
Tok.
Tok.
Tok.
"Bu, ini saya," suara sekretarisnya.
Suara ketukan di pintu menginterupsi ajakan kedua pria di dalam sambungan telepon, dengan cepat Yu Jie mengambil kesempatan.
"Masuk, Jing Yi." Ujar Yu Jie sengaja dengan suara keras agar terdengar jelas oleh Hao Yu.
"Maaf Hao Yu, aku masih sibuk nanti aku kasih kabar." Yu Jie mematikan sambungan dengan Hao Yu, lalu membuka sambungan yang masih terjeda dengan Guan Lin. " Guan, aku masih ada pekerjaan, tunggu kabar dariku. Oke."
"Jie Jie! Tunggu--"
Yu Jie mematikan sambungan, "Hhhhh... kenapa aku merasa tak enak hati pada keduanya. Ya Tuhan! Tidak mungkin aku mempunyai perasaan pada keduanya, bukan? Kenapa sangat sulit menjawab salah satu dari mereka berdua." Yu Jie terus mendumel, terlebih kesal pada dirinya sendiri.
"Bu," panggil Jing Yi.
Yu Jie tersadar, sepersekian detik lalu ia lupa ada orang lain di ruangan nya dan malah terus berbicara sendiri. "Ekhm... ya, Jing Yi. Ada apa?"
"Dari pihak 9 rumah sakit, terus menghubungi. Mereka mengatakan sangat membutuhkan antivirus dan vaksin lagi. Beberapa pasien berdatangan, juga orang-orang yang ingin di vaksin dan itu masih sama dari kalangan menengah ke bawah. Mereka menanyakan, apa Anda masih bisa menyuplai vaksin dan antivirus?" ujar Jing Yi.
Ya. Beberapa hari lalu Yu Jie memberikan antivirus ke beberapa rumah sakit, ia memberikan antivirus dan vaksin yang sudah diakui badan pengawas dengan bantuan Tuan Wan Xue. Yu Jie memberikan secara cuma-cuma pada pihak rumah sakit dengan syarat yang bisa mendapatkan nya adalah kalangan menengah ke bawah. Sedangkan pasien-pasien yang mampu harus membayar pada pihak rumah sakit dan dia mengambil komisi tiga puluh persen dari penjualan untuk memberikan bonus pada staff di laboratorium. Kesepakatan terjalin dengan syarat lain jika pihak rumah sakit melanggar dengan memperjual belikan pada kalangan tengah ke bawah tanpa gratis, maka Yu Jie tidak akan menyuplai lagi untuk kalangan atas yang menjadi pasien di rumah sakit. Itu saling menguntungkan, jadi pihak rumah sakit belum ada yang berani melakukan kecurangan. Jika pun ada staff rumah sakit yang melakukan kecurangan, atasan mereka akan memberi skorsing pada orang itu.
"Aku akan menelepon pihak Lab, atau aku akan memeriksa nya dengan datang kesana langsung jika aku tidak ada jadwal. Apa aku ada jadwal pertemuan lain?" tanya Yu Jie.
Karena masalah virus yang menyerang dan semua orang sudah mengetahui jika hanya laboratorium Perusahaan Yu Jie yang mengeluarkan vaksin dan antivirus, hampir setiap hari jadwal Yu Jie padat karena beberapa orang ingin bertemu. Namun, karena Yu Jie sudah bersepakat lebih dulu dengan Tuan Wan Xue akhirnya ia menolak dari pihak lain yang menawarkan pembelian meskipun kesepakatan dengan bayaran yang menggiurkan. Ia tak ingin mengecewakan dan melanggar janji pada Tuan Wan Xue. Sedangkan pernjanjian nya dengan pihak rumah sakit, sudah disetujui oleh Tuan Wan Xue asalkan pemberian vaksin dan antivirus pada Tuan Wan Xue tetap terpenuhi sampai batas yang sudah ditentukan. Sekarang tinggal 30 persen lagi dia harus memenuhi pemberian vaksin pada pihak Tuan Wan Xue, beberapa orang yang ia percaya bekerja di laboratorium sedang mengerjakan nya.
"Jadwal Anda seperti biasa, beberapa pihak ingin bertemu tapi sesuai perintah Anda saya memberikan alasan yang sama menolak pertemuan. Jadi, Anda bisa pergi ke laboratorium."
"Hm, baik. Kamu juga jika sudah waktunya... maka pulang lah. Hari ini aku tidak akan kembali ke Perusahaan," Yu Jie bangun dari kursi kerjanya merapikan pakaian yang ia kenakan, lalu merapikan barang - barang pribadinya.
