
Kediaman Timur.
Guan Lin menutup ponsel, dia menatap Yu Jie yang sedang duduk minum teh. Sejak Hao Yu menelepon, dia sengaja mengaktifkan pengeras suara agar didengar Yu Jie.
"Kamu mendengarnya, bukan? Apa kamu masih percaya Hao Yu menganggap mu hanya adik perempuannya? Kamu masih percaya dia lelaki baik?"
Lidah Yu Jie terasa kelu, dia terus meyakinkan Guan jika Hao Yu adalah orang baik. Hao Yu adalah seorang pria sejati, nyatanya kini pertahanan kepercayaan nya runtuh. "Maaf, instingku salah. Semua karena aku hidup kembali. Kamu, Xian dan kini Hao Yu malah terlibat dalam hidup ku yang penuh kerikil."
Ting.
Sebuah pesan masuk, itu sebuah alamat yang dikirim Hao Yu. Yu Jie merebut ponsel Guan, dia melihat alamat itu dan mengetahui dimana alamat itu.
"Jun mengatakan Hao Yu sedang keluar negeri untuk sebulan ke depan, sepertinya dia tau aku sedang memata-matainya dan membuatku berpikir dia tak ada disini." Ujar Guan.
"Aku mengerti. Guan, sepertinya cincin lamaran ini akan ku pasang di jariku kapan-kapan. Lamaran mu sudah aku terima, tapi... sepertinya kita tak bisa bersama untuk saat ini." Yu Jie melepas cincin yang baru beberapa jam lalu ia sematkan di jari manisnya.
"Jie Jie...!!!" Guan terhenyak, "Apa yang kamu lakukan?! Kita sudah berjanji akan menjalani semuanya bersama!"
Yu Jie meringis merasakan rasa sakit dari perutnya, meskipun sudah diobati jarum-jarum dan diobati Paman Liu ternyata efek perkelahian itu sangat dahsyat pengaruhnya pada tubuh atau mungkin karena hatinya sedang gusar membuat fisiknya kini terasa sakit.
"Beri aku waktu, sebenarnya hubungan kita diluar perhitungan ku. Guan... mari berpisah untuk sementara waktu. Aku tidak meminta padamu, tapi aku memohon. Tolong... lepaskan aku." Yu Jie bicara dengan suara dingin, tatapannya tak bisa diartikan.
"Yu Jie... apa yang terjadi? Kenapa tiba-tiba? Beberapa waktu lalu kita baru bahagia, kamu menerima lamaranku... kita akan me-nikah..." lirih Guan bahkan suaranya melemah.
Yu Jie menggeleng. "Aku tidak berpikir rasional saat kamu memintaku menjadi istrimu, perasaanku mengakali pikiranku. Sekarang, aku sudah sadar sepenuhnya... sepertinya kita tak bisa bersama, terlalu banyak masalah yang akan menghalangi. Aku yang akan pergi menemui Hao Yu, kamu jangan pergi. Aku akan membereskan semuanya, sebaiknya untuk saat ini kita menjalani jalan kita masing-masing."
Tanpa menoleh lagi pada Guan, Yu Jie bergegas berjalan keluar dengan mengingat alamat tempat Hao Yu bertemu. Saat membuka pintu, langkah Yu Jie terhenti. "Terima kasih untuk segalanya, Guan. Selamat tinggal."
Guan merasa tubuhnya kaku, dia masih belum percaya apa yang baru saja terjadi padanya. Bibirnya bergetar, saat sosok Yu Jie sudah tak terlihat airmata terus menetes.
Yu Jie mengangguk pada Haocun yang berdiri diluar ruangan. "Mari pergi."
Di dalam mobil hanya tinggal mereka bertiga, Yu Jie melepaskan topeng raut wajah datarnya. Ia menarik nafas dengan perlahan, "Haocun, apa aktingku keren? Apa saat aku membuka pintu dan mengatakan perpisahan itu meyakinkan? Apa menurutmu, Guan berakting mumpuni sepertiku?" Yu Jie khawatir, sandiwaranya dan Guan akan terbongkar karena kekasihnya itu tak mempertahankan aktingnya. Mereka baru mengetahui, ternyata ada mata-mata di dalam kediaman Timur.
