
Yu Jie berjanji akan makan malam dengan Hao Yu, sudah lama Hao Yu tidak meneleponnya. Mereka berdua jarang berkomunikasi seperti dulu, tiba-tiba Hao Yu memberi chat ingin bertemu di Restoran.
Brukkk!
"Ups, maaf!"
Seorang wanita menabrak Yu Jie yang sejak tadi sibuk dengan ponsel karena belum meminta ijin pada Guan Lin namun ponsel sang kekasih malah tidak aktif.
"Tidak apa-apa, eh... Nona Jiang. Salam, Nona." Yu Jie mengenali wanita yang bertubrukan dengan nya.
"Hm, siapa?" Fen Lian mengerutkan kening nya seolah memang tak mengenal Yu Jie.
"Kita bertemu di club malam Tuan Guan, masalah obat untuk buyer Amerika. Anda perwakilan dari perserikatan barat, apa sudah ingat?"
"Ah! Kamu Nona Zhu, Perusahaan ChM. Maaf, aku adalah orang pelupa. Kamu akan makan?"
"Ya, Nona Jiang sendiri?"
"Aku sedang menunggu teman, tapi dia ternyata tidak datang. Aku sebentar lagi akan pergi."
"Mau bergabung denganku, aku belum sempat berterima kasih padamu untuk urusan obat itu."
"Bolehkah? Teman makan mu tidak keberatan?" tanya Fen Lian.
"Tentu tidak, ayo." Ajak Yu jie.
"Oke. Kebetulan aku belum makan apapun," Fen Lian berjalan beriringan dengan Yu Jie menuju salah satu meja.
Pantas saja Guan Lin menyukai wanita ini, lugu sekali! Ckkk... mudah sekali percaya omongan orang yang baru dikenal. Mudah untuk dilenyapkan juga, bukan? Batin Fen Lian.
Kedua wanita itu duduk di salah satu meja berukuran sedang, sambil terus menelepon nomer Hao Yu yang terus tak diangkat Yu Jie memesan kopi lebih dulu.
"Kamu pesan apa, Nona Jiang? Hari ini biarkan aku mentraktir mu, jangan menolak." Ujar Yu Jie.
"Baik, kamu sangat menyenangkan Nona Zhu. Mau berteman? Kebetulan aku tidak terlalu mempunyai banyak teman."
"Tentu, aku tidak keberatan." Jawab Yu Jie seraya tersenyum.
"Kalau begitu mari mulai dengan memanggil nama, panggil aku Fen Lian dan aku akan memanggil nama mu... siapa namamu?" pura-pura Fen Lian, padahal semua informasi tentang Yu Jie sudah ia kantongi. Ingin membunuh langsung rival cintanya, tapi ia tidak ingin Guan Lin semakin membencinya dan akan memakai tangan-tangan orang yang membenci Yu Jie misalnya adik dan Ibu tiri Yu Jie juga banyak lagi.
"Panggil aku Yu Jie saja, Fen Lian."
Seraya makan, mereka berdua mengobrol seperti sudah kenal lama. Fen Lian yang ingin terlihat baik terus menerus bicara menceritakan hal-hal yang tidak terlalu penting.
Kediaman Perserikatan Timur.
Guan Lin baru saja kembali dari luar negeri, dua hari yang sibuk baginya mengurus beberapa club malam yang mengalami masalah dengan hukum setempat. Ia pergi dengan dadakan bahkan lupa mengabari Yu Jie dan akhirnya semakin terlupakan karena masalah terlalu besar membuat Guan Lin memperbaiki dengan kesusahan.
"Tuan Muda kembali," kepala pelayan menyambut kedatangan Guan Lin.
"Hm, apa Ayah sibuk?"
"Tuan Besar sedang kedatangan tamu, Tuan Muda."
"Kalau tamunya sudah pergi, kabari aku."
"Baik, Tuan Muda."
Setelah berada di kamarnya, Guan Lin membuka satu persatu kancing melepas kemeja dan melempar ke atas ranjang. Otot-otot sexy terbentuk di perut Guan karena sering olahraga, terlihat begitu menggiurkan untuk disantap para wanita.
Brukk! Guan Lin menjatuhkan tubuh tingginya sampai telentang di atas ranjang dengan bertelanjang dada. "Aku merindukan Jie Jie..."
