
Setelah saling mengatakan isi hati satu sama lain, Malfin pun segera beranjak untuk mandi dan kali ini Dena lah yang menyiap kan pakaian ganti Malfin.
"Sayang, mandi nya pakai air hangat ya." teriak Dena dari luar.
"Iya sayang." balas Malfin dari dalam kamar mandi.
Setelah selesai dengan ritual mandi nya, Malfin tampak keluar dari kamar mandi hanya dengan mengenakan handuk yang melilit di pinggang nya, dan itu membuat Dena yang berada di atas ranjang tampak terpesona melihat roti sobek Malfin yang tidak terbungkus sehelai benang pun.
"Tenang aja, roti sobek ini bakalan jadi milik kamu seutuh nya saat waktu nya tiba." goda Malfin dengan menaik turun kan alis nya.
Dena tampak merona kala mendengar ucapan sang kekasih, ia pun melempar kan Malfin dengan bantal yang ada di samping nya. "Sayang nya aku gak tertarik." ketus Dena dengan pipi yang merona merah, ketika kedapatan diam-diam menatap roti sobek Malfin.
Malfin tau jika sang kekasih pasti sangat malu kedapatan sedang menatap roti sobek nya, ia pun berjalan mendekati ranjang dan duduk di depan sang kekasih hati nya. "Beneran gak mau." goda Malfin kembali.
"Apaan sih, udah sana pake pakaian kamu." usir Dena kesal.
"Makasih sayang." ucap nya pelan sembari mengecup pipi Dena.
"Jangan tidur dulu, ada hal yang ingin aku bicarakan sama kamu." seru Malfin di sela-sela ia memakai baju.
"Hhmm." balas Dena dengan deheman.
Setelah memakai baju, Malfin pun ikut berbaring di sebelah Denada, ia pun menarik Denada kedalam dekapan nya. "Maafin aku ya, aku sungguh menyesal dengan segala keegoisan ku selama ini. Berjanji lah untuk tidak meninggal kan aku lagi." pintah nya dengan suara serak nya.
"Untuk sekarang aku gak bisa janji kan itu, tunggu aku selesai kan masalah ku dan Brian, dan mungkin Ayah akan kecewa dengan keputusan ku untuk membatal kan pertunangan kami." jelas Denada dengan mantap.
"Kamu mau kan nemenin aku besok buat jelasin semua nya ke Ayah?" tanya Denada kembali.
__ADS_1
"Baiklah, mulai detik ini kita akan melewati masa-masa sulit kita bersama." balas Malfin sembari mengerat kan dekatapan nya.
Tak membutuh kan waktu lama, gadis dalam dekapan nya pun terlelap. Namun tidak dengan Malfin, ia masih terbayang bayang akan segala tindakan nya selama ini.
"Mungkin kata maaf belum cukup untuk kesalahan ku selama ini, tapi jauh dari lubuk hati ku, kamu adalah wanita terhebat yang pernah aku cintai seumur hidup ku. Aku berjanji setelah ini, kamu akan menjadi wanita paling bahagia di dunia ini." gumam Malfin dengan pelan nya, setelah mengeluar kan unek-unek nya Malfin pun memejam kan mata nya, tak berselang lama Malfin pun tertidur.
Hari berlalu begitu cepat nya, Denada yang sudah terbiasa bangun pagi pun perlahan lahan mengerjap kan mata nya, seketika pipi nya merona kala merasa kan sebuah lengan yang melingkar di pinggang nya. Ia pun tersenyum kala mendapati sosok yang sangat di cintai terlelap dengan damai di samping nya.
Sebelum beranjak ia memberikan kecupan di pipi Malfin, dengan perlahan ia pun beranjak dan berlalu ke kamar mandi.
Setelah membersih kan tubuh nya, ia pun dengan cepat nya mengenakan pakaian milik Malfin yang berada di wall in closet. Setelah merasa cukup ia pun segera keluar dari kamar menuju lantai dasar di mana letak dapur berada. Namun langkah nya terhenti saat melihat sosok wanita cantik yang sedang sibuk berkutat di dapur.
Merasa ada yang sedang memperhati kan gerak-gerik nya, seketika itu pun Jesica menoleh dan tatapan nya bertemu dengan Denada yang berdiri mematung.
"Morning sayang." sapa Jesica dengan senyum mengembang.
"Ada apa? kok ngelamun sih!" tanya Malfin.
"I-itu-." tanya nya namun langsung di potong oleh Malfin.
"Ayo aku kenalin, jangan takut." seru Malfin sembari menarik lengan sang kekasih menghampiri sang Mamah.
"Ta-tante kok bisa di sini?" tanya nya dengan bingung.
"Kan ini rumah nya Tante, dan anak bandel ini anak semata wayang nya Tante." jelas Jesica sembari menahan tawa nya ketika melihat keterkejutan Denada.
Seketika itu pun Denada mencoba mencerna segala perkataan wanita cantik di depan nya. "Maaf, Dena gak tau jika Tante, Mamah nya Malfin." ucap nya dengan gugup.
__ADS_1
"Gak pa pah kok sayang. Dena mau gak temenenin Tante shopping setelah kita sarapan?" tanya Jesica dengan tangan yang mengelus lembut rambut kecoklatan Dena.
"I-iya Tan, Dena mau kok. Tapi, Dena gak punya baju ganti, gimana kalau Dena pulang dulu? setelah nya Dena jemput Tante lagi di sini." jawab nya jujur jika ia benar-benar tidak memiliki baju ganti, gak mungkin kan Dena harus pake baju semalam.
"Siapa bilang Dena gak punya baju ganti? Tante udah nyiapin setelan pakaian untuk Dena kenakan kok, emang Dena gak liat apa paper bag di atas nakas barusan?" jelas Jesica dengan senyum mengembang.
Dan perkataan Jesica membuat Dena membelalak.
'Oh Lord, apa Tante masuk saat aku tidur seranjang dengan Malfin?" membatin Dena yang merasa khawatir ketika kedapatan tidur dengan Malfin seranjang, pasti ia di cap sebagai wanita gak bener.
Seperti tau dengan kekhawatiran Denada, Jesica pun tersenyum. "Tenang aja sayang, Tante masuk saat Dena lagi di kamar mandi kok." seru nya dengan seutas senyum.
"Makasih Tante. Tante lagi masak apa? mau Dena bantuin gak?" tanya nya berbasa basi.
"Fin, kamu mandi gih sana." titah Jesica saat melihat Malfin memeluk Dena dengan erat nya.
"Mom." balas nya pelan.
"Aiistt.. udah sana mandi, bau tau." gerutu Jesica sembari melepas lilitan lengan Malfin dari tubuh Denada.
Denada tersenyum kala melihat kasih sayang Ibu dan Anak di depan nya.
"Malfin titip Dena ya, Mah." seru Malfin sembari mengecup bibir Dena di depan sang Mamah.
"Dasar gak tau malu." kesal Jesica yang jengah dengan kelakuan Malfin.
Dena yang di kecup pun tanpak salah tingkah, ia pun mencubit perut Malfin dengan pelan nya namun yang di cubit hanya tertawa.
__ADS_1