
Hampir pukul dua dini hari Yu Jie terbangun, dia tertidur menyamping berada dalam pelukan Guan, tangan kekar lelaki itu melingkari pinggang Yu Jie.
"Guan..." bisik Yu Jie.
Guan seketika waspada, matanya terbuka lebar. Dengan wajah ketakutan dia mengeratkan pelukannya, membuat Yu Jie merasa sesak.
"Gu-guan, ughh!" Yu Jie mendorong kuat tubuh Guan yang sekokoh tembok itu, "GUAN! Sesak!!!" dengan kekuatan besar Yu Jie mendorong tubuh Guan yang akhirnya terjengkang ke tepi ranjang.
"Yu Jie! Jangan pergi!" Guan mendekat kembali, merangkul tubuh Yu Jie ke dalam pelukannya.
"Aku tidak akan pergi, kamu kenapa?!" Yu Jie ingin melepaskan diri namun ia merasakan tubuh Guan bergetar hebat, keringat membasahi sebagian tubuh telanjang pria itu.
"Guan, hei!" Yu Jie mengangkat wajah pucat lelaki itu.
"Aku bermimpi kamu pergi dariku lagi, aku mohon... jangan tinggalkan aku lagi sayang."
"Aku disini, aku disini... shhh." Yu Jie mengelus mengecup kepala sang kekasih yang merengek seperti anak kecil. "Guan, aku disini." Yu Jie yang berniat turun dari ranjang untuk mencari Zhi Yang akhirnya dengan pasrah kembali membaringkan tubuh kali ini dia yang memeluk tubuh besar Guan bak memeluk boneka beruang besar terus menenangkan sang kekasih.
Pagi hari akhirnya Yu Jie terbangun kembali, merasakan suatu aroma wangi shampo yang menguar ke hidungnya membuatnya merasa nyaman. Saat membuka mata ia disuguhkan ketampanan wajah Guan dengan rambut basah berantakan hampir menempel pada wajahnya.
"Morning," Guan tersenyum menyapa lalu mengecup bibir Yu Jie.
"Pagi, kamu sudah mandi."
"Ya, ayo bangun. Putri kita sedang menunggu, untung saja semalam tidurnya nyenyak. Khee... he..." Guan terkekeh puas melihat mata Yu Jie membulat karena baru teringat putri mereka.
"Kau! Kenapa tidak membangunkan ku lebih cepat! Astaga, Yang Yang!" Yu Jie bangkit dari baringan turun dari ranjang dengan kesal mendorong tubuh Guan yang hanya dibalut handuk dibawah pusar dengan bertelanjang dada, Yu Jie setengah berlari ke kamar mandi.
__ADS_1
"Sayang, aku ikut mandi lagi!" jahil Guan.
Brakkk!
Pintu kamar mandi tertutup keras, "Ini salahmu! Jangan ganggu aku! Aku harus mengurus Yang Yang!" jeritan kekesalan Yu Jie teredam dari dalam kamar mandi.
"Haha... bajumu akan aku siapkan. Aku akan menemui putri kita lebih dulu, kamu menyusul lah nanti!" balas Guan dengan suara keras agar terdengar oleh Yu Jie.
"Oke! Pergilah!" jawab Yu Jie dari dalam kamar mandi sana terdengar suara air mengalir.
Setelah memilih salah satu gaun pendek untuk Yu Jie yang datang diantar Jun saat Yu Jie masih terlelap, Guan dengan santai memakai kaos dan celana rumahan lalu keluar kamar menuju ruangan tempat putrinya sedang bermain, mainan yang dengan tergesa-gesa para anak buahnya persiapkan.
Dengan jantung yang tak karuan, Guan menatap Jun yang menjaga sang putri yang sedang bermain. Jun berbalik menatap sang Tuan dan mengangguk mengatakan semuanya baik-baik saja.
Guan ikut mengangguk, dengan langkah hati-hati pria yang sudah menjadi seorang Ayah itu mendekati Zhi Yang. Gadis kecil itu nampak terlihat sedang memainkan boneka dan mengepang rambut boneka itu.
