Dewi Seribu Jarum

Dewi Seribu Jarum
Bab 61 - Kamu Lah Pemenangnya.


__ADS_3

Lien Hua meradang, melihat Hao Yu malah mendekat ke arah Yu Jie. Ia melirik ke arah sang kakak, Xingsheng yang tengah menatap dengan tatapan berbinar pada arah Yu Jie.


"Kenapa diam berdiri disana, Kak? Kau pergilah juga mendekati wanita angkuh itu! Bukankah tujuh tahun lalu kau bilang menyukai Yu Jie yang berpenampilan baru!" suara Lien Hua meninggi, semua orang menoleh ke arah wanita itu.


Xingsheng mengerutkan kening mendengar teriakan adik perempuannya, dia memang pernah mengatakan menyukai penampilan Yu Jie tujuh tahun lalu setelah tak sengaja bertemu di club. Lalu tak lama kabar tentang kecelakaan mobil yang menimpa Yu Jie terdengar, tiga tahun lalu seseorang mendatanginya dan mengatakan semua itu adalah ulah adiknya Lien Hua serta Ming Na dan juga Fen Lian serta kakak Fen Lian. Lelaki itu adalah yang kini ada dirumahnya, yang terduduk di kursi roda.


"Jaga mulutmu, Lien Hua! Kau lancang bicara seperti itu padaku!" bentak Xingsheng, meskipun jujur ada suatu debaran yang tak ia mengerti saat melihat Yu Jie kembali. Apalagi tubuh kecil Yu Jie kini berisi dimana-mana terutama di bagian dada.


Astaga! Apa yang aku pikirkan. Pikir Xingsheng. Dia lalu menoleh ke arah To Mu, pria yang ia segani. "Maaf, Tuan To Mu. Apa yang diucapkan adikku hanya omong kosong. Aku tidak ada perasaan apapun pada istrimu, astaga! Maksudku, pada Yu Jie."


"Istri?!" Kini dua orang berteriak kaget, Hao Yu serta Ang Cheng.


Guan yang terpancing emosinya, segera merangkul pinggang Yu Jie memperlihatkan kepemilikannya. "Kalian bodoh! Dia bukan istri siapapun, dia masih kekasihku!" celetuknya pada dua pria yang masih terkejut kembali dikejutkan dengan perilaku dan ucapan Guan.


Ang Cheng dan Hao Yu terus menatap Guan dan To Mu bergantian, benar-benar tidak tahu cerita sesungguhnya.


"Sudahlah!" Yu Jie angkat bicara. "Kenapa kamu datang kesini, Guan. Kamu juga, To Mu. Aku sudah bilang pada kalian, aku akan baik-baik saja dan bisa menyelesaikan dendamku pada mereka!" kesalnya menatap Guan dan To Mu bergantian.


"Aku sudah berjanji, sedikit saja kamu dalam bahaya aku pasti akan datang padamu." Guan semakin mengeratkan pelukan di pinggang Yu Jie karena semua mata pria di ruangan kurang ajjar terus menatap Yu Jie.


"Hhhh..." Yu Jie menghela nafas. "Kamu, To Mu? Kenapa datang?"


"Aku hanya ingin memperingatkan Tuan Xingsheng, saat anak buahku mengatakan semua dalang pembunuhan mu ada disini. Aku tadinya akan bertemu Yang Yang, tapi aku memutar arah datang kesini. Jangan marah, ya." Wajah To Mu begitu lembut jika berhadapan dengan Yu Jie, berbanding terbalik dengan Guan yang selalu berwajah keras karena tersulut emosi.


Yu Jie memijit kepalanya, "Lalu, apa yang ingin kalian lakukan sekarang? Aku masih belum selesai dengan mereka bertiga." Yu Jie mengarahkan tatapan bencinya pada Ming Na, Lien Hua serta Fen Lian.


"Tunggu! Apa maksudnya dalang pembunuhan Yu Jie? Siapa orangnya?" Hao Yu ikut angkat bicara.


"Hao Yu... menurutmu kenapa aku datang kesini dan menemui tunangan tercintamu, Lien Hua?" jawab Yu Jie tak ingin lagi menutupi.


