Dendam Cinta Sang Police

Dendam Cinta Sang Police
15. Pendirian yang mulai goyah


__ADS_3

Malfin tampak terbelalak mendengar ucapan Denada yang begitu tidak tahu malu nya.


"Ohh... setelah beberapa tahun tidak bertemu, rupa nya keahlian baru mu adalah seorang pelacur." pekik Malfin dengan kasar nya ketika melihat ke sombongan Denada.


"Sudah cukup Malfin, awal nya aku ingin memperjuang kan cinta kita sekali lagi, namun saat kejadian beberapa menit yang lalu, aku berpikir untuk merelakan mu." ucap nya dengan lirih dengan mata yang berkaca kaca.


Denada merasa kan sakit yang sangat menusuk hingga kerongga jantung nya ketika mendengar tuduhan-tuduhan yang Malfin lontar kan, dan hal yang sangat membuat nya menelan kepahitan adalah ketika melihat Malfin mencium wanita itu dengan sangat bergairah.


Tidak ingin lebih lama lagi berdua dengan Malfin di ruangan itu, Denada pun memutus kan pergi, namun lagi-lagi Malfin mencekal pergelangan tangan nya dengan kuat.


"Lepas kan, Malfin! di antara kita sudah berakhir seperti ucapan mu beberapa pekan yang lalu." seru Denada tanpa melihat ke arah Malfin.


"Kau kira aku masih sudi berlama lama dengan mu! sayang nya aku sudah tidak mencintai mu, Dena. Rasa sayang dan cinta ku yang dulu nya untuk mu, saat ini sudah di ganti kan dengan Carol, ia mampu memenuhi segala kebutuhan ku." ucap Malfin dengan dingin nya.


Denada diam seribu bahasa karena ia tidak tahu lagi harus menghadapi Malfin bagaimana saat ini. "Itu urusan mu! lepas kan tangan mu!" pekik Denada kembali dan membalas tatapan dingin Malfin tanpa rasa takut.


Malfin sedikit pun tidak melepas kan tangan nya, ia makin mengerat kan cengkraman nya hingga Denada merintih kesakitan. "Malfin sakit, tolong lepas kan tangan mu!" ucap Denada dengan lirih nya ketika merasa kesakitan di pergelangan tangan nya.

__ADS_1


"Ok, aku akan melepas kan mu! tapi jangan coba-coba untuk keluar dari ruangan ini." pekik Malfin masih dengan raut wajah dingin nya.


"Hahaha... kau sungguh aneh Malfin, kau barusan mengata kan jika kamu tidak sudi berduaan dengan seorang pelacur seperti ku dan sekarang kau mengancam aku untuk tidak pergi. Apa kau amnesia, Tuan Muda Iglesias?" ucap Denada dengan sinis nya.


Kali ini Denada berhasil memprofokasi Malfin. Malfin geram saat Denada mengucap kan kata pelacur di depan nya, seketika Malfin pun menampar nya.


Plaakk..


Denada merasa pipi nya terbakar, tamparan yang cukup kuat berhasil Malfin layang kan di wajah mulus nya. "Aku akan selalu mengingat tamparan ini Malfin!" sorot mata Denada begitu tajam, ia tidak menyangka Malfin akan menampar nya barusan.


"Kenapa kau harus sekasar ini, Malfin! aku tahu kebencian mu terhadap ku tidak akan pernah mencair sedikit pun, tapi aku tidak menyangka kau menjadi sekejam ini. Baiklah, biar kan aku keluar sekarang!" ucap nya kembali dengan datar.


"Ini semua tidak berkaitan dengan mu! sekali pun Brian ingin membawa aku ke ranjang nya, aku akan menerima nya, karena saat melihat mu mencium wanita itu, rasa sakit di hati ini seperti ingin mencari pelampiasan yang bisa menerima segala keluh kesah ku!" balas Denada dengan sindiran.