Yu Jie menempatkan Jiao Long di laboratorium, karena dia mempercayai jika bawahan Tuan Wan Xue itu akan menjaga laboratorium dengan baik. Ia hanya meminta dua orang pengawal tetap di sisinya dan pengawal tambahan yang diberikan Tuan Wan Xue ia tempatkan di laboratorium bersama Jiao Long.
"Nona Zhu," diluar gedung Perusahaan seorang pengawal membuka pintu mobil saat Yu Jie sudah mendekat ke mobil. Namun, baru saja Yu Jie akan masuk sebuah peluru menyerempet lengan nya.
"Argh!" Yu Jie seketika menempelkan tubuhnya ke samping mobil menyembunyikan tubuh nya disana seraya memegangi lengan nya yang berdarah terkena serempetan peluru.
Pengawal Yu Jie ikut melindungi tubuh di balik mobil, ia mencari darimana arah tembakan, "Maaf Nona, saya terlambat menyadari musuh."
"Fokus saja pada si penembak, dari arah mana peluru itu datang." Yu Jie menahan rasa perihnya, ia mengeluarkan kotak jarum lalu menancapkan di titik yang bisa mengurangi rasa sakit.
Si Pengawal memantau keberadaan penembak, pengawal satunya berlindung di dinding Perusahaan. Untung saja suasana di depan Perusahaan sepi, hanya beberapa sekuriti yang ketakutan mendengar suara tembakan dan sudah lari terbirit-birit untuk bersembunyi.
"Arah tembakan dari mobil yang melaju pergi, aku yakin." Satu pengawal yang berlindung di dinding seraya memperhatikan sekitar bicara dengan yakin melalui earphone antar pengawal.
"Oke." Satu pengawal yang bersama Yu Jie menoleh pada Yu Jie. " Nona, situasi aman. Anda ingin pergi ke rumah sakit?"
"Tidak perlu, aku bisa obati lukaku di laboratorium. Kita akan ke Lab, telepon lebih dulu Jiao Long. Katakan padanya untuk waspada, perketat keamanan di Lab. Sepertinya penyerangan padaku berhubungan dengan vaksin." Perintah Yu Jie.
"Baik, Nona. Masuk lah, mobil ini aman karena aku selalu berada di dekat mobil."
"Ayo kita segera berangkat, waspada juga di jalan." Yu Jie masuk ke dalam mobil, tak lama pengawal membawa mobil pergi dari Perusahaan.
Di jalan menuju laboratorium untung saja tak ada lagi penyerangan, saat mobil berhenti di depan gedung laboratorium Yu Jie keluar dari mobil dengan menekan darah di lengan nya.
__ADS_1
"Nona Zhu!" teriak Jiao Long berlari mendekat, "Haocun sudah menelepon ku, mari saya bantu." Jiao Long memapah Yu Jie masuk ke dalam menuju ruangan pribadi Yu Jie.
"Aku bisa mengobati luka ku sendiri, kamu pergilah ke Perusahaan dan periksa rekaman CCTV. Aku akan menelepon pengawas CCTV, pergilah." Yu Jie ingin mengetahui siapa dalang penyerangan nya.
"Tapi, Anda..."
"Aku tidak apa-apa, pergilah."
"Baik."
Di perjalanan menuju Perusahaan Jiao Long menelepon Tuan Wan Xue, lalu menelepon Tuan Mudanya Guan Lin.
"Haocun, masuklah." Panggil Yu Jie.
"Ya, Nona. Apa ingin saya bantu mengobati lengan Anda," tawar Haocun.
"Tidak usah, aku ingin kamu menelepon para pengawal di kediaman Zhu. Aku ingin tau keadaan Papaku."
"Baik."
Haocun mengambil ponsel lalu menelepon sesama rekan pengawal, ia mengangguk lalu berbicara memberi pengarahan sebentar kemudian mematikan sambungan.
"Nona Zhu, semua aman. Saya juga sudah menyuruh yang lain memperketat keamanan, saya akan menelepon Tuan Wan Xue untuk memberikan lebih banyak pengawal ke kediaman Zhu kalau Anda masih khawatir."
"15 pengawal di kediaman Zhu, aku rasa itu cukup. Tidak apa-apa, jangan merepotkan Tuan Wan Xue. Sekarang tolong ambilkan kotak medis, aku akan membersihkan luka ku."
Haocun menurut setelah memberikan kotak medis, ia segera keluar menjaga pintu.
Sekitar 10 menit Yu Jie sudah selesai membersihkan luka dan mengobati ya tapi ia masih berkutat dengan perban.
BRAKKK!
"Kamu! Kamu tidak apa-apa?!" Guan Lin menyerbu masuk, setengah berlari mendekati Yu Jie kedua tangan nya menangkup wajah Yu Jie memeriksa jika ada luka disana, lalu matanya menatap perban putih yang masih belum selesai membalut luka, darah merah menembus perban itu.
