Dendam Cinta Sang Police

Dendam Cinta Sang Police
23. Kerinduan Malfin terhadap Jesica


__ADS_3

Setelah berhasil bertemu dan berbincang dengan Denada, terlihat semburan kebahagian dari wajah Jesica, bagaimana tidak, pernyataan suaminya malam itu membuat hati nya gundah hingga memilih mengambil resiko hingga kaki nya terkilir, walaupun masih merasakan sakit di pergelangan kaki nya, ia sama sekali tidak keberatan, ketika mengingat pelukan Denada yang begitu menyentuh hati nya sebagai seorang ibu.


Jihan yang melihat kepergian Denada pun hendak menghampiri Jesica, namun ia terbayang kejadian barusan, di mana ia mendorong majikan nya hingga kaki nya terkilir.


"Ya Tuhan, tolong hamba mu ini, selamat kan hamba dari amukan bos cantikku, atas perbuatan ku barusan." membatin Jihan sebelum mendekati Jesica.


"Nyonya, maaf kan saya!" ucap Jihan dengan menunduk kan wajah nya untuk mengantisipasi tatapan tajam dari wanita di depan nya.


"Ada apa dengan mu, Jihan! sudahlah toh aku juga yang meminta nya, walau dorongan kamu cukup kuat, tapi tidak apa-apalah, yang penting tujuan ku untuk dekat dengan Denada berhasil. Ya sudah, ayo kita pulang! dan siap kan segala nya." balas nya panjang lebar di ikuti gelak tawa bahagia nya.


Jihan tampak melonggo, kejadian ini sungguh langkah di pikir nya. Karena tidak biasa nya wanita di depan nya tersenyum, apalagi tertawa dengan renyah nya. "Baik Nyonya." ucap nya dan segera berjalan mengikuti langkah sang majikan.


Setiba nya di rumah, ia di sambut oleh para meid dan para pengawal, yang sudah berdiri berjejer di pintu masuk. "Selamat datang Nyonya." ucap para meid dan pengawal bersamaan.


"Terima kasih, semoga hari kalian menyenangkan." balas nya dan segera berjalan masuk dengan tertatih menuju sang suami yang tengah asik membaca koran di ruang keluarga.


Jihan tak abis pikir dengan apa yang di lihat nya baru-baru ini, di mana sang majikan membalas sapaan dari para pekerja nya. Begitu pun dengan para meid dan juga pengawal tampak kaget dengan kejadian itu.


"Kalian kembali lah bekerja!" ucap Jihan dengan tegas.


"Baik, Bu!" balas para meid dan pengawal.


Hati Franco tampak senang dikala melihat wajah berseri seri Jesica saat berjalan menghampiri nya.


"Hey, sejak kapan Istri ku tersenyum seperti ini, biasa nya hanya raut wajah dingin seperti bongkahan es yang terlihat, tapi tunggu dulu, ada apa dengan kaki mu!" goda Franco saat melihat sang Istri yang tersenyum tapi senyum nya menghilang kala melihat kaki bengkak sang Istri.


"Mamah tidak apa-apa kok, ini hanya terkilir saja saat Mamah jalan tadi." jelas Jesica dengan mengusap tangan sang suami.


"Baik gimana kalau udah seperti ini! Jihan bawakan es dan ambilkan kotak P3K." ucap Franco dengan dingin karena ia tidak ingin terjadi sesuatu kepada Jesica karena selama ini ia selalu menjaga Jesica layak nya seorang ratu.


Jihan pun segera berjalan dan mengambil es yang di minta sang Tuan.

__ADS_1


"Mulai saat ini, kemana pun Mamah pergi akan ada beberapa pengawal yang ikut bersama Mamah dan Jihan." ucap nya kembali dan menatap tajam ke arah sang Istri.


Jika sudah seperti itu, Jesica tidak berani membantah ataupun menolak keinginan Suami nya, yang ia ketahui tingkat keposesifan sang Suami di luar ekspetasi.


Setelah selesai mengobati kaki sang Istri, Franco pun berjalan meninggal kan Jesica di ruang keluarga. Melihat itu Jesica tahu jika saat ini ia dalam masalah, di mana sang Suami pasti akan mendiami nya hingga beberapa hari kedepan.


"Jihan, kamu persiap kan segala nya, saya istirahat dulu." ucap nya dan berjalan meninggal kan Jihan menuju lift khusus menuju lantai 3.


Sesampai nya di kamar, ia berjalan mendekati sang suami yang sedang berkutat dengan sebuah tablet di tangan nya. "Papah, semua ini Mamah lakukan untuk menarik perhatian Denada!" ucap nya setelah ia sudah bergelayut manja di lengan suami nya.


Melihat keengganan dari sang suami untuk menanggapi nya, Jesica pun memakai jurus andalan nya. "Baikalah kita lihat, apa Papah masih akan mendiami Mamah kali ini." membatin Jesica dengan seringai licik nya.