"Lancang kau Yu Jie! Apa kau ingin memfitnahku?!" Lien Hua maju, namun lengannya ditahan Xingsheng. "Lepaskan Kak! Aku akan menghajar wanita itu karena mulutnya berani berbohong di depan calon suamiku!" Lien Hua memberontak.


Sedangkan Yu Jie menoleh ke arah Ang Cheng, lantas mencoba melepaskan pelukan Guan dari tubuhnya. "Guan, sebentar. Aku harus bicara dengan Ang Cheng, bagaimana pun aku tidak ingin hati Ang Bei terluka. Biarkan Ang Cheng sebagai kakaknya menyadarkan adiknya," ijin Yu Jie melihat betapa posesifnya Guan.


Guan menggeram tidak ingin melepaskan Yu Jie, namun tatapan Yu Jie yang tegas membuatnya menurunkan egonya. "Baik, sebentar saja." Ucapnya seraya melepaskan pelukan.


Yu Jie mengangguk. "To Mu, kamu selesaikan urusan mu dengan Xingsheng lalu tunggu aku di kediaman Papaku. Yang Yang pasti senang bertemu denganmu," Yu Jie ingin satu-persatu orang-orang yang kini berada disana segera pergi.


"Baik." To Mu hanya mengangguk menurut.


"Ang Cheng, pergi keluar denganku."

__ADS_1


Tanpa banyak tanya Ang Cheng mengikuti langkah Yu Jie keluar ruangan mungkin menuju keluar rumah.


Setelah kepergian Yu Jie, To Mu mendekatkan kursi rodanya pada Xingsheng.


"Tuan Xingsheng tidak lupa perjanjian kita, bukan?" tanya pria di kursi roda itu.


"Tentu, makanya aku menahan adikku saat dia ingin menyerang istrimu." Jawab Xingsheng.


Kepala To Mu menggeleng. "Pernikahan kami hanya palsu, dia bukan istriku. Yu Jie sudah kembali pada kekasihnya, Tuan Guan."


"Oh." Xingsheng tidak tau harus merespons seperti apa.


"Sebenarnya Yu Jie datang kesini untuk membuat perhitungan dengan adikmu, apa kamu akan menghalangi Yu Jie?" tanya To Mu dengan nada santai namun tersenyum dingin.


Xingsheng menghela nafas, "Aku akan menepati perjanjian kita, apapun yang akan Yu Jie lakukan pada adikku... aku tidak akan ikut campur. Bahkan jika Yu Jie menginginkan nyawa adikku," setelah mengatakannya Xingsheng berbalik pergi meninggalkan ruangan.


Setelah merasa puas dengan jawaban Xingsheng, To Mu memutar kursi roda bersiap pergi dari sana. Namun, kursi rodanya tertahan saat mengingat sosok wanita yang pernah mengisi hidupnya. Jing Mi. Tetapi, To Mu memutuskan tak ingin terlibat urusan apapun lagi dengan mantan nya itu dan berlalu pergi keluar dari sana.


Mata semua orang masih terbelalak, apalagi tubuh Lien Hua mematung setelah mendengar kakaknya sendiri tak akan ikut campur meskipun Yu Jie meminta nyawanya. Apa-apaan itu!


"Kak Xingsheng!" Lien Hua ingin berlari menyusul sang kakak, namun ditahan oleh Hao Yu.


"Sakit... Hao Yu lepaskan!" lirih Lien Hua.


"Katakan dulu kebenarannya!" Hao Yu tetap mencekal lengan Lien Hua tanpa ada rasa iba.


"Ya! Aku ikut mendalangi kecelakaan mobil Yu Jie, aku ingin membunuhnya karena kamu tergila-gila padanya! Padahal saat itu aku sudah jujur akan perasaanku padamu, Hao Yu. Tapi, kau menolak ku dan malah menculik orang demi bisa bersama Yu Jie! Aku membenci wanita brengsekk itu! Aku ingin dia mati!"


Akhirnya cekalan tangan Hao Yu terlepas dari lengan Lien Hua, rasa shock serasa mengiris hati. Jadi kecelakaan naas yang terjadi pada Yu Jie, dirinya ikut andil karena menjadi alasan dasar dari percobaan pembunuhan itu. Karena dirinya... Yu Jie bahkan menghilang selama tujuh tahun, apakah selama itu juga Yu Jie kesakitan?