"Kamu melakukan ini sendiri? Jie Jie! Aku tau kamu wanita mandiri tapi tak bisakah kamu lebih memperhatikan dirimu sendiri! Minta bantuan para pengawal, tidak! Perintah saja mereka atau minta bantuan pada orang lain! Kenapa kamu selalu melakukannya sendiri?! Bisakah kamu sedikit saja mengandalkan orang lain, andalkan aku juga. Aku ingin kamu mengandalkan ku, begitu payah kah aku di matamu?" Dengan suara keras dan kata-kata yang tak mengenakkan, Guan Lin merebut perban dari tangan Yu Jie lalu mulai membalut luka di lengan kiri Yu Jie. Wajah Guan Lin terlihat memerah karena emosi, pria itu marah karena Yu Jie terlalu memaksakan diri ingin selalu mandiri.
Bukankah para pengawal untuk melindungi dan membantunya? Kenapa wanita keras kepala ini tak meminta bantuan untuk mengurus lukanya? Geram Guan Lin.
"Selesai, aku akan terus memeriksa lukamu. Aku akan mengganti perbannya, aku juga akan selalu menempel padamu mulai sekarang. Istirahatlah, berbaring." Guan Lin masih tak ingin menatap Yu Jie karena kesal, dia terus berkata ketus dengan tatapan ke arah lain.
Tak ada pergerakan atau pun timpalan ucapan dari Yu Jie, akhirnya karena penasaran Guan Lin menoleh menatap wajah Yu Jie.
"Senyum? Kamu malah tersenyum?! Jie Jie!"
Cup!
Mata Guan Lin membelalak tatkala kecupan bibir Yu Jie mendarat di bibir Guan Lin.
"Sekarang jangan bawel! Pergilah tunggu diluar... mataku berat karena tadi meminum obat pereda sakit." Yu Jie mengatur posisi untuk berbaring, kepalanya kini menyentuh bantal. "Bangunkan aku satu jam lagi, aku harus memeriksa persediaan vaksin. Aku... ahhh..." mata Yu Jie terasa berat, ia memejamkan matanya.
Guan Lin masih tak bergerak di tepi ranjang, jemarinya naik ke bibirnya meraba bekas ciuman Yu Jie padanya barusan.
Apa ini mimpi? Guan Lin masih meraba bibirnya, merasa tak yakin Yu Jie mencium nya.
"Jie Jie, jangan tidur dulu. Jelaskan apa yang kamu lakukan barusan padaku... Jie Jie..." Guan Lin membenarkan rambut Yu Jie yang menghalangi wajah wanita itu lalu menyelipkan ke belakang telinga, telapak tangan besarnya mengelus kepala Yu Jie.
"Jie Jie..." panggil Guan Lin sekali lagi.
__ADS_1
"Aku mencium bibirmu Guan... puas. Sekarang biarkan aku tidur..." gumam Yu Jie dengan mata terpejam.
"Kamu menyukaiku?" Guan Lin tak mau mendengarkan Yu Jie dan masih mengganggunya, ia merasa akan mati saat menunggu kejelasan karena jantungnya berdebar hebat.
"Hm, ya..." Yu Jie masih menjawab.
"Kamu menerimaku jadi kekasihmu, sekarang kita sepasang kekasih?" sekali lagi Guan Lin bertanya, ia takut semua yang dilakukan Yu Jie saat ini hanya karena efek obat. "Kamu bicara dengan sadar, bukan karena pengaruh obat kan?"
"Ya..."
"Jawab dulu, apa sekarang aku diterima jadi kekasihmu?" desak Guan Lin.
Mata terpejam Yu Jie terbuka, meskipun mengantuk ia memaksakan membuka matanya. "Aku menerima mu, Guan... Aku menyukaimu, Guan. Sekarang kita bisa menjadi sepasang kekasih, sekarang kamu adalah milikku dan aku adalah milikmu. Puas--hmppt!"
Tanpa ragu lagi Guan Lin menerjang bibir Yu Jie, awalnya hanya mengecap bibir Yu Jie tapi ia merasa tak puas. Lidah Guan Lin menerobos masuk, mencari lidah Yu Jie saat menemukan nya ia memmbeelit lidah Yu Jie membuat setiap sel-sel tubuhnya memberontak.
"Ahhhh..." suara errangan Yu Jie lolos dari bibirnya saat Guan Lin melonggarkan pagutan nya. "Guan... cukup... ini terlalu cepat untuk kita."