Guan Lin merogoh celana nya, menghidupkan ponsel yang ternyata lupa ia hidupkan. Ada panggilan dari Yu Jie sekitar 11 kali, Guan mengerenyitkan keningnya karena Yu jie tak pernah menelepon lebih dari 2 kali jika ia sedang tak bisa menjawab. Segera Guan menelepon balik, tapi ponsel Yu Jie tak aktif akhirnya ia menelepon pengawal yang selalu bersama Yu Jie, Haocun.
"Malam Tuan muda, ada apa?"
"Dimana Yu Jie? Kenapa ponselnya tidak aktif?"
"Nona Zhu sedang berada di Lab sejak dua jam lalu, Tuan muda juga tau jika Nona sudah disana akan sulit menghubungi." Jawab Haocun.
"Tidak apa jika dia baik-baik saja, aku hanya khawatir. Apa ada sesuatu mencurigakan terjadi selama aku tidak ada?"
"Tidak ada Tuan, emm... itu... hanya..." Haocun kebingungan harus melapor apa tidak.
"Apa?"
"Emm, begini..." Haocun masih ragu.
"Aku akan memotong bonus mu bulan ini, Haocun!" geram Guan kesal mendengar suara Haocun yang ragu-ragu.
"Malam kemarin, Nona Zhu berjanji bertemu dengan Tuan Hao Yu dan saya mengantar seperti biasa mengawal Nona."
"Apa mereka bertemu?"
"Tidak Tuan muda, hanya saja... Nona Jiang yang selalu mengganggu Anda terlihat keluar dari restoran bersama Nona Zhu. Mereka berdua terlihat sangat akrab, saya hanya berpikir itu aneh untuk seorang wanita sekejam Nona Jiang terlihat ceria saat bersama Nona Zhu." Akhirnya Haocun mengatakan kecurigaan nya.
"Jangan katakan apapun pada Yu Jie, biar aku mencaritahu apa maksud Fen Lian. Mengerti!"
"Ya, Tuan Muda."
__ADS_1
"Sebentar lagi aku akan kesana menjemput Yu Jie, kalau dia keluar dari ruangan nya katakan hubungi aku."
"Baik." Jawab Haocun.
Tuttt...
Guan Lin menyipitkan matanya, "Apa yang diinginkan Ib lis wanita itu?! Berani-beraninya mendekati Yu Jie, apa dia ingin memancing kemarahan ku?!" Guan mengeratkan pegangan nya pada ponsel, lalu mengangkat setengah tubuhnya untuk bangun dan kini terduduk di tepi ranjang.
"Jun! Masuk!" Guan Lin memanggil pengawal pribadinya.
Pintu kamar terbuka, Jun masuk berjalan dengan cepat mendekati sang majikan. "Tuan muda."
"Aku sengaja meninggalkan mu disini dan tak membawamu ke luar negeri, bagaimana hasil penyelidikan tentang keluarga Chu? Selain Ibu tiri dan adik tiri Yu Jie dan Dun Ming, siapa lagi yang berhubungan dengan Yu Jie?"
"Ada seorang wanita bernama Lien Hua, di kampus Nona dari keluarga Chu ini selalu iri pada Nona Zhu dan sering mem-bully Nona Yu Jie yang dulu berpenampilan cupu tapi pintar, Nona Lien Hua membenci Nona Yu Jie. Bahkan kabarnya sampai sekarang Nona Lien Hua selalu ingin bertemu dengan Nona Yu Jie tapi Nona Yu Jie selalu menolak. Yang paling bahaya di keluarga Chu adalah kakak Nona Lien Hua, Anda ingat club malam Anda yang berada di London diperiksa polisi satu tahun lalu? Anda ingat nama jaringan Black Hole? Itu adalah jaringan milik Kakak Nona Lien Hua yang bernama Tuan muda Xingsheng, Putra pertama dan juga pewaris kekayaan keluarga Chu dalam urutan pertama. Ayah Tuan Xingsheng adalah anak pertama yang mewarisi hampir 60 persen kekayaan keluarga Chu, sisanya dibagi pada anak-anak yang lain termasuk Ibu tiri Nona Yu Jie yang hanya mendapatkan warisan sekitar 17 persen dari 6 bersaudara lainnya."
