Dewi Seribu Jarum

Dewi Seribu Jarum
Bab 35 - Menjadi Milik Guan Seutuhnya.


__ADS_3

Pintu kamar yang ditempati Ang Cheng terbuka, saat masuk semakin dalam menuju tempat tidur Yu Jie mendengar suara batuk yang parah.


"Yu... Jie... uhukkk... uhukkkk... Yu... Jie..."


Terdengar Ang Cheng terus memanggil nama Yu Jie, Nyonya Lim terus menggenggam tangan Yu Jie agar wanita yang pernah menjadi menantunya itu tidak kabur.


"Yu Jie, sembuhkan Ang Cheng ya. Mama mohon..." saat akan sampai ke ranjang tempat Ang Cheng berbaring, Nyonya Lim sekali lagi memohon.


"Yu Jie... uhukkk..." mendengar suara sang Mama yang memanggil nama Yu Jie, kepala Ang Cheng menoleh ke arah samping. Manik mata cekung nya berbinar, "Ini benar kamu, Yu Jie kamu datang... aku tau kamu tak mungkin tega aku mati bukan... Yu Jie..."


Kaki Yu Jie yang hendak terus melangkah tertahan, menancap kuat di tempatnya kini berdiri seolah tubuhnya tak ingin bergerak untuk menolong Ang Cheng.


"Yu Jie, sekali ini saja tolong Mama... hiks... jangan begini... Mama akan bersujud demi Ang Cheng..."


Brukk!


Benar saja, Nyonya Lim tiba-tiba bersujud di lantai beralaskan karpet mahal berbulu.


"Mama! Jangan begini, bangun!" Yu Jie menarik bahu wanita setengah baya yang sudah ia sayangi seperti Ibu kandung nya sendiri agar bangun.


"Berjanjilah, bagaimana pun perasaan benci mu pada Ang Cheng... kamu akan menyelamatkan nya. Berjanjilah Yu jie... huuuu."


"Baik, aku janji. Jangan seperti ini lagi, aku seperti anak durhaka padamu." Yu Jie menarik lembut tangan Nyonya Lim sampai berdiri. "Lepas tanganmu, Mama. Aku tak akan pergi dan pasti menyembuhkan putramu."


Nyonya Lim bangun dari sujudnya lalu melepaskan tangan nya dari Yu Jie, setelah terlepas Yu Jie bergegas mendekati Ang Cheng yang sedang tersenyum lemah menatap nya. Posisi lelaki itu terbaring setengah duduk dengan bagian tubuh atas disangga oleh bantal-bantal.


"Biar aku katakan dengan jelas, Ang Cheng. Aku datang dan mengobati mu karena permintaan Mama. Keluarga Lim sudah menyayangiku sejak kecil, bagiku keluarga Lim adalah keluarga keduaku. Jangan besar kepala atau berharap apapun padaku, kita sudah bercerai... ingat itu." Yu Jie mulai membuka kotak medis yang selalu ia bawa kemana-mana seperti kotak kecil yang berisi jarum-jarum.


"Yu Jie... aku bermimpi. Di mimpi itu aku melihatmu di ikat di sebuah ranjang pasien dengan tubuh kurus hanya tulang terbungkus kulit, wajah pucat dan mata menderita mu membuat hatiku sakit."


Ucapan Ang Cheng yang tiba - tiba membuat tangan Yu Jie yang hendak mengambil botol antivirus terhenti, tangan nya seketika bergetar hebat.


"Kamu terus merintih memintaku melepaskan mu dari ikatan itu, tapi saat kamu meregang nyawa aku hanya berdiri terdiam tanpa bertindak... Yu Jie... mimpi itu seperti nyata, lalu aku teringat perkataan mu saat mengatakan jika suatu hari aku mati di tangan mu, aku harus ingat... jika di satu kehidupan mu aku juga pernah membunuh mu meskipun tidak dengan tanganku sendiri. Apa mimpi itu maksudmu? Apa di satu kehidupan kita, aku pernah mengabaikan mu sampai kamu mati? Yu Jie... jika iya, biarkan aku mati di kehidupan ini. Tapi di kehidupan selanjutnya jika kita bersama lagi, bisakah kamu memaafkan ku dan biarkan aku mencintaimu..."


Selagi Ang Chen terus bicara, kilasan - kilasan saat dirinya ditahan di laboratorium di kehidupan sebelum nya menyerbunya seketika dada Yu Jie sesak, "Arghhh... sakit... arghhh..." Yu Jie memukul - mukul dadanya yang sesak. "Berhenti! Jangan bicara lagi! Arghh!"