Nafas Guan Lin memburu, Yu Jie benar kegiatan mereka kini terlalu cepat dan membahayakan apalagi Yu Jie sedang terluka. "Hhhh... aku terlalu senang. Tidurlah, aku akan menemanimu disini. Ada aku, jangan pikirkan apapun... istirahatkan pikiran dan tubuhmu sendiri."
Sekali lagi Guan Lin mencium bibir Yu Jie itu hanya sekilas, lalu ia mengecup kening wanita yang sudah memejamkan kembali matanya itu. "Aku ada bersamamu." Bisik Guan Lin.
Bibir Yu Jie tersenyum, akhirnya tak lama kegelapan datang padanya.
"Aku yakin tidak sedang bermimpi." Guan Lin masih betah memandangi wajah tertidur Yu Jie. Jemarinya terus mengelus pipi seputih salju milik Yu Jue, ia lalu mengecup pipinya.
"Yu Jie!" sekali lagi pintu terbuka, para pengawal membiarkan Hao Yu masuk karena sudah mengenal pria itu.
"Stttt..." Guan Lin menaruh satu jarinya di depan mulut.
Hao Yu mengangguk, "Dia tidak apa-apa?"
Guan Lin dan Hao Yu sudah saling mengenal, beberapa kali berpapasan saat keduanya mengunjugi laboratorium.
"Dia tertidur karena efek obat, siapa yang menelepon mu Tuan Hao Yu?"
"Manajer Lab," jawab Hao Yu.
"Mm, begitu." Guan Lin mengangguk, dia tau Hao Yu juga menyukai Yu Jie sebab itu dia terus menggencarkan rayuan nya pada Yu Jie tak ingin kalah start atau akhirnya Yu Jie membalas perasaan Hao Yu. Kini... dia lah yang berhasil mendapatkan Yu Jie, bibirnya tersenyum.
"Kenapa kamu tersenyum, Tuan Guan. Apa ada yang lucu?"
"Tidak, hanya saja wajah Yu Jie saat tidur seperti anak kecil. Selama ini dia selalu mandiri dan tak pernah ingin merepotkan orang lain... benar-benar wanita dewasa. Namun lihatlah, bibirnya mengerucut sangat menggemaskan dan mata terpejam nya begitu terlihat damai. Menurutmu... apa sebenarnya yang dialami Yu Jie di usianya yang masih muda, kenapa dia seperti ingin terlihat dewasa? Apa karena pengkhianatan dari orang-orang sekitarnya membuatnya seperti ini?" Guan Lin tak sadar mengelus kembali pipi Yu Jie dengan punggung tangan nya.
"Tuan Guan, bisakah kamu bicara tentang Yu Jie tanpa menyentuhnya?" Hao Yu menjadi kesal melihat kelancangan Guan Lin.
"Tapi dia adalah kekasihku, bukankah aku berhak atas dirinya termasuk menyentuh nya." Dengan enteng Guan Lin mengatakan semua itu, tanpa ingin menjaga perasaan Hao Yu.
"A-apa maksudmu? Kamu... kamu..." Hao Yu tak percaya.
"Tanya saja pada Yu Jie saat dia bangun, sekarang kamu boleh menjaganya. Aku harus memeriksa vaksin, tadi Yu Jie mengatakan jika dia datang kesini ingin memeriksa persediaan vaksin. Mungkin penting, aku tidak ingin dia terlalu capek mengurus nya." Guan Lin bangun dari tepi ranjang, mendekati Hao Yu mensejajarkan dirinya dengan pria itu lalu menepuk pundak Hao Yu. "Maaf, tapi masalah perasaan tak ada yang bisa memaksakan. Jangan benci Yu Jie, jangan jauhi dia. Aku tau kamu pria baik, terima kasih disaat Yu Jie membutuhkan seseorang... kamu ada bersamanya."
Setelah mengatakan nya, Guan Lin meninggalkan Hao Yu untuk mencerna perkataan nya. Rival cinta memang sudah biasa, tapi Hao Yu adalah orang baik dan pasti Yu Jie akan kesulitan mengatakan hubungan dengan nya, jadi ia sengaja mengatakan secepatnya pada Hao Yu agar pria itu tak berharap lagi pada Yu Jie.
Tubuh Hao Yu masih berdiri di tempatnya, hatinya seketika sakit saat Guan Lin bicara. "Benarkah itu Yu Jie? Kamu dan Guan?"
Tak ada jawaban, Yu Jie masih memejamkan matanya.
__ADS_1
Hao Yu menghembuskan nafas kasarnya yang sempat tertahan, seketika dadanya sakit. Namun ia menarik kursi lalu menempatkan kursi itu di samping ranjang, dia kemudian duduk di kursi itu. Hao Yu ingin menarik tangan Yu Jie, tapi akhirnya pria itu membatalkan nya.