang sedang meringkuk di lantai.


Plaakkk..


Satu tamparan Jesica layangkan saat Malfin sudah berdiri tegap di depan nya. "Mom, gak nyangka kamu bakalan tega ngelakuin itu sama Nada, Mom kecewa sama kamu, kamu egois, kamu pria tidak berperasaan! semoga kau tidak akan menyesali dengan apa yang kau ucapkan kepada Nada." geram Jesica dan hendak menampar Malfin kembali namun di tahan sang suami.

__ADS_1


"Sudah lah Mom, gak ada guna nya juga berbicara dengan anak brengsek ini!" pekik Franco marah sembari menjauh kan sang istri dari hadapan Malfin.


Jesica pun merasa sangat bersalah saat melihat Denada yang sudah tampak menyedih kan, ia pun berjongkok dan memeluk erat gadis di depan nya. "Nada, maafin Tante ya. Nada ikut Tante pulang ya sayang." ucap Jesica dengan berderai air mata, ia tau jika gadis dalam pelukan nya sangat lah terpukul.


"Pergi pergi! kalian pasti ingin menjahati Nada lagi." teriak Nada dengan tubuh bergetar.


"Sayang jangan takut, gak akan ada yang menyakiti kamu lagi, tante janji." Jesica mencoba menenang kan Nada, dan tak ada jawaban dari gadis di dalam pelukan nya, hingga terdengar deru nafas teratur dan itu menanda kan gadis tersebut sudah tertidur dalam pelukan nya.


"Mah, biar Papah gendong Nada. Kita akan bawa Nada pulang." seru Franco sembari menepuk pundak sang Istri.


"Hati-hati Pah." ucap Jesica dan mereka pun meninggal kan Malfin yang masih berdiri mematung melihat kepergian kedua orang tua nya beserta Denada.


"Mah, telpon dokter Abraham, minta ia datang ke rumah." ucap Franco kepada sang Istri.


"Iya Pah, Mamah takut jika Nada mendapat guncangan lagi dan berakhir dengan ia mengalami depresi kembali." balas Jesica khawatir di ikuti tangisan nya.


"Husstt, Mamah gak boleh bicara gitu, Nada pasti baik-baik aja." seru Franco menegas kan.


Sesampai nya di rumah, Franco pun menggendong Denada menuju kamar Malfin yang berada di lantai dua, dengan penuh kasih sayang kedua suami istri itu pun merebah kan Nada dengan lembut di ranjang, Jesica pun menarik selimut hingga ke atas dada, dan sang gadis pun tidak terganggu sama sekali dan terlelap dengan pulas nya.


Tak berselang lama, sang dokter pun di antar sang pembantu menuju lantai 2 di mana kamar Malfin.

__ADS_1


"Selamat malam, Tuan dan Nyonya." sapa sang dokter dengan sopan.


"Selamat malam dokter." balas Franco dan berjalan mendekati sang istri yang sedang duduk di samping ranjang sembari mengusap lembut pipi Nada. "Mah, biarkan Abraham memeriksa kondisi Nada dulu." ucap Franco lembut kepada sang istri. Jesica pun mengangguk dan beranjak dari tepian ranjang.


Di sebuah ruangan tampak beberapa barang sudah berhamburan di lantai, Frizy beserta para sahabat pun terlonjak kaget saat mendapati kedua orang tua Malfin keluar dari club tersebut dengan raut wajah yang tidak dapat di arti kan, mereka pun beranjak dan menuju ruang rahasia Malfin, mereka kaget bukan kepalang ketika melihat tangan Malfin yang mengeluarkan darah yang cukup banyak.


"Fin, ada apa? kenapa kau bisa sampai berdara?" tanya Ray khawatir, namun Frizy sudah terlanjur tersulut emosi, ia pun maju selangkah dan memberi Malfin satu bogeman telak di wajah nya.


"Zy, apa yang kau lakukan." tarik Gaftan sesaat setelah Frizy memukul Malfin.


"Dasar pria brengsek! kamu ingin tau kan, kenapa Nada bisa ada di sini, haa! itu gue yang rencanain semua nya, gue tau kamu masih cinta sama Nada, maka dari itu gue niat untuk menyatu kan kalian lagi!" pekik Frizy dengan marah sembari menunjuk nunjuk wajah Malfin.


"Jika kamu udah gak cinta sama Nada, bilang! seharus nya kamu itu dengerin penjelasan nya, tapi apa, kamu malah nyakitin dia lagi dan lagi. Baiklah jika itu mau kamu, gue bakal pastiin pertunangan Nada beserta Brian terjadi, dan saat itu lah kamu akan kehilangan Nada untuk selama nya." teriak Frizy kembali dengan menantang Malfin.


Setelah mengeluarkan kemarahan nya, Frizy pun berlalu pergi meninggal kan Malfin dan lain nya.


"Fin, jangan membohongi perasaan kamu lagi! jika kamu masih mencintai Nada, temui dia dan bicarakan semua nya dengan baik-baik, sebelum semua nya terlambat." ucap Gaftan di sela-sela ia membersih kan tangan Malfin.


Malfin diam membisu tanpa membalas perkataan sahabat nya. Ia cukup menyesali segala tindakan yang ia lakukan terhadap Denada.


"Istirahat lah! kami kembali dulu." seru Ray sembari menepuk pelan pundak Malfin dan mereka pun keluar meninggal kan Malfin sendiri di ruangan itu.

__ADS_1


__ADS_2