Tiba-tiba sebuah pelukan hangat membalikkan tubuhnya lalu memeluknya erat. "Aku disini, Jie Jie... aku bersama mu. Jangan tahan rasa sakit mu, ada aku bersamamu." Guan Lin mengelus - elus punggung Yu Jie seraya terus berbisik menenangkan Yu Jie. Pernah saat mereka bersama dan Yu Jie tertidur, kekasihnya itu bergumam dalam mimpi meminta tolong untuk dilepaskan dan berkata tidak ingin mati. Selalu menyebut orang - orang yang kejam padanya, selalu menangis dengan pilunya. Guan Lin selalu ingin bertanya, siapa orang-orang yang selalu menyakiti Yu Jie dalam mimpinya. Sekarang saat mendengar Ang Cheng berbicara bermimpi yang sama, mungkin benar jika di satu kehidupan Yu Jie kekasihnya itu pernah mati tersiksa.


"Hhhhhh... hhh... Guan..." air mata sudah membanjiri wajah Yu Jie karena rasa sakit yang menyerang dadanya. "Guan... dadaku sakit."


"Tarik nafas sayang, keluarkan dengan perlahan... tatap aku," Guan Lin melepaskan pelukan nya, dengan kedua telapak tangan besarnya ia merengkuh wajah Yu Jie yang memerah juga basah oleh airmata agar menatapnya, "Sekarang, tarik nafas. Ayo sayang... huhhhh... huhhhh..." Guan Lin terus membantu Yu Jie.


Yu Jie mengikuti arahan Guan Lin, padahal selama ini dia selalu bisa mengontrol dirinya namun saat Ang Cheng mengatakan nya seolah dia tersedot ke kehidupan sebelumnya.


"Bagaimana sekarang?" tangan besar Guan Lin terus mengelus wajah Yu Jie mengeringkan air mata dari wajah Yu Jie.


"Aku sudah baik-baik saja, lihat tangan ku sudah tidak gemetar..." Yu Jie memaksakan tersenyum.


"Jika sakit, jangan tersenyum! Jie Jie katakan jika sakit, jangan ditutupi dengan senyuman mu. Aku tidak suka!" bentak Guan.

__ADS_1


"Aku benar-benar sudah baik-baik saja, Guan. Maaf membuatmu cemas, terima kasih." Yu Jie masih tersenyum lalu memeluk Guan Lin mencari kenyamanan dalam pelukan kekasihnya.


"Yu Jie..." lirih Ang Cheng dengan tatapan sakit hati melihat wanita yang dia cintai sekarang bermesraan dengan lelaki lain. "Kamu..." lelaki itu bahkan tak bisa melanjutkan ucapannya karena teringat perkataan Yu Jie yang mengatakan setelah bercerai mantan istrinya itu akan segera mencari kekasih. "Jadi kamu bukan hanya membual padaku mengatakan akan segera mempunyai kekasih setelah kita bercerai, tapi kamu benar-benar melakukan nya... Yu Jie... uhukkkkk... uhukkkkkk..." Ang Cheng terbatuk parah lalu tiba-tiba muntah darah. Darah merah yang banyak menodai kaos putih yang ia pakai, begitu terlihat kontras.


Yu Jie bergegas maju kembali mendekat, dengan cepat ia memeriksa nadi Ang Cheng dan jantung lelaki itu sudah melemah. "Sepertinya, Ang Cheng harus dirawat intensif di rumah sakit. Jantung nya melemah," ujar Yu Jie yang di dengar semua orang. Kakek Lim dan Ang Bei pun sudah masuk ke dalam kamar sejak tadi.


"A... ku... Yu... Jie... biarkan aku mati... hhhh... tak ada gunanya aku hidup... kamu masih membenciku dan sudah menjalani hidup mu... biarkan aku mati untuk bertemu dengan mu lagi di... kehidupan selanjutnya... hhhh...."


"Jangan banyak bicara lagi! Kalau kau mati karena alasan seperti ini, aku akan semakin membencimu! Lihat Ibumu Ang Cheng! Bagaimana kau akan mati meninggalkan Ibumu dengan kesakitan karena anaknya menyerah untuk hidup karena alasan itu! Aku... a-aku akan memaafkan mu... aku berjanji akan memaafkan mu! Jadi bertahan lah. Hiduplah bajjingan!"


Ang Cheng tidak ingin berubah pikiran ingin mati saja, dia merasa tak ada gunanya lagi hidup karena terus terbayang mimpinya saat ia membiarkan Yu Jie mati. Namun akhirnya dia tersenyum saat Yu Jie menyuruhnya hidup dengan mengumpat dirinya bajjingan, umpatan itu malah membuatnya senang karena sepertinya Yu Jie akan mengampuninya.


