Dewi Seribu Jarum

Dewi Seribu Jarum
Bab 50 - Mengenali Suara.


__ADS_3

Kediaman Wang.


Setelah merasa To Mu tertidur di sampingnya, Yu Jie perlahan turun dari baringan nya di ranjang ingin memeriksa ke kamar Zhi Yang. Sebelum keluar dia merapatkan selimut yang menutupi tubuh To Mu, lantas keluar.


Beberapa pelayan yang belum tidur memberi hormat saat Yu Jie melewati mereka, kamar Zhi Yang tak jauh dari kamarnya jadi tidak membutuhkan waktu lama untuk sampai. Saat membuka pintu, suara putrinya yang sedang bicara sendiri terdengar. Yu Jie tersenyum karena itu adalah kebiasaan sang putri jika masih belum bisa tidur atau putrinya itu merasa tidak ada orang di sekitar yang akan mendengar.


"Akar pangkat dua dari 225... lima belas. Atom adalah bagian terkecil dari suatu unsur-unsur dan tidak dapat dibagi lagi. Atom-atom sejenis mempunyai sifat yang sama, sedangkan atom-atom dengan unsur tidak sejenis memiliki sifat yang berbeda. Dalam reaksi kimia, terjadi penggabungan atau pemisahan atom..." Zhi Yang terus mengulang monolognya.


"Rupanya Yang Yang belum tidur, mau Mama bacakan dongeng?"


Suara Zhi Yang terhenti mendengar suara sang Mama, dia menyatukan kedua telunjuk tangannya lalu ditekuk dan memainkannya.


"Malam ini mau Mama bacakan apa? Gimana kalau dongeng sang putri tidur yang diselamatkan oleh Pangeran berkursi roda?" Yu Jie teringat perbincangan To Mu dengan Chyou di ruang kerja tadi tentang dia yang diselamatkan dari dalam mobil.


Mata Zhi Yang berbinar, anak itu menepuk tempat tidur di samping nya tapi mata nyalang nya menatap ke arah lain.


Bibir Yu Jie tersenyum, pengobatan sang putri melalui pengobatan akupuntur yang dia lakukan sepertinya sudah ada peningkatan. Saat pertama kali bangun dari koma, dia kewalahan menghadapi amukan dari Zhi Yang karena anak itu masih terkejut dengan pendekatan darinya dan berakhir dengan selalu melempar barang padanya. Itu patut dimaklumi karena sejak Zhi Yang dilahirkan hingga kini berusia 6 tahun, anak itu hanya dekat dengan dua orang yaitu To Mu dan Bibi pengasuh. Setelah pendekatan Yu Jie selama 2 bulan, akhirnya Zhi Yang menerimanya sebagai Ibu. Selain bisa dekat dengan putrinya sendiri, Yu Jie juga mendapatkan seluruh ingatannya.


"Huff." Yu Jie sengaja sedikit melompat ke atas tempat tidur, biasanya akan membuat Zhi Yang cekikikan karena ulahnya itu.


"Xixixi..."


Benar saja putrinya itu terkikik geli karena ulahnya, Yu Jie lalu merapatkan tubuhnya dengan sang putri. "Oke, kita mulai dongengnya."


Selama kurang lebih 20 menit Yu Jie berdongeng yang sebenarnya adalah kenyataan tentang kehidupannya, sampai ia pun terlelap sembari mendekap tubuh mungil Zhi Yang dalam pelukan hangat.


.


.


.


Kediaman Kang.

__ADS_1


Wajah Guan Lin semakin hari semakin suram, wajahnya sedingin dulu. Tidak pernah lagi ada senyum apalagi tawa, tidak ada lagi rasa kemanusiaan pada diri pria itu.


"Kak Guan, dia akan mati! Lepaskan!" Jia Chan berusaha menarik tubuh sang kakak dari seorang lelaki yang terkapar berdarah-darah di sekujur tubuh bahkan beberapa tulang di tubuhnya sudah patah.


"Dia berani curang dalam mengurus bisnisku! Kau kira aku akan memaafkan bajjingan sepertinya!" Guan mendorong Jia Chan lalu kembali menendang-nendang tubuh tergeletak yang sudah tak sadarkan diri.


"Tapi dia sudah tidak sadarkan diri! Nafasnya sudah tidak terdengar! Kau ingin menjadi seorang pembunuh karena belum menemukan kak Yu Jie! Lalu, saat kak Yu Jie kembali apa kau akan baik-baik saja?! Kak Yu Jie tidak pernah membunuh orang-orang yang menyakitinya, sekeras apapun pikiran kak Yu Jie dia masih menahan rasa bencinya."


"Yu Jie..." lirih Guan mendengar nama kekasihnya sedikit memberinya akal sehat, lantas tanpa bicara apapun dia berbalik pergi dari ruangan itu menuju ruang kerjanya.


Di jalan dia berpapasan dengan Xian yang sedang memangku putranya yang berusia 2 tahun, ada Fen Lian bersama adiknya itu. Setelah kejadian penyekapan, Feng Ying meminta untuk dinikahkan dengan Xian. Kedua belah pihak setuju, hanya Guan yang masih bersikap dingin dengan keluarga dari besan terlebih pada Fen Lian yang selalu datang ke kediaman timur beralasan ingin menengok sang keponakan, anak dari Xian dan Feng Ying. Selama dua tahun terakhir, Fen Lian gencar kembali mendekati Guan dengan dalih merindukan keponakannya.


