
Di kediaman nya, saat pulang Ang Cheng melempar seluruh barang. Meja, kursi semua terpelanting bahkan semua barang kecil-kecil berserakan di lantai. Para pelayan tak ada yang berani mendekat, termasuk Li Mei yang sudah merasakan amarah Ang Cheng di dalam mobil. Saat di dalam mobil Li Mei membuka mulut untuk bicara, Ang Cheng bahkan langsung mencekiknya.
Li Mei sedang di kamarnya mengunci pintu, Ang Cheng sedang menggila. Sementara ini ia tak ingin menampakkan diri di depan pria itu. Li Mei duduk di depan cermin, memeriksa bekas cekikan pria itu di sekitar lehernya. "Pria gila! Pasti Yu Jie mengatakan sesuatu yang membuatnya marah! Wanita brengsek!"
Li Mei mengambil ponsel menelepon Ibunya, "Halo Mah, tak bisakah Mama coba bunuh Yu Jie lagi! Aku muak dengan sikap Ang Cheng! Bahkan kemarin Ibu nya datang kesini dan bersikap dingin padaku. Dia mengatakan hanya akan menerima anak dalam kandungan ku jika memang ini anak Ang Cheng, tapi keluarga Lim tak akan pernah menerima ku menjadi menantu mereka! Apa ini masuk akal?! Kenapa keluarga itu tak mau menerimaku?!"
"Sabar lah dengan keluarga Lim, kamu tau Mama bukan pewaris dari keluarga Chu. Ada Paman mu yang menjadi pewaris Perusahaan, jadi kamu harus melahirkan seorang anak untuk keluarga Lim agar anakmu menjadi pewaris keluarga Ang Cheng. Selama ini kamu selalu bisa bersikap manis di depan Ang Cheng, kamu sudah berhasil mengambil hatinya. Tapi karena Yu Jie berubah drastis, mungkin itu tantangan bagi Ang Cheng sebagai lelaki. Perasaan Ang Cheng pada Yu Jie bukan cinta, itu hanya perasaan ingin menaklukkan. Kamu masih mempunyai kesempatan, Mama yakin setelah anak itu lahir keluarga Lim dan Ang Cheng akan berbalik berterima kasih padamu. Tahan saja dan bersikap baik! Mengerti!"
Tuttt....
Li Mei meremas ponsel dalam genggaman nya, selama ini ia selalu bersikap manis dan baik di depan Ang Cheng sampai mendapatkan hati pria itu. Namun, kini dia tak ingin bersikap baik lagi apalagi Ang Cheng sudah berbuat kasar padanya. Apanya yang harus tahan dan bersikap baik?!
"Tapi, apa yang bisa aku lakukan?" gumam nya pada diri sendiri dalam pantulan cermin.
.
.
.
Lain lagi di kediaman besar perserikatan timur, Guan Lin sedang di ruangan pribadinya. Menggoyang - goyangkan gelas berisi wiski, pikiran nya masih tertuju pada Yu Jie. Itu pertama kalinya dia tertarik pada wanita, namun sayang dia malah tertarik pada wanita bersuami.
__ADS_1
"Hhhhh... sayang sekali," Guan Lin meneguk minuman nya.
Tok.
Tok
Tok.
"Kak Guan, ini aku."
"Masuklah, pintu tidak dikunci."
Ceklek.
"Ada apa?" tanya Guan Lin tanpa berbalik pada adiknya.
"Kakak mengenal Nona Zhu? Sepertinya tadi bukan yang pertama kali kalian berdua bertemu saat aku kenalkan," ujar Jia Chan.
"Pertama bertemu kami hanya terjebak dalan situasi tak mengenakkan, jadi tadi aku minta maaf padanya."
"Itu lah yang aku heran, kak Guan tak pernah meminta maaf pada orang lain bahkan pada Ayah sekali pun." Jia Chan sampai dibuat terkejut saat di acara.
__ADS_1
"Benarkah? Aku? Hm, kenapa aku tak pernah meminta maaf pada orang lain?" Guan Lin malah bertanya balik.
"Kakak! Kamu! Terus saja dengan pura-pura mu! Huh!" kesal Jia Chan.
"Apa dia benar-benar sudah menikah?" akhirnya pertanyaan Guan Lin membuat sudut bibir Jia Chan tertarik ke atas.
Nah benar kan! Kakakku tertarik pada Yu Jie! Aku harus mencari tau tentang Yu Jie! Mungkin saja di masa depan Yu Jie akan menjadi kakak iparku!
"Apa dia cantik?" pancing Jia Chan.
"Hm." Guan Lin hanya bergumam.
"Apa dia tipe kakak?"
"Hm."
"Kalau bukan tipe kakak, boleh aku menyukainya?"
Akhirnya Guan Lin menoleh pada Jia Chan, tatapan mata Guan Lin pada adiknya itu tak bisa diartikan. Tiba - tiba mata Guan Lin menyipit, "Mati saja!"
Hening!
__ADS_1
"Hahahaha... ternyata Yu Jie sudah berhasil mencuri hatimu, Kak! Astaga! Daebak!" Jia Chan berseru histeris bahkan ucapan nya bercampur bahasa korsel. Pemuda itu lebih bersemangat lagi untuk mencari informasi tentang Yu Jie, dia secepat kilat berlari keluar dari ruangan pribadi sang kakak.