Dewi Seribu Jarum

Dewi Seribu Jarum
Bab 32 - Resmi Bercerai.


__ADS_3

Esoknya, di Perusahaan Yu Jie bertemu dengan pengacara sang Ayah. Yu Jie sudah mengumpulkan bukti beberapa rekaman Cctv di dalam kediaman Zhu, memperlihatkan Ang Cheng dan Li Mei yang beberapa kali bermesraan hanya sekadar berciuman atau berpelukan. Sedangkan di tempat lain, tempat Ang Cheng dan Li Mei sering bermadu kasih Yu Jie masih harus mencarinya.


Setelah berbicara dengan Pengacara, Yu Jie disibukkan kembali dengan dokumen yang harus diperiksa. Tiba - tiba ia ingat belum menentukan tempat serta waktu untuk bertemu Buyer Amerika, dia bergegas menelepon Tuan Wan Xue.


Dalam deringan ketiga, panggilan nya diangkat.


"Halo." Suara bariton Tuan Wan Xue terdengar dari seberang sambungan telepon.


"Ini saya, Yu Jie. Tuan Wan Xue."


"Hm, ya. Ada apa?"


"Apa Tuan sudah bicara dengan Buyer Amerika? Saya akan menentukan seberapa besar biaya penalti yang harus saya siapkan untuk membayar pada pihak Buyer."


"Begini, kamu juga tau 'kan? Bukan hanya aku saja yang meloloskan obat itu. Pihak-pihak lain juga ikut andil dan mereka sudah mendapat kesepakatan dengan Tuan Dun Ming sepertiku. Tapi aku bisa mengembalikan uang dari Tuan Dun Ming, namun entah apa kesepakatan antara Tuan Dun Ming dan pihak lainnya. Bagaimana sebelum Nona Zhu bicara dengan Buyer, bicara lah pada pihak-pihak lain. Dari pihakku, aku akan mengirim Guan Lin untuk membantumu menemui mereka. Aku hanya bisa membantu mu seperti ini, apa kamu bersedia?" Ujar Tuan Wan Xue.


"Baik, bisakah Anda membuat janji untuk saya bertemu dengan pihak lain hari ini? Saya tidak ingin menunda-nunda nya lagi." Ujar Yu Jie.


"Apa Nona Zhu akan menawarkan kesepakatan yang sama pada mereka seperti yang Nona Zhu tawarkan padaku?" tanya Tuan Wan Xue penasaran, kalau iya bukankah nantinya ia akan mendapat saingan saat penjualan obat virus yang dikatakan akan menyerang sebentar lagi.


"Mungkin, karena saya tidak mempunyai sesuatu untuk saya tawarkan lagi." Jawab Yu Jie jujur, ia hanya mempunyai formula dan itu pun ia belum bisa memperbanyak nya.


Hening, Tuan Wan Xue terdiam.


"Tuan Wan Xue, Anda masih di saluran?" tanya Yu Jie.


"Masih... begini Nona Zhu. Saya akan lebih dulu berusaha bicara dengan pihak lain dan secepatnya saya akan memberikan jawaban padamu." Tuan Wan Xue memutuskan tidak ingin mempunyai saingan.


"Saya memberi waktu dua hari pada Anda, saya ingin secepatnya mendapatkan kabar... Tuan. Kalau begitu saya tutup, terima kasih." Yu Jie mematikan sambungan, ia bukan manusia bodoh dan tahu jika Tuan Wan Xue menginginkan vaksin darinya untuk dirinya sendiri demi keuntungan yang besar.


"Manusia memang serakah, demi uang mampu melakukan segalanya," gumam Yu Jie.


.


.


.


Kediaman Perserikatan Timur.


Dari telepon di meja kerja ruang pribadinya, Tuan Wan Xue memijit nomer salah satu pihak terkait. Namun, satu pihak yang tidak bisa hanya bicara di telepon saja yaitu Ketua perserikatan barat. Apalagi setelah dari pihak Barat mengajukan aliansi melalui pernikahan dan ditolak Guan Lin secara kasar, sudah dipastikan dari pihak barat semakin memusuhi pihak timur.