"Hm, aku pernah mendengar nama Lien Hua. Itu saat Yu Jie berteriak dalam mimpinya seperti kesakitan dan menyumpahi seseorang. Xingsheng... orang yang menjebak club malam ku setahun lalu. Jadi, musuh Yu Jie ternyata musuh ku juga. Kamu mempunyai daftar darimana saja sumber kekayaan keluarga Chu itu? Terutama pemasukan Xingsheng selain dari club yang menjadi saingan kita?"
"Saya mempunyai berkasnya, ada di kamar saya. Saya akan ambil sekarang, Tuan Muda."
"Tunggu! Aku masih ada satu tugas untukmu."
"Katakan, Tuan."
"Kamu adalah orang terbaikku, Jun. Aku ingin kamu memeriksa semua kegiatan Fen Lian dari perserikatan barat, apapun itu. Kalau bisa menyusup, itu lebih baik. Kamu bisa menyadap ponsel atau pun menyadap tempat Fen Lian datang. Kamu pasti mengerti apa yang aku perintahkan, bukan?"
"Saya mengerti, Tuan. Saya akan mencoba dan berusaha yang terbaik semampu saya."
"Baik, pergilah. Dan bawa laporan berkas keluarga Chu padaku, aku akan memeriksanya di mobil saat pergi ke Lab menemui Yu Jie."
"Ya, Tuan." Jun menunduk lalu undur diri untuk keluar.
Butuh 20 menit Guan Lin membaca latar belakang seluruh keluarga Chu, saat melihat salah satu foto tentang keluarga itu ia memperhatikan foto itu seksama.
"Jun, kenapa Hao Yu bisa duduk bersama adik Xingsheng, Lien Hua yang kamu katakan mem-bully Yu Jie dan membenci Yu Jie?"
"Saya membuntuti Nona Lien Hua saat pulang dari kampus, dan di tempat itu mereka bertemu. Namun, mengenai ada urusan apa atau mereka berdua ada hubungan apa saya tidak bisa mengetahuinya Tuan Muda."
"Hao Yu dan Lien Hua... apa yang terjadi?" gumam Guan Lin.
Mobil tiba di depan gedung laboratorium, sejak dalam perjalanan dan sampai di laboratorium tak ada panggilan telepon dari Yu Jie menandakan kekasihnya itu belum keluar dari ruangan penelitian.
Guan disambut Haocun dan Jiao Long, "Tuan Muda."
"Pasti dia belum keluar, bukan?" itu bukan pertanyaan tapi pernyataan, "Dasar wanita itu, kenapa selalu menghabiskan waktunya di dalam sana." Tanpa menunggu lagi, Guan berjalan masuk dengan langkah panjang nya. Semakin masuk ke lorong-lorong melewati ruangan-ruangan khusus sampai salah satu ruangan bertuliskan 'dilarang masuk' Guan Lin berhenti. Ia lebih dulu memakai APD yang di sediakan diluar sebelum masuk ke dalam.
Tok.
Tok.
Tok.
"Sebentar!"
Tak lama pintu yang terkunci terbuka dari dalam, Guan Lin membuka pintu mendekati Yu Jie yang sibuk kembali dengan Desikator yaitu wadah tempat menyimpan bahan yang digunakan untuk uji kadar air.
"Apa lagi yang sedang kamu uji?" penasaran Guan Lin membungkukkan tubuhnya menutup sebelah mata di depan mikroskop untuk melihat objek berukuran mikro yang sulit dilihat oleh mata telanjang. "Apa ini?"
"Aku sedang melakukan suatu objek kecil, hanya penasaran akan sesuatu. Aku sudah selesai hari ini, ayo. Bukankah ada sesuatu hal yang harus kamu jelaskan padaku kenapa ponsel mu tidak aktif selama beberapa waktu dan asal kamu tau Tuan Kang... aku paling tidak suka harus mengkhawatirkan seseorang!" suara Yu Jie dari ramah berubah menjadi kecut. Ia berjalan lebih dulu keluar lalu membuka satu persatu perlengkapan laboratorium yang menempel pada tubuhnya, tak menunggu Guan ia berjalan begitu saja menuju ruangan pribadinya disana.