Anak perempuan itu tak berbalik, masih anteng memainkan boneka di tangannya.
"Yang Yang," sekali lagi Guan memanggil dengan panggilan sayang Yu Jie pada anaknya itu.
Benar saja, gadis kecil itu akhirnya berbalik. Namun mata gadis itu menatap ke lantai yang diinjak alas kaki Guan, seperti biasa tak mampu menatap wajah orang yang berbicara padanya.
Guan tersenyum maklum, dia akan berproses mendekati putrinya. Dia juga akan mencaritahu lebih detail lagi tentang keadaan kesehatan sang putri, untuk saat ini ada respons dari Zhi Yang saja hatinya sudah senang.
"Yang Yang ingin bertemu Mama?" tanya Guan.
Kepala gadis kecil itu mengangguk-angguk dengan kuat.
__ADS_1
"Tunggu sebentar lagi, Mama sedang mandi. Mau sarapan lebih dulu bersama Papa?" Guan memberanikan diri menyebut dirinya Papa.
Hening dan suasana tiba-tiba menjadi canggung. Gadis kecil itu seperti marah lalu membalikkan kepalanya tak ingin lagi menghadap Guan.
Wajah Guan terlihat panik, apa dia salah berbicara? Apa menyebut dirinya Papa pada putrinya salah?
"Yang Yang, Papa eh Paman hanya..."
"Pergi! Yang Yang ingin ber-bertemu Ba-ba!" teriak Zhi Yang lalu melempar boneka yang sedang ia pegang ke sembarang arah. Satu - persatu mainan pemberian Guan dilempar ke segala penjuru. "Mama... hiks... Baba..." setelah puas melempar semua barang Zhi Yang menangis.
Guan membiarkan kelakuan sang putri agar puas melampiaskan kekesalannya, sepertinya dia tidak bisa terburu-buru menenangkan Zhi Yang dan mungkin harus menunggu Yu Jie selesai untuk mendekati putri mereka yang sedang marah.
"Ada apa ini?!" Yu Jie mendengar teriakan amukan Zhi Yang dari luar ruangan seketika berlari masuk ke dalam, tak menyangka ia malah melihat pemandangan ruangan seperti baru saja diterjang badai. "Yang Yang, sayang... kamu melakukannya lagi." Ada suara teguran dari Yu Jie membuat wajah marah Zhi Yang semakin menekuk.
"Baba, Yang Yang ingin ber-bertemu Ba-ba." Teriaknya marah.
"Yang Yang..." Yu Jie maju mendekat namun langkahnya terhenti saat tangan besar Guan terangkat.
Guan tersenyum pada Yu Jie, "Biar aku saja." Lalu lelaki itu mendekati putrinya. "Yang Yang mau bertemu Baba-mu? Kamu marah aku menyebut diriku Papa?"
Gadis kecil yang jarang menatap wajah seseorang apalagi bersitatap mata itu, kali ini Zhi Yang berani menatap lelaki yang menyebut dirinya Papa padanya. "Yang Yang mau Baba," dengan lancar gadis itu bicara.
"Oke, mari kita bertemu Baba-mu. Tapi, kita harus sarapan dulu karena makanan di meja akan menangis jika tidak dimakan. Kasihan juga orang-orang yang sudah menyiapkannya, mau?" bujuk Guan semakin mendekat ke arah sang putri.
Mata Zhi Yang beralih dari wajah Guan ke arah sang Ibu, melihat Mama-nya tersenyum akhirnya gadis kecil itu mengangguk seraya membuang tatapan nya ke lantai.
Berhasil! Aku bangga pada diriku sendiri! Kamu harus sabar Guan! Putrimu adalah anak luar biasa! Guan membatin.
__ADS_1
Setelah sarapan dengan Guan yang lebih banyak bicara mendekatkan diri pada Zhi Yang, akhirnya Guan menepati janji membawa wanitanya dan sang putri pergi ke kediaman To Mu.