"Kamu mau kemana?" tanya Fen Lian seperti biasa tidak tahu malu dan menebalkan muka.


"Bukan urusanmu! Minggir!" Guan melanjutkan langkah tak menggubris pertanyaan Fen Lian sengaja menyenggol keras tubuh Fen Lian yang belum sempat menyingkir.


"Aish!" Fen Lian memberengut kesal.


"Aku bilang jangan ganggu kak Guan, bukankah kak Lian hanya ingin menjenguk anakku? Kalau ada maksud dan niat lain, pergilah." Usir Xian berwajah datar, bagaimana pun Fen Lian mendekatkan diri dia tetap saja tidak menyukai saudara perempuan dari suaminya itu.


.


.


.


ACARA PESTA.


Keriuhan dari ruangan suatu Ballroom Hotel terdengar dari balik pintu, Yu Jie datang dengan tubuh dibalut gaun malam modern buatan desainer ternama yang didatangkan To Mu ke kediaman Wang.


"Aku menyesal membawamu kesini," mulut To Mu cemberut, saat masuk hampir setiap mata pria menatap Yu Jie dengan pandangan terpesona.


"Kenapa To Mu? Kalau kamu menyuruhku pulang, aku akan pulang." Yu Jie berada di samping To Mu yang duduk di kursi roda seraya menggandeng tangan kecil Zhi Yang yang tiba-tiba merengek ingin ikut bersama mereka. Mungkin karena baru pertama kali melihat sang Mama keluar rumah, hingga Zhi Yang ingin ikut.

__ADS_1


"Aku hanya tidak suka para pria di ruangan ini menatapmu dengan pandangan terpikat oleh wajahmu." To Mu menghela nafas pelan.


"Xixixi..." Zhi Yang tertawa pelan seolah mengerti apa yang tengah dirasakan sang Baba.


"Ma... ma... ba-balon..." ujar Zhi Yang terbata lantas tanpa aba-aba anak itu melepaskan tangan dari genggaman sang Mama kemudian berlari ke arah balon yang menghiasi sudut ruangan.


"Yang Yang!" Yu Jie menyusul, tapi saat melihat seseorang yang ia kenali langkah berlarinya seketika terhenti.


Bugh!


"Aww! Sakit... Mama, anak ini nakal!" teriak seorang bocah perempuan dengan tinggi badan sama dengan Zhi Yang.


"Ling Ling, mana yang sakit? Hei, Kamu! Hati-hati! Tubuh putriku sangat berharga!" rutuk wanita dewasa itu, Ibu dari anak yang bernama Ling Ling sembari menunjuk-nunjuk dengan jarinya.


Dengan tubuh gemetar Zhi Yang menunduk, baru pertama kalinya anak kecil itu ditunjuk-tunjuk serta dibentak.


Yu Jie baru saja ingin melangkah maju, namun pria yang teramat dirindukannya mendekat lebih dulu ke arah wanita yang membentak Zhi Yang.


"Kau masih sama, Li Mei. Menyerang orang agar kau puas! Bahkan anak kecil sekali pun!" Guan menatap dingin Li Mei, kemudian dia berjongkok menatap wajah anak perempuan yang dimarahi Li Mei.


"Kamu tidak apa-apa?" kening Guan mengernyit merasakan tubuh anak kecil itu gemetar.


Zhi Yang tak menjawab, anak kecil itu masih menunduk.


Tiba-tiba Guan Lin memangku Zhi Yang, masih sambil memangku pria itu berdiri lalu mendekat ke arah Li Mei.


"Hei! Wanita murahhaan! Kalau kau tidak meminta maaf pada anak ini, aku akan memberikan rekaman 7 tahun lalu pada suami mu! Kau tau, aku masih menunggu waktu yang pas untuk menghancurkan mu...!" geram Guan.


Mata Li Mei membelalak, selalu berhasil menghindar dari Guan Lin selama bertahun-tahun ia tidak menyangka akan bertemu kembali bahkan sekarang malah diancam lelaki itu. Setelah berpisah dari Ang Cheng dan hilangnya Yu Jie dalam hidupnya, ia menjalani kehidupan bahagia bersama suaminya yang ia ikat dengan kehamilan. Seorang anak konglomerat dari salah satu Menteri. Bahkan Li Mei juga berhasil merayu sang Ayah dengan putrinya dan mengatakan anak darinya tetap lah cucunya, membuat sang Ayah merevisi surat warisan dengan menambahkan harta untuk sang cucu.


"Ak-ku..." ucap Li Mei tergugu.


"Permisi, dia putri saya." To Mu yang melihat kejadian sejak awal dan melihat respon dari Yu Jie, sudah bisa menebak jika ingatan Yu Jie sudah kembali dan mengenali orang-orang yang berada di sekitar Zhi Yang. Melihat Yu Jie berdiri mematung, To Mu menduga Yu Jie belum yakin untuk membongkar dirinya. Akhirnya ia berinisiatif untuk mengambil Zhi Yang dan ingin membereskan masalah.

__ADS_1


Namun hal tidak terduga terjadi, To Mu berasumsi jika Yu Jie tidak ingin membongkar diri... tapi suara wanita yang berstatus istri di akta pernikahan itu terdengar dari arah belakangnya.


"Yang Yang, kemarilah." Ujar Yu Jie dengan suara lembut memanggil nama putrinya, setiap orang yang mengenali suara itu menoleh ke arahnya.


__ADS_2