"Kamu marah?" Guan mengekor Yu Jie masuk ke ruangan lalu memeluk kekasihnya dari belakang, menciumi leher Yu Jie. "Aku merindukan mu," ujarnya masih betah mengecup sana sini dengan tangan yang sudah mulai masuk menyusup ke dalam atasan yang dipakai Yu Jie mengelus perut polos Yu Jie.
Yu Jie menarik kasar tangan Guan yang sudah menyusup lalu mencekalnya kuat. "Tangan mu semakin nakal, sepertinya aku harus menghukumnya." Tanpa menunggu lama Yu Jie menarik satu jarum dari kotak lalu menusuk di bagian punggung tangan.
Jleb!
"Arghh! Jie Jie! Apa yang kamu lakukan?!" Guan ingin melepaskan tangannya tapi pergelangan lelaki itu masih ditahan dengan kuat oleh Yu Jie.
"Diam, aku merasakan tanganmu dingin Guan sepertinya kamu sedang kecapean. Biarkan jarum itu membuatmu sedikit lebih baik," Yu Jie melepaskan tangan Guan lalu berbalik dan menyandarkan punggung bagian bawah nya di pinggiran meja, "Duduklah, aku akan memeriksa tubuhmu." Dengan dagunya Yu Jie menyuruh Guan berbaring di ranjang kecil di ruangan itu.
Dengan menahan rasa ngilu di punggung tangan yang masih tertancap jarum, Guan menurut dan duduk di tepi ranjang.
"Berbaringlah," Yu Jie mendekat.
Grep!
Bukan nya menurut Guan sekali lagi memeluk tubuh Yu Jie, kini kepalanya sejajar dengan dada kenyal Yu Jie membuat pria itu menyengir jahil lalu menempelkan samping kepalanya ke dada Yu Jie. "Nyaman, tak usah berbaring terus begini membuatku tenang. Ahhhh..."
"Kalau kamu terus gini, kali ini jarum nya menancap di kepala mu!"
Kedua tangan Guan yang melingkari tubuh Yu Jie terlepas, secepat kilat Guan menjatuhkan kepalanya ke atas bantal dan mengatur tubuhnya untuk berbaring.
"Kamu bisa bicara selagi aku menancapkan jarum-jarum di beberapa bagian tubuhmu." Ujar Yu Jie lalu mulai membuka satu persatu kancing kemeja Guan. "Bangun dulu buka semua pakaianmu."
Dengan menurut Guan bangun lalu membuka kemeja, saat membuka resleting ia menatap Yu Jie. "Celana ku juga? Apa kamu ingin mempeerkosaaku Nona?" Guan menaikkan sebelah alisnya seraya tersenyum jahil.
"Guannn..." Yu Jie menggeram membuat Guan bergegas membuka celananya dengan cepat, kini hanya celana pendek yang tersisa.
"Ini juga?" tanya Guan menunjuk celana pendeknya kembali jahil. "Mungkin saja kamu mau menengok isi di dalamnya yang sudah merindukan mu?"
__ADS_1
Yu Jie memutar bola matanya kesal, "Tidak usah! Cepat berbaring!" Yu Jie membuka kotak jarum dan mulai mencari titik yang bisa membuat tubuh Guan rileks. "Apa kali ini pekerjaanmu membuatmu kesusahan, sampai tak bisa aku hubungi dan tubuhmu tegang begini?" seraya bertanya Yu Jie menemukan titik chi di bagian kaki Guan dan menancapkan nya disana. Tiga jarum di tempat berbeda.
"Sangat sibuk, maaf sayang. Kamu pasti marah, sebelas panggilan menghubungiku. Apa terjadi sesuatu?" Guan Lin mengangkat tangan nya, telapak tangan besarnya mengusap kepala Yu Jie dengan lembut.
"Aku menelepon untuk mengabari jika Hao Yu meminta untuk bertemu makan malam, sejak kita menjadi sepasang kekasih Hao Yu tak pernah lagi meneleponku. Lalu... emmm."
"Lalu?" Guan mengangkat dagu Yu Jie dengan jarinya agar mata kekasihnya itu menatapnya.
