
Malfin pun mengemudi kan mobil sport nya menuju tempat yang sudah menjadi tempat pertemuan mereka bersama para sahabat nya. Tak sekali pun Malfin melepas kan tautan tangan nya dari Dena.
"Ada apa? kok sejak tadi aku perhatikan kamu diam saja." tanya Malfin yang merasa aneh dengan diam nya Dena.
"Apa pernikahan kita tidak terlalu cepat?" bukan nya menjawab pertanyaan Malfin, Dena malah melempar kan pertanyaan kepada Malfin.
"Apa kamu meragu kan cinta ku? aku tau, sulit untuk menerima ku lagi setelah apa yang terjadi di antara aku dan Carol, tapi sungguh Carol bukan lah siapa-siapa bagi ku, hanya kamu wanita yang akan selalu mendapingi ku hingga aku menua nanti." jelas Malfin untuk meyakin kan Dena akan keseriusan setiap ucapan yang ia lontar kan barusan.
Dena tersenyum mendengar penuturan Malfin, ia pun mengecup bibir Malfin dan segera memaling kan wajah nya ke arah luar jendela, ia sungguh malu telah melakukan itu. Namun beda hal nya dengan Malfin, ia bahagia ketika Dena dengan tiba-tiba menciuam nya.
Malfin pun mengemudi kan mobil nya kembali, di kegelapan malam, Malfin pun melajukan mobil sport nya menuju Villa keluarga nya yang berada di kota lain. Dua jam menempuh perjalanan dengan tangan yang saling memberi kehangatan mereka pun tiba di depan gerbang yang menjulang tinggi.
Tampak mobil sport milik sahabat nya sudah berjejer rapi di pelataran Villa, penjaga gerbang pun yang menyadari kedatangan Malfin, segera membuka gerbang tersebut sembari membungkuk hormat.
"Selamat datang kembali Tuan muda." ucap sang penjaga gerbang.
"Terima kasih, Pak Lim." balas Malfin dengan sopan. Setelah bertegur sapa dengan penjaga gerbang, Malfin pun memacu mobil nya memasuki Villa.
Malfin pun turun dan berlari membuka kan pintu untuk Dena. Kedua nya pun berjalan memasuki villa dengan jemari yang saling bertautan. Tampak Frizy sedang duduk di tepi kolam dengan segelas wine di tangan nya, sedang kan Nania beserta Gaftan dan lain nya sedang sibuk memanggang barbeque.
__ADS_1
Awal nya Frizy enggan untuk datang, namun dengan paksaan Nania di tambah dengan Gaftan yang terus merecoki nya, ia pun menyetujui permintaan mereka. Dan seperti yang terlihat Frizy memilih menyendiri di tepian kolam tanpa harus terlibat dengan pesta barbeque.
Kedatangan mereka pun di sambut bahagia oleh Nania dan lain nya, melihat kedatangan Malfin beserta Dena, tampak Frizy menaikan ujung bibir nya, ia merasa bahagia melihat kedua sahabat nya bersatu kembali namun ia masih enggan untuk menengur Malfin terlebih dahulu.
Setelah saling berpelukan satu sama lain, Malfin pun meninggal kan Dena bersama Nania yang sudah asik berbincang, ia pun berjalan menghampiri Frizy yang tampak sibuk dengan ponsel nya.
"Maaf." hanya satu kata itu yang terucap saat Malfin sudah berdiri di belakang Frizy.
Frizy masih diam dan terus membelakangi Malfin. Malfin pun tak menyerah, kini ia sudah berdiri di samping Frizy sembari merangkul pundak pria yang masih enggan untuk berbicara dengan nya.
"Ok, gue tau gue udah salah. Maka dari itu gue mau minta maaf. Tuan Walfrizy maaf kan sahabat bejat mu ini." ucap Malfin dengan nada manja. Hanya itu cara yang ampuh ketika meminta maaf kepada sahabat nya.
Frizy merasa geli dengan ucapan manja Malfin, ia pun menyikut perut Malfin hingga sang empuh meringgis kesakitan.
"Sejak bersahabatan dengan kalian." balas Malfin polos, sedetik kemudian kedua nya pun tertawa dan berhasil menarik perhatian Dena dan lain nya, kedua nya pun saling berpelukan. Tampak Gaftan, Ray dan Leon berlari ke arah mereka. Kelima nya pun saling berpelukan. Dena beserta Nania tersenyum bahagia melihat kekompakan mereka.
Suasana di Villa itu sangat lah dingin, dengan pakaian yang di pakai Dena, beberapa kali ia mengusap lengan nya. Menyadari itu Malfin pun beranjak meninggal kan para sahabat nya dan berjalan menuju sang kekasih hati. Dengan sigap, Malfin pun melepas kan jas yang di kenakana nya dan memakai kan jas tersebut kepada Dena.
"Maafin aku ya, aku melupakan mu dan asik bercengkrama bersama mereka." bisik Malfin saat memeluk Dena dari belakang.
__ADS_1
"Gak pa-pah kok." balas Dena sembari menggusap telapak tangan Malfin dengan lembut.
Frizy, Gaftan, Leon dan Ray pun ikut bergabung bersama mereka. Pesta barbeque pun berlangsung meriah di tambah api unggun yang mulai di nyala kan oleh Ray bersama Gaftan.
"Kapan kalian nikah?" pertanyaan Frizy itu pun sontak mengalih kan kesibukan Gaftan dan lain nya.
"Lusa nanti, dan aku berharap kalian semua ikut andil dalam persiapan pernikahan kami." jawab Dena dengan wajah berbinar.
"What? secepat itu!" teriak Gaftan menggelengar di depan api unggun.
"Biasa aja keles!" ketus Nania dengan kedua tangan yang menutupi telinga nya.
"Kok loh yang nyolot, gue kan gak ngomong sama lo." kesal Gaftan dengan sikap Nania yang menurut nya terlalu sensi saat ia berbicara.
"Emang gue budek, gak kan. Maka nya kalau ngomong itu suara nya di turunin saru octaf biar gendang telinga kami gak rusak mendengar suara cempreng mu." balas Nania tak mau kalah dengan Gaftan. Ya, kedua nya selalu adu mulut saat berbeda pendapat, dan semua nya hanya mampu geleng-geleng kepala saat kedua nya saling melempar cemohan.
"Jangan terlalu benci, bisa-bisa benci jadi menimbul kan cinta." seru Ray dengan seutas senyum.
"Ongah! gini-gini gue udah punya tambatan hati yang jauh lebih tampan dari nya." tolak Nania cepat. Meski ia tidak menunjuk kan rasa ketertarikan nya kepada Gaftan.
__ADS_1
"Siapa juga yang bakalan jatuh cinta sama gadis bar-bar kayak dia." balas Gaftan tak mau kalah, meski sebenar nya ia sudah menaruh hati kepada adik sahabat nya ini, namun ia gengsi jika harus mengungkap kan perasaan nya, ia takut jika Nania akan menolak pernyataan cinta nya, mengingat umur nya yang terpaut beberapa tahun lebih tua. Dan alhasil perkataan Nania membuat ia sakit hati, ternyata cinta nya hanyalah cinta sepihak.
"Stop! kalian seperti anak kecil saja." kesal Frizy saat melihat ke engganan dari kedua nya untuk berhenti berdebat. Frizy cukup peka dengan perasaan Gaftan, ia pun dapat melihat perubahan raut wajah sang sahabat saat sang adik memprovokasi nya.