"Apa ada orang diluar?" teriak Tuan Wan Xue.


Pintu terbuka, satu penjaga masuk. "Ya, Tuan besar."


"Panggil kedua putraku dan putriku juga." Titah Tuan Wan Xue.


"Baik."


Selang tak berapa lama, ketiga anak Tuan Wan Xue datang termasuk anak bungsunya seorang perempuan bernama Xian Lun berusia 19 tahun.


"Duduklah kalian bertiga," Tuan Wan Xue beranjak dari kursi kerjanya lalu ikut duduk di kursi.


"Ada apa?" tanya Guan Lin malas.


"Kamu benar-benar tidak mau menikah dengan Fen Lian dari perserikatan barat?" jemari Tuan Wan Xue mengetuk - ngetuk pegangan kursi.


"Tidak! Sudah jelas aku mengatakan alasannya, aku tak menyukai wanita bawel dan kejam sepertinya. Aku pernah melihatnya membunuh anak buahnya tanpa perasaan, dia bukan wanita yang aku inginkan untuk mendampingiku hidup." Jawab Guan Lin tegas.


"Kamu, Jia Chan?" pertanyaan beralih.


"Ohhh, apa Ayah ingin membunuhku. Wanita itu menyeramkan, kemarin saja dia menyuruh bawahan nya menodongkan pistol padaku! Mengerikan!" Jia Chan bergidik. "Lagipula dia terlalu tua untukku!"


Tuan Wan Xue menghela nafas, dia tidak bisa memaksa Guan Lin atau putranya itu akan balik menyerang nya karena sebagian bawahan di kediaman perserikatan sudah memberikan kesetiaan mereka pada Guan Lin.


"Jadi pilihan nya memang kamu, Xian Lun. Kamu harus menikah dengan putra kedua dari perserikatan barat, Feng Ying."


"Aku masih 19 tahun, Ayah. Masih ingin kuliah, masih ingin bebas. Nikahkan saja Kak Guan!" tolak putri satu-satunya Tuan Wan Xue.


"Kalian!" Tuan Wan Xue mencengkram pegangan kursi dengan erat sampai urat - urat kehijauan di tangan nya terlihat.


"Kakak, aku nggak mau nikah!" Xian Lun paling manja pada Guan Lin, gadis itu pindah duduk lalu memeluk kakaknya.


"Sebenarnya ada apa, Ayah? Kita sudah sepakat daripada menikahkan keluarga kita dengan pihak barat lebih baik terus berkonflik. Sekarang, kenapa Ayah membahasnya lagi?" Guan Lin menyorot tajam sang Ayah.


"Kalian berdua keluar lah, aku ingin bicara dengan kakak kalian." Tuan Wan Xue menatap Jia Chan dan Xian Lun.


Tentu saja Jia Chan dan Xian Lun merasa senang diusir keluar ruangan, mereka akhirnya bisa terbebas dari perbincangan yang tak bermanfaat bagi mereka.


"Bukankah kamu ingin tahu kesepakatan apa diantara Ayah dan Nona Zhu? Aku akan mengatakan nya sekarang," ujar Tuan Wan Xue pada Guan Lin setelah kedua anaknya yang lain pergi.


"Kenapa tiba-tiba Ayah ingin mengatakan nya padaku sekarang? Saat aku bertanya Ayah mengatakan itu bukan urusan ku."


"Aku ingin meminta pendapatmu, dengarkan."


Kemudian Tuan Wan Xue mulai menceritakan semua keinginan dan kesepakatan dari Yu Jie, lalu keinginan nya mendapatkan vaksin hanya untuknya.


"Jadi, maksud Ayah... Ayah akan melakukan keinginan Nona Zhu untuk bicara dengan pihak lain termasuk dari perserikatan barat tapi dugaan Ayah dari pihak mereka pasti akan mempersulit. Sebenarnya Nona Zhu bisa saja bicara sendiri pada pihak mereka, tapi Ayah tidak ingin vaksin dari Nona Zhu didapatkan oleh pihak lain. Benar begitu? Ckckck... Ayah terlalu serakah!" kesal Gaun Lin.


