Dendam Cinta Sang Police

Dendam Cinta Sang Police
13. Rome Night Club


__ADS_3

"Tapi kalian masih bisa bersantai di sana, karena malam ini Carol akan mengada kan pesta ulang tahun nya di sana." seru Malfin kembali dengan menyunging kan senyum menatap dari cermin berukuran kecil di depan nya.


"Yes, i'm comming Selina!" seru Ray bersemangat.


"Anjay, giliran ada wanita incaran mu, semangat nya seperti akan mendapat kan sebongkah berlian." seru Leon di ikuti tawa seluruh rekan nya.


"Aku akan pergi bersama kalian." seru Frizy dengan suara serak nya.


Malfin yang mengendarai mobil tanpa segaja menghenti kan mobil dengan cepat, hingga yang lain nya tampak terhuyung ke depan.


"What, Zy? mana mungkin kamu kesana dalam keadaan seperti ini!" timpal Gaftan dengan melonggo.


"Iya, sebaik nya kamu beristirahat di rumah." timpal Leon.


"Aku akan pergi, tanpa kalian setujui pun!" ucap Frizy dengan penekanan.


"Tidak!" balas Malfin dengan tatapan yang begitu tajam ke arah Frizy.


"Bro, aku baik-baik saja, kalian tidak perlu mengkhawatir kan aku." ucap Frizy dengan sorot mata seperti memohon kepada Malfin.


"Tidak, sudah kubilang, kau tetap tinggal di markas dan beristirahat." Malfin menatapnya, sorot mata nya tidak mengijin kan ada nya pembangkangan dalam bentuk apa pun.


"Aku baik-baik saja. Malfin, biar kan aku pergi, aku ingin memberi hadiah untuk Carol, bagaimana pun pesta perayaan nya di tunda karena aku." Frizy tidak menyerah.


"Tidak ada diskusi lagi." Malfin kukuh pada keputusan nya.

__ADS_1


"Aku tahu jika kamu khawatir dengan kondisi ku, tapi aku benar-benar ingin bertemu Carol, aku janji tidak akan ikut serta dalam misi ini." ucap Frizy dengan bersikeras.


Malfin mengabai kan perkataan nya, Frizy panik.


"Fin!" panggil nya dengan lirih.


"Cukup Zy! tidak ada pembahasan itu lagi." balas Malfin dengan dingin.


Frizy tidak berani memprovokasi Malfin lebih jauh lagi begitu melihat Malfin yang sudah mulai kesal dengan nya. Ia pun memilih diam dan membuang pandangan nya ke arah luar jendela.


Suasana di dalam mobil sepanjang perjalanan menuju Thianjin begitu hening setelan perdebatan antara mereka. Malfin yang menyadari kekecewaan dari Frizy pun diam-diam tersenyum.


Hampir seperkian detik akhir nya mereka tiba di Thianjin, Malfin pun turun dan hendak membopong Frizy memasuki kediaman Frizy namun Frizy dengan rasa kecewa nya segera berjalan masuk ke rumah nya. Malfin tersenyum ketika melihat Frizy berjalan masuk tanpa sepatah kata pun kepada mereka.


"Hahaha... kasian banget tu anak!" seru Gaftan saat melihat Frizy yang turun tanpa berucap.


"What? jadi sejak tadi kamu hanya memprovokasi Frizy! dasar gila." celetuk Ray dari kursi belakang.


Malfin dan rekan tim adalah anak-anak dari kalangan orang kaya, rumah mereka pun saling berdekatan, oleh karena itu Malfin sering mengantar jemput mereka menggunakan mobil milik nya. Bagi Frizy dan lain nya, Malfin adalah sosok kakak untuk mereka, sejak mereka masuk di kesatuan polisi, Malfin lah yang selalu memberi motivasi untuk mereka bertahan, hingga pada suatu ketika mereka berlima menjadi satu tim dalam Divisi Narkotika Thianjin.


Setelah mengantar Gaftan dan lain nya, Malfin pun segera menuju Villa milik nya sendiri yang terletak di puncak Thianjin, memiliki interior kamar yang mewah dan berkelas, setiap ornamen nya berunsur kayu yang artistik menambah kesan klasik di ruangan tersebut.


Malfin tampak sibuk dengan beberapa berkas di atas meja kerja nya, ia dengan serius nya membolak balik kan halaman file itu, hingga pada beberapa saat kemudian terlihat jelas seringgai jahat di raut wajah nya. "Baik lah, mungkin saat ini adalah waktu yang tepat untuk membalas kan rasa sakit hati ku kepada Dena!" gumam Malfin dengan kobaran kebencian.


Hari pun sudah menjelang malam, di mana para undangan telah berdatangan dengan membawa kado. Ya, Carol adalah satu-satu nya wanita kaya di lingkungan perumahan mewah Malfin dan beberapa rekan tim nya, ia berasal dari keluarga kaya raya, wanita yang memiliki paras cantik dan seksi itu menjadi rebutan para pria, pasal nya banyak pria yang mendamba kan diri nya yang seperti permata yang tidak ada celah sedikit pun.

__ADS_1


Tampak Frizy dan Gaftan sudah tiba di sana, mereka pun segera menghampiri Carol bersama teman-teman wanita nya. "Srlamat ulang tahun, Carol." ucap Frizy sembari menyodor kan sebuah bendah kecil namun terlihat sangat berkelas dan mewah.


"Thank's, Zy." balas Carol sembari memeluk Frizy.


"Gaf." panggil nya lirih saat melihat Gaftan yang hanya duduk.


"Iya, iya. Aku tahu!" seru Gaftan dan segera berdiri menghampiri Carol. "Lihat lah apa yang ku bawa kan untuk mu!" seru Gaftan dan memberikan sebuah paket berukuran besar kepada Carol.


"Thank's Gaf, kamu pria paling baik sedunia." seru Carol saat mendapat kan hadiah berukuran besar dari Gaf.


Leon dan Ray pun segera melangkah maju dan memberi kan sebuah hadiah untuk Carol. "Aku senang juga bisa ngerayain pesta ulang tahun ku bersama para pria kaya seperti kalian." Seru Carol di ikuti tawa oleh semua nya.


Setelah semua nya memberi kan hadiah untuk Carol, tiba-tiba pandangan mereka teralih kan pada rombongan yang baru saja masuk. Ya, Gaftan dan Frizy baru saja melihat kedatangan Denada bersama Brian dan beberapa orang.


Denada tampak sexy dan juga anggun ketika mengenakan sebuah gaun mini dress A Line yang panjang nya di atas lutut, gaun yang di kenakan Denada malam ini memiliki kesan sexy dan casul untuk bentuk tubuh nya yang begitu ideal.


Pesta penyambutan Denada hanya beberapa meja dari tempat berlangsung nya ulang tahun Carol. Carol pun tampak terperanga ketika melihat kecanti kan Denada yang begitu naturan namun terlihat begitu cantik dengan balutan dress dari merek ternama.


"Zy, Malfin mana? kok belum datang sih!" tanya Leon ketika melihat kegelisahan di raut wajah Carol.


"Mungkin sebentar lagi nyampe." balas Frizy dengan yakin.


Carol tampak bahagia ketika melihat sosok yang di tunggu nya sejak tadi, sudah berjalan ke arah nya. Malfin terlihat begitu tampan hanya dengan balutan kemeja putih yang di padukan dengan celana denim berwarna hitam robek, pria itu mampu mengempar kan isi ruangan itu dengan jeritan-jeritan kekaguman para wanita di ruangan itu.


"Ya, ampun, tampan sekali pria itu. Jika saja ia ingin meniduri ku saat ini, aku akan rela memberi kan tubuh ku pada nya." gumam ealah seorang gadis yang duduk bersebelahan dengan Denada.

__ADS_1


"De, lihat pria itu! ia begitu tampan, jika saja aku bisa memiliki nya, aku pasti akan membawa nya ke ranjang ku." pekik salah teman Denada kembali.


Mendengar jeritan para teman nya, Denada pun mencari sosok pria yang baru saja di kagumi oleh teman-teman nya.


__ADS_2