
Pagi hari di meja makan, wajah Li Mei sangat kusut dan muram sepertinya wanita itu masih memikirkan kejadian semalam. Merasa bermimpi buruk namun seperti nyata, mata Li Mei akhirnya menatap pada Yu Jie dengan tatapan curiga.
"Ada apa? Kenapa menatapku seperti itu?" Yu Jie berpura-pura.
"Apa kak Yu Jie datang ke kamarku tadi malam?" pancing Li Mei.
"Untuk apa?" tanya balik Yu Jie.
"Ya, Yu Jie benar. Untuk apa dia datang ke kamarmu? Kami sangat saling merindukan, karena lama terpisah. Sejak kami berdua masuk ke dalam kamar setelah menidurkan putri kami, aku maupun Yu Jie terus berada di dalam kamar kami. Kau tau lah... untuk menyalurkan kerinduan kami." Jawab Guan tanpa malu.
"Uuhuuuk!" Tuan Huang tersedak minuman.
"Maaf, calon Papa mertua. Mulutku terlalu lancang," Guan nyengir kuda.
"Sudahlah." Tuan Huang menggeleng dengan keterbukaan Guan tanpa rasa malu.
Li Mei masih curiga namun dia sendiri memang tidak pasti, karena merasa kejadian semalam hanyalah mimpi buruk belaka.
Sedangkan Yu Jie sejak Guan berbicara, wanita itu terus menahan tawa yang akan menyembur keluar dari mulutnya.
Setengah jam kemudian Yu Jie sudah dalam perjalanan untuk menemui Lien Hua ke kediaman keluarga mantan Ibu tirinya, saat fokus memikirkan rencananya ada telepon masuk. Tertera nama To Mu di layar, dia menepuk jidat karena melupakan janji akan mengobati kaki To Mu hari itu.
"Ya,To Mu."
"Kamu tidak lupa janjimu, bukan? Aku juga sudah merindukan Yang Yang, aku menyuruh koki memasak kesukaan Yang Yang dan kamu."
"I-itu, bisakah aku datang terlambat. Aku ada urusan mendesak yang harus segera aku selesaikan. Aku akan jujur padamu, aku sedang dalam perjalanan menuju kediaman keluarga mantan Ibu tiriku. Aku akan memulai perhitungan pada mereka, jadi maafkan aku karena tidak memprioritaskan mu." Yu Jie sebenarnya tidak enak hati, namun dendam yang terus menumpuk bagaimana pun harus segera ia selesaikan. Apalagi kini dia mempunyai anak, di masa depan dia tidak ingin sesuatu terjadi pada anak-anaknya andaikan dia menikah dengan Guan.
"Tentu saja kamu harus membalas mereka, aku baik-baik saja. Jangan lupakan ada aku juga bersamamu, meskipun aku yakin dengan kekuatan mu sendiri serta dukungan dari Guan kamu akan berhasil membalas mereka. Tapi, aku tidak akan diam saja."
"To Mu..." Yu Jie terlalu banyak mempunyai hutang budi pada pria itu, namun untuk mengatakan pada To Mu jangan lagi membantunya dirinya tak tega. "Baik, terima kasih kamu masih perhatian padaku. Aku hargai semuanya, entah harus bagaimana aku membalas semuanya padamu."
"Cara membalasku, tetaplah kuat dan berani. Jangan lembek pada mereka yang terus menyakitimu."
"Baik, aku tidak akan lembek lagi."
"Bagus, kalau begitu hati-hati. Aku akan mengirim anak buahku, untuk berjaga-jaga."
"Tidak perlu, To Mu."
"Apa anak buah Guan bersamamu? Meskipun begitu, jangan tolak penjagaanku. Aku akan mati jika sesuatu terjadi padamu, Yu Jie."
Yu Jie menghela nafas pasrah, "Baik, aku mengerti."
__ADS_1
"Aku telepon lagi nanti, tetap hati-hati. Masalah kakak Lien Hua, jangan khawatir. Dia sudah berada di tanganku, kamu ingin berbuat apapun pada adik perempuannya aku jamin kakaknya tidak akan bertindak padamu."
"Maksudmu, Xingsheng?" tanya Yu Jie memastikan.
"Ya, dia tidak akan berani macam-macam padamu. Jika kamu ingin menghajar adiknya, Lien Hua. Aku jamin, jika wanita itu mati pun Xingsheng hanya akan diam. Uang segalanya bagi pria itu... tidak seperti kakak Fen Lian yang sangat menyayangi adik perempuannya, sampai berani menyentuhmu untuk membunuhmu tujuh tahun lalu. Meskipun semua orang menginginkan mu mati, namun tekad Fen Lian lah yang terkuat. Rasa cemburu dan ingin memiliki Guan sudah membuatnya gila. Bahkan selama kamu tidak ada, dari informasi yang kudapat... wanita gila itu terus mendekati Guan tanpa rasa bersalah atau pun menyesal."
"Aku mengerti, urusan Fen Lian aku akan menghadapinya kembali. Masalah kakaknya, aku pikir Guan sedang merencanakan sesuatu." Jawab Yu Jie merasa panas di dadanya karena otak utama kecelakaan nya ternyata adalah Fen Lian. Tidak cukup mereka berdua berkelahi dengan hasil wanita itu kalah, sepertinya Fen Lian ingin mengambil nyawanya agar puas. Sungguh wanita keji!
"Kalau begitu aku akan menelepon Guan, aku ingin tahu rencananya. Apa menurutmu kekasih pencemburu mu itu mau bekerjasama dengan ku?" ada nada kesal dalam suara To Mu, namun demi keselamatan Yu Jie apapun akan dia lakukan meskipun harus berkomunikasi dan bekerjasama dengan Guan.