"Kau tau aku selalu serakah, tapi dalam masalah ini apa kau mau membagi keuntungan dengan pihak barat! Bagaimana jika dari pihak mereka bisa lebih banyak mendapatkan kepercayaan dalam membeli vaksin nantinya, kau ingin pihak kita kalah dan dipermalukan!"


Guan Lin memijit pelipisnya, pikiran nya malah memikirkan Yu Jie. Kenapa ada wanita sehebat Yu Jie, yang bahkan bisa meramal masa depan? Bahkan hanya dengan penjelasan dari sang Ayah, ia langsung percaya jika Yu Jie benar-benar bisa meramal.


"Tapi aku menolak menikah dengan Fen Lian, aku akan bicara dengan Xian. Aku pernah dengar putra kedua Tuan Jiang menyukai Xian, mungkin kita bisa melakukan aliansi barat dan timur dengan perjodohan mereka berdua."


Wajah Tuan Wan Xue berbinar senang, ternyata putra tertuanya itu bisa diajak bekerja sama.


"Ekhm, kalau begitu masalah adik perempuan mu aku serahkan padamu. Nona Zhu hanya memberiku waktu dua hari, pergilah segera bujuk adikmu." Tuan Wan Xue bangkit dari duduknya kembali menuju meja kerjanya.


Guan Lin menggelengkan kepala, tapi apa boleh buat ini juga untuk kepentingan Yu Jie. Ia melakukan nya bukan hanya karena ingin memenuhi keinginan sang Ayah, namun juga karena dia ingin membantu Yu Jie menyelesaikan masalah wanita itu.


Tok.


Tok.


Tok.


"Kakak masuk," ujar Guan Lin mendorong pintu kamar Xian Lun yang tidak dikunci.

__ADS_1


"Aku sudah katakan tidak mau dijodohkan! Kalau kak Guan datang ingin bicara masalah perjodohan lagi, pergi saja!" Xian Lun setengah berbaring di ranjang nya, gadis itu sangat feminim hampir setiap warna benda-benda di kamar berwarna putih dan merah muda.


Guan Lin duduk di tepi ranjang, sebelah tangan nya mengelus sayang pucuk kepala adiknya. "Kamu tau kan, Feng Ying sudah lama menyukaimu. Katamu dia selalu mendatangimu di kampus dan memintamu pergi makan dengan nya. Kakak sudah menyelidiki Feng Ying dan dia pria baik, dibalik dia adalah putra musuh keluarga kita. Dia benar-benar hanya mengejar mu, selama setahun ini terus mendekatimu tanpa berdekatan dengan wanita lain. Selain itu dia pria bertanggung jawab dengan pekerjaan nya, di usia mudanya dia sudah mempunyai usaha sendiri alih-alih mengikuti usaha keluarganya. Coba dulu terima perjodohan ini, jika di tengah jalan kamu tetap tidak menyukainya atau dia memperlakukan mu tidak baik maka kamu boleh menolak. Kakak sendiri yang akan berada di belakang mu jika itu terjadi. Xian, kakak tak pernah meminta sesuatu padamu kan. Sekali ini saja kamu bisa bantu kakak, kamu tau... kakak juga sepertinya sedang menyukai seseorang."


"Kak Guan, janji? Akan melindungi ku dan mendukung ku kalau aku tak ingin melanjutkan perjodohan ini nantinya." Xian Lun menarik lengan kakak nya.


"Kakak janji."


Xian Lun menghela nafas pasrah, "Baiklah, katakan pada Ayah aku bersedia di jodohkan dengan Feng Ying."


"Gadis baik, kamu ingin hadiah apa dari kakak?"


"Mobil sport, kakak janji akan membelikan ku saat umurku 20 tahun. Aku minta sekarang, oke." Bibir gadis itu tersenyum senang.


"Oke, besok pulang dari kampus mobil mu sudah ada di rumah."


"Asikkk!" Xian Lun bergelayut manja di lengan kakaknya. "Tunggu! Tadi kakak mengatakan sedang menyukai seseorang, katakan siapa?" ia menyipitkan mata, karena baru pertama ini kakaknya menyukai seorang wanita. Bahkan ia pernah berpikir kakaknya itu menyukai laki-laki.


