Dendam Cinta Sang Police

Dendam Cinta Sang Police
22. Perdebatan Suami Istri


__ADS_3

"Shitt! wanita itu selalu saja membuat segala rencana ku berantakan. Kenapa juga ia harus ikut campur." pekik Malfin dengan kekesalan nya.


Setelah kejadian pagi tadi kini Malfin tampak sibuk di Villa nya, ia memilih menemui orang tua nya pada pada malam hari di hari berikut nya.


Ya, setelah berhasil menangkap Zhay Han dan antek-antek nya, Malfin beserta tim nya kembali ke Shanghai dan meninggal kan Hongkong pada pukul 02 dini hari, walaupun misi nya belum tuntas sepenuhnya, tapi mereka di beri cuti tahunan selama 2 minggu di akhir tahun.


"De, aku sangat merindukan mu, tapi kebencian ini selalu saja menggerogoti hati dan jiwa ini untuk tetap membalaskan sakit hati yang kamu tabur selama ini." gumam nya saat duduk di ruang kerja nya dengan mengusap sebuah foto yang terlihat usang di tangan nya.


Hari berlalu dengan cepat nya tidak terasa pagi yang baru saja di lewati sudah tidak terlihat lagi dan di ganti kan dengan cahaya rembulan yang begitu indah.


"Apa kabar kamu di sana, cintaku! sejak kejadian beberapa bulan lalu aku mulai merindukan saat-saat kamu mengkhawatir kan aku. Andaikan waktu bisa di putar kembali, mungkin saat ini kita akan menjadi pasangan teromantis di dunia ini, dan mungkin aku akan membuat para wanita di luar sana merasa iri dengan ku, yang memiliki sosok kekasih seperti mu." gumam nya saat berada di balkon kamar nya sembari tidur di gajebo untuk merasa kan semilir angin yang membawa nya dalam angan-angan.


"Nyonya, saya sudah menemukan informasi yang anda minta mengenai gadis pagi tadi, dan saya sudah mendetail kan secara beruntun dalam sebuah dokument, agar anda bisa mengetahui nya dengan jelas." jelas Jihan melalui sambungan telpon nya.


"Baik, letakkan itu di ruang kerja saya, tepat pukul delapan malam nanti." balas nya dengan tak sabaran, ingin mengetahui seluk beluk dari gadis yang berhasil mencuri hati nya pagi tadi.

__ADS_1


Di dalam sebuah ruangan, seorang wanita dengan aksen yang terlihat begitu glamor sedang serius membolak balikkan sebuah dokument, seketika ia tertawa ketika melihat lembar terakhir.


"Cari informasi mengenai kegiatan Denada pada esok hari, bagaimana pun cara nya." ucap nya pada seorang di seberang sana dan segera memutuskan sambungan telpon tanpa mendengar balasan dari orang tersebut.


Ceklek...


"Mah, apa yang Mamah lakukan disini? Mamah seharus nya istirahat. Mamah baru aja sembuh, biar Jihan saja yang mengurus butik dan restoran, gak ada bantahan apapun." ucap Franco saat mendapati sang istri tengah sibuk membolak balik kan sebuah dokument dan terdengar nada penekana di akhir perkataan nya.


Mendengar baritone tersebut, Jesica yang sedang senyum-senyum sendiri sembari membolak balik kan dokument di depan nya, perlahan mengedar kan pandangan nya ke arah sang suami. Melihat tatapan tajam dari sang suami, ia pun segera beranjak dari kursi dan berjalan menghampiri sang suami.


"Apa?" tanya nya dengan lembut dan sesekali mencium kening Jesica.


Keduanya pun berjalan ke arah sofa yang berada di ruangan tersebut. "Pah, Mamah ingin Malfin menikah tapi Mamah maunya sama gadis yang sudah mencuri hati Mamah pagi tadi." jelas nya kepada Franco dengan suara lembut nya.


"Siapa sih gadis yang sudah berhasil mencuri hati Istri, Papah." tanya Franco kepada Jesica dengan mengusap usap punggung tangan Jesica dengan lembut nya.

__ADS_1


"Mamah nyuruh Jihan menggali informasi mengenai Denada, tapi gadis itu adalah gadis yang sama yang meninggal kan Malfin delapan tahun lalu." ucap nya dengan sedih mengingat kejadian 8 tahun yang lalu, di mana Malfin menjadi sosok pendiam sejak kepergian Denada waktu itu.


"Mamah jangan ngaco deh, Mamah kan tahu sendiri, sejak kepergian gadis itu, Malfin sangat membenci nya dan sejak saat itu pula Malfin menjadi sosok yang dingin dan terkenal begitu kejam dalam dunia bisnis maupun pekerjaan nya sebagai seorang polisi." balas Franco yang tak habis pikir dengan jalan pikiran Istri nya.


"Pah, tapi ada sesuatu yang Malfin tidak ketahui mengenai alasan kepergian gadis itu." ucap nya tak kalah serius nya dari sang suami.


"Maksud Mamah apa!" tanya nya pada sang Istri masih dengan raut wajah serius.


"Sebenar nya gadis itu pergi setelah menemukan Ibu nya tak bernyawa di lantai di karena kan kelebihan mengkonsumsi obat-obatan terlarang dalam dosis berlebihan. Dan alasan nya meninggal kan Malfin ialah, ia tidak ingin Malfin menjadi gunjingan teman-temannya karena berpacaran dengan anak seorang pengedar narkoba." jelas Jesica dengan detail nya setelah beberapa kali membaca dokument yang Jihan berikan.


"Mah, hubungan mereka sudah berakhir sejak 8 tahun lama nya, dan mungkin saat ini sudah tidak ada cinta di antara kedua nya, dan terlebih lagi Mamah sudah tahu mengenai hubungan Malfin dan Carol, mana mungkin Mamah tega memisah kan mereka hanya karena gadis dari masa lalu Malfin." balas Franco setelah mendengar kan cerita Jesica mengenai Denada.


"Mamah gak mau tahu, Papah harus bujuk Malfin untuk menikah dengan Denada, Papah kan tahu sejak lama Mamah gak suka dengan Carollina, gadis pencicilan kayak dia gak cocok buat anak semata wayang Mamah." ucap nya tegas dengan sorot mata tajam mengarah kepada Franco.


Franco tahu dengan sikap keras kepala Istri nya, ia pun menghembus kan nafas nya kasar sebelum kembali berbicara. "Terserah Mamah saja deh, toh Papah gak ada hak untuk mengemukakan pendapat Papah kepada Mamah, dan pasti nya Papah akan kalah jika dalam urusan perdebatan dengan Mamah. Ya sudah, kalau begitu kita bicarakan besok saja saat Malfin tiba nanti." balas nya dan segera berjalan menghampiri sang Istri untuk kembali ke kamar mereka.

__ADS_1


"Gitu dong!" ucapnya ketus dan menerima uluran tangan sang suami.


__ADS_2