Haocun yang sudah mendapat kabar tentang sandiwara yang akan dilakuan para majikannya, tersenyum geli. "Aku rasa karena ide ini datang dari Anda, Tuan Muda akan semaksimal mungkin bersandiwara."
"Kamu yakin?"
__ADS_1
"Saya yakin, Nona."
Yu Jie mengulum bibir geli, membayangkan Guan terus berakting karena dipaksa olehnya. "Hm, ayo ke tempat Hao Yu ingin bertemu."
"Tadi siapa yang menelepon lebih dulu?"
"Hao Yu menelepon Guan. Ternyata prediksi Guan dan Jun yang sudah mendapati pertemuan Hao Yu dan Xingsheng tak salah. Hao Yu benar-benar menghubungi Guan, dan bicara tentang Xian. Aku sudah tak sabar memukul pria yang sudah aku anggap saudara lelaki itu, aku berharap belum terlambat baginya untuk berubah dan tidak semakin jauh melangkah menjadi orang jahat. Kau tau, aku bertanggung jawab dengan sikap Hao Yu sekarang dan aku tidak akan membiarkan Hao Yu terjerat oleh pria serakah dan kejam seperti Xingsheng."
"Ya, Nona."
Mengitari kota hanya untuk sampai di sebuah tempat yang dijadikan pertemuan oleh Hao Yu pada Guan, akhirnya mobil berhenti setelah menempuh sekitar dua jam.
"Hao Yu memilih tempat yang jauh," Yu Jie menatap sebuah tempat tertera nama sebuah club. "Haocun, kalian berdua disini saja. Aku akan masuk sendiri."
"Tapi, Nona_"
"Kamu masih belum mengenalku? Jika aku terdesak, aku akan memanggil kalian."
"Baik, Nona. Hati-hati."
"Nona Zhu, apa yang kamu lakukan di tempat ini?" suara seseorang yang teramat ia kenali.
Yu Jie menoleh ke sumber suara, menenangkan wajah dan jantung yang berlari cepat berdegup kencang. Samar-samar kilasan kehidupan sebelumnya membayangi, selalu seperti itu.
Tidak! Yu Jie kamu kuat! Kendalikan dirimu! Yu Jie menutup mata seperti biasa, demi mengatur nafas dan mengenyahkan perasaan sakitnya.
Ia membuka mata, menatap Xingsheng lalu tersenyum. "Apa aku mengenalmu, Tuan?"
"Hahaha... Yu Jie. Ini aku... mantan sepupumu, aku keponakan Bibi Ming Na. Aku terlalu sibuk sampai kita belum pernah berjumpa, bukan?" jawab Xingsheng.
"Ah, kak Xingsheng. Aku sering mendengar namamu dari Li Mei, dia beberapa kali bercerita tentang keluarganya. Salam, Kakak. Senang bertemu denganmu," Yu Jie dengan ceria dan sok akrab memeluk tubuh Xingsheng, menepuk punggung musuh yang dibencinya dengan pelan lalu melepaskan pelukan.
"Y-ya..." Xingsheng kesulitan bicara, ia menatap intens wajah Yu Jie yang sangat cantik meskipun sebelah pipinya lebam.
"Sedang apa kakak disini?" tanya Yu Jie berubah lugu, hanya mencoba trik yang sama pada Li Mei meskipun kemungkinan Xingsheng mengetahui sifat aslinya sekarang.
Xingsheng menggelengkan kepalanya membuang perasaan takjub melihat kecantikan Yu Jie, apalagi suara lugu wanita di hadapannya itu sempat membuatnya bingung sebentar.
__ADS_1
"Aku baru bertemu temanku, kamu?"
"Aku juga ingin bertemu teman, tapi masih mencari keberadaannya." Jawab Yu Jie masih dengan wajah polos.
"Yu Jie? Sedang apa kamu disini?" dari jauh Hao Yu mengenali sosok Yu Jie yang tinggi dan karena wajahnya yang mempunyai ciri khas, mudah sekali mengenali wanita itu lalu bergegas menghampiri.