"Aku akan menelepon nya lebih dulu, jika dia merasa tak keberatan... Guan akan menelepon mu."
"Baik," jawab To Mu.
"Aku sebentar lagi sampai, aku tutup."
"Tunggu!" cegah To Mu.
"Ya."
"Aku benar-benar merindukan Yang Yang, bolehkah aku datang ke rumah Ayahmu?"
Yu Jie tak langsung menjawab, dia memikirkan apa yang akan Guan pikirkan tentang kedatangan To Mu ke rumah nantinya.
"Terima kasih, Yu Jie."
"Aku tak mau menerima ucapan terima kasih darimu, To Mu. Kamu hanya berhak menerima rasa terima kasih dariku."
"Mm, aku tutup."
Tuttt...
Bibir Yu Jie tersenyum membayangkan Yang Yang akan berlari menyambut kedatangan To Mu, dia merasa tidak pantas melarang mereka bertemu. Yu Jie memijit nomor Guan, tak lama panggilan nya langsung diangkat.
"Sayang, apa terjadi sesuatu?" nada suara Guan penuh kecemasan.
"Aku bilang aku tidak akan terluka, mobil pengawal saja kamu mengirim 3 mobil. Jiao Long dan Haocun bersamaku, mata elang mereka terus mengawasi jalan sekitar. Juga--"
"Juga?"
"Barusan To Mu menelepon, dia akan mengirim para anak buahnya menyusul kesini untuk menjagaku. Guan, aku hanya tidak enak hati menolak. Aku harap kamu bisa mengerti, aku bukannya ingin membuka hatiku. Kamu marah?"
Yu Jie mendengar helaan nafas kasar Guan dari dalam sambungan, "Guan..."
__ADS_1
"Baiklah, aku tidak akan marah. Lalu, dia mengatakan apalagi?"
"Dia juga ingin bertemu Yang Yang, jadi aku mengijinkan nya datang ke rumah Papa."
Sekali lagi Yu Jie mendengar kekasihnya itu menghela nafas, "To Mu juga mengatakan ingin tahu rencanamu untuk kakak Fen Lian, dia ingin bekerjasama membantumu menghadapi kakak Fen Lian. Guan, bagaimana pun Fen Lian dan kakaknya adalah ipar adikmu. Menurutku, jika To Mu ingin membantu dan dia yang bertindak hubungan mu tidak akan terlalu canggung nantinya dengan suami adikmu."
Tak ada jawaban dari Guan, Yu Jie masih menunggu. Memang butuh waktu bagi Guan untuk memutuskan, ia tau itu. Karena yang ingin membantu adalah To Mu, pria yang telah bersama dirinya selama tujuh tahun. Guan harus mampu mengesampingkan ego dan cemburu, pasti berat menurunkan harga diri sebagai lelaki.
"Aku tidak akan egois, aku hanya ingin semuanya terbalaskan. Aku akan menerima bantuan To Mu, apa katanya tadi?"
Seketika perasaan lega menyelimuti Yu Jie, Guan sudah banyak mau mengerti dirinya.
"Dia ingin menelepon mu tapi takut kamu cemburu dan tak mau menerima. Lalu aku bilang, jika kamu merasa tidak keberatan kamu yang akan meneleponnya."
"Oke, kirimkan nomernya. Aku akan menelepon lebih dulu."
"Kamu yakin, sayang?" Yu Jie merasa senang karena tak menyangkan Guan menerima semuanya.
"Sayang? Panggil aku sekali lagi." Suara Guan yang tadinya seperti menahan kekesalan, kini terdengar bersemangat.
Hanya panggilan sayang, membuat Guan tidak kesal lagi! Yu Jie menggeleng dengan sifat laki-laki yang mudah terpuaskan hanya dengan panggilan seperti itu.
"Sayanggg, aku tutup. Emuahhh... Love You." Sebelum sambungan terputus, tawa bahagia Guan terdengar. Pria itu pasti sedang kesenangan di tempatnya berada.
"Mmpp!" tawa tertahan terdengar dari jok depan, Haocun sedang menahan mulutnya.
"Kau menertawakan ku, Haocun. Setelah tujuh tahun kita baru bertemu lagi, kau malah menertawakan ku!" Yu Jie ingin mengerjai Haocun.
"Nona, maaf. Aku... aku hanya--"
"Hahaha, ya ampun Haocun... aku hanya bercanda. Sekali lagi maafkan aku, kematian rekanmu tujuh tahun lalu pasti membuatmu sedih. Keluarga Chen sudah diberikan tunjangan, bukan?"
"Sudah Nona, seumur hidup keluarga Chen tidak akan kekurangan. Tuan Muda Guan sudah mengaturnya sejak awal," jawab Haocun.
"Syukurlah, jika aku ada waktu aku akan menemui keluarga Chen. Bagaimana pun dia mati saat mengawal ku, meskipun itu sudah resiko dari seorang pengawal tapi bagiku setiap nyawa sangat berharga."
"Ya, Nona."
"Nona, sebentar lagi kita akan sampai di kediaman Nona Lien Hua." Ujar Jiao Long yang berada di depan kemudi mobil.
"Baik. Aku tidak khawatir lagi dengan kakaknya, aku lega To Mu sudah mengatasi Xingsheng."
Mobil akhirnya berhenti di depan gerbang, Jiao Long berbicara dengan penjaga. Setelah si penjaga melapor ke penghuni rumah, gerbang akhirnya terbuka dan mobil yang sempat terhenti kembali maju membelah taman besar milik keluarga mantan Ibu tiri Yu Jie.
__ADS_1