"Ada, nanti juga kamu akan tau." Guan Lin bangun dari tepi ranjang, "Kakak akan bicara dengan Ayah, tidur jangan terlalu malam."


"Oke."


Guan Lin menuju ke ruangan sang Ayah, lalu mengatakan semua pembicaraan nya dan kesediaan adik perempuan nya untuk di jodohkan.


"Sudah selesai kan, sekarang aku minta nomer Yu Jie. Maksudku nomer Nona Zhu." Pinta Guan Lin.


"Ada apa? Mau bicara apa kamu dengan nya?" tanya Tuan Wan Xue tapi dia menulis nomer Yu Jie di selembar memo lalu menyerahkan pada putranya.


"Urusan pribadi, terima kasih nomer nya. Ayah bisa menelepon perserikatan barat dan mengabarkan aliansi perjodohan ini," Guan Lin membalikkan tubuh meninggalkan sang Ayah menuju ruang kerja pribadinya.


Guan Lin langsung mendaratkan tubuhnya di kursi putar, mengeluarkan ponsel lalu menyimpan di dalam kontak ponsel. Ia ingin menelepon atau sekadar mengirim chat pada Yu Jie, namun ia bingung harus mengatakan apa.


"Sudahlah, untuk saat ini mempunyai nomernya sudah cukup. Aku akan bertemu dengan nya saat mengantar mobil beberapa hari lagi," Guan Lin tersenyum.


.


.


.


Kabar datang pada Yu Jie esok harinya, jika semua pihak setuju membantu Yu Jie untuk bicara pada Buyer dan akhirnya dua hari kemudian pertemuan Yu Jie dan pihak Buyer diadakan di sebuah tempat bisnis club malam milik perserikatan timur dan itu adalah club malam dengan Guan Lin sebagai pemiliknya.


Satu ruangan khusus dipersiapkan oleh Guan Lin untuk menyambut Buyer, terlebih untuk menyambut kedatangan Yu Jie sekalian untuk memberikan mobil yang sudah diperbaiki.


Sialnya bagi Guan Lin, perwakilan yang datang dari pihak perserikatan barat adalah Fen Lian. Wanita itu menjadi perwakilan dari lima pihak yang datang ke club, sengaja datang lebih awal karena ingin bertemu Guan Lin.


"Hai, sayang. Aku begitu merindukan mu," tangan Fen Lian memulai aksinya ingin mengelus wajah Guan Lin, namun pria itu dengan gesit menghindar.


"Jauhi aku, Nona Jiang. Jangan membuat aliansi dua perserikatan yang sudah terjalin rusak karena sikapmu padaku, aku tidak segan-segan lagi menyakitimu kalau kau menyentuh tubuhku!" tatapan dan ucapan Guan Lin begitu dingin.


"Uhhk, menakutkan. Hahaha..." bukannya takut tapi Fen Lian malah menertawakan sikap dingin Guan Lin padanya, itu lah yang ia gilai dari Guan Lin. "Aku akan terus memuja mu, sayang. Hahaha...." masih dengan tertawa Fen Lian masuk ke dalam ruangan yang dipersiapkan.


Dari pihak ketiga lainnya pun berdatangan, lalu Yu Jie datang terakhir sebelum kedatangan Buyer. Guan Lin mendekati Yu Jie yang dikawal Jiao Long, "Apa kabarmu, Nona Zhu?"


"Baik, bagaimana mobilku? Kenapa kamu tidak pernah menelepon untuk mengabari tentang mobil ku?" tanya Yu Jie.


Guan Lin tersenyum, benar - benar tersenyum lebar. "Apa kamu menunggu-nunggu telepon dariku, Nona Zhu. Apa kamu begitu merindukan suaraku?" jahilnya.


Yu Jie juga merasa sedikit aneh, ada apa dengan Guan Lin setelah lama tidak bertemu?


"Nona Zhu, boleh aku memanggil mu Yu Jie? Aku ingin akrab dengan mu, ke depan nya kita akan terus bertemu membahas bisnis Ayahku. Beliau sudah memberiku kepercayaan untuk terus berbisnis dengan mu." Guan Lin tidak seperti biasanya, dia terus bicara meskipun Yu jie jarang menjawabnya.