"Ah! Ketemu! Hao Yu, aku sedang mencarimu, ayo bicara." Yu Jie menggandeng lengan Hao Yu, gerakan yang belum pernah Yu Jie berikan pada Hao Yu hingga membuat pria itu membulatkan mata.
"Kak Xingsheng, maaf harus menghentikan perbincangan kita. Boleh minta nomer mu, kapan-kapan kita bisa bertemu untuk minum kopi. Boleh?"
Xingsheng mengangguk lalu memberikan nomer ponselnya begitu saja.
"Aku ingat! Hao Yu pernah bilang, kalian berdua mempunyai kerjasama bisnis. Jadi teman yang kak Xingsheng katakan baru bertemu, apa itu Hao Yu?"
"Ya, kami baru selesai membicarakan bisnis, kalau begitu aku tak akan menganggu pertemuan kalian." Jawab Xingsheng matanya menatap penuh arti pada Hao Yu dan tentu saja itu disadari Yu Jie.
"Oke, Kak. Nanti aku hubungi," Yu Jie tersenyum lalu masih dengan menggandeng lengan Hao Yu mulai berjalan pergi menjauh.
Xingsheng mengelus-elus dagunya melihat tingkah Yu Jie yang tak terlihat seperti yang dibicarakan belakang ini, malah terlihat lugu polos dan tidak terlihat pintar terdengar seperti cerita yang dikatakan Li Mei padanya dulu.
Di dalam ruangan pribadi yang dipesan Hao Yu, Yu Jie melepaskan rangkulannya. Ia berjalan lebih dulu ke sofa dan mendaratkan seluruh tubuhnya disana. "Mari mulai bicara, tanpa kepura-puraan."
"Apa Guan yang mengirim mu kesini? Dia melanggar omongannya padaku! Laki-laki brengsekk...!"
"Tidak! Aku datang atas keinginanku sendiri, aku mendengar pembicaraan kalian berdua di telepon. Arti dari kata-katamu di telepon berarti satu hal, kamu yang menculik Xian. Apa kamu menginginkan sesuatu dari Guan? Kalau iya... katakan padaku. Aku yang akan mengabulkan keinginan mu, tapi sekarang juga lepaskan Xian. Gadis itu tidak bersalah disini, jangan jadikan dia korban dari keegoisan kita. Kamu marah padaku karena aku lebih memilih Guan daripada kamu yang lebih dulu dekat denganku, iya?"
"Yu Jie..." lirih Hao Yu, semua yang dikatakan Yu Jie sepenuhnya benar.
"Kalau begitu, marahlah padaku. Jangan membawa urusan kita dengan Xian. Hao Yu, kalau kau ingin aku berpisah dengan Guan maka akan aku lakukan. Seorang pria seperti Guan belum bisa memasuki hatiku sepenuhnya, aku belum mencintainya terlalu dalam. Namun, meskipun aku berpisah dari Guan... aku tidak ingin membuka hatiku pada lelaki lain termasuk kamu."
Hao Yu mengeratkan kedua tangannya, dia merasa bimbang. Yu Jie merasakan kebimbangan Hao Yu, ia melanjutkan perkataannya.
"Hao Yu, bayangkan aku yang diculik. Lalu, aku disiksa sampai mati. Apa kamu akan menyesal atau terluka?"
"Yu Jie! Jangan katakan omong kosong! Aku tidak akan membiarkan mu disakiti! Lihat pria yang kau cintai itu, bahkan Fen Lian menyakitimu gara-gara Guan! Apa kau tidak tau kakak pertama Fen Lian adalah seorang gangster keji?! Fen Lian adalah wanita gila, dia akan terus mengganggumu sampai hancur! Kakak laki-lakinya sangat menyayangi Fen Lian! Aku sedang berusaha melepaskan mu dari musibah besar!"
Kening Yu Jie mengernyit, dia terkejut dengan banyaknya perubahan dalam diri Hao Yu. Apakah itu memang sifat dasar asli dari Hao Yu, atau Hao Yu telah berubah karena dirinya? Jika benar karena dirinya... ternyata cinta hal yang menakutkan karena bisa merubah seseorang menjadi gila.
__ADS_1