"Tidak! Yu Jie... maafkan aku. Oh tidak..." tanpa malu Hao Yu meneteskan airmata menyesal, andaikan dia tidak berbuat gila mungkin Yu Jie tidak akan mendatanginya saat itu dan usaha pembunuhan tidak akan terjadi setelah pertemuan mereka. "Kau! Wanita kejam yang pernah aku temui, Lien Hua! Aku tak sudi harus mendapatkan pasangan hidup sepertimu! Aku memutuskan pertunangan kita! Jangan lagi datang padaku apalagi mendekatiku, wanita keji!" teriak Hao Yu seraya membalikkan tubuh untuk pergi dari sana.


"Tidak! Hao Yu! Jangan pergi! Kembali!" Lien Hua berlari mengejar tak ingin kehilangan lelaki yang sudah sangat ia cintai.


Diluar Guan berdiri tak jauh dari Yu Jie yang masih berbicara dengan Ang Cheng, sedangkan To Mu sudah pergi setelah berpamitan pada Yu Jie.


"Ang Cheng, kau mengerti apa yang aku katakan. Ini adalah pen perekam, sepenuhnya kamu akan mengerti dengan mendengar percakapan ku tadi dengan Lien Hua. Aku harap, meskipun kamu gagal menjadi seorang suami tapi jangan gagal sebagai seorang kakak. Bujuk dan obati hati Ang Bei. Dia pasti akan terluka, jadilah kakak yang selalu berada di sampingnya." Yu Jie lalu memberikan pen perekam itu pada Ang Cheng.


"Aku mengerti, terima kasih. Kamu sepertinya banyak masalah, tapi masih memikirkan keluargaku. Aku semakin berhutang maaf padamu," jawab Ang Cheng.


"Ang Cheng, lepaskan semuanya tentang aku dan kamu. Aku dengar kamu belum juga menikah, kenapa?"

__ADS_1


Ang Cheng tersenyum masam. "Karena belum menemukan wanita sehebat kamu," jujurnya.


"Aku bukan wanita hebat, aku hanya wanita biasa yang sudah melupakan sakit hatinya karena mu. Jadi, tentukan jalanmu mulai sekarang. Awali dengan merangkul adikmu, lalu menata hidupmu sendiri."


"Yu Jie..." Ang Cheng menelan ludah, ingin sekali memeluk Yu Jie sekali saja namun tatapan maut yang diberikan Guan padanya menciutkan keinginannya. "Baik, aku akan mendengarkan mu. Kamu juga berbahagialah, dengan siapapun kamu bersama nantinya."


"Ya." Jawab Yu Jie singkat untuk mengakhiri obrolan mereka.


"Kalau begitu aku pergi, sepertinya membicarakan bisnis dengan Xingsheng juga situasi tidak memungkinkan. Aku pergi, jaga dirimu." Ang Cheng tersenyum sekilas lalu membalikkan tubuh pergi dari sana.


"Hhhhhh..." baru saja Yu Jie menghela nafas, sosok Hao Yu yang tergesa-gesa keluar dengan diiringi teriakan Lien Hua membuatnya seketika menghirup nafas banyak-banyak. "Masalah lainnya." Lirihnya.


"Yu Jie, aku minta maaf. Aku..." masih dengan air mata yang menggenang di mata bahkan ada bekas air mata di pipi Hao Yu, lelaki itu tanpa malu bersujud di hadapan Yu Jie meminta ampunan.


"Ada apa ini?" Yu Jie menatap ke bawah, tatapan sedih Hao Yu sebenarnya sudah bisa tertebak apa yang sedang terjadi. Sepertinya Hao Yu sudah mengetahui kebusukan Lien Hua.


"Semua kecelakaan yang menimpamu adalah karena aku, aku sangat menyesal. Jika saja aku tidak menculik adik Guan waktu itu, kamu... k-kamu tidak perlu--"


"Semua sudah terjadi Hao Yu, lagipula aku sudah mengatakan kamu adalah saudaraku. Aku sudah lama memaafkan mu, aku banyak berhutang budi padamu jadi anggap saja kita impas. Jangan begini, berdirilah. Kamu seorang pria, tak pantas merendah seperti ini."