"Apa Mamah salah jika Mamah mengingin kan menantu baik-baik." ucap nya lirih di ikuti tangis yang di buat sedemikian rupa untuk menarik perhatian sang suami.


Mendengar isak tangis sang istri, Franco pun membuang nafas kasar. "Mamah gak salah, Papah akan mendukung segala keputusan Mamah, tapi Mamah jangan nangis lagi." ucap Franco lembut sambil mengecup puncak kepala Jesica.


Jesica tersenyum puas dalam hati, bagaimana tidak hanya dengan air mata buaya nya, suami nya tidak marah lagi kepada nya dan memilih mendukung keputusan nya. Jesica seorang wanita paruh baya yang usia nya sudah kepala empat itu memiliki banyak trik licik untuk mendapat kan cinta dan perhatian dari anak dan suami nya.


"Sebenar nya apa yang terjadi! mengapa kaki Mamah bisa bengkak seperti itu?" tanya nya pelan sambil mengusap rambut panjang Jesica dengan lembut nya.


Jesica pun menjelas kan panjang lebar kepada Franco, hingga gelak tawa mereka memenuhi kamar itu. Hingga gelak tawa itu terhenti saat mendengar ketukan pintu dari luar.


Tok..tok...


Jesica pun berjalan ke arah pintu. "Nyonya semua nya sudah siap. Dan Tuan Muda sudah dalam perjalanan, mungkin 15 menit lagi tiba di sini." jelas Jihan dengan hormat.


"Bukan nya Malfin akan tiba di sini pukul delapan nanti malam!" balas nya dengan balik meleparkan pertanyaan ke arah Jihan.


Jihan tampak tersenyum. "Nyonya sekarang sudah pukul tujuh, dan waktu kedatangan Tuan Muda sebentar lagi." jelas Jihan dengan bingung dengan reaksi majikan nya.


"Ya ampun, Pah. Kita berbincang hampir seharian penuh hingga lupa waktu. Terima kasih Jihan sudah mengingat kan kami." balas nya dengan tersenyum malu.

__ADS_1


"Saya pamit undur diri Nyonya!" ucap Jihan dan berlalu pergi ketika mendapat kan persetujuan dari sang majikan.


Tepat pukul delapan, Malfin yang mengendarai motor besar nya terlihat memasuki pelataran rumah mewah orang tua nya.


Para meid dan pengawal sudah berdiri dengan rapi nya di ambang pintu, mereka membungkuk ketika Malfin hendak melewati mereka. " Selamat malam dan selamat datang kembali, Tuan Muda." sapa para meid dan pengawal serempak.


"Selamat malam!" balas Malfin dengan datar nya.


Malfin pun berjalan masuk dengan di ikuti dengan Jihan yang berjalan di belakang nya.


"Selamat datang kembali Tuan Muda Iglesias." sapa Franco dengan datar nya.


"Hhmmm.." balas Malfin dengan deheman namun ia berjalan mendaki pria dingin di depan nya, dan mencium punggung tangan pria di depan nya.


"Mamah, mana Pah?" tanya nya santai saat tidak mendapati wanita yang di sangat di rindu kan nya.


"Sedang bersiap siap! bagaimana dengan misi yang kamu jalan kan, apakah berhasil?" tanya Franco yang terdengar seperti sedang mengejek nya.


Ya hubungan kedua nya sempat bersih tegang, di karena kan Malfin menolak memegang perusahan seutuh nya dan memilih menjadi seorang perwira tinggi di Institut kepolisian. Tapi kemarahan Franco bukan karena tidak ingin Malfin menjadi abdi negara melainkan ia takut jika sesuatu yang tidak di ingin kan menimpah anak semata wayang nya.


Franco berharap jika kelak nanti Malfin mau meneruskan untuk memimpin perusahan milik nya, mengingat hanya Malfin lah yang akan mewarisi Iglesias Corp satu-satu nya.


"Lumayan eksrim, tapi cukup menyenangkan, walau tidak sepenuh nya berhasil." balas Malfin dengan senyum bangga ketika melihat raut kekesalan Ayah nya.


"Bisa gak kalian berdamai! lama-lama Mah muak melihat kalian seperti itu!" pekik Jesica saat mendapati kedua pria di depan nya saling melempar sindiran.


"Mah, Malfin kangen sama Mamah." seru Malfin dan beranjak dari duduk nya dan berjalan menghampiri wanita yang sangat di cintai nya.


Jesica pun membalas pelukan anak semata wang nya. "Mamah juga merindukan mu, sayang." balas nya dengan mengerat kan pelukan kerinduan nya. Setelah saling melepaskan kerinduan, kedua nya pun berjalan menuju meja makan.


Di luar sana Malfin terlihat dingin dan kejam namun beda hal nya jika ia sudah bertemu dengan Jesica, ia akan menjadi seorang bocah kecil yang sangat penurut, dan semua itu berhasil membuat Franco cemburu dan merasa kesal, pasal nya jika Malfin sedang bersama nya bawaan nya mereka akan saling sindir layak nya seorang musuh.

__ADS_1


__ADS_2