Yu Jie menatap Guan Lin, ingin bertanya sesuatu tapi ia mengurungkan nya tak ingin seperti wanita pencemburu. Selama berhubungan hanya ia yang selalu menceritakan tentang kehidupan nya, jarang sekali Guan berbicara tentang kehidupannya. "Tidak, hanya itu."
"Kamu ingin bertanya sesuatu padaku, tapi kamu menahannya. Kenapa? Apa kamu tidak mempercayaiku?" tanya Guan.
"Bukannya aku tidak mempercayaimu, tapi aku ingin mendengar kamu bicara lebih dulu padaku. Tentang mu, tentang hidupmu sebelum bersamaku." Yu Jie melepaskan wajahnya yang masih ditahan jari Guan lalu mulai fokus kembali mencari titik di tubuh Guan yang lain dan mulai menancapkan jarum akupuntur nya.
"Apa kamu bertemu seseorang yang berhubungan dengan ku?" tebak Guan Lin, sepertinya pembahasan Yu Jie kali ini ada hubungannya dengan Fen Lian.
"Aku bertemu wanita dari perwakilan perserikatan barat, saat aku akan bertemu Hao Yu bukan dia yang datang tapi tiba-tiba aku bertubrukan dengan Fen Lian. Aku mengajaknya makan tanpa pikiran apapun murni ingin berterima kasih untuk masalah obat, tapi semakin kami mengobrol dia bersikap seolah ingin menjadi temanku dan aku meladeninya. Guan, mungkin dia pikir aku sudah masuk sandiwaranya. Tapi aku bukan wanita bodoh, aku tau mana yang tulus dan mana yang dibuat-buat. Aku pernah satu kali mati dan dalam kehidupan baruku aku sekarang sangat sensitif pada orang-orang yang mendekatiku. Aku menerima mu, karena aku merasakan ketulusan mu. Aku merasakan banyak kepalsuan dari wanita itu..."
"Wanita pintar, jauhi Fen Lian. Dia wanita yang selalu aku tolak, maaf aku belum sempat mengatakan tentang wanita itu padamu. Dia mengajukan aliansi pernikahan dengan ku tapi aku menolaknya. Ayah tak bisa memaksaku, jadi Fen Lian selalu mencari cara mendekatiku. Kamu ingat acara MOULE, yang menodong pistol pada Jia Chan adalah bawahan Fen Lian. Waktu itu dia mengancam ku dengan Jia Chan agar aku datang ke MOULE. Hanya itu, hubungan kami jauh dari hubungan baik apalagi romantis."
Yu Jie menghela nafas, "Aku ingat saat di club waktu itu, Fen Lian mengatakan ingin menikmati malam dengan memanjakan diri di club pria kesayangan nya. Jadi aku sedikit cemburu sekarang, aku hanya kesal dia berusaha berteman denganku dengan pura-pura. Apa ini caranya berteman denganku lebih dulu agar bisa mendekati mu lagi? Itu yang terus menjejali pikiranku, mengesalkan!"
"Haha... jadi saat di club waktu itu kamu sudah memperhatikan ku. Aku sempat berpikir kamu tak perduli saat Fen Lian mengatakan nya, jadi sudah sejak saat itu... kamu menyukaiku... Arghh!" mata Guan membelalak kesakitan saat Yu Jie menancapkan dengan sedikit dalam di bagian perut. "Jie Jie... hhh... ini sakit."
"Kamu terlalu banyak tertawa, jadi terasa sakit. Sekarang aku tau kamu tak ada perasaan atau hubungan spesial dengan Fen Lian, istirahatlah selama 15 menit. Aku akan menemanimu, biarkan jarum-jarum ini di tubuhmu."
"Cium..." minta Guan, tubuhnya sekarang kaku tak bisa digerakkan sedikit pun. "Aku tak bisa bergerak, jadi kamu cium aku."
Yu Jie menahan tawanya yang ingin keluar, kenapa dalam hubungan mereka lebih manja Guan daripada dirinya? Yu Jie membungkukkan tubuhnya, menundukkan kepala lalu mencium bibir Guan dengan pelan dan lembut.
Guan ingin menahan tubuh Yu Jie tapi tak bisa, seluruh tubuhnya benar-benar tak bisa digerakkan!
"Yu Jie, aku menginginkanmu..." lirihnya.