"Kamu... uhukk... janji akan mengampuniku Yu Jie." Ang Cheng ingin menarik tangan Yu Jie tapi ia lupa Yu Jie sudah sejak awal bukan miliknya dan sekarang sudah milik orang lain. "Yu Jie... aku melepasmu... berbahagia lah... ak--" tangan Ang Cheng tiba-tiba terkulai, matanya lalu perlahan terpejam.


"Ang Cheng! Huuuu..." Nyonya Lim histeris.


Yu Jie menaruh telunjuk di hidung Ang Cheng memeriksa nafas, "Nafasnya masih ada, kita harus cepat membawanya ke rumah sakit yang aku suplai. Aku akan langsung menelepon Direktur rumah sakit nya, cepat! Ang Bei, Guan! Cepat bawa Ang Cheng ke dalam mobil!"


Ang Bei yang masih mematung karena kejadian yang terlalu cepat untuk ia cerna, seketika bergegas mengangkat tubuh bagian atas sang kakak dengan dibantu Guan Lin yang mengangkat bagian bawah tubuh Ang Cheng.


Kedatangan Yu Jie bahkan disambut langsung oleh Pemimpin rumah sakit yang berterima kasih dan menghormati Yu Jie.


"Jika membutuhkan antivirus atau vaksin saya akan memberikan nya, tolong tangani dia dengan maksimal." Ujar Yu Jie.


"Baik."


"Terima kasih, Yu Jie..." Nyonya Lim terus menerus berterima kasih.


"Mama jangan sampai sakit, meskipun Mama sudah mendapatkan vaksin bukan berarti akan terlindungi dari penyakit. Terkadang sakit itu datang bukan pada fisik kita langsung tapi penyakit datang karena mental kita sakit lalu menjalar ke fisik. Seperti aku tadi, mentalku masih sakit Mah... saat sakit seperti tadi tubuhku akan bereaksi. Tubuh yang sehat bukan berarti mental kita juga sehat. Jaga dirimu Ma, agar bisa menjaga Ang Cheng sampai putramu itu kembali sehat. Mengerti."


Nyonya Lim mengangguk, air mata masih mengalir tapi perkataan Yu Jie langsung menyadarkan nya. Dia butuh tubuh yang sehat untuk menjaga putranya yang masih terbaring sakit.


Kakek Lim melirik ke arah Guan Lin, mendengar percakapan dan interaksi Yu Jie dan Guan Lin di kamar Ang Cheng tadi ia langsung menarik kesimpulan jika keduanya sedang menjalin hubungan dan sepertinya itu serius.


"Nama mu Guan Lin, dari marga mana?" tanya Kakek Lim yang sedang duduk di kursi panjang rumah sakit.


Untuk kesopanan Guan Lin menyatukan kedua tangan di depan tubuh, lalu membungkuk memberi hormat. "Benar, nama saya Guan Lin. Marga saya Kang, dari perserikatan timur. Ayah saya Kang Wan Xue, kakek saya bernama Kang--"


"Kang Gong Fai, benar?" Kakek Lim melanjutkan perkataan Guan Lin.


"Anda mengenal kakek saya?"


"Sangat mengenal nya, kami adalah teman. Saat kamu masih kecil, beberapa kali aku datang ke kediaman timur tapi mungkin karena kamu masih kecil kamu tidak akan mengenaliku." Ujar Kakek Lim.


"Begitu, kakek saya meninggal karena jantung. Semoga Anda sehat selalu, Tuan Lim."


"Kamu boleh memanggilku Kakek Lim seperti Yu Jie, bukankah kalian sepasang kekasih?"


"Ya," jawab Guan Lin seraya melirik pada Yu Jie. Melihat Yu Jie tersenyum, dia tau Yu jie tidak melarangnya mengakui hubungan mereka berdua.

__ADS_1


"Jika begitu, kamu adalah keluarga kami juga. Yu Jie sebentar lagi akan menjadi salah satu pewaris keluarga Lim, jika kamu berhubungan dengan nya jangan berani menyakiti cucuku mengerti."


"Kakek, apa maksudnya?" Yu Jie terkejut tiba-tiba Kakek Lim mengatakan dia akan menjadi salah satu pewaris.


"Kakek mu sudah menjadikan mu dalam urutan pewaris kedua, Ang Bei pewaris pertama. Kakek mu juga sudah mencoret nama Ang Cheng dari urutan ahli waris," ujar Nyonya Lim.


"Sudah! Kita bisa membahas nya lagi nanti, sekarang pergilah. Kamu sudah berusaha membantu, Ang Cheng juga sudah ditangani." Ujar Kakek Lim pada Yu Jie.