"Tentu, tak ada masalah kamu ingin memanggil ku dengan Yu Jie. Silahkan saja, Tuan Guan." Jawab Yu Jie apa adanya, dia tak mempermasalahkan panggilan apapun padanya.


"Terima kasih, Yu Jie." Nama itu semakin terdengar indah saat lidah Guan Lin mengucapkan nya dengan begitu lembut. "Bisakah panggil aku dengan namaku saja, panggil aku Guan."


"Hm, oke. Guan..." Yu Jie mengangguk, "Bisakah aku sekarang masuk ke ruangan? Atau masih ada yang ingin kamu bicarakan?"


"Tidak... tidak ada lagi. Maafkan aku malah menahan mu disini, silahkan aku akan menunjukkan jalan ke ruangan."


Yu Jie mengikuti Guan Lin yang berjalan lebih dulu di depan, sesekali pandangan mata Yu Jie mengarah ke tubuh Guan Lin yang terlihat begitu gagah dari belakang tak kalah tinggi dan keren dari Ang Cheng.


Astaga! Apa yang sedang aku pikirkan?! Kenapa aku harus membandingkan Guan Lin dengan Ang Cheng! Sial!


Buyer dari Amerika akhirnya datang, Tuan Fredy masih menjadi wakil dari pihak Buyer. Kini perwakilan dari ketujuh pihak sudah berkumpul di sofa melingkar di dalam ruangan club, berbagai jenis minuman beralkohol dan makanan ringan tertata di atas meja.


Seorang waiters maju dan mulai melayani para tamu dengan menyajikan minuman yang di inginkan, Yu Jie hanya meminta minuman beralkohol rendah untuk menghormati semua pihak.


"Baik, bisa kita mulai pembahasan nya. Silahkan Anda lebih dulu bicara, Nona Zhu. Anda harus menjelaskan kenapa obat ini tidak bisa dikeluarkan Perusahaan ChM?"


"Baik, seperti yang saya katakan sebelum nya di telepon pada Anda Tuan Fredy jika obat ini mengandung zat membahayakan. Tuan Dun Ming selaku yang bertanggung jawab mengeluarkan nya dengan terburu-buru, Papa saya dipaksa menanda tangani penjualan itu. Saya mempunyai rekaman saat Papa saya dipaksa melakukan yang tidak ingin beliau lakukan, lihat ini."


Yu Jie memang sudah memberikan rekaman tentang Dun Ming yang memaksa tanda tangan saat Ayahnya terkena serangan jantung pada Ming Na, namun rekaman yang ia simpan di laptop nya masih ada. Yu Jie mem-play rekaman Dun Ming, di layar terlihat bagaimana Dun Ming mengancam Tuan Huang lalu menaruh cap jari di dokumen penjualan bahkan dengan teganya meninggalkan Tuan Huang saat jantung Ayah Yu Jie itu kesakitan.


BRAKKK!


"Aku tak menyangka Tuan Dun Ming akan bertindak serendah ini! Dia orang yang kejam dan juga membohongi kami! Fu*k!" Tuan Fredy berteriak marah.


"Karena kesalahan dari pihak Perusahan ChM sudah clear dan ternyata Tuan Huang selaku pemimpin Perusahaan tidak melakukan pengesahan dan itu perbuatan Tuan Dun Ming sendiri, mungkin Tuan Fredy bisa meringankan penalti dari pembatalan pembelian obat ini." Guan Lin angkat bicara, dia membela Yu Jie berusaha meringankan masalah wanita itu.


"Kami mengerti, apalagi ada bukti rekaman ini. Yang bersalah adalah perorangan bukan Perusahaan, apa dari kalian tidak ada yang tau jika obat ini berbahaya?" tanya Tuan Fredy menatap satu - persatu pihak yang telah meloloskan obat.


"Dari pihak kami benar-benar tidak tahu, Tuan Dun Ming memang memberikan uang pada pihak kami tapi kami hanya menerima. Memang kami juga bersalah, karena tidak memeriksa terlebih dahulu obat itu dan langsung meloloskan nya. Maafkan kami," orang itu berdiri lalu membungkuk untuk meminta maaf.


"Baiklah, kita jangan saling menyalahkan. Sekarang karena semua sudah clear, bisakah aku pergi. Aku ingin menikmati malam ini dengan memanjakan diri di club pria kesayangan ku," ujar Fen Lian seraya mengedipkan sebelah matanya pada Guan Lin. Bahkan memberikan ciuman jauh dari bibirnya, terlihat seperti wanita na kal.


Guan Lin seketika menoleh pada Yu Jie, takut wanita itu salah paham padanya. Dia tidak ingin Yu Jie menganggap omong kosong dari ucapan Fen Lian dengan serius, namun wajah Yu Jie terlihat biasa saja.


Ya Ampun Guan! Tentu saja Yu Jie akan bersikap biasa saja, memang nya siapa kamu baginya?! Guan Lin menertawakan dirinya yang bersikap konyol.


"Baik, kita sudah selesai. Silahkan Nona Zhu dan Tuan Fredy membicarakan kelanjutan nya." Ujar salah satu pihak.


"Anda semua bisa menikmati minuman disini. Tuan Fredy dan Nona Zhu mari ikut saya untuk membicarakan tentang pembatalan di ruangan pribadi saya," ujar Guan Lin.


"Baik," Tuan Fredy dan asisten nya berdiri diikuti Yu Jie dikawal Jiao Long. Mereka sekali lagi mengikuti langkah Guan Lin yang memimpin berjalan terlebih dulu di depan.


Setelah pembicaraan yang intens antara Yu Jie dan Tuan Fredy, karena bukan kesalahan dari Perusahaan akhirnya dari pihak Buyer tidak memberikan penalti dan hanya akan menerima pengambilan uang dari pembatalan pembelian. Dengan rasa terima kasih, Yu Jie akhirnya memberikan 10 botol vaksin pada pihak Buyer dan meminta mereka menyuntikkan vaksin pada tubuh mereka jika percaya padanya. Dengan tersenyum lebar dari pihak Buyer pun pergi dari club, mereka tidak akan mempermasalahkan lagi tentang obat.


"Minum lah, ini non alkohol." Guan Lin memberikan minuman pada Yu Jie sepeninggal Buyer, kini hanya mereka berdua di ruangan pribadi Guan Lin. Jiao Long menunggu diluar pintu bersama beberapa pengawal Guan Lin.

__ADS_1


"Terima kasih atas bantuan mu, Guan. Tadi kamu mempermudah dalam pembicaraan dengan Tuan Fredy, aku jadi tak banyak bicara untuk menjelaskan." Yu Jie benar-benar berterima kasih.


"Kalau begitu traktir aku makan siang atau makan malam, juga jika aku menelepon mu angkatlah."


"Tentu. Ah, malam ini aku akan ke kediaman mu. Aku akan memberikan vaksin pada Ayah mu yang sudah aku janjikan, sekitar 20 persen. Aku masih harus melipatgandakan vaksin, namun aku juga sibuk mengurus Perusahaan. Jadi, hanya bisa memberikan sedikit pada Ayahmu. Sebaiknya semua keluarga Kang lebih dulu di vaksin, sisanya baru dijual. Aku kira penyakit ini akan datang lusa, lebih cepat dari perkiraanku karena cuaca sangat lembab mempercepat penyakit menyebar. Sebaiknya pengunjung yang datang ke club mu ini di vaksin diluar sebelum mereka masuk, penyakit ini sangat ganas. Jika terserang, hanya butuh satu bulan untuk bisa bertahan tanpa antivirus lalu meninggal. Aku juga akan memberikan antivirus pada Ayah mu, itu untuk orang-orang yang sudah terjangkit nantinya."


Guan Lin menatap lekat manik indah milik Yu Jie, bahkan sesekali memandang bibir merah saat Yu Jie bicara terlihat lembut untuk dicumbu.


"Guan! Kamu mendengar ku?" Yu Jie sedikit menaikkan volume suaranya.


"Ah! Aku mendengar mu, Yu Jie. Suaramu terlalu lembut, membuatku terpesona. Bahkan aku tak bisa memalingkan pandangan ku dari mata indah mu, kamu sangat cantik."


"Hah? Apa kamu bilang?" sepertinya Yu Jie salah dengar karena Guan Lin sedang memujinya.


"Aku berkata jujur, kamu wanita luar biasa. Yu Jie, aku sangat mengagumi... bolehkah aku menyukaimu?"


Kali ini Yu Jie terpana, baru pertama kali seseorang bicara padanya dan mengatakan jika menyukainya.


"A-aku..." Yu Jie kehabisan kata-kata.


"Yu Jie, aku tau kamu masih berstatus istri Ang Cheng. Maaf, Jia Chan lancang menyelidiki latar belakang mu dan dari informasi itu aku tau... jika kamu akan segera bercerai dengan suamimu itu. Aku akan menunggu jawaban mu setelah kamu resmi berpisah dari Ang Cheng. Ingat saja, aku adalah pendaftar pertama yang ingin menjadi kekasihmu. Ingat itu jika setelah kamu sendiri nanti banyak pria datang padamu." Lalu dengan jempolnya, Guan Lin mengelus bibir bawah Yu Jie sekilas mungkin jika diperbolehkan ia akan menarik tubuh Yu Jie lalu mencium wanita itu. Guan Lin kemudian menarik tangan nya. "Maaf, aku tak bisa menahan diri. Kamu terlalu menawan untuk aku abaikan, andaikan aku bertemu dengan mu sejak lama... aku tidak akan pernah menyia-nyiakan mu seperti suamimu itu."


Wajah Yu Jie menghangat, apalagi tadi dia minum sedikit minuman beralkohol saat pertemuan. "Gerah disini, bisakah kita pergi ke rumahmu sekarang?" Ia mengipasi wajah nya yang kepanasan.


Yu Jie tak menunggu jawaban Guan Lin, dia bangun dari kursi lalu berjalan dengan tergesa-gesa menuju pintu luar bahkan kedua kakinya sempat terantuk membuatnya kehilangan keseimbangan. Untung saja ia mempunyai keahlian bela diri, jadi bisa refleks menahan tubuh agar tidak terjatuh.


Di belakang nya Guan Lin tersenyum melihat tingkah Yu Jie, sepertinya ada kemungkinan dia bisa mendapatkan hati Yu Jie di kemudian hari.


Malam itu setelah menyerahkan vaksin dan berjanji akan memberikan antivirus pada Tuan Wan Xue, di kediamannya akhirnya Yu Jie dapat tidur dengan damai karena satu masalah telah selesai.


.


.


.


Di Kediaman Perserikatan Barat.


Setelah mandi menyegarkan tubuh nya dari mabuk, Fen Lian menelepon orang kepercayaan nya.


"Ya, Nona besar?"


"Ada tugas untukmu, cari informasi dengan akurat tentang CEO Perusahaan ChM. Aku melihat dari sorot mata Guan, jika pria itu ada perasaan tertarik pada CEO wanita itu. Aku tidak ingin mempunyai saingan, tanpa saingan pun aku susah mendapatkan Guan. Kau mengerti?"


"Baik, Nona besar. Malam ini juga saya akan mencari informasi nya."


"Hm, oke."


Fen Lian melempar ponsel ke atas ke ranjang besar miliknya, lalu membuka laptop di atas meja men-klik galeri tersimpan berisi foto-foto Guan Lin dari berbagai pose dan tak ada sedikit pun senyuman di bibir Guan lin di dalam foto-foto itu. "Sampai kapan pun aku tak akan melepaskan mu, sayang."


Fen Lian sudah terobsesi dengan Guan Lian, baginya tak akan ada pria seperti Guan Lin yang terlihat dingin tapi ia sangat menyukainya karena membangkitkan desir-desir gairah saat pria itu bersikap dingin apalagi padanya.


.


.


.


Di kediaman Ang Cheng, surat dari pengadilan pun datang pada pria itu. Dengan kesal Ang Chen melempar selembar kertas itu ke lantai dan menginjaknya.


Tok.


Tok.


"Kak, ayo sarapan. Aku sudah memasak makanan kesukaan mu," Li Mei bicara dari luar kamar.


"Sarapan sendiri! Aku masih belum selesai!" tolak Ang Cheng.


"Tapi--"


"Pergi!" teriak Ang Cheng.


Sekali lagi Li Mei menelan pahitnya sikap Ang Cheng padanya, alih - alih berjalan menuju ke meja makan di lantai satu dia masuk ke kamarnya lalu menelepon kekasihnya.


"Halo, sayang. Apa kabarmu? Sudah lama kamu tidak menelepon ku, aku telepon kamu selalu menolaknya. Aku merindukan mu, kapan kita bisa bertemu?" suara seorang pria di ujung telepon.


"Hari ini ayo bertemu, di hotel biasa. Kita bertemu satu jam lagi," balas Li Mei.


"Oke, sayang. Aku akan menunggumu disana, aku mencintaimu." Timpal si pria.


"Aku tutup, sampai ketemu nanti." Li Mei lalu menaruh ponselnya, bergegas berdandan. "Masa bodoh dengan Ang Cheng, aku tak ingin menjadi wanita menyedihkan." Ia tersenyum karena sebentar lagi bisa memuaskan gairahnya dengan kekasihnya.


Di Perusahaan, Ang Cheng mendapatkan kabar jika Klien-nya Tuan Max memutuskan dengan sepihak kerjasama mereka. Bahkan kabar mengatakan Tuan Max sudah menandatangani kontrak dengan Perusahaan milik Hao Yu. Mendapat surat gugatan dari pengadilan ditambah kabar itu membuat Ang Cheng kalap lalu menghancurkan ruangan kerjanya dengan teriakan - teriakan kasar seperti orang gila.


Beberapa hari kemudian dengan bukti - bukti yang dikumpulkan Yu Jie akhirnya ia resmi bercerai dari Ang Cheng, bersamaan dengan penyakit yang sudah beberapa hari menyerang. Yu Jie sudah dari jauh hari memberikan vaksin pada Ayah nya juga pada seluruh pengawal dan orang - orang yang ia kenal seperti beberapa teman di kampus. Ia masih mengambil cuti kuliah, masih ingin mengurus Perusahaan sampai ia bisa memegang alih dengan benar. Ia juga sibuk membuat antivirus dan memperbanyak vaksin untuk diberikan pada Tuan Wan Xue.


Ting!


Ada sebuah notifikasi chat, Yu Jie membukanya dan itu chat dari Guan Lin. Selama ini mereka sering bertukar kabar, apalagi beberapa kali bertemu untuk mengurus vaksin.


"Siang Jie Jie, aku dengar kamu sekarang sudah resmi bercerai. Apa mau merayakan nya bersamaku?" isi chat Guan Lin, pria itu memanggil Yu Jie dengan panggilan kesayangan dan Yu jie selalu membiarkan nya.


Baru saja Yu Jie ingin membalas, pria itu malah menelepon. Yu Jie mengangkat nya. "Mm."


"Aku menelepon karena tak sabar menunggu jawaban mu, apa kamu mau merayakan nya dengan makan malam romantis?" tanya Guan Lin.


"Aku sibuk, kau juga tau itu." Jawab Yu Jie.


"Ayolah, hanya makan malam." Guan Lin masih melancarkan rayuan nya.


Satu panggilan lagi masuk, itu dari Hao Yu. "Sebentar Guan, ada panggilan masuk."


"Halo, Hao Yu." Yu Jie mengangkat panggilan dari Hao Yu, pria itu sudah membantunya selama ini dan ia berhutang banyak meskipun sudah melunasi satu hutang dengan merebut Klien Ang Cheng dan Klien itu kini sudah berpindah pada Hao Yu dengan caranya.


"Mau merayakan peresmian cerai mu? Makan malam, kamu sudah berjanji padaku kapan pun aku meminta makan bersamamu... kamu akan mengiyakan."


Yu Jie seketika bimbang, kenapa kedua pria itu meminta nya secara bersamaan?


"Aku..."

__ADS_1


___Bersambung.


__ADS_2