Yu Jie tentu saja mengerti apa yang diinginkan Guan, "Selesai ini, ayo ke club mu." Balas Yu Jie membuat mata Guan berbinar.
"Dasar gadis na kal, kamu menyiksaku lebih dulu... khee... he..." Guan Lin terkekeh.
"Aku bilang ini hukumanmu, dan hadiahmu setelahnya." Yu Jie tersenyum kemudian sekali lagi ia mencium bibir Guan.
Tak lama selesai, Guan dan Yu Jie pergi ke club. Di dalam mobil menuju ke club, Ayah Yu Jie menelepon.
"Halo, Pah."
"Kamu masih di Lab?"
"Emm, sudah keluar. Ada apa?"
"Pulang lah, Papa sudah menelepon Hao Yu untuk makan malam. Dia sedang lama perjalanan, cepat pulang ya."
Guan Lin sudah menekan speaker ponsel dan mendengar perkataan Tuan Huang.
"Memang nya ada acara khusus, Pah? Kenapa mengundang Hao Yu datang, lagipula aku dan Hao Yu sudah lama tak berkomunikasi."
"Papa mau menjodohkan kalian berdua, Papa mendengar desas desus kamu berhubungan dengan putra dari perserikatan timur. Kamu tau kan, sejak awal Papa sudah melarangmu berhubungan dengan orang-orang yang berprofesi gelap. Papa hanya setuju kamu menjadi istri dari Pengusaha seperti Hao Yu yang jelas apa usahanya. Dengarkan Papa, pulanglah."
Yu Jie menatap wajah Guan Lin yang sudah kesal. Pria itu memalingkan wajah ke jendela mobil, menahan emosinya.
"Oke, aku pulang."
Tuttt...
Saat Yu Jie mengatakan akan pulang, emosi Guan Lin semakin memuncak. "Kalau begitu pulanglah, aku bukan menantu idaman Ayahmu. Kamu yang sangat menyayangi Ayahmu, akan menurut bukan?" ucap Guan tanpa menoleh pada Yu Jie.
"Kamu ingin aku menuruti Papaku dan menikah dengan Hao Yu?" Yu Jie menahan rasa gelinya melihat Guan Lin kekanakan dengan marah padanya, padahal sudah berapa kali ia bilang jika ia hanya menganggap Hao Yu seperti saudara laki-lakinya.
"Itu kamu mengiyakan Papamu untuk pulang, padahal kamu lebih dulu janji akan bersamaku malam ini." Suara Guan masih terdengar ngambek, membuat Yu Jie gemas.
"Hm, aku tidak bilang akan pulang sendiri. Aku akan membawamu bersamaku dan mengenalkan mu pada Papa dengan resmi. Kamu nggak mau?"
Seketika wajah Guan Lin menoleh, senyuman terukir di bibir lelaki itu. "Ohh... jadi kamu sudah mulai nyaman mengerjai ku? Iya! Awas aja, Nyonya Kang Guan!"
Degh!
"Nyo-nyonya Kang Guan?" gagap Yu Jie.
"Ya, kamu. Calon istriku, Nyonya Kang Guan Lin." Guan menarik wajah Yu Jie lalu menciumnya.
Yu Jie melepaskan diri, "Ini di dalam mobil Guan! Haocun dan Jun melihat kita!"
"Apa kalian berdua melihat kami bercumbu?" Guan Lin dengan cuek bicara pada kedua pengawal yang duduk di jok depan.
"Tidak, Tuan muda!" jawab keduanya berbarengan.
"Kamu! Ckkkk... tak tahu malu menegaskan apa yang sedang kita lakukan!" Yu Jie menjauhkan tubuhnya seraya bersungut.
"Haha... mereka akan terbiasa sayang, karena dimana pun aku ingin mencumbu mu aku akan melakukannya meskipun tanpa seijin mu! Haha..." Guan tertawa semakin keras saat melihat wajah Yu Jie semakin merah karena malu.
"Haocun! Bawa mobil ke rumahku!"
__ADS_1
Yu Jie membiarkan Guan Lin dengan kesenangan nya, diam-diam ia juga ikut tersenyum karena hatinya sangat bahagia dan tak ingin kebahagiaannya terenggut oleh apapun dan siapapun.