"Kakek mu benar, pergilah. Kamu pasti sibuk, tak enak juga kekasihmu berada disini. Bagaimana pun Ang Cheng adalah mantan suamimu, jangan membuat Tuan Guan terus menemani mu disini," timpal Nyonya Lim.


"Baik, aku pergi. Hubungi aku jika Mama membutuhkan sesuatu," Yu Jie memeluk Nyonya Lim lalu berjalan mendekati Guan Lin. "Ayo pergi."


Guan Lin mengangguk lalu berpamitan dengan memberi hormat kembali pada Kakek Lim juga pada Nyonya Lim.


Di dalam mobil, Guan Lin sengaja menyuruh pengawal menyetir. Dia memeluk Yu Jie di jok belakang, semakin menghormati sifat Yu Jie yang penyayang terlihat Yu Jie sangat menyayangi keluarga Lim.


"Kamu tidak ingin bertanya kenapa aku seperti itu tadi di kamar Ang Cheng?" tanya Yu Jie, ujung jemarinya terus berputar-putar di sekitar dada Guan membuat pria yang masih berdarah panas itu kegerahan.


Apa Yu Jie sepolos ini, kenapa dia tidak mengerti kalau gerakan jarinya itu membangkitkan gairahku? Aku sudah mencoba bertahan selama ini, kenapa dia menyiksaku?! Arghhh! Gerutu Guan dalam hatinya.


"Jie Jie, bisakah kamu menghentikan jarimu. Aku juga pria normal, kamu sedang menyiksaku." Guan Lin menangkap jari Yu Jie dan menahannya di depan dada dengan suara yang sudah serak karena terus menelan saliva.


Yu Jie menatap wajah Guan Lin yang sudah memerah, mungkin karena gerakan jarinya merangssang gairah kekasihnya itu. Ia tau selama ini Guan Lin sudah berusaha menekan semua keinginan untuk tidur dengan nya, karena selalu berkata menunggu dirinya siap dan menginginkan nya juga.


"Haocun, cari hotel terdekat tapi bagus." Yu Jie mengambil keputusan akan memberikan keinginan Guan Lin, mungkin sekarang menjadi keinginan nya juga.


"H-hotel? Untuk apa?" Guan Lin terbelalak.


"Kamu juga tau maksudku, jadi diam lah jangan banyak bicara sampai kita mendapatkan hotel. Aku juga akan mendiamkan tangan ku," Yu Jie lalu menaruh kepalanya di pundak Guan Lin dan menutup matanya.


Guan Lin masih belum percaya, bibirnya gatal ingin bertanya apa Yu jie serius namun dia tau Yu Jie tak akan menjawab jika sudah melarangnya bicara.


Sesampainya di hotel, Guan Lin memesan kamar Presidential Suite Room. Begitu pintu kamar hotel tertutup, Yu Jie lebih dulu bergerak. Ia menahan tubuh Guan Lin dan mendorongnya ke pintu. "Aku akan melakukan pertama kalinya bagiku dengan mu, kamu harus tau di pernikahan ku dengan Ang Cheng... kami tidak pernah--"


"Sshhh, aku tau... kalau pun kamu tidak suci lagi, aku akan menerima mu. Aku tak peduli semua itu... aku mencintaimu yang dulu, dirimu yang sekarang bahkan dirimu nanti di masa depan. Bagaimana pun kamu di masa depan, aku akan tetap menerima mu."


Guan Lin tak menunggu lagi, menyatukan bibir mereka berdua. Menarik atasan Yu Jie, lalu membenamkan bibirnya di leher kekasihnya.


"Guan..." errrang Yu Jie, "Arght!" ia memekik saat Guan mengangkat tubuhnya, refleks kakinya melingkari pinggang Guan Lin.


"Kamu siap, sayang..." bisik Guan Lin dengan suara serak bergairahnya saat Guan membaringkan nya di atas ranjang.


"Hm," Yu Jie mengangguk lalu mulai menciumi wajah Guan Lin. "Aku siap."


Dengan segenap hati Yu Jie mencurahkan semua perasaan nya malam itu, memberikan kesucian yang masih ia jaga. Menerima pengukuhan penyatuannya dengan Guan Lin, menikmati setiap belaian Guan Lin pada tubuhnya. Malam ini, dia menjadi milik Guan seutuhnya.


_____


Maaf skip dulu penjabaran malam pertamanya Yu Jie, masih menghindari hal berbau nganu. Mungkin di bab - bab ke depannya ada ya 🙈🤭🙏

__ADS_1


__ADS_2