Setelah mengatakan unek-unek dalam hati nya Denada pun meraih pegangan pintu untuk keluar namun lagi-lagi Malfin menarik nya.


Malfin menarik paksa Denada untuk menatap nya. Diam-diam Malfin menggeram dalam hati, pinggang Denada terasa pas saat berada di rengkuhan nya dan bibir nya itu merekah sempurna untuk ia cium. Samar-samar Malfin mencium aroma parfum Jelly Rose yang di pakai Denada membuat Malfin sangat merindu kan nya.

__ADS_1


Denada pun membalas tatapan Malfin dengan lamat-lamat, ini adalah kali pertama nya ia di peluk Malfin setelah perpisahan mereka 8 tahun lama nya.


"Maaf kan aku!" ucap Denada dengan menunduk namun suara nya hampir tidak terdengar.


Tanpa berpikir panjang Malfin pun mengerat kan rengkuhan nya di pinggul Denada hingga jarak antara mereka sangan lah dekat.


Malfin tak membalas perkataan Denada, tapi sebalik nya ia merengkuh pinggul Dena, dan mulai ******* abis bibir kecil berwarna pink itu dengan lembut nya, Dena membalas ciuman Malfin yang begitu lembut hingga pada detik berikut nya efek obat mulai menggerogoti tubuh Denada, Denada sungguh tidak tahan lagi ia pun sejenak menarik tubuh nya menjauh dari Malfin. "Fin, tolong tinggal kan aku sendiri di sini!" ucap nya dengan gugup saat ia terdorong untuk melakukan lebih dari ciuman bersama Malfin.


Malfin seperti mengerti dengan perkataan Denada namun dirinya tidak akan membiar kan Denada menahan gairah nya lagi, karena ia pun mendamba kan tubuh Denada saat ini, dan mungkin kali ini Malfin tergila gila kepada nya.


Melihat Malfin yang enggan untuk pergi, ia pun mundur sejauh mungkin dari Malfin. "Pergi lah sekarang, aku tidak ingin terlihat seperti perempuan perebut kekasih orang." pekik nya kembali dengan keringat dingin yang mulai membasahi dress yang ia kena kan.


Tanpa berucap Malfin maju mendekat ke arah Denada. "Aku akan membantu mu, melepas kan gairah mu!" bisik Malfin dengan pelan nya.


Seketika Denada memejam kan mata nya. Merasa kan lembut dan kehangatan bibir Malfin yang sedang mengulum lembut bibir nya lagi dan lagi. Kedua tangan nya meremas ujung kemeja Malfin, Malfin pun menuntun untuk mengalung kan kedua pergelangan tangan Denada di leher nya. Sementara sebelah tangan Malfin membelai pipi Denada, merasakan kelembutan kulit wanita itu kemudian perlahan lahan tangan nya menelusup di sela-sela rambut Denada, meraih tengkuk nya untuk kemudian memperdalam ciuman panas nya.


Mereka seakan terhipnotis dengan gairah kedua nya, yang saling mendamba kan satu sama lain. Ciuman panas itu berakhir di atas ranjang.

__ADS_1


Namun karena desakan-desakan cumbuan yang di lakukan Malfin di samping nya membuat Denada, mendapat kan pelepasan. Setelah merasa Denada sudah mendapat pelepasan Malfin pun segera beranjak. Ia tidak bisa melakukan itu pada saat ini karena ia tidak mau di salah pahami oleh Denada karena mendapat kan apa yang sudah bukan menjadi milik nya, sekalipun ia tidak tahu ada hubungan apa Denada dengan pria yang ia temui beberapa pekan lalu.


Melihat wanita yang sedang terkulai lemas di atas ranjang seketika terlihat senyum di wajah Malfin, ia tidak menyangka jika pada akhir nya pendirian nya yang selama ini ia jaga goyah hanya dengan sebuah ciuman.


__ADS_2