"HAO YU! Apa yang kamu lakukan di hadapan wanita muraahhan ini?! Kau tidak punya harga diri?!" Lien Hua menyentak kakinya kesal namun wanita itu tak berani mendekat.


Hao Yu dibantu Yu Jie akhirnya berdiri dari sujudnya, dia menoleh penuh benci pada Lien Hua. " Kau yang wanita murrahhan! Wanita keji! Wanita tak bermoral! Beraninya mencoba membunuh Yu Jie! Bagaimanapun kau bersikap manis selama ini padaku, yang aku rasakan hanyalah rasa jijik! Untung saja kedokmu sudah terbongkar sebelum kita menikah! Aku juga tadi mendengar kau sering berhubungan dengan Ang Bei selama ini! Dasar wanita jallang hina!"


"Hao Yu, pergilah. Tenangkan dirimu," Yu Jie mengelus pelan pundak Hao Yu.


"Jauhkan tanganmu dari calon suamiku!" Lien Hua tetap tidak terima Hao Yu memutuskan nya dan tetap cemburu.


"Huh! Tak tau diri!" geram Hao Yu menatap jijik Lien Hua, lantas ia menatap Yu Jie. "Yu Jie, aku akan pergi sekarang karena muak melihat wajah wanita menjijikkan itu! Aku ingin menemui mu lagi untuk meminta maaf secara benar, tentu saja seijin Guan. Aku kini mengerti, ternyata aku bukan lelaki baik untukmu."


Sepergi Hao Yu, Lien Hua masuk ke dalam dengan rasa benci dan dendam baru. Yu Jie mendekati satu pria yang masih tinggal disana dengan wajah yang sudah sangat buruk karena cemburu. "Kamu bicara dengan tiga lelaki yang sama-sama masih mempunyai perasaan padamu. Aku disini menjadi patung yang hanya bisa diam meredam amarah dan cemburuku. Sekarang, kamu sudah puas--"


Perkataan kesal Guan terpotong tatkala cumbuan Yu Jie pada bibirnya. Menyesap dalam untuk meredakan amarah Guan, tak lama Yu Jie melepaskan pagutan bibirnya. "Sayang, meskipun banyak lelaki menaruh rasa padaku. Namun, tetap kamu lah pemenangnya. Apa itu masih kurang? Apa aku harus dipenjara di rumah agar tidak bertemu mereka? Itu maumu? Mengurungku dengan cinta dan cemburu mu?"


Saat mendengar jika dia lah pemenangnya, amarah Guan lenyap begitu saja. Senyum di bibirnya mengembang memperlihatkan betapa bahagia wanita sehebat Yu Jie memilihnya. "Aku tau, makasih sayang." Sekali lagi kedua bibir sepasang kekasih itu menyatu, sebelum akhirnya Yu Jie kembali ke dalam ruangan untuk menuntaskan tujuan nya datang namun malah terganggu karena kedatangan semua orang.


"Haocun, Jiao Long! Bawa Lien Hua dan Ming Na! Bawa ke laboratorium! Tahan mereka disana, biarkan mereka kelaparan disana sebelum aku menyiksa mereka!" perintah Yu Jie, kini tak ada lagi ganjalan di hatinya karena Hao Yu sudah memutuskan pertunangan dengan Lien Hua. Ia bisa melakukan apapun pada Lien Hua apalagi Ming Na. Sedangkan Fen Lian, dia akan menghadapi wanita itu dengan cara yang lain.


"TIDAAK!!! Apa yang kalian lakukan! Lepaskan!!! Xingsheng! Tolong kami... !!!" teriak Ming Na dan Lien Hua saat diseret pergi dari kediaman itu, bahkan teriakan mereka tak digubris oleh Xingsheng.


Kini hanya sosok Fen Lian, Li Mei dan Jing Mi yang ada di ruangan. Tak lama kemudian, Fen Lian pun pergi dari sana disertai amarah dan kebencian yang semaki besar pada Yu Jie.

__